
Kedua anak muda itu menghabiskan rokok, sambil menatap bintang di langit yang terlihat cerah. Asap rokok mereka memenuhi tempat mereka berada, namun keduanya tampak tidak mempedulikan. Mereka berpikir, kenapa masalah selalu menghampiri kehidupan mereka, padahal mereka merasa tidak pernah memulai mengganggu kemerdekaan orang lain. Masalah demi masalah datang seakan belum memiliki penyelesaian, sudah datang masalah yang baru.
"Apakah kita untuk sementara akan berhenti bertindak kak, tapi sebenarnya aku sudah meminta beberapa anak buah untuk terus mengejar keberadaan Nyonya Sandrina dan Armansyah. Tetapi dengan datangnya Thanom, suami baru Sandrina, memang agak menimbulkan kendala. Sebagai seorang pemimpin perang, yang terbiasa hidup di pedalaman, orang itu memiliki segudang akal. Aku belum bisa menembus keamanannya." Alexander meminta petunjuk dari Andreas Jonathan.
"Kita tunggu saja pergerakan mereka Alex.., karena kita juga tidak akan mengikuti mereka, dan menghabiskan sumber daya hanya untuk mengejarnya. Dari awal, kita ini hanya wait and see. Jika mereka mencari masalah, dan membuat kerugian untuk kita, barulah kita akan bertindak untuk memberikan pelajaran pada mereka. Namun.. jika mereka diam, maka kitapun juga tidak akan mengusik mereka." dengan malas, Andreas Jonathan memberi tanggapan. Pikiran laki-laki muda itu sejak tadi, belum bisa beralih dari istri dan putranya yang berada di Switzerland.
"Baik kak... aku akan menyampaikan semua yang kak Andre perintahkan pada semua anak buah kita. Sejauh ini, sepertinya aman kak.. tidak ada indikasi jika Nyonya Sandrina dan Armansyah sudah berhasil mengintip pergerakan kita. Karena sepertinya, ikatan batin antara Stevie dengan papa yang merawatnya sejak gadis itu masih bayi yaitu Armansyah masih erat. Hal itu terbukti, tanpa kita tahu, Armansyah bisa mengirimkan florist pada saat kami melangsungkan pernikahan. Padahal jika memang mereka memiliki niat jahat, dengan mudah mereka akan menghancurkan kita." ucap Alexander.
Dua anak muda itu terdiam, mereka menghabiskan rokok yang berada di tangan mereka. Menjelang tengah malam, Andreas Jonathan berdiri untuk meninggalkan tempat tersebut. Alexander yang sudah berada di tempat itu lebih dulu, juga mengikuti kakak iparnya. Kedua anak muda itu memasuki lift, dan tidak lama kemudian pintu lift meluncur ke bawah.
"Kak.., private jet ready pukul enam pagi dari Bandara Halim Perdana Kusumah. Tapi pilot menyampaikan akan transit sebentar di Changi Singapore, karena ada yang mau dikirimkan ke airport tersebut. Kak Andre tinggal menyesuaikan, mau jam berapa menuju ke bandara Halim." sebelum keluar dari lift, Alexander yang sudah mendapat kabar dari pilot dan pramugari serta co pilot, segera melaporkan persiapan.
"Hmm... jam lima pagi, antar aku ke airport.." sambil melangkahkan kaki meninggalkan Alexander, Andreas Jonathan memberi jawaban pada adik iparnya.
Alexander terdiam, dan setelah mengamati punggung kakak iparnya yang sudah masuk ke dalam kamarnya, laki-laki itu kemudian berbelok ke kanan untuk menuju ke kamar tidurnya. Sebelum masuk, Alexander melihat ke arah jam, dan waktu ternyata sudah menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh pagi, dan tadi Andreas Jonathan minta diantarkan ke bandara jam lima pagi.
