
Sesaat setelah Andreas Jonathan berangkat ke perusahaan, Cassandra yang masih berdiri dengan Altezza di depan teras, terkejut melihat ada mobil Mercy terbaru memasuki halaman mansion. Merasa tidak memiliki kepentingan, dan juga belum memiliki teman yang mengetahui jika dirinya berada di mansion itu, Cassandra membalikkan badan dan segera masuk ke dalam mansion. Baru saja gadis itu akan masuk ke ruang tengah,,
"Hmm begitukah caramu memperlakukan orang tua gadis kampung? Tidak ada sopan-sopannya, melihat mertua datang malah membalikkan badan meninggalkanku sendiri.." tiba-tiba Cassandra mendengar ada seseorang yang tengah menghujatnya.
Gadis itu menghentikan langkahnya, berusaha mengingat suara yang tengan memberinya teguran itu. Sebelum Cassandra memutuskan untuk membalikkan badan, gadis itu mengingat jika dirinya adalah nyonya rumah ini, dan dibawa oleh suaminya Andreas Jonathan. Cassandra mengambil nafas panjang, kemudian..
"Oh mama mertua rupanya.., ijin Sandra memberi tahu mam.. Sandra tidak melihat kedatangan mama. Dan Sandra minta maaf.." dengan nada datar, Cassandra meminta maaf pada perempuan paruh baya itu..
"Maaf.., maaf.. licin sekali lidahmu mengucap kata maaf itu. Sebuah batu hitam itu tempatnya di lumpur, bukan di mansion ini. Mau dipoles bagaimanapun, batu hitam juga batu hitam, tidak akan bisa berubah menjadi sebuah berlian. Jangan kamu pikir.. siapa namamu tadi, Cassandra.. Meskipun kamu sudah memiiki seorang anak dari putraku Andreas Jonathan, kamu akan menjadi nyonya di rumah ini. Jangan berharap kamu.." dengan nada sinis melecehkan, Nyonya Sandrina mencibirkan bibirnya.
Cassandra menghela nafas, mencoba untuk mengendalikan emosinya. Sebenarnya bisa saja Cassandra memberi pelajaran pada perempuan itu, namun mengingat jika perempuan itu adalah mama dari suaminya, akhirnya gadis muda itu mencoba untuk menahan perasaannya. Untungnya setelah beberapa bulan berada di tempat itu, sedikit demi sedikit Cassandra sudah bisa memulihkan hatinya. Jika tidak, mungkin Nyonya Sandrina akan menjadi pelampiasan kekecewaan hatinya.
"Mama.. bolehkah Sandra menyebut Nyonya besar dengan panggilan mama..??? Sebuah rumah, sebuah istana dapat berdiri tanpa ada berlian di dalamnya. Namun tidak akan mampu untuk berdiri kokoh dan tegak, tanpa adanya batu hitam. Apakah nyonya besar Sandrina melupakan hal itu..?" sambil tersneyum datar, Cassandra menyampaikan beberapa kata pada mama mertuanya.
"Kamu... kamu gadis kampung berani untuk memberikan hinaan kepadaku. Jangan mentang-mentang karena Andreas Jonathan putraku sudah silau, dan membawamu ke mansion ini, kamu bisa bertindak seenakmu gadis kampung. Aku Nyonya besar Sandrina, sampai kapanpun tidak akan dapat menerimamu sebagai putri menantu di keluarga ini. Semua hanya khayalanmu saja, dan tunggulah masa kehancuranmu. Aku yakin.. tidak akan lama lagi, putraku akan menendangmu keluar dari mansion ini.." dengan berapi-api, Nyonya Sandrina meluapkan emosinya pada Cassandra.
"Dengan senang hati nyonya besar, Sandra akan menunggu saat-saat itu datang.." ucap Cassandra, dan langsung berjalan meninggalkan ruang tengah untuk masuk ke kamar putranya.
"Aku belum selesai bicara gadis kampung, jangan berani-beraninya meninggalkanku sendiri di ruangan ini.." tanpa sadar Nyonya Sandrina berteriak dengan keras. Para ART yang tidak mengetahui kedatangan perempuan itu berlari dan mengintip ke ruang tengah, untuk melihat siapa yang berani berteriak di ruangan itu. Tetapi begitu melihat keberadaan mama dari tuan mudanya, yang sekaligus mama mertua nona mudanya, akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan aktivitas mereaka. Sepertinya para ART juga sudah memahami karakter dan watak dari perempuan paruh baya itu.
