
Cassandra berdiri di teras rumah yang terlihat sepi. Rindangnya pohon mangga dan pohon kelengkeng tampak menyejukkan tempat, dimana Ketika masa kecil gadis itu sering menghabiskan waktu bermain di bawahnya. Tetapi Ketika mamanya memutuskan untuk menikah lagi dengan orang yang tidak tepat, Cassandra sudah lama tidak pernah lagi datang ke tempat itu.
“Mau ketemu siapa mbak, sepertinya rumah sepi hanya ada Bu Dhini di dalam.” Cassandra menoleh ke belakang, mendengar suara orang di belakangnya. Melihat perempuan tua itu, Cassandra tidak merasa asing mengenalnya, pada saat kecil dirinya sering main ke rumah perempuan itu.
“Bibi Lilis benarkah ini..” Cassandra segera mendatangi perempuan itu itu, dan memeluk dan mencium tangan perempuan tua itu.
“Siapakah Ananda ini, apakah kita pernah saling bertemu sebelumnya..” melihat perubahan tampilan pada diri Cassandra, perempuan tua itu malah bertanya dengan bingung pada gadis itu.
Cassandra tersenyum sambil nyengir, karena ternyata perempuan tua di depannya itu sudah melupakannya. Padahal dulu, bibi Lilis sering menggendongnya karena diminta papa Cassandra, untuk membantu mengasuhnya
Ketika masih kecil. Tetapi dengan mudah, perempuan tua itu melupakan kisah itu.
“Bi Lilis, saya Sandra Bi.. Putra papa Hanafi, yang keluar dari desa ini pada saat Sandra selesai lulus SMA.” Mendengar nama Sandra dan Hanafi, perempuan itu menatap gadis itu dengan tidak percaya. Mulut perempuan
tua itu tampak komat-kamit, namun tidak ada sepatah katapun keluar dari dalam mulut perempuan itu. Beberapa saat kemudian..
“Ini benar kamu nak Sandra.. yang pada saat kamu kecil, Bibi pernah menggendongnya.” Dengan suara tercekat seakan tidak mempercayai pendengarannya, perempuan tua itu bergumam lirih,
Cassandra tersenyum, dan menganggukkan kepala sambil menatap perempuan tua itu. Mengingat siapa gadis yang berdiri di depannya itu, Bibi Lilis memeluk tubuh Cassandra dengan erat untuk beberapa saat.
“Sudah sangat lama kamu pergi dari rumah nak Sandra, saat ini kamu Kembali. Mungkin inilah saat dimana mamamu akan terlepas dari kejahatan dan kekejaman suami serta anak tirinya.” Tanpa diminta, perempuan tua itu bercerita. Hal itu membuat Cassandra terkejut. Karena terakhir kali, dia pergi meninggalkan rumah, mamanya memang terlihat sangat takut kehilangan keluarga barunya. Hingga tanpa sadar, sering memarahi Cassandra karena lebih membela mereka, padahal Nyonya Dhini tahu jika putrinya tidak bersalah.
“Bibi.. apakah Bi Lilis tahu dimana mama Bi.. Cassandra sangat kangen dan merindukan mama Bi.. Makanya Sandra berani melupakan semua kesalahan di masa lalu, dan saat ini ingin bertemu dengan mama.” Cassandra meminta penjelasan dari perempuan tua itu.
Bibi Lilis terdiam sebentar, kemudian dengan mata berkaca-kaca perempuan tua itu menatap wajah Cassandra dengan tatapan tajam. Seakan ada pesan yang ingin disampaikan oleh perempuan tua itu.
“Jika aku tidak keliru nak Sandra, pergilah ke rumah sakit yang berada tidak jauh dari tempat ini. Kurang lebih hanya tiga kilometer saja, beberapa hari yang lalu, tetangga membawa Dhini ke rumah sakit itu.” Dengan kata-kata lirih, Bibi Lilis memberi tahu dimana ibunya berada.
Mendengar perkataan dari perempuan tua itu, otak Cassandra sudah tidak mampu berpikir apapun. Perempuan itu langsung mengabaikan keberadaan Bibi Lilis, tapi langsung mengambil ponsel untuk memesan transportasi online. Tapi untung saja, gadis itu terlihat belum mengaktifkan data seluler, karena dari tadi malam sampai tadi mau berangkat, masih terkoneksi dengan wifi hotel.
“Tin.. tin.. tin..” suara klakson mobil mengejutkan gadis itu.
Melihat keberadaan mobil Alphard yang disopiri Tommy, membuat Cassandra seperti melupakan perempuan tua itu. Gadis itu segera membalikkan badan dan berlari menuju ke arah mobil berhenti yang menunggunya. Terlihat tampak Alexander menunggunya dan sudah membuka pintu mobil untuknya. Cassandra segera masuk ke dalam mobil, dan melihat kepanikan gadis itu, Alexander dengan cepat segera menutup pintu mobil Kembali.
