CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 245 Selamat Tinggal



Beberapa Hari kemudian...


Ketika semua penghuni di apartemen Arron sudah tertidur dengan pasangan mereka masing-masing, Armansyah dengan membawa tas punggungnya berjalan keluar dari dalam apartemen tersebut. Laki-laki itu sudah memiliki janji dengan anak buah Thanom untuk mengantarkan ke bandara Zurich. Merasa sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari keberadaannya di negara Swiss, laki-laki paruh baya itu memutuskan untuk kembali ke Singapura, negara yang sudah membesarkannnya menjadi setua itu.


"Aku terpaksa harus pergi meninggalkan kalian, karena tidak ada yang bisa aku harapkan lagi disini. Sheilla dan Stevie benar-benar sudah pergi dan menjauh dariku, apakah hanya untuk mewujudkan balas dendam Sandrina dan Jennifer saja keberadaanku di negara ini...?" sebelum menutup pintu apartemen, Armansyah berguman sendiri.


Laki-laki tua itu berhenti beberapa saat, kemudian mengambil nafas dalam dan mulai berjalan menuju ke arah pintu lift. Untungnya, karena masih pagi belum ada penghuni apartemen yang memanfaatkan lift, sehingga begitu Armansyah menekan tombol anak panah turun, pintu lift langsung terbuka. Tanpa berpikir lama, laki-laki itu segera mengikuti lift untuk menuju ke arah lobby apartemen. Tidak lama kemudian...


"Selamat pagi Armansyah, apakah kita sudah siap untuk menuju ke arah bandara.." di depan customer service yang terlihat masih mengantuk, anak buah Arron menyapa laki-laki itu.


"Selamat pagi, kamukah orangnya Arron yang bersedia untuk mengantarkanku," sebagai basa basi, Armansyah menanggapi sapaan dari laki-laki muda itu.


"Siap Armansyah..." ucap laki-laki muda itu. Keduanya segera menuju ke mobil laki-laki muda itu, yang sudah berada di depan pintu lobby. Tanpa menunggu dibukakan pintu mobilnya, Armansyah membuka sendiri pintu mobil tersebut, dan laki-laki itu duduk di samping kursi pengemudi. Tidak lama kemudian, laki-laki muda itu segera masuk dan duduk di belakang kemudi. Beberapa saat, laki-laki muda itu mulai menginjak pedal gas, dan mobil mulai maju berjalan ke depan.


"Kemanakah negara tujuan anda Armansyah, apakah boleh saya mengetahuinya..  Namaku Chakram. " laki-laki yang mengemudikan mobil itu mengenalkan dirinya.


"Rencana akan kembali ke SIngapura Chakram, karena disanalah tempat asalku berada. Dalam usia tuaku ini, sudah tidak ada manfaatnya aku berkelana, membalas dendam. Sepertinya aku membutuhkan ketenangan untuk menghabiskan masa tuaku.." tidak tahu kenapa, Armansyah malah curcol pada laki-laki muda itu.


Laki-laki muda melihat dan mengamati laki-laki yang duduk di sampingnya, kemudian tanpa sadar dia tersenyum. Sepertinya dengan melihat pada Armansyah, anak muda itu seperti mengingat sesuatu, Merasa jika anak muda itu mengamatinya, Armansyah menoleh dan pandangan keduanya saling bertatapan,


"Untuk apa, sejak tadi kamu melihatiku anak muda.. Apakah ada sesuatu yang aneh pada diriku..?" Armansyah bertanya pada Chakram.


"Melihat wajah dan perawakan anda, mengingatkan saya pada bapak saya Armansyah. Tapi sudah beberapa saat saya belum mengunjungi bapak saya.." Chakram tersenyum, dan menanggapi pertanyaan Armansyah.


"Belum mengunjungi, kata belum.. berarti kamu masih bisa mengunjunginya. Luangkan waktumu anak muda, jangan sampai seperti aku, tidak ada anak, tidak ada istri yang menemaniku. Di masa-masa seperti ini, aku hanya ingin ketenangan dalam hidupku. Alasan itulah yang membuatku memutuskan untuk meninggalkan Sandrina dan semuanya di apartemen. Ternyata balas dendam tidak memberikanku kebahagiaan.." sahut Armansyah sambil mengarahkan pandangan keluar mobil.