"Aku tidak bisa tidur dulu, khawatir kesiangan. Karena jam lima kurang aku sudah harus siap-siap untuk mengantarkan kak Andre.." Alexander akhirnya membatalkan niatnya untuk menyusul Stevie tidur. Laki-laki muda itu malah berjalan menuju ke ruang kerja,
**********
Inter Laken
Hubungan Edward dan Cassandra menjadi lebih dekat, apalagi Altezza sangat berperan membuat kedekatan keduanya bertambah akrab. Sosok Edward mungkin bisa mengobati kerinduan ALtezza akan sosok kedatangan papanya, dan anak muda itu sangat pintar mengambil hati anak kecil itu. Bahkan tanpa ada Cassandra, Altezza sering bepergian sendiri dengan Edward. Cassandra sampai lupa untuk meminta Edward pergi dari mansion itu, karena ternyata sewaktu-waktu, selain pada pengawal atau maid, perempuan muda itu juga membutuhkan teman untuk berbincang.
"Mommy... Altezz punya pesawat terbang momm..." ALtezza berlari sambil menunjukkan pesawat jet rakitan pada mommy nya.
"Boleh mommy lihat sebentar sayang, untuk memastikan apakah mainan ini aman untukmu atau tidak.." untuk memastikan agar Altezaa selalu aman, Cassandra dan semua maid di mansion itu, selalu memeriksa keamanan mainan yang dimiliki anak kecil itu.
"Hemm... ini bukan mainan biasa. Aku tidak membelikannya, dan pasti suster Rosanna juga tidak akan mampu memiliki mainan ini. Siapakah yang memberikan pesawat ini pada putraku, karena harga mainan sangat mahal ratusan juta." Cassandra mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang yang memberikan mainan itu. Namun perempuan muda itu tidak melihat siapapun di tempat itu, selain hanya putranya Altezza.
"Ataukah mainan ini punya kak Andre saat masih kecil, dan tanpa sengaja ditemukan oleh ALtezz.." perempuan muda masih terlihat bingung.
"Mommy... kita ke halaman belakang yukkk, Altezz akan ajari mommy untuk menerbangkan pesawat ini. Altezz sudah belajar dari Uncle Ewad mommy... " tiba-tiba tangan kecil ALtezza menarik pergelangan tangan Cassandra.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh perempuan muda itu, selain hanya menuruti keinginan putranya. Tetapi mendengar putrranya menyebut nama Edward, pikiran Cassandra berkembang pada anak muda itu.
"Hemm...., Edward, pasti anak muda itu, kenapa aku sampai melupakannya. Berarti melihat nilai dari mainan ini, dan dengan mudahnya anak muda itu bisa memberikan pada putraku Altezz, berarti anak muda itu bukan anak muda sembarangan. Aku harus lebih hati-hati dan mencari tahu, siapakah anak muda itu sebenarnya." sambil berjalan mengikuti putranya Altezza, Cassandra berpikir sendiri.
"Selamat sore nona muda.., apakah perlu saya siapkan minuman hangat untuk nona muda dan tuan kecil di belakang.." berpapasan dengan Cassandra dan Altezza, Jane maid yang bekerja di mansion itu menawarkan minuman.
"Yap... taruh di atas gazebo saja ya. Aku akan menemani Altezza bermain dulu, dan nanti jika minuman sudah siap, beri tahu aku.." sambil berjalan melangkahkan kaki di atas rerumputan, Cassandra memberi arahan.
"Baik nona muda.. selamat menikmati sore hari dengan tuan kecil." Jane kemudian membalikkan badan kembali masuk ke arah bangunan dapur.
"Mommy.. kesini, lihat Altezz mommy..." Altezza berteriak meminta mommy nya mendekat kepadanya,
Cassandra tersenyum dan berjalan mendekati putranya, dan tidak lama kemudian tangan kecil Altezza mulai menekan tombol yang ada pada remote control yang ada di tangan mungilnya.
"Roarrr.... roarr...." bunyi mesin pesawat kecil terdengar, dan tidak lama kemudian pesawat kecil itu terbang ke atas. Cassandra memandang takjub mainan anak kecil itu.
***********