
Mempertimbangkan keselamatan keluarganya, terutama anak dan istrinya, Andreas Jonathan sudah bertekad untuk membawa Cassandra dan Altezza ke luar negeri. Keputusan itu diambil oleh CEO perusahaan PT. Indotrex. Tbk karena Armansyah sudah berada di Indonesia, dan saat ini sudah bergabung dengan Sandrina dan Jennifer. Meskipun, semua sumberdaya apabila dikerahkan akan mampu memberikan perlindungan untuk keluarganya, namun Andreas Jonathan tidak mau gambling mempertaruhkan hal itu.
"Aku harap honey mengerti, dan bisa memahami keputusanku ini. Jika situasi sudah aman terkendali, aku akan kembali membawa honey dan putra kita ke Indonesia. Setelah aku mempertimbangkan semuanya, Switzerland menjadi negara yang aku putuskan untuk menempatkan kalian berdua. Pertimbangan pertama, dikarenakan Sandrina tidak mengetahui jika aku memiliki asset di negara itu, sehingga perempuan itu tidak akan pernah mengira keberadaan kalian disana, Pertimbangan kedua, negara itu memiliki tingkat keamanan yang sangat tinggi, bisa dikatakan tindak kejahatan sangat rendah bahkan mengarah ke zero.." Andreas Jonathan membicarakan rencananya dengan istrinya Cassandra,
Gadis itu terdiam, berusaha memikirkan bagaimana lingkungannya di Indonesia. Karena jika sudah berpindah ke negara yang dimaksudkan oleh suaminya, tidak mungkin akan sewaktu-waktu bisa kembali ke Indonesia, Banyak yang dipikirkan oleh Cassandra.
"Bagaimana honey.. apakah honey bisa menerimanya?" melihat kediaman istrinya, dan karena rasa khawatir akan keamanan keluarga kecilnya, Andreas Jonathan kembali bertanya pada gadis itu.
"Sandra bingung kak..., di satu Cassandra juga tidak mau keluarga kita terancam keselamatannya. Di sisi lain, masih ada mama di Yogyakarta, yang hanya tinggal bersama dengan Armand saja. Bagaimana jika mama Dhini sewaktu-waktu ingin bertemu dengan Sandra, dan juga Altezza," perempuan muda itu menatap wajah Altezza yang kali ini masih tidur di atas ranjang di kamar mereka.
Wajah anak kecil itu terlihat polos, dan seakan belum tahu bagaimana kerasnya kehidupan di luar. Andreas Jonathan ikut melihat ke arah Altezz, kemudian..
"Jika honey mau, demikian juga dengan mama Dhini. Kita bisa membawa keduanya ke Switzerland, dan kita bisa mencarikan sekolah untuk Armand di negara itu. Negara itu sangat tenang dan damai, dan merupakan impian bagi setiap orang untuk tinggal di negara tersebut. Hal itu juga menjadi pertimbangan bagiku, ketika memilih tempat itu sebagai tempat untuk menetap di usia senja." Andreas Jonathan terus mengutarakan keinginannya.
"Tidak akan mudah kak, untuk membawa mama Dhini dan juga Armand. Mama terlalu berat untuk meninggalkan Yogyakarta, karena banyak kenangan mama di kota itu. Hal itu kak, yang menjadi salah satu faktor yang memberatkan Cassandra untuk hijrah dari negara ini." lanjut Cassandra lirih.
Andreas Jonathan terdiam sebentar, kemudian.. laki-laki itu kembali melihat ke wajah istrinya. Terlihat jika di wajah istrinya, masih ada keraguan untuk mengikuti ajakannya untuk pergi dari negara ini,
"Keamanan dan keselamatanmu juga Altezz, menjadi tanggung jawab besar untuk aku jaga honey. Aku harap, honey bisa memahami apa yang menjadikan alasanku untuk membawa kalian berdua keluar dari negara ini. Melihat track record Armansyah, kita tidak bisa hanya melihatnya dengan sebelah mata. Kita untuk sementara, memang harus menjauh dari laki-laki itu." Andreas Jonathan berkata lirih.
Melihat perubahan ekspresi suaminya, yang terlihat terbebani banyak pikiran, akhirnya Cassandra mencoba untuk mengalah. Tidak ada pilihan lain baginya, selain menuruti keinginan laki-laki itu.
