
Alexander terdiam mendengar kata-kata dari tuan mudanya. Namun dalam diamnya, anak muda itu membuatku serangkaian aktivitas. Melalui gadget yang ada di depannya, laki-laki itu mengatur semuanya. Jadwal penerbangan private jet, beberapa tempat transit diatur untuk keberangkatan tuan muda dan nona muda serta tuan kecil ke Switzerland. Dalam hati, anak muda itu bertekad untuk bertemu dengan tuan Wijaya dan akan memberanikan diri untuk meminta Stevie untuk teman hidupnya.
" Apakah hasil rekaman CCTV bisa diketahui dalam waktu dekat ini Alex..?" melihat kediaman anak muda itu, Andreas Jonathan mengajukan pertanyaan.
"Bisa tuan muda.. kita tinggal menunggu sebentar lagi. Barusan penanggung jawab kegiatan ini sudah melakukan komitmen dengan saya tuan muda. Mereka dalam perjalanan menuju ke tempat ini, jadi kita akan menunggunya beberapa saat lagi." dengan cepat, Alexander menanggapinya pertanyaan itu.
"Baiklah kalau begitu aku akan menunggunya. Aku tidak tenang jika meninggalkan Pant house terlalu lama Alex. Keamanan dan keselamatan istri serta anakku Altezza menjadi tanggung jawab besarku "
"iya tuan muda.., saya paham tanggung jawab berat itu." sahut Alexander cepat.
Beberapa saat kemudian kedua anak muda itu menunggu dalam diam. Andreas Jonathan membuka gadget juga akhirnya, dan tidak lama kemudian fokus laki-laki itu sudah berada pada gadget yang ada di depannya. Demikian juga dengan Alexander, laki-laki itu semakin tenggelam dalam gadget itu. Semua rencana kerja maupun komunikasi dengan relasi maupun anak buah, semua dilakukan lewat gadget tersebut.
"Tuan muda... by the way selama tuan muda ke Switzerland, bagaimana tangung jawab tertinggi perusahaan tuan muda..? Apakah tuan muda akan membiarkannya kosong atau menambah orang lain dalam Direksi." tiba-tiba Alexander membuka pembicaraan lagi.
"Perusahaan akan tetap berjalan seperti biasanya. Aku belum bisa menunjuk seseorang untuk menjalankan tugas penting di perusahaan. Untuk itu, jangan kamu besar-besarkan kepergianku Alexander. Apalagi aku pergi bukan untuk berlibur, tetapi hanya akan mengantarkan istriku untuk mengamankan beserta putraku. Selebihnya aku akan kembali lagi ke negara ini." dengan panjang lebar Andreas Jonathan menjelaskannya.
Alexander menganggukkan kepala tanda memahami apa yang disampaikan oleh tuan mudanya. Anak muda itu memang sering mendapatkan pertanyaan dari Dewan Direktur jika Andreas Jonathan lama tidak terlihat di perusahaan. Padahal dirinya juga tidak memberi tahu siapapun, mungkin ada mata-mata di dalam perusahaan sehingga semua informasi selalu bocor keluar.
"Apa yang membuatmu bertanya tentang hal itu Alex, apakah kau sudah tidak percaya kepadaku." tiba-tiba Andreas Jonathan bertanya dengan nada curiga.
"Saya tidak berani tuan muda, karena saya menanyakan hal tersebut hanya untuk berjaga-jaga jika ada salah satu dari Anggota Dewan Direktur, yang bertanya dan minta konfigurasi kepada saya tuan muda." Alexander berbicara apa adanya.
Andreas Jonathan tersenyum kecut dan juga sinis. Berulang kali para anggota dewan direktur memang terkesan mencari masalah dengannya. Namun selama ini, Andreas Jonathan bisa dengan telak memukul balik orang-orang itu. Hanya dengan pembuktian capaian kinerja dan prestasi perusahaan, hal itu bisa membuat orang-orang itu menjadi tidak berkutik.
