
Beberapa saat akhirnya Aseng sudah bisa kembali menguasai emosinya, dan bisa diajak bicara dengan kepala dingin. Terlihat laki-laki itu mengambil nafas dalam, kemudian mengeluarkannya perlahan. Tampak Tagor melihatnya dengan perasaan khawatir, namun sedikitpun tidak terlihat rasa gentar atau ketakutan di mata Alexander. Laki-laki itu tetap percaya diri melihat pada pengelola apartemen itu.
"Sebenarnya Mrs. Sheilla menutup informasi tentang keberadaannya dalam apartemen ini, karena intimidasi yang diperoleh dari suaminya. Laki-laki bejat itu selalu melakukan intimidasi, dan menjadikan perempuan itu sebagai sapi perahnya. Padahal kesehatan perempuan itu sudah tidak lagi sama seperti dulu, dan sudah tidak dapat bekerja dengan baik. Putri gadisnya yang saat ini menjadi satu-satunya harapan untuk melanjutkan hidupnya, dan Stevie sangat protective terhadap mamanya." akhirnya Aseng mulai membuka pembicaraan.
Alexander tidak berkomentar, tetapi laki-laki itu tiba-tiba mengeluarkan beberapa uang dollar Singapura. Kemudian laki-laki itu meletakkan beberapa lembar uang dollar itu di depan Aseng. Mata Aseng melotot, dan menatap ALexander dengan tatapan marah.
"Jangan salah paham Aseng.. tuan Alexander bukan berarti memandang rendah posisimu. Itu merupakan cara beliau mengapresiasi bantuanmu, terimalah tuan Alexander tidak akan mempermasalahkannya." untungnya Tagor membaca gelagat kemarahan Aseng, dan laki-laki itu kemudian menenangkannya.
Aseng terdiam sebentar, kemudian melihat ke wajah Alexander yang tenang tanpa riak sedikitpun. Meskipun melihatnya bereaksi atas sikapnya, terlihat wajah Alexander tidak terpengaruh sedikitpun. Hal itu malah menimbulkan ketakutan pada diri laki-laki itu.
"Kedatangan kami kemari karena ada yang mau bertemu dengan Mrs. Sheilla, karena akan ada yang ditarik ke belakang dari kehidupan perempuan itu, jauh sebelum perempuan itu menikah dengan laki-laki biadab itu. Jangan dikhawatirkan.. urusan dengan laki-laki biadab itu akan segera berakhir, aku pastikan itu jika sampai tuan muda yang meminta kami datang kesini, mengetahui kisah itu." Tagor menambahkan.
"Baiklah.. aku akan mencoba negosiasi dulu dengan putrinya. Karena Miss Stevie sangat menjaga dan melindungi mamanya, dan tidak segan-segan akan membuat keributan dengan siapapun yang melanggar batas bawahnya. Tanggung jawab Mrs. Sheilla saat ini berada di tangan gadis itu, bahkan apartemen inipun yang memilih Miss. Stevie sendiri." Aseng menjelaskan.
"Hmm... lakukan." ucap Tagor cepat.
Terlihat Aseng berdiri dan menyingkir dari dua laki-laki itu. Aseng mencari saluran telephone, kemudian terlihat melakukan panggilan pada seseorang. Namun Alexander dan Tagor tidak mau tahu, dengan siapa laki-laki itu berhubungan.
"Bagaimana Miss Stevie.. help me please. Mereka memaksaku untuk bisa berbicara dengan Mrs Sheilla, ijinkan meskipun hanya sebentar. Aku yang akan menjamin keselamatan Mrs. Sheilla, dan aku yakin mereka orang baik. Bahkan laki-laki itu mengatakan jika mereka hanya akan berhubungan dengan masa lalu Mrs. Sheilla, jauh ketika belum berhubungan dengan papamu sekarang." terdengar Aseng seperti berusaha meyakinkan seorang perempuan. Dari gaya bicara Aseng, sepertinya lawan bicaranya memiliki hati yang keras, dan sulit untuk dijinakkan.
Beberapa saat Aseng terdiam, tetapi akhirnya seperti sudah terjadi kesepakatan dengan gadis yang diajaknya bicara dalam saluran telepon. Selagi Aseng melakukan panggilan telpon, ternyata Alexander juga menghubungi tuan mudanya, untuk meluncur menuju apartemen tersebut. Apalagi setelah mendapatkan informasi yang valid, jika ternyata Nyonya Sheilla betul-betul tinggal di dalam apartemen itu. Tagor hanya menatap ke arah Alexander dan ke arah Aseng yang datang mendekati mereka di sofa tamu.