Dari depan rumahnya, Bibi Lilis hanya geleng-geleng melihat kepergian Cassandra yang berlari meninggalkannya. Tetapi sepertinya perempuan tua itu memaklumi apa yang dilakukan oleh gadis itu.
********
Di lobby rumah sakit, Rommy menghentikan mobil. Tanpa mengucapkan sepatah kata, karena terlalu mengkhawatirkan keadaan mamanya, Cassandra segera beranjak keluar dan langsung masuk menuju ke ruang informasi. Untungnya tempat itu terlihat sepi, tidak ada yang mengantri sehingga Cassandra langsung bisa bertanya pada petugas jaga.
“Tunggu sebentar ya kak, akan kami carikan dulu. Duduklah dulu..” sahut petugas counter.
Gadis itu dengan gelisah langsung duduk di depan counter, dan menunggu untuk beberapa saat kemudian.
“Kamar Ayodya 302 blok F ya kak. Ada lagi yang bisa kami bantu.”
“Cukup terima kasih.” Cassandra langsung berdiri, dan berjalan cepat untuk mencari kamar yang dimaksud. Bahkan gadis itu tidak menyadari keberadaan empat laki-laki muda yang datang bersamanya, tampak mengikutinya masuk. Kedatangan empat laki-laki tampan, tampak mengusik pemandangan orang-orang yang berada di kursi tunggu rumah sakit tersebut. Namun.. orang-orang itu hanya mampu melihat dan mengagumi, tidak memiliki keberanian untuk menegur mereka.
******
Kamar Ayodya 302 blok F
Cassandra terhenti di depan kamar, samar-samar gadis itu mendengar seseorang berbicara dengan kasar di dalam kamar. Gadis itu tidak akan pernah melupakan ucapan kasar dari seseorang tersebut.
“Kamu itu merepotkan saja, sakit terus setiap hari, kapan kamu akan sembuh. Apa kamu pikir, aku ini bisa mengurus semuanya jika kamu terus-terusan berbaring di tempat laknat ini..” terdengar suara kasar laki-laki yang membentak-bentak seseorang.
Terdengar isak tangis perempuan yang diyakini Cassandra adalah suara mamanya, namun gadis itu masih ingin mendengar sendiri apa yang terjadi di dalam ruang rawat inap tersebut.
“Menangis saja kerjaanmu, aku akan memenuhi kebutuhanmu termasuk membayar ongkos rumah sakit laknat ini semuanya. Tapi dimana kamu simpan sertifikat tanah dan bangunan di Kalasan, aku tidak akan dapat melunasi
semua hutang, dan juga tidak akan dapat membawamu keluar dari rumah sakit ini, Aku akan menggadaikan bahkan menjual tanah, dan juga bangunan di atasnya.” Kembali suara laki-laki yang bernama Jatmiko itu memenuhi ruangan.
“Itu bukan tanahku mas.. itu tanah warisan dari papanya Cassandra, dan hanya putriku yang berhak atas tanah dan bangunan itu. Bahkan akupun tidak memiliki hak atas sertifikat itu..” terdengar dengan suara lemah, Nyonya Dhini mempertahankan kepemilikan tanah dan bangunan tempat tinggalnya.
“Halah pa.. jika perempuan tua ini tidak mau diajak kerja sama, toh juga anaknya yang bernama Cassandra juga sudah meninggalkannya. Kita bunuh saja, kan nanti semua harta warisan mau tidak mau akan menjadi warisan kita.” Hati Cassandra berdetak keras mendengar suara laki-laki muda yang terdengar kasar di telinganya.
Tanpa menunggu lagi, Cassandra segera mendorong pintu kamar rawat inap, dan menerobos masuk ke dalam. Melihat pintu yang terbuka dengan tiba-tiba, sontak beberapa orang yang berada di dalam melihat kea rah gadis itu. Tampak seorang perempuan tua yang sudah terlihat layu, tampak berbaring dengan lemah dan air mata mengalir dari kelopak matanya. Di sudut ranjang, terlihat ada anak kecil sekitar empat tahunan tampak menangis, tetapi tidak
mengeluarkan suara sedang memijat Nyonya Dhini.
“Sand.. Sandra putriku..” Nyonya Dhini menjerit tertahan melihat kedatangan putrinya yang sudah jauh berubah.
Tiga orang dewasa yang berada di dalam ruangan itu menoleh ke arah pintu. Tampak anak muda, yang terakhir kali bicara tadi, matanya mengerjap berbinar melihat seorang gadis cantik memasuki ruangan tersebut.
**********