CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 190 Tetap Bertahan di Switzerland



Untuk memastikan keamanan Alexander, Andreas Jonathan tidak mengijinkan anak muda itu untuk pergi meninggalkan hotel. Apalagi hari sudah menjelang malam, dan acara akad nikah akan dilaksanakan pada pagi harinya. Selepas makan malam, akhirnya pihak keluarga tuan Wijaya memberikan ijin Stevie untuk bertemu dengan Alexander. Andreas Jonathan yang mengatakan hal tersebut, karena melihat ada tatapan kerinduan di mata adik kandungnya, dan tuan Wijaya serta Nyonya Sheilla tidak bisa mencegah keinginan itu,


"Pergilah Stevie.., mama mengijinkanmu. Karena tidak ada yang berani membantah kata-kata kakak kandungmu, pergilah temui Alexander.." Nyonya Sheilla tampak pasrah, dan menyuruh Stevie.


Stevie melihat ke arah mamanya, dan nyonya Sheilla tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih mam..." Stevie segera berjalan keluar dari dalam kamar. Ternyata Alexander sudah menunggunya di luar kamar. Laki-laki muda  itu tersenyum melihat gadis yang besok pagi akan dinikahinya itu keluar dari dalam kamar, keduanya berpelukan tapi Alexander segera melepaskan pelukannya,


"Kita berbincang di roof top hotel saja yukk. Sambil melihat kota Jakarta di  waktu malam.." Alexander segera memegang pergelangan tangan Stevie, kemudian mengajak gadis itu menuju ke pintu lift.


Tidak lama kemudian, kedua anak muda itu sudah masuk ke dalam lift, dan masih dengan tetap berpegangan tangan keduanya diam. Di roof top, lift berhenti dan Alexander segera mengajak calon istrinya keluar. Laki-laki itu memilih tempat di sudut ruangan, dan kota Jakarta dengan gemerlapnya terlihat jelas dari tempat duduk mereka berdua.


"Lemon tea manis panas dua ya, dan pancake saos maple.." Alexander meminta waiters menyiapkan minuman untuk mereka berdua. Di restaurant ini, hanya ada tiga meja yang berisi pengunjung, termasuk tempat yang diduduki oleh mereka berdua.


"Stevie.. bagaimana rencanamu, apakah kamu sudah membulatkan tekadmu untuk menikah denganku besok pagi. Meskipun aku yakin, sampai saat ini kamu sendiri masih meragukan keseriusanku padamu. Dan juga tidak ada rasa ketertarikan sedikitpun darimu kepadaku.." dengan suara pelan, Alexander mencoba mengukur keseriusan Stevie untuk menerimanya,


Gadis itu mengangkat wajahnya, tampak keingin tahuan terlihat di mata Alexander. Beberapa saat Stevie mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya kembali perlahan.


"Kak Alex.., jangan bertanya seperti itu kepada Stevie kak, apalagi besok pagi kita sudah akan melangsungkan akad nikah. Jujur kak, di awal-awal Stevie belum yakin dengan perasaanku sendiri pada kak Alex, karena kita sering bertengkar kecil jika kita bertemu. Dan tiba-tiba saja, seperti ada pemaksaan dan jebakan yang dipasang kak Alex yang membuat kita untuk menikah besok pagi.." sambil tersenyum, Stevie menanggapi pertanyaan Alexander. Gadis itu terdiam sebentar, dan Alexander tidak memotong perkataan gadis itu.


"Tapi kak... jujur, setelah berhari-hari Stevie sendiri, dan dipaksa papa dan mama untuk tidak bertemu dengan kak Alex, ternyata disitulah Stevie baru menyadari bagaimana perasaanku sebenarnya pada kakak. Pernikahan, akad nikah besok pagi tetap harus dilakukan kak, aku juga menyayangi kak Alex, dan bersedia menghabiskan hidupku selamanya berada di sisi kak Alex.." akhirnya Stevie menyampaikan perasaan yang sudah dipendamnya selama ini.


Alexander terpaku menatap wajah gadis itu tanpa berkedip, seperti mendapatkan guyuran air hujan setelah bertahun-tahun tidak mendapatkan air, kesejukan dan rasa nyaman dirasakan oleh Alexander.