"Alex... jika nanti orang-orang itu kembali menyinggung tentang kepergianku... tawarkan saja pada mereka, siapa yang mau duduk di kursi kepemimpinan. Tetapi dengan catatan mereka harus bisa membukukan keunggulan lebih besar atau paling tidak sama dengan saat aku memimpin perusahaan. Sampaikan syarat itu pada mereka.." dengan jumawa, Andreas Jonathan memberikan penawaran.
"Tidak berani tuan muda.., jangan pertaruhkan nama perusahaan. Banyak orang yang bergantung pada perusahaan itu, PT Indotrex Tbk sampai saat ini masih menaungi ribuan orang di dalamnya tuan muda. Jangan permainkan mereka tuan muda." kembali Alexander membuat permohonan.
Andreas Jonathan tersenyum kecut, kemudian kembali mengalihkan pandangan ke tempat lain. Kedua anak muda itu masih menunggu sampai anak buah laki-laki itu datang dan memberikan laporan kepada mereka.
*******
Beberapa saat kemudian
"Bagaimana tugas yang aku berikan pada kalian, apakah kalian sudah bisa mendapatkannya?" Alexander bertanya dengan nada tegas.
"Sudah tuan Alex, tuan muda.. tunggu sebentar, kami akan segera memperlihatkan videonya pada kalian berdua." dengan cepat, satu dari dua laki-laki itu segera membuka tas koper yang ada di tangannya.
Tidak lama kemudian sebuah laptop dan sebuah Compact disc mini dikeluarkan dari dalam tas tersebut. Mata kedua laki-laki itu langsung berbinar karena laptop segera nyala, dan CD segera berputar.
"Dari mana rekaman CCTV itu, rekamannya terlihat jelas." terdengar komentar dari Andreas Jonathan begitu laptop sudah di nyalakan.
"Rekaman dari Dinas Perhubungan tuan muda, kita berhasil mendapatkannya. Lihatlah dengan jelas tuan muda, siapakah orang-orang itu." laki-laki itu menunjuk ke arah layar yang ada di Depannya.
"**** it... putar terus rekamannya. Laki-laki itu adalah mantan suami mama Sheila." melihat wajah Armansyah kembali lewat layar di depannya, tiba-tiba saja Andreas Jonathan merasa muak.
Terlihat memang Armansyah tengah menerima laki-laki yang pernah menjadi tawanan dari mereka. Kedua laki-laki itu mencoba menerka ada di mana posisi laki-laki itu, namun mereka merasa buntu.
"Apakah kita bisa mendapatkan keberadaan tepat lokasi ini, mungkin dengan rekaman yang real time atau live. Informasi agar menjadi lebih akurat..." Andreas Jonathan meminta yang lain.
"Ada tuan muda, saya akan berikan hak aksesnya, karena tadi ada beberapa uang yang kita keluarkan untuk bisa mendapat hak akses ini." pengawal yang ditugaskan Alexander itu segera meminjam gadget tuan mudanya.
Tidak lama kemudian, laki-laki itu menghidupkan google maps dan memasukkan beberapa kode password ke dalam tempat login yang hanya bisa diakses oleh orang yang memiliki kewenangan. Beberapa saat akhirnya akun itu terkoneksi dan mereka bisa mengakses secara live tempat yang digunakan Armansyah untuk bersembunyi.
"Coba kita preview sebentar bagaimana pergerakan mereka beberapa saat yang lalu.." Alexander menekan tombol preview.
Mata dua anak muda itu terbelalak melihat tiga orang yang sangat mereka benci keluar dari dalam bangunan tersebut. Namun diantara mereka juga terlihat ada laki-laki berwajah asing Asia yang juga ikut bersama mereka. Tidak lama kemudian datang sebuah helikopter, dan keempat orang itu segera masuk ke dalam helikopter tersebut.
"Damn it... siapa orang-orang itu, bagaimana bisa mereka bersama. Betapa beruntungnya mereka bisa mendapatkan sumber daya sebesar itu. Mereka sudah meninggalkan tempat itu ya," tatapan Andreas Jonathan tampak marah melihat orang-orang yang dicarinya sudah pergi dengan menggunakan helikopter.
*****