CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 125 Dia Adikmu



Andreas Jonathan tersentak tidak mau bertindak apa-apa, di sampingnya Cassandra melihat suaminya dengan tatapan prihatin. Di depannya juga duduk perempuan paruh baya, yang terlihat masih mengalami masa trauma dan belum bisa berbuat apa-apa, Beberapa saat waktu mereka terbuang, dan akhirnya Cassandra merasa tidak tahan. Perempuan muda itu berdiri, kemudian mengambil Altezza dari gendongan suaminya, kemudian menepuk bahu Andreas Jonathan. Laki-laki muda yang tampak terpuruk dan bingung itu menengadahkan wajah dan melihat ke arah istrinya.


"Kak.. ayo Sandra dan ALtezz temani.. kak Andre harus menghaturkan sungkem untuk mama. Ayo kak.." dengan suara lembut, Cassandra mengajak suaminya.


Andreas Jonathan tampak belum bisa menguasai perasaannya, tapi istrinya Cassandra tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sambil memperlihatkan wajah Altezz yang sudah membuka matanya. Perlahan laki-laki muda itu berdiri, dan dengan rengkuhan Cassandra, mereka kemudian berjalan mendekati Mrs. Sheilla yang juga belum mampu menguasai perasaannya. Tampak Alexander juga memeluk Stevie, berusaha menenangkan gadis muda itu.


"Mama.. ijin putra laki-laki mama menghaturkan sungkem untuk mama, dan juga menantu serta cucu mama.." perlahan Cassandra menjatuhkan kaki dan lututnya dengan diikuti suaminya Andreas. Tangan mungil ALtezza terlihat menarik-narik pakaian Mrs. Sheilla, dan kedua tangan perempuan itu tampak menggapai putra dan menantunya itu. Beberapa saat adegan mengharukan itu terjadi, dimana seorang perempuan paruh baya tengah memeluk satu anak muda dan seorang perempuan muda dengan seorang bayi di antara mereka.


"Andreas putraku.. maafkan mama nak.. maafkan mama.." dengan suara lirih tidak berdaya, Mrs. Sheilla mengucapkan permohonan maaf pada putra laki-lakinya.


Tanpa suara, anak muda itu tiba-tiba menubruk perempuan paruh baya itu, dan di belakangnya Cassandra mengusap-usap punggung anak muda itu dengan penuh rasa haru.


"Apakah kamu menantuku nak.. dan ini adalah cucuku.." beberapa saat kemudian, Nyonya Sheilla bertanya pada Cassandra, dan matanya berbinar menatap wajah polos dan lucu ALtezza,


"Iya mam.. nama saya Cassandra, mama bisa memanggil dengan panggilan Sandra. Dan ini adalah cucu oma, namanya Altezza, oma bisa memanggil dengan sebutan Altezz." dengan lancar, cassandra menjawab pertanyaan dari perempuan paruh baya itu.


"Menantuku.. cucuku Altezz.." dengan penuh rasa haru, Nyonya Sheilla kembali memeluk Cassandra dan Altezza.


"Stevie kemarilah.. dia adalah kakak kandungmu, dan ini kakak iparmu, serta Altezz adalah keponakanmu sayang.." tiba-tiba Mrs. Sheilla memanggil putrinya Stevie, dan kata-kata perempuan itu sangat mengejutkan semua yang berada di ruangan itu.


"Maksud mama.. Stevie ini bukan putri dari laki-laki jahat itu mam.. Armansyah..?" Stevie bertanya pada mamanya dengan tatapan tidak percaya.


Mrs. Sheilla menggelengkan kepala, tampak air mata kembali menggenang di kelopak matanya, dan tanpa disadari mulai mengalir ke pipi perempuan paruh baya itu.


"Ceritanya panjang putriku.. bahkan papamu juga tidak sadar, jika kala itu ketika mama pergi ditinggalkan oleh Sandrina, mama tengah dalam keadaan hamil, mamah tengah mengandungmu Stevie. Jadi kamu dan Andre, sama-sama putra dan putri mama dengan Wijaya.." ucap lirih Mrs. Sheilla.


Stevie menatap mama dan kakak kandungnya dengan tatapan tidak berdaya, dan karena jenis kelamin mereka berbeda, ada keengganan bagi Stevie untuk mendekat pada laki-laki itu. Namun ternyata berbeda dengan Andreas Jonathan, setelah mengetahui identitas gadis muda itu, anak muda itu kemudian mendekati Stevie dan memeluknya erat.


