CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 118 Harapan Baru



Sesaat setelah kegiatan olah arah berakhir, dan untungnya kali ini Nyonya Sandrina hanya diminta untuk membersihkan rumput yang tumbuh di halaman. Meskipun dengan perasaan jijik, karena harus bersih-berish, perempuan paruh baya itu tetap membersihkan rumput karena tidak mau diintimidasi oleh teman-teman sesama nara pidana.


"Duakk... he.. maaf ga sengaja.." tiba-tiba sampah dan rumput yang sudah dikumpulkan dan dimasukkan Sandrina terhambur keluar, dan seorang perempuan dengan perawakan kekar terlihat tertawa tanpa merasa bersalah.


"Tidakkah kamu bisa melihat dulu, ketika melangkahkan kaki tatkala berjalan.." dengan perasaan jengkel, Nyonya Sandrina bertanya pada perempuan itu.


Tiba-tiba saja kedua tangan perempuan yang sudah menendang keranjang sampah itu, terulur ke leher Sandrina. Dengan tatapan mata tajam penuh ancaman, perempuan itu menatap pada Sandrin, dan tidak lama kemudian tubuh Sandrina terangkat ke atas,


"Kenapa.. apakah kamu tidak terima dengan apa yang aku lakukan tadi perempuan kejam.." dengan sinis, perempuan itu berbicara langsung di depan wajah Sandrina. Bahkan ludah perempuan itu tersembur keluar membasahi wajah Sandrina.


"Ayo.. ayo.. ayo.. jangan lepaskan Bombi.. Sudah lama kita tidak melihat dan tidak mendapatkan hiburan. Pukul dan habisi perempuan itu, Ha.. ha.. ha..." tidak diduga, ternyata banyak para nara pidana yang berkumpul dan mengelilingi tempat dimana perempuan yang dipanggil dengan nama Bombi tadi, mengangkat tubuh Sandrina ke atas hanya dengan menggunakan satu tangannya,


Melihat keadaan itu, tubuh Sandrina merasa menggigil ketakutan, dengan mengangkat kedua tangannya, perempuan itu meminta maaf pada Bombi, meskipun sebenarnya dia tidak bersalah. Begitulah kehidupan di dalam penjara, bukan masalah benar atau salah yang akan menjadi penentu keselamatan. Namun hukum rimba berlaku di dalamnya, siapa yang kuat, dialah yang akan dapat menindas yang lainnya.


"Pritt.. teng.. teng..." tiba-tiba terdengar peluit berbunyi dan seng dipukul oleh petugas sipir, sebagai tanda peringatan jika mereka harus berkumpul,


"Bruakk.. selamat kamu sekarang. Tetapi ingat.. jika aku dengar sekali lagi, kamu berani memancing masalah denganku, maka kamu tidak akan aku ampuni.." tubuh Nyonya Sandrina dijatuhkan dengan keras oleh Bombi, dan punggung serta pantatnya menabrak tempat sampah yang terbuat dari seng yang ada di bawah mereka.


"Ha.. ha.. ha.., bagus Bombi.. Sayang episodenya harus dijeda oleh panggilan sipir penjara. Ayo kita ke pendhopo, akan ada siraman rohani. Katanya sipir kali ini mendatangkan ustadz yang sudah cukup terkenal di negara ini.. Ayo.." terdengar satu orang mengajak nara pidana yang lain untuk berkumpul di pendhopo.


Beberapa orang yang tadi mengelilingi Sandrina dan Bombi, segera berlari membubarkan diri untuk menuju ke arah pendhopo. Tidak ada yang membantu Sandrina untuk sekedar berdiri dan mengikuti mereka.


Nyonya Sandrina merasa kesakitan, namun perempuan itu sudah tidak berani bersuara. Perlahan Nyonya Sandrina mengusap pantat dan punggungnya sambil mengaduh perlahan. Air mata tampak mengalir dari sudut mata perempuan itu. Nyonya Sandrina tidak pernah membayangkan jika pada akhirnya, akan mengalami nasib dan keadaan seperti itu.


"Cepat berkumpul semuanya di pendhopo... prittt.." terdengar teriakan dari sipir penjara memanggil semua nara pidana untuk berkumpul.