"Maaf nyonya besar.., putraku lebih membutuhkanmu. Dalam merawat dan mengasuh Altezz, Sandra sengaja menghindari suara bising yang bisa mengotori indera pendengaran Altezza.." tanpa mau memperhatikan lagi mama mertuanya, Cassandra segera masuk ke kamar pribadi putranya.
"Kamu berani sekali meninggalkanku sendiri.." Nyonya Sandrina kembali berteriak, namun Cassandra sudah tidak mendengarnya lagi.
**********
Jennifer segera datang menuju mansion, begitu mendapatkan kabar jika mamanya Andreas Jonathan sudah berada di mansion, Gadis itu kembali memiliki harapan jika akan bisa memiliki CEO PT. Indotrex. Tbk itu, karena Jennifer yakin jika Nyonya besar Sandrina akan memberinya dukungan penuh, Tanpa menyapa para pengawal yang sudah membukakan pintu gerbang untuknya, Jennifer langsung masuk ke dalam mansion tanpa mengucapkan kata permisi.
Cassandra yang sedang berjalan dari arah dapur dengan membawa satu gelas air putih di tangannya, hanya melihat perempuan itu dengan tatapan sinis.
"Tidakkah anda mengenal aturan, etika dan tata krama. Bagaimana adab bertamu dan berkunjung, untuk mengucap salam pada penghuni rumah?" dengan ucapan sarkasme, Cassandra memberi teguran pada Jennifer.
"Siapa kamu.. gadis kampung, gadis rendahan berlagak mengajakku bicara..?" dengan judes, Jennifer menanggapi Cassandra.
"Hmm.. sepertinya anda ini kuper dan ketinggalan berita, apakah karena sudah dibuang dari industri perfilman..? Aku adalah nyonya muda mansion ini, istri dari tuan muda Andreas Jonathan, yang sudah memberikan seorang baby bernama Altezza. Ingat itu.." dengan senyuman sinis menyindir, Cassandra menjelaskan status resminya pada tamu yang tidak punya sopan santun itu.
"Hey Jenni sayang... untuk apa kamu mengajak gadis kampung itu berbicara sayang.. Sebuah batu hitam tidak akan layak jika disandingkan dengan berlian sayang.." tiba-tiba dari arah dalam, terdengar suara Nyonya Sandrina menyambut kedatangan Jennifer dengan ramah, dan malah menyindir menantunya itu.,
"Tante.. perempuan kampung itu menghina Jenni tant.. mengatakan jika Jenni tidak punya etika dan tata krama. Tante harus memberikan pelajaran kepadanya tante, agar perempuan kampung itu tidak semakin ngelunjak kepada siapapun, bisa hancur martabat mansion ini karena ulahnya." melihat kedatangan Nyonya Sandrina, Jennifer pura-pura merajuk, dan terlihat seperti pihak yang tertindas.
"Sudah abaikan saja, nanti kalau putraku datang, tante akan mengadu pada Andre, Untuk saat ini, kita harus mengalah saja sayang, abaikan saja perempuan kampung itu. Ayo ikut tante ke belakang sayang.." nyonya Sandrina dengan cepat membawa jennifer ke belakang.
Jennifer segera mengikuti perempuan paruh baya itu, dan melihat ke arah Cassandra untuk memberikan tatapan penghinaan kepadanya. Melihat hal itu, Cassandra hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, sedikitpun tidak menganggap hal itu ada. Fokus utamanya adalah memberikan perhatian pada putranya, terlebih ketika Andreas Jonathan sedang tidak ada di rumah.
"Bagaimana Altezz suster.., apakah sudah tidur?" melihat suster pengasuh Altezza baru saja keluar dari dalam kamar, dengan ramah Cassandra menyapanya. Gadis muda itu bisa memilah, pada siapa dia harus menunjukkan sikap baik, dan yang tidak.
"Sudah nona muda.., barusan saya menidurkannya. Ini saya mau mencuci botol, dan melakukan sterilisasi di belakang." suster itu menunjukkan dua botol kotor yang berada di tangannya.
"Baik.. lakukanlah.." Cassandra meninggalkan suster itu, dan masuk ke kamar untuk melihat keadaan putranya.
"Terima kasih nona muda.." sahut suster itu pelan, kemudian berjalan menuju ke arah dapur.
***********