CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 179 Terhanyut



Tidak lama kemudian, ketiga orang itu sudah berada di dalam mobil jeep, dan seperti yang tadi sudah disampaikan oleh Thanom, jalanan terjal naik turun dengan kondisi jalanan belum diaspal berada di depan mereka. Jennifer mengangkat tangannya ke atas berpegangan pada hand rail yang ada di atas pintu tempat duduk gadis itu. Duduk di samping gadis itu, sejak tadi seorang laki-laki muda yang tersenyum sambil melihat ke arah gadis cantik itu. Sedangkan duduk di belakang, nyonya Sandrina yang dengan jijik berada di dalam pelukan Thanom yang tidak mau melepaskan sedikitpun sejak tadi.


"Berapa lama lagi Thanom.. kita harus melakukan perjalanan darat seperti ini. Badanku sudah sakit semua, sejak tadi terkena benturan di kanan dan kiri.." Sandrina menggerutu dan bertanya pada laki-laki yang duduk di sampingnya.


"Sabarlah sedikit sayang.. ini masih mending. Kita tidak harus berjalan kaki, karena harus menunggu mobil bisa naik ke atas. Tidak lama lagi, kita sudah akan sampai di pinggir tempat ini. Kita akan meninggalkan bukit terjal ini, dengan menggunakan speed boat ini, kemudian akan berpindah menggunakan kapal besar di tengah lautan. Kamu ingin membalaskan dendammu pada keluarga Wijaya bukan, hanya dengan cara ini kita akan bisa menyusun strategi." Thanom berusaha menjelaskan, sambil memberikan ciuman di pipi Sandrina,


Duduk di depan, dengan perasaan kacau dan hancur, Jennifer berpikir flash back ke masa lalunya. Sebenarnya, gadis itu tidak memiliki dendam pribadi dengan keluarga tuan Wijaya, hanya saja rasa cinta dan ingin memiliki Andreas Jonathan, putra tertunggal dari keluarga Wijaya akhirnya membuatnya terjerumus. Di awal, sebenarnya Jennifer sudah mau memupus rasa ketertarikannya pada Andreas Jonathan, tetapi nyonya Sandrina terus membujuknya, dan akhirnya tanpa pikir panjang membuat tindakan yang sampai akhirnya menjerumuskan mereka sampai sejauh ini.


"Baby.. apa yang kamu pikirkan.., apakah kamu memikirkanku beb..?" Jennifer tersentak, dengan pandangan sebal gadis itu melirik ke arah laki-laki yang duduk di sampingnya. Dengan senyum lebar, dan pandangan mesum, sopir mobil yang membawa mereka itu menatap dan tampak mengamati wajahnya sejak tadi. Merasa jika kalimat itu tidak ditujukan untuk dirinya, Jennifer mengabaikan perkataan itu.


Merasa diabaikan oleh gadis itu, tiba-tiba saja tangan kiri sopir itu mengusap wajah Jennifer perlahan, kemudian merambat turun dan meremas ke atas bukit kembarnya.


"Kurang ajar.. bisa tidak kamu kondisikan tanganmu, atau minta untuk aku patahkan.." jeritan Jennifer mengejutkan Thanon dan Sandrina.


Terlihat dengan mata merah karena rasa marah, Jennifer melihat ke arah sopir yang duduk di sampingnya. Dengan pandangan mesum, sopir tidak terlihat marah, namun malah wajahnya tampak cerah.


"Ha.. ha.. ha.., janganlah menolakku beb.. Kamu belum tahu bukan, aku bisa menghangatkan ranjangmu dan membuatmu selama lima hari lima malam, tidak akan mau beranjak dari atas ranjang. Apakah baby mau mencobanya beb..." bukannya marah, tetapi malah kata-kata menjijikkan mengalir keluar dari bibir laki-laki itu.


"Dalam mimpimu... jauhkan tangan kotormu itu dari dekatku.." dengan perasaan jijik, tangan Jennifer memukul tangan laki-laki itu yang belum mau menjauh dari tubuhnya.


