
Alexander tersenyum melihat kedatangan Cassandra dan Andreas Jonathan, sudah sejak semalam ponselnya tidak pernah berhenti berdering gara-gara laki-laki itu. Nyonya besar Sandrina dan tuan besar Wijaya terus menghubunginya, menanyakan keberadaan Andreas Jonathan yang tidak pulang ke rumah. Karena dirinya merasa capai dan lelah, akhirnya mematikan ponsel, menjadi cara yang ditempuh Alexander tadi malam. Pagi ini, melihat tuan mudanya berjalan dengan sekretaris eksekutifnya, membuatnya menjadi berpikir lebih.
"Mungkinkan selera tuan muda sudah berubah secepat itu, mana ada menariknya penampilan Cassandra. Dibandingkan penampilan Jennifer, tidak ada 25% nya penampilan gadis itu, meskipun wajahnya juga sedap untuk dilihat sih.." Alexander berpikir sendiri.
"Ada apa Alex.. senyum-senyum sejak tadi," melihat wakil CEO senyum-senyum melihatnya, Andreas Jonathan bertanya sambil berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya.
Alexander tidak menjawab untuk menjaga perasaan Cassandra, laki-laki itu malah mengikuti CEO masuk ke dalam ruang kerjanya. Di luar hubungan sebagai atasan dan bawahan, kedua laki-laki itu memang sudah merupakan sahabat sejak kecil. Keberadaannya di PT. Indotrex, Tbk. karena ajakan dari Andreas Jonathan untuk membantunya di perusahaan. Sehingga untuk beberapa hal tertentu, Alexander dan Andreas Jonathan memiliki kedekatan emosional seperti sepasang saudara.
"Untuk apa kamu mengikutiku ke dalam ruangan Alex.., apakah ada yang aneh?" tanpa melihat ke arah Alexander, Andreas Jonathan yang langsung menuju ke meja kerjanya bertanya pada laki-laki itu.
"Ya jelas harus ada yang aku tanyakan dong tuan muda.. Semalam ponselku bisa meledak, hanya karena kepergian tuan muda tanpa memberi tahu keluarga. Tidak Jennifer, Nyonya besar, dan tuan besar menggangguku sepanjang malam. Memangnya tuan muda kemana, apakah sedang indehoy dengan Cassandra. By the way.. sejak kapan selera tuan muda berubah.." dengan lirikan menggoda, Alexander duduk di depan Andreas Jonathan.
"Kamu harus cuci bersih itu punya mulut, pikiran kotormu akan meracuni pekerjaan. Tidakkah kamu melihat ada hal yang aneh pada penampilan Cassandra pagi ini, sampai otakmu menelurkan pikiran kotor seperti itu." Andreas Jonathan berbicara keras dengan nada tinggi.
"Mansionku banyak, apartemenku juga banyak, dan tersebar luas di seluruh kota Jakarta ini. Belum lagi di kota-kota yang lain, apakah kamu berpikir jika aku akan kekurangan tempat tinggal untuk bermalam?? Dari pada, gendang telingaku pecah, mendengar perkataan mama yang tak tentu arah, mending aku cabut dan pergi dari rumah.." ternyata Andreas Jonathan tidak memberi tahu Alexander, mengenai keberadaannya tadi malam.
"Ha.. ha.. ha.. okay, okay. I know tuan muda. Pasti Nyonya besar terus meributkan tentang pernikahan bukan, sudah seusia segini, harta melimpah, tapi belum menetapkan hati untuk berlabuh.. Sama itu tuan muda, papa dan mamaku di Singapura juga sering menelponku dan bicara demikian. Tetapi untungnya kakakku juga belum mau menikah, jadi aku masih punya pembelaan.." Alexander malah tertawa terbahak-bahak.
Andreas Jonathan terdiam tidak memperhatikan perkataan wakil CEO nya. Laki-laki itu malah menyalakan laptop di depannya, dan memasukkan login ke situs bursa efek untuk memantau pergerakan harga sahamnya. Melihat kecuekan tuan muda yang mengabaikannya, Alexander tetap bertahan di ruangan tersebut. Tiba-tiba..
"Tok.., tok.. tok.." terdengar pintu ruang kerja diketuk tiga kali.
"Masuk.." sontak Alexander mempersilakan orang yang mengetuk pintu untuk masuk ke dalam.