"Hmm.. baiklah kak.. Karena untuk keselamatan Sandra, dan juga Altezza, untuk sementara Sandra mau mengikuti keinginan kak Andre untuk sementara waktu pergi ke negara itu. By the way..., lalu bagaimana dengan mama Sheilla, Stevie dan juga papa Wijaya.. kak.. Apakah mereka semua juga akan ikut kita ke negara itu?" harapan Cassandra, semua keluarga ikut serta ke Switzerland.
"Papa punya rencana sendiri, honey tidak perlu memikirkan mereka. Sudah saatnya, dengan persetujuan mama atau tidak, mama dan papa memang harus kita paksa bersatu. Demi kita, anak-anaknya." Cassandra tidak menanggapi perkataan suaminya.
***********
Andreas Jonathan dan Alexander masih duduk berdua di sofa ruang hiburan yang ada di hotel itu. Keduanya sengaja memilih tempat itu, karena tidak mau pembicaraan mereka terdengar oleh orang lain. Minuman wine yang tidak membuat kedua anak muda itu mabuk, banyak berserakan di meja depan tempat duduk mereka. Demikian juga camilan penemannya.
"Bagaimana untuk rencana selanjutnya tuan muda, apakah nona muda Cassandra sudah berkenan untuk diajak hijrah sementara dari negara ini..?" Alexander bertanya pada atasannya.
"Tidak ada pilihan lain Alex, aku sudah mengajak istriku bicara, dan aku memang setengah memaksanya. Akhirnya mesti dengan berat hati, istriku mau menuruti ajakan dan keinginanku. Segera atur semuanya dengan cepat, untuk memproses visa Cassandra dan Altezza. Aku sudah tidak tenang, mendengar keberadaan Armansyah dan Sandrina kembali di kota ini." sambil menghela nafas, Andreas Jonathan menanggapi pertanyaan Alexander.
"Siap tuan muda.., aku akan membuat pengaturan secepatnya. Untuk rencana tuan Wijaya beserta nyonya Sheilla, dan juga Stevie bagaimana tuan muda.."
"Tanyakan sendiri pada papa Wijaya, aku tidak akan memaksa mereka untuk pergi bersama keluargaku. Asset papa memang banyak tersebar di negara Canada, dan beberapa negara lainnya. Aku belum bertanya pada papa, kemana papa akan membawa mama Sheilla dan adikku Stevie."
Alexander terdiam mendengar jawaban Andreas Jonathan. Dalam hati, laki-laki itu sebenarnya ingin melamar Stevie untuknya. Tetapi karena melihat situasi yang semakin genting, sepertinya Alexander harus menunda keinginan hatinya.
"Kenapa kamu bertanya tentang mama Sheilla dan Stevie, apakah kamu menginginkan sesuatu dari mereka Alex.." melihat ekpresi wajah Alexander, Andreas Jonathan segera bertanya pada anak muda itu.
Alexander tersenyum malu, dan menundukkan wajahnya beberapa saat. Tetapi setelah mengatur hati dan perasaannya, akhirnya..
"Tuan muda.. jujur sebenarnya ada yang ingin Alex bicarakan dan sampaikan pada tuan muda dan juga pada tuan besar Wijaya. Hal ini berkaitan dengan Stevie tuan muda.."
"Ada apa dengan adik perempuaku Alex.., apakah kamu ingin melamarnya, ingin menjadikannya istrimu.." dengan telak, Andreas Jonathan langsung bertanya pada Alexander.
Alexander cengar cengir, tidak menanggapi perkataan tuan mudanya. Dalam hati, niat untuk menjadikan Stevie sebagai pendamping hidupnya sebenarnya sudah sangat mantap. Tetapi begitu mendapat pertanyaan dari tuan mudanya, tiba-tiba Alexander malah menjadi ngepir.
"Aku tidak melarangmu Alex.., asalkan hatimu mantap untuk menjadikan Stevie sebagai istrimu. Hanya ada dua pilihan untukmu, kamu menikah dengan Stevie setelah carut marut ini selesai, ataukah sebelumnya semuanya, kamu sudah menikah dengan adikku." Alexander terkejut dengan kata-kata yang diucapkan tuan mudanya. Semula laki-laki itu ragu, jika tuan mudanya akan menghalangi atau mempertimbangkan rencananya untuk menikahi Stevie. Namun.., ternyata semuanya malah dipermudah olehnya.
*********