"Andro.. kendalikan tanganmu, kamu harus mendekati Jennifer dengan pelan-pelan. Jangan main serang seperti itu, di depan kami berdua lagi. Bersabarlah.." bukannya memberikan teguran pada sopir itu, dari kursi belakang, Thanom malah memberikan saran pada laki-laki itu.


"Baik Uncle.. Andro sudah tidak sabar meremas tubuhnya yang ranum Uncle.. Okay.. beb.., aku akan sabar menunggumu.." dari depan, sopir yang ternyata bernama Andro itu menyahuti perkataan Thanom. Sedangkan ekspresi Jennifer sudah tidak bisa dilihat lagi bentuknya,


"Hush.. malah menyusun strategi.." dengan nada tidak suka, nyonya Sandrina menyikut lengan atas laki-laki di sampingnya itu, dan Thanom melihat perempuan itu sambil menangkupkan dua tangan di depan wajahnya.


*******


"Hmm.. ternyata gadis itu langsung tertidur Sandrina, jadi kamu tidak perlu untuk terlalu khawatir kepadanya. Ikutlah denganku, kita akan tidur di bilik satunya, biarkan gadis itu berada di dalam bilik ini sendiri saja.." Thanom segera merangkul pundak Sandrina, dan mengajaknya untuk keluar dari tempat itu,


Sandrina mengambil nafas panjang, perempuan itu merasa seperti tidak memiliki sebuah pilihan. Setelah melihat sekali lagi pada Jennifer, dan gadis itu tidak terusik, akhirnya Sandrina mengikuti ajakan dari Thanom. Pasangan suami istri itu segera keluar dari dalam kamar, dan Thanom mengajak Sandrina untuk masuk ke dalam kamar yang sama hanya terbuat dari potongan-potongan batang pohon. Di dalam kamar, Sandrina segera meletakkan barang bawaannya, kemudian perempuan itu segera merebahkan tubuhnya di atas dipan tersebut,


"Sandrina.. bantu aku untuk menghilangkan rasa lelahku sayang.., layanilah aku.." tiba-tiba dengan mata berkabut, Thanom sudah menjatuhkan tubuhnya di atas perempuan paruh baya itu.


"Thanom.. bisakah kamu menunda keinginanmu untuk saat ini. Usiaku sudah tidak muda lagi Thanom, jadi aku butuh energi untuk melakukan hal itu. Tidakkah masih ada tempat yang lebih bagus untuk melakukannya.." dengan suara tertahan, Sandrina berusaha menolak ajakan dari laki-laki itu.


"Kamu tidak harus capai melakukannya Sandrina, kamu cukup berbaring saja. Aku yang akan melakukannya, karena aku butuh asupan itu saat ini." dengan pandangan mesum, Thanom masih berusaha untuk merayu perempuan paruh baya itu.


Mendengar jawaban Thanom, nyonya Sandrina hanya bisa tersenyum lemas. Sudah beberapa kali, perempuan paruh baya itu berusaha bisa menunda keinginan laki-laki itu. Tetapi kali ini di tengah hutan, Sandrina tidak memiliki cara lagi untuk menolaknya. Akhirnya tidak ada pilihan lain lagi, Sandrina hanya tersenyum masam, dan tidak mampu menolak ajakan dari laki-laki itu.


Tiba-tiba saja, wajah Thanom sudah berada di depan wajah Sandrina, dan langsung memberi ciuman pada perempuan itu dengan ganas. Sandrina diam, tetapi laki-laki itu sepertinya memang sudah berpengalaman karena bibir Sandrina sudah terpaksa membuka, dan lidah Thanom masuk dengan mudah menjelajah di dalamnya.


"Thanom.. lakukanlah Thanom.. jangan tunggu lama lagi.. aakh..." bibir Sandrina yang sejak tadi sebenarnya menolak, ternyata tidak menunggu lama sudah masuk dan terpengaruh dalam alur permainan yang dilakukan laki-laki itu.


Ternyata bukan dengan siapa, seseorang itu melakukan hubungan. Ketika ada pasangan yang dengan pintar mengendalikan permainan, dengan mudah seorang perempuan akan terlena, dan terhanyut dalam permainan itu.


*********