Dengan berbagai pengaturan, akhirnya di siang menjelang sore itu, Andreas Jonathan bersikeras untuk membawa pergi mama dan adik kandungnya, untuk kembali ke Jakarta. Bahkan Alexander, diminta Andreas untuk menguruskan passport untuk Stevie agar gadis itu bisa pergi ke Indonesia. Untungnya, meskipun sudah lama tinggal di Singapura, Mrs. Sheilla masih memiliki KTP sebagai warga negara tersebut. Dan keberadaannya di Singapura, menggunakan visa ijin tinggal, dan tidak berganti warga negara tersebut.


Dengan dibantu Tagor, dan beberapa pengawal lainnya, hanya beberapa barang penting yang diijinkan untuk dibawa oleh dua orang itu. Dan karena mereka masih harus menunggu passport Stevie, mereka untuk sementara akan bergabung dengan keluarga Andreas Jonathan di Raffles International Hotel. Tidak ada alasan bagi kedua perempuan itu untuk menolak permintaan dari laki-laki muda itu. Alexander juga merasa sangat senang, dengan adanya Stevie, dan sepertinya muncul ketertarikan dari laki-laki itu pada adik perempuan, dari tuan mudanya itu.


"Ha.. ha.. ha.., akhirnya aku menemukan juga dimana kamu tinggal saat ini Sheilla. Jangan coba-coba untuk melarikan diri dariku.." tiba-tiba baru saja mereka beberapa langkah akan keluar melalui pintu lobby, terlihat seorang laki-laki tinggi besar tertawa dan menghadang langkah mereka.


Beberapa pengawal yang dibawa Alexander segera bersiap untuk mengamankan situasi, namun terlihat Alexander memberi isyarat pada mereka untuk menunggu.


"Pergi kamu laki-laki tidak tahu diri, tidak tahu diuntung, hanya bisanya menyiksa dan menyakiti mama.." tiba-tiba terdengar teriakan Stevie yang berbicara keras pada laki-laki itu.


"Berani sekali kamu bicara seperti itu padaku Stevie.. tidakkah kamu ingat apa yang harus kamu lakukan untuk berbakti pada papamu.." melihat reaksi Stevie, laki-laki itu terlihat marah dan berbicara keras memberi tanggapan keras pada Stevie.


"Apa tuan Armansyah... papa..??? Ha.. ha.. ha.., sudah sejak pertama kali Stevie dilahirkan di dunia ini, tidak ada kata papa dalam hidup Stevie. Bukankah sudah berkali-kali aku katakan.., pergi dan jangan sakiti lagi mamaku.. tidak ada hak bagimu menyentuh mamaku lagi.." Stevie berusaha menghardik laki-laki yang disebutnya dengan nama Armansyah itu.


Mendengar panggilan Stevie pada laki-laki itu, akhirnya Andreas Jonathan dan Alexander mengetahui bagaimana hubungan antara keluarga mamanya dengan laki-laki itu. Tiba-tiba tangan Armansyah berkelebat dan akan melayang mengarah ke rahang Stevie. Tapi dengan cepat, Alexander menangkap tangan besar itu kemudian menghempaskannya.


"Hanya seorang pecundang yang tidak punya rasa malu, dan juga tidak punya harga diri, yang berani melayangkan tangan pada seorang perempuan. Hadapi aku, jika kamu masih berani untuk menyakiti Stevie.." kata-kata Alexander seakan memukul telak laki-laki tua itu.


Tiba-tiba Armansyah menoleh ke belakang, seakan memberi isyarat pada para pengawalnya, dan lima orang laki-laki berperawakan besar menyerbu ke arah Alexander.


"Hentikan.. jangan sakiti teman Stevie.." tiba-tiba Stevie berteriak, gadis muda itu melarang laki-laki itu menyerang dan menyakiti Alexander,


Namun dengan cepat, Andreas Jonathan memberi isyarat pada para pengawalnya, dan dengan cepat para pengawal segera menghadang dan menghajar orang-orang yang dibawa oleh Armansyah. Tagor yang melihat keadaan yang mengerikan itu hanya diam, karena di lingkungan apartemen itu, sudah sering terjadi keributan seperti itu.


*******