Chakram terdiam, dan laki-laki muda itu terlihat bingung seperti ingin menyampaikan sesuatu.


"Apakah ada yang akan kamu sampaikan kepadaku Chakram..?" melihat ekspresi bingung anak muda itu, Armansyah bertanya pada Chakram


Armansyah terdiam beberapa saat, cerita anak muda itu seperti menggelitik hatinya. Seperti muncul keinginan di hati laki-laki tua itu, untuk menjalani kehidupan seperti papanya Chakram.


"Chakram... tempat yang kamu ceritakan sangat menarik. Aku sepertinya butuh tempat itu, karena kembali ke Singapura pun, aku juga akan menemukan kekosongan. Tidak ada yang akan menemaniku, dan akhirnya aku hanya akan khawatir pada kehidupan lamaku. Aku sudah bosan menjalani itu semua.." Armansyah tiba-tiba memancing pembicaraan dengan anak muda itu.


"Benarkah Armand.., jika iya.., mungkin kita bisa batalkan tujuan ke bandara. Kebetulan sekali, sudah beberapa saat, saya ingin berkunjung dan melihat keadaan papa saya. Bagaimana keadaan, dan kesehatannya..?" seperti mendapatkan teman, Chakram menanggapi serius.


"Okay... butuh berapa lama perjalanan untuk menuju ke desa Muerren... Chakram..?" Armansyah langsung mengiyakan,


"Kita harus menuju ke Inter Laken West dulu Armand, jadi sekitar dua jam-an kita ke Inter Laken West, dan jika tanpa istirahat sekitar tiga jam kita akan mencapai pengunungan Alpen. tetapi untuk menuju Desa muerren, kita harus menempuh perjalanan ke atas dengan jalan kaki, dan meninggalkan mobil di posko pendakian ke gunung Alpen.." sambil memutar balik arah mobil, Chakram menjawab pertanyaan Armansyah dengan muka cerah.


"Aku percaya padamu anak muda..., berada dimanapun tidaklah penting bagiku. Menjalani hidup sendiri, berusaha melupakan kekelaman dan kejamnya masa laluku, mungkin akan bisa memberikan ketenangan bagiku. Bawalah aku ke desa itu...!" tampak pasrah, Armansyah menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil.


"Siap Arman.. aku akan mengarahkan mobil menuju kota Inter Laken. Semoga tidak ada kendala yang menghalang kita dalam perjalanan." sahut Chakram,


Tanpa diketahui laki-laki muda itu, Armansyah mengambil ponsel kemudian masuk ke aplikasi whattapps. Tiba-tiba saja, sebelum mengakhiri masa kehidupan merdekanya, Armansyah ingin mengirimkan pesan terakhirnya pada Stevie putrinya. Laki-laki itu mengetikkan satu kalimat panjang, yang intinya berpamitan, dan minta dimaafkan atas semua kesalahannya selama ini.


********


Inter Laken


Stevie yang sedang duduk di balkon sambil menatap pemandangan gunung yang ada di depan matanya, tiba-tiba dikejutkan dengan dering pesan masuk ke aplikasi whattappsnya. Perempuan muda itu mengerenyitkan dahi, melihat ada nomor asing yang mengiriminya pesan. Melihat tidak ada Alexander di sampingnya, Stevie menggulir pesan tersebut.


"Maafkan atas semua kesalahan dan dosa-dosa papa selama ini Stevie.. Sampaikan juga pada mamamu, papa selalu merindukan kalian semua. Kejadian di saat dulu adalah sebuah kesalahan, dan sekarang papa sudah menyadarinya. Saat ini papa dalam perjalanan menuju Inter Laken West, untuk menuju desa Muerren. Di desa itu, papa akan menghabiskan masa tua papa. Selamat tinggal Stevie.. Love you.. Your papa, Armansyah.." jari tangan Stevie bergetar membaca pesan yang dituliskan Armansyah untuknya,


********