Dengan berhati-hati dan sambil merangkak, akhirnya Nyonya Sandrina bisa berdiri dan perlahan dengan tertatih berjalan  menuju ke pendhopo. Rasa perih di pinggangnya karena terantuk dengan tempat sampah dari seng tadi, tidak dirasakan oleh perempuan itu.


********


"Ssstt.. kesini, mundurlah.." tiba-tiba ada yang mencolek punggung Nyonya Sandrina, dan terdengar bisikan agar perempuan itu mengikuti.


Nyonya Sandrina menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan tidak suka dari orang-orang yang duduk di belakangnya. Terlihat Jennifer memberinya isyarat untuk mengikutinya. Memiliki harapan pada gadis itu, akhirnya nyonya Sandrina mengikuti panggilan dari gadis itu. Perlahan Nyonya Sandrina menggeser tubuhnya ke belakang, dan tidak lama kemudian perempuan itu sudah ditarik Jennifer dan diajaknya ke kamar mandi.


"Tante.. apakah tante masih memiliki cash money di luar penjara, yang bisa dengan mudah tante cairkan," Nyonya Sandrina bingung dengan arah pertanyaan dari gadis itu.


"Apa maksudmu Jennifer, berapapun cash money yang aku miliki, apakah bisa berarti untuk saat ini. Pikirkan dengan logikamu, gara-gara otak kotormu itu, yang menghantarkan kita sampai disini." seperti mendapatkan pelampiasan untuk mengeluarkan uneg-unegnya, Nyonya Sandrina melampiaskan kemarahannya pada Jennifer.


"Tutup mulutmu perempuan tua.. aku menemukan jalan kebebasan yang ditawarkan oleh sipir penjara. Jika kamu mau, hari ini juga kita akan bebas, bersama dengan pulangnya ustadz itu. Tetapi kita harus membayar uang yang tidak sedikit sekitar 1.5 milyar untuk berdua. Jika tante okay, aku akan mengatakan pada sipir itu. Dia lagi butuh duit untuk pengobatan anaknya yang sakit. Bagaimana.." Jennifer terus mendesak Nyonya Sandrina,


"Apakah kamu tidak berbohong padaku Jenni.. uang itu akan aku gunakan  untuk melarikan diri, jauh dari kehidupan Wijaya dan Andreas Jonathan. Aku yakin dua orang itu tidak akan melepaskanku, untuk itu aku harus pergi dan menjauh dari Jakarta. Sambil menunggu pencekalanku di bandara dicabut.." terlihat Sandrina masih cukup berhati-hati.


"Untuk apa aku berbohong pada tante, Jenni juga tidak mau terus bersembunyi di penjara busuk ini. Cepat putuskan tante, karena Ustadz Fathir tidak akan lebih dari dua jam berada di penjara, agar sipir bisa membuat pengaturan untuk kita." Jennifer terlihat tergesa-gesa, dan sesekali mengangkat kepala untuk mengamati situasi.


Nyonya Sandrina terdiam, dan terlihat berpikir beberapa saat. Tapi tidak lama kemudian..


"Baik Jenni.. atur semuanya, apa yang harus kita lakukan semuanya. Aku akan mengikutimu, kita harus segera keluar dari penjara ini, dan akan kita pikirkan nanti hal lain di luar penjara." akhirnya Nyonya Sandrina membuat keputusan.


"Good job tante.. sekarang kita kembali ke tempat pengajian. Tidak perlu duduk di tengah, agar Jenni mudah untuk menemukan tante. Jenni akan mencari orang, yang sudah menawarkan peluang ini pada kita.." ucap Jennifer dengan bersemangat.


Kedua perempuan itu kemudian memisahkan diri, dimana Jennifer segera mencari sipir yang menawarkan peluang untuk membebaskan diri itu. Sedangkan Nyonya Sandrina, segera kembali dan bergabung dengan para nara pidana lainnya. Muncul harapan baru pada hati perempuan itu, dan ada rasa dendam yang tersirat atas kekejaman Andreas Jonathan kepadanya. Padalah sudah sejak anak muda itu bayi, dia selalu bersama menemaninya.


**********