CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 178 Pelarian



Mobil yang membawa Andreas Jonathan meluncur cepat menuju hotel Sofitel Frankfurt Opera, sebuah hotel termegah dan termahal di kawasan kota Frankfurt. Jalanan di pusat keuangan dan juga pusat transportasi dunia Eropa itu tetap terlihat ramai dan bergeliat, meskipun saat ini mereka melintas sudah lebih dari jam satu tengah malam. Mobil-mobil masih banyak yang melakukan perjalanan, demikian juga dengan pusat-pusat hiburan malam masih terlihat beraktivitas. Beberapa saat mobil itu meluncur cepat, tidak lama kemudian mobil sudah berhenti di lobby hotel tersebut. Terlihat dengan sigap, petigas security hotel membukakan pintu mobil,


"Selamat datang di Hotel Sofitel Frankfurt Opera.., silakan masuk ke dalam tuan dan nona.." dengan ramah yang menunjukkan hospitality yang sangat bagus, petugas security memberikan sapaan pada pasangan suami istri itu.


Cassandra tidak menjawab, hanya tersenyum dan kemudian bergegas mengikuti suaminya yang sudah merangkul dan membawanya masuk ke dalam. Di belakang pasangan suami istri itu, suster Rosanna tampak mendorong stroller yang sudah dikeluarkan driver mobil, dengan Altezza yang sudah terbangun  di dalamnya. Baru beberapa langkah masuk ke area hotel, muncul dua orang laki-laki yang mencegat mereka.


"Tuan muda Andreas.., nona muda Cassandra.., semua sudah tertata dan terkondisi dengan baik. Tuan muda dan nona muda bisa langsung menuju ke lantai tujuh belas, Disanalah kamar untuk tuan muda dan nona muda, sudah kami siapkan.." seorang laki-laki  yang rupanya sudah diarahkan oleh Alexander mengarahkan pasangan suami istri itu. Mereka terlihat patuh dan membungkukkan badan memberikan penghormatan.


"Hmm.. yap.." sahut Andreas Jonathan singkat.


Tidak banyak membuang waktu, Andreas Jonathan segera mengajak rombongannya untuk mengikuti satu laki-laki yang berjalan di depan mereka, untuk menunjukkan jalan. Sedangkan satunya lagi, berjalan di belakang mereka seperti memberikan pengawalan. Tidak ada pembicaraan lagi selama mereka berjalan menuju pintu lift, dan sampai mereka sudah berdiri diam di dalam lift tersebut. Rasa mengantuk dan rasa capai, rupanya membuat keluarga tuan muda itu hanya ingin segera membaringkan tubuh mereka di atas ranjang.


"Tuan muda.., nona muda.., kita sudah sampai di lantai tujuh belas. Silakan tuan dan nona untuk segera keluar, dan di depan kamar-kamar yang akan digunakan oleh tuan dan nona muda untuk beristirahat. Selamat menikmati hari di kota Frankfurt.." tidak lama kemudian pintu lift sudah terbuka. Ternyata kedua pengawal itu hanya mengantarkan saja mereka sampai di lantai tujuh belas. Terlihat di depan mereka, banyak petugas hotel sudah menyambut kedatangan keluarga Andreas Jonathan.


"Terima kasih atas pengantarannya.." dengan suara lirih, Cassandra menanggapi dua laki-laki itu.


"You're welcome  nona muda.."


Andreas Jonathan segera mengajak istri dan juga Rosanna untuk segera masuk ke dalam ruangan. Seorang pelayan hotel perempuan dan masih muda, kemudian perempuan  itu membungkukkan badan menyambut kedatangan keluarga itu.


"Selamat datang tuan.., nona.. silakan masuk ke dalam. Kami siap untuk memberikan pelayanan, ada dua kamar di dalam ruangan ini, yang semuanya kita konsep sebagai kamar utama. Di pojok sana merupakan tempat makan, dan jika tuan dan nona menghendaki, kita akan menyiapkan makanan untuk saat ini." pelayan menjelaskan ruangan yang ada di dalam kamar yang pasangan suami istri berada saat ini.


"Tidak siapkan makanan untuk besok pagi saja, usahakan ada makanan dengan menu Indonesian food. Setelah semuanya beres, kembalilah kalian ke tempat bekerja.." Andreas Jonathan tersenyum mendengar perkataan istrinya yang ditujukan untuk pelayan hotel itu. Tetapi laki-laki itu tidak berkomentar apapun.


"Baik nona.., tuan.. selamat beristirahat."