**********
Beberapa saat kemudian
Seorang gadis menatap tajam ke arah laki-laki yang duduk di atas sofa, dan terlihat kemarahan naik di wajah gadis itu. Untungnya Alexander dan Tagor segera mengangkat wajahnya, dan beradu pandang dengan tatapan gadis itu. Aseng yang tidak mengetahui permasalahan dengan kedua orang itu, tampak bingung dan mencari tahu pada Tagor, yang hanya mengangkat kedua bahunya ke atas.
Mendapat perlakuan seperti itu, bukannya marah, Alexander malah tersenyum kemudian mendatangi gadis itu. Tidak lama kemudian, ALexander sudah berdiri di depan gadis yang bernama Stevie itu. Alexander bersedekap, dan sambil tersenyum melihat ke arah gadis itu.
"Tidak kusangka ternyata kita bisa berjumpa lagi gadis cantik." tidak diduga, Alexander yang biasa bersikap cuek dengan gadis manapun, kali ini menggoda Stevie.
Gadis itu melirik kesal, dan menatap Alexander dengan perasaan tidak senang. Namun Alexander malah semakin menggodanya, apalagi setelah tahu jika gadis itu adalah adik tuan mudanya. meskipun mereka belum saling kenal, namun beberapa sikap kekerasan Stevie sama dengan sikap Andreas Jonathan.
"Tuan Aseng.. apakah laki-laki kurang ajar ini yang ingin bertemu dengan mama.. Tidak akan aku ijinkan, jangan sampai mama terkena pengaruh buruk dari laki-laki tidak tahu malu ini." Stevi berteriak bertanya pada Aseng.
"Iya Miss... please.. saya sudah berjanji akan mempertemukan tuan Alexander dengan Mrs. Sheilla. Bantu saya miss.." dengan gelagapan, Aseng menanggapi kata-kata Stevie.
Stevie masih diam melihat Aseng dengan tatapan membunuh, dan Alexander hanya senyum-senyum terus bersikap menggoda gadis itu. Tiba-tiba tanpa mereka sadari, seorang laki-laki bertubuh gagah, dengan tatapan tajam melihat mereka dari depan pintu lobby. Tampak seorang gadis cantik yang sedang menggendong bayi yang sedang membuka mata, tampak mendampingi laki-laki itu.
"Uhuk.. uhuk.." Alexander sontak menoleh ke arah pintu, dan melihat siapa yang datang, laki-laki itu langsung bersikap hormat. Sikapnya yang tadi terkesan celelekan melihat Stevie, kali ini terlihat patuh menatap pasangan suami istri yang baru datang tadi.
Stevie terdiam, dan mencoba melihat ke arah laki-laki yang seperti memiliki tatapan menghipnotis itu. Namun ketika melihat gadis muda yang sedang menggendong bayi di sampingnya, pandangan Stevie kembali merasa segar.
"Selamat datang tuan muda.. seperti yang tadi sudah saya informasikan, Mrs. Sheilla benar terdeteksi tinggal di apartemen ini. Dan kunci untuk bisa bertemu dengan perempuan itu, adalah dia kuncinya.." Stevie kaget dan tersentak, ketika tiba-tiba tangan Alexander menunjuk ke wajahnya. Gadis melotot pada Alexander, namun laki-laki itu malah pura-pura tidak melihatnya.
"Apa maksudmu Alex.. apakah kata-katamu bisa untuk digunakan sebagai pegangan?" Andreas Jonathan seakan meragukan perkataan wakil CEO nya itu.
"Sejak tadi saya sudah bernegosiasi dengan gadis ini, jika saya tidak salah, gadis ini yang bernama Stevie, putri Mrs. Sheilla dengan suami barunya. Saya baru meminta ijin kepadanya, agar diijinkan untuk bertemu dengan mamanya, namun sepertinya Miss Stevie menunggu kedatangan tuan muda.." Alexander segera melaporkan apa yang terjadi.
Andreas Jonathan terdiam, laki-laki itu hanya menatap ke arah Stevie. Dalam dia, dua anak muda itu saling bertatapan, berusaha mengenali pribadi masing-masing.
**********