Terlihat Cassandra masuk dengan membawa berkas di tangannya, dan tanpa ragu gadis itu mendatangi meja kerja tuan mudanya.
"Tuan muda.. ada seorang perempuan paruh baya dan nona Jennifer yang ingin bertemu dengan tuan muda. Mereka saya minta untuk menunggu di sofa ruang tamu. Semula mereka berdua menolak, tetapi untungnya ada bapak-bapak yang meminta untuk mengikuti arahan saya." mendengar kata-kata gadis itu, Andreas Jonathan tanpa sadar memijat pelipisnya.
"Fu**ck.., pagi-pagi begini sudah merusak mood orang. Alex.. kamu jangan pergi kemana-mana, dan harus tetap berada di tempat ini." Andreas Jonathan tidak menanggapi perkataan Cassandra, tetapi malah meminta Alexander untuk tetap bersamanya menemui orang-orang yang disebut Cassandra tadi.
"Baik tuan muda.." sahut Cassandra, kemudian berbalik badan dan melangkah keluar.
**********
Tiga orang memasuki ruang kerja Andreas Jonathan dengan penampilan arogan, terutama perempuan paruh baya dan Jennifer. Sedangkan yang laki-laki terlihat lebih santun dibandingkan dengan dua perempuan yang datang bersamanya. Tanpa menunggu dipersilakan, ketiga orang itu segera duduk di atas sofa, dan dengan malas dua laki-laki yang duduk di samping meja kerja itu melihat ke arah mereka.
"Tante Sandrina.., Om Wijaya.. selamat datang kembali di Indonesia om, tante.." ALexander segera berdiri dan menyalami kedua orang tua itu. Tetapi laki-laki itu tidak menyalami dan mengabaikan keberadaan Jennifer.
"Iya Lex.. gara-gara ulah Andre.. akhirnya tante harus datang sendiri ke negara ini. Kamu kesini Andre.., jangan mengabaikan kedatangan orang tua. Sudah semalam tidak pulang tanpa sedikitpun kasih kabar, malah mama dan papa datang, malah tidak menyambut kedatanganku." Nyonya Sandrina menanggapi perkataan Alexander, dan menatap dengan pandangan marah ke arah putranya.
Andreas Jonathan mengambil nafas panjang, kemudian laki-laki itu berdiri dan mendatangi kedua orang tuanya. Jennifer sudah bergeser tempat duduknya untuk memberi ruang bagi laki-laki yang dicintainya itu, namun Andreas malah menuju ke samping papanya, tuan Wijaya. Jennifer terlihat kecewa mendapatkan perlakuan seperti itu dari CEO PT. Indotrex. Tbk.
"Kamu kemana semalam Andre.., papa dan mama menunggumu untuk diajak bicara, kamunya malah tidak pulang." masih dengan nada yang enak didengar, Tuan besar Wijaya bertanya pada putranya.
"Tidur di apartemen pap.., habis sudah malam. Malas mau pulang, dan begitu lewat depan apartemen, akhirnya Andre memutuskan untuk menginap disana." dengan santai Andreas menanggapi perkataan papanya,
"Kenapa tidak pamit pada kami, apakah kamu sudah tidak menghargai keberadaan mama dan papa.. Andre. Jika kamu tahu, kedatangan kami ke Indonesia itu karena peduli dengan kamu, putra satu-satunya dari pasangan Sandrina dan Wijaya." mendengar jawaban santai putranya, Nyonya besar Sandrina terpantik kemarahan,
"Dan mama tidak mau tahu, kamu harus mendengarkan kata-kata mama. Bulan ini juga, kamu dan Jennifer harus segera melangsungkan pernikahan. Mama sudah hubungi wedding organizer untuk mengurus semuanya.." lanjut Nyonya besar Sandrina.
Dari samping perempuan paruh baya itu, terlihat Jennifer mengulum senyum kemenangan. Gadis itu berpikir, jika apa yang diimpikannya tinggal satu langkah lagi. Dirinya sudah akan menjadi nona muda di keluarga Wijaya.
"Jika mama ngotot untuk mengatur itu, mama sajalah yang melangsungkan pernikahan kembali. Andre tidak mau mam.. , Andre belum memiliki kesiapan untuk berpikir ke arah situ." mendengar mamanya yang berkata tinggi, tiba-tiba Andreas Jonathan berdiri dan keluar dari dalam ruangan kerja.
*********