Cassandra teringat dengan keberadaan suster pengasuh Rosanna, dan perempuan muda itu segera menghampiri suster tersebut. Terlihat suster pengasuh terlihat bingung..


"Suster Rosanna.. segeralah masuk ke kamar ini untuk istirahat. Tempatkan Altezz pada king size bed untuk memastikan agar anak ini tidak terjatuh. Suster bisa beristirahat di single bed itu ya.." Cassandra menjelaskan posisi tidur pengasuh putranya itu. Kemudian, Cassandra juga menjelaskan fungsi dan penggunaan peralatan kamar mandi pada perempuan itu. Karena beberapa peralatan tidak biasa ada di Indonesia, sehingga Cassandra merasa perlu untuk menjelaskannya pada Rosanna,


Cassandra segera berjalan meninggalkan kamar untuk beristirahat putra dan pengasuhnya itu. Perempuan muda itu segera berjalan mendatangi kamar tempat istirahatnya dengan Andreas Jonathan.


*******


Nyonya Sandrina berjalan mengikuti Thanom, dan laki-laki Thailand itu menggandeng tangan mantan ibu tiri Andreas Jonathan itu. Merasa tidak menyukai apa yang saat ini dilakukannya, Jennifer berjalan malas mengikuti pasangan yang sudah ada di depannya. Armansyah sudah tidak tahu sedang berada dimana, setelah mengatur perkawinan antara Sandrina dan Thanom, laki-laki itu mendadak menghilang dengan sendirinya. Sedangkan karena Jennifer, sudah merasa jika karirnya mati di Indonesia, saat ini tidak memiliki pilihan lain. Gadis itu hanya bisa mengikuti kemana nyonya Sandrina pergi.


"Cepatlah Jenni.. kita akan berpindah menggunakan mobil di depan itu. Hati-hati.., kita akan melalui perjalanan off road, kamu harus bisa menyesuaikannya.." tiba-tiba dari depan nyonya Sandrina menoleh ke belakang.


"Iya tante.., Jenni mengikuti tante di belakang.. Hanya saja, Jenni ingin beristirahat sebentar tante, kaki Jenni sudah pegal-pegal.." sambil mengeluh, Jennifer menanggapi perkataan Nyonya Sandrina.


"Sabarlah sebentar..., tidak akan lama lagi kita sudah masuk ke dalam mobil Jenni.. Masih lebih baik, kita bisa dengan bebas berjalan di tempat ini. Coba jika kita maish tinggal di Jakarta, apakah kita masih bisa berjalan bebas seperti ini. Jangan banyak berkeluh kesah.." dengan menahan dongkol, nyonya Sandrina menenangkan Jennifer.


Thanom yang masih menunggu Sandrina, hanya bisa mengambil nafas dalam. Tetapi laki-laki itu sepertinya sudah memiliki rencana sendiri dengan keberadaan Jennifer bersama dengan mereka, Hanya saja laki-laki itu belum bicara dan memberi tahu Sandrina yang sudah menjadi istrinya, Saat ini, hal pertama yang dilakukannya adalah membawa kedua perempuan itu pergi jauh dari kota besar di Indonesia,


Tidak lama kemudian, terdengar suara gemuruh mesin mobil hard top yang sudah menunggu rombongan itu di pinggir jalan. Senyum lebar muncul di wajah Thanom..


"Sandrina.., Jennifer.. quickly.. mobil sudah menunggu kita di depan. Percepat sedikit langkah kaki kalian, mereka tidak akan bisa menunggu kita lebih lama," Thanom berteriak memanggil dua perempuan itu.


"Sebentar Thanom, tunggulah kami sebentar.." Sandrina berjalan ke belakang untuk membantu Jennifer mempercepat langkahnya.


"Lepaskan sepatumu itu Jenni.. kita ini berada di dalam hutan, jangan kenakan sepatu seperti itu. Berapa kali aku sudah berpesan kepadamu.." dengan sedikit rasa kesal, nyonya Sandrina meminta Jennifer untuk berganti sepatu.


Perempuan paruh baya itu, mengambil sesuatu dari dalam tasnya, kemudian melemparkan ke tanah di depan Jennifer.


"Kenakan sandal jepit itu, dalam medan seperti ini, sandal jepit masih lebih baik untuk kamu kenakan. Tidak akan menghambatmu seperti sepatu yang kamu kenakan saat ini.." tidak ada pilihan lain bagi Jennifer, selain mematuhi apa yang dikatakan oleh perempuan paruh baya itu.


*********