"Apakah aku tidak salah mendengar kata-katamu Stevie..?" Alexander bertanya dengan suara pelan. Laki-laki itu mengambil kedua tangan gadis itu, kemudian menggenggam dan menciumnya beberapa kali. Stevie juga tersenyum dan kedua pasang mata itu saling bertatapan.


Sesampainya di kamar, Andreas Jonathan segera membaringkan punggungnya di atas king size bed kamarnya di Pant House. Tangan laki-laki itu meraba sebelah kanannya, tetapi tidak ada rasa hangat istrinya Cassandra yang selama ini tidak pernah berpisah dengannya, semenjak mereka melakukan pernikahan. Ada rasa kangen, dan rasa kehilangan meskipun baru dua hari, laki-laki itu terpisah dengan istri dan juga putranya.


"Hmm.. honey.., ternyata sudah sangat mendarah daging kehadiranmu di sisiku honey.. Aku sendiri tidak menyangka, akan bisa takluk di hadapanmu. Aku ingin, saat ini, kamu hadir disini dan memberiku kehangatan.." sambil mengusap sisi ranjangnya, Andreas Jonathan bicara sendiri.


Namun akhirnya, laki-laki itu hanya tersenyum kecut, karena harapan agar istrinya datang dan tidur di sampingnya hanya merupakan khayalan semata. Mereka saat ini terhalang oleh negara, dan butuh waktu paling sedikit dua hari untuk bisa bertemu kembali dengan keluarganya.


"Aku akan menelpon Cassandra, semoga saja istriku belum tidur jam segini.." melihat jarum jam di dinding kamar, laki-laki itu kembali beranjak bangun dari posisi tidurnya.


Tangan Andreas Jonathan meraih ponsel, yang tergeletak di atas meja kecil, kemudian menekan nomor ponsel istrinya. Tidak lama kemudian, terdengar sambungan masuk ke nomor Cassandra.


"Assalamu alaikum kak Andre.. dimana ini, apakah sudah sampai kembali di Pant House kak..?" dengan suara yang sangat dirindukan Andreas Jonathan, Cassandra menerima panggilan tersebut,


"Wa alaikum salam, aku senang sekali honey.. ternyata jam segini di Switzerland, honey belum tidur. Bagaimana kabar selama Altezz aku tinggalkan honey, kalian bisa menyesuaikan diri bukan dengan suhu udara di negara itu. Syukurlah, sudah beberapa jam lalu,  aku sudah sampai di hotel. Ini sudah masuk kamar, mau berangkat tidur teringat kalian berdua, makanya aku terus melakukan panggilan telpon ini." dengan wajah berbinar, karena panggilannya langsung tersambung, Andreas Jonathan bertanya kabar.


"Alhamdulillah, syukurlah kak. Sandra dan Altezz, tidak apa-apa kak. Kami malah senang, suasana disini sangat tenang, pemandangannya bagus, dan terutama Altezz seperti tersalurkan untuk bermain di halaman. Anak itu sudah mulai lancar berlarinya, dan sejak kemarin dengan suster Rosanna mencoba bermain bola di halaman tersebut. Menjadi tugas kak Andre.. untuk mengajak anak itu bermain, ketika sudah sampai kembali di Switzwerland." dengan ceria, Cassandra menanggapi pertanyaan dari suaminya,


"Syukurlah honey.. aku agak mengkhawatirkan kalian berdua sebenarnya, tetapi juga tidak enak pada papa, jika sampai aku tidak datang dalam pernikahan Stevie dan Alexander. Honey tahu sendiri bukan, bagaimana kedekatanku dengan Alexander, seperti kedekatan kakak terhadap adiknya sendiri." untuk menghilangkan perasaan rikuh pada istrinya, laki-laki itu sampai berucap demikian,


"Tidak perlu sampai berpikir seperti itu kak Andre.. Cassandra memaklumi itu semua. Bahkan jika kak Andre tidak meminta pada Cassandra, untuk tetap berada di negara ini. Mungkin Cassandra akan merengek untuk mengikuti kak Andre ke Indonesia. Bagaimanapun jasa kak Alex sangat besar kak pada Sandra dan juga Altezz, tidak mungkin kan, jika Sandra harus diam saja.."


"Jauhkan pikiran itu dari pikiranmu honey.. kamu dan ALtezz harus tetap berada di negara Switzerland, sampai aku mendengar kabar jika Sandrina dan Armansyah sudah menyerahkan diri mereka." dengan cepat, Andreas Jonathan menanggapi kata-kata itu.


******