CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 175 Ikutlah denganku



Kedua anak muda itu terduduk lemas, mereka merasa gagal untuk dapat menemukan tempat persembunyian orang-orang yang selalu menjadi bayang-bayang bagi keluarganya. Dengan kaburnya mereka, menjadikan Andreas Jonathan dan Alexander kehilangan akses untuk dapat membuntuti mereka. Apalagi setelah Alexander menghubungi koleganya, ternyata helikopternya itu terbang dengan tidak mengurus ijin penerbangan. Dan kode dari rangka mesin yang berhasil di zoom memang tidak terdaftar dalam lalu lintas transportasi yang ada di negara Indonesia.


"Apa yang harus kita lakukan dalam waktu dekat tuan muda, kita ikut apa yang tuan muda instruksikan?" merasa belum memiliki ide, Alexander bertanya pada tuan mudanya.


"Siapkan segera private jetnya. Malam ini aku akan segera mengajak Cassandra dan Altezza untuk meninggalkan negara ini. Suasana menjadi tidak terkendali, aku tidak akan melibatkan anggota keluargaku dalam pertarungan ini. Aku akan segera kembali ke Indonesia, akan aku pimpin sendiri kalian untuk melakukan pengejaran pada berandalan itu." Andreas Jonathan segera memberikan perintah.


"Siap tuan muda.., akan segera saya kondisikan semuanya." Alexandre segera berdiri.


"Jatmiko.. ikut aku ke depan dengan temanmu Yahya yang berdiri di depan itu. Aku akan memberikan perintah pada kalian berdua." laki-laki itu melangkahkan kaki dan meminta dua orang pengawal untuk mengikutinya.


Tidak lama kemudian, tiga anak muda sudah melangkahkan kaki ke depan. Terlihat Andreas Jonathan sedang melakukan panggung keluar pada istrinya. Tidak lama menunggu, akhirnya Cassandra mengangkat panggil masuk ke nomor ponselnya.


"Assalamualaikum kak Andre... what happened?" istri Andreas Jonathan itu langsung menjawab panggilannya tersebut.


"Honey... segeralah bersiap. Tidak perlu membawa banyak perlengkapan dan barang-barang. Anak buahku sudah menyiapkannya semuanya. Bawa seperlunya saja.., karena malah akan membebani perjalanan kita. Perjalan menuju Switzerland sudah diatur oleh Alex, untuk kita melakukan transit di dua kota besar. Atur baju dan perlengkapannya untuk kita berdua dan putra kita secukupnya saja." kembali Andreas Jin membuat arahan.


"Tapi kak Andre.. kita bawa anak kecil. Dan kita tidak bisa menganggap anak kecil urusannya lebih mudah dari orang dewasa. Keliru kak.." Cassandra terdengar merayu suamiku.


"Hmmm.. percayalah padaku honey. Semua sudah diatur, honey tinggal menjalankan sesuatu kata-kataku." Andreas Jonathan membuat penegasan.


Mendengar kata-kata tegas yang diucapkan suaminya, Cassandra tidak berani banyak memotong dan membantah. Akhirnya...


"Baik kak Andre.., Sandra akan menyiapkan seperlunya saja." setelah menyanggupi apa yang disampaikan suaminya, Cassandra segera bersiap.


Beberapa barang yang sudah dipacking dan digabung dengan barang-barang yang lain, dibongkar ulang oleh gadis itu. Hanya baju ganti untuknya dan Altezza juga suaminya di dua tempat transit, kemudian dimasukkan dalam troli bag yang lebih mobile.


"Aku harus yakin dan percaya dengan kak Andre, pasti kak Andre dengan dibantu Alexander pasti sudah menyiapkan semuanya." Cassandra bergumam sendiri.


"Apakah ada yang bisa saya bantu nona muda.., untuk Altezza sudah siap semua perlengkapannya." suster Rosanna yang sejak tadi membantunya kembali menanyakan apa yang masih bisa untuk dibantu.


"Untuk Altezz dan kami sudah cukup suster, sekarang kamu siapkan perlengkapan untuk dirimu sendiri. Kita aka segera berangkat, tuan muda baru saja memberi tahu.." Cassandra segera mengambil alih putranya, untuk memberi waktu bagi sister untuk segera mempersiapkan dirinya.


********


Nyonya Sheilla terkejut melihat putra dan menantu beserta cucunya sudah bersiap untuk meninggalkan Indonesia. Dalam keadaan ini, seperti ada pressure pada perempuan itu karena bingung apakah akan tetap bertahan di Pant house ataukah mengikuti putra dan menantunya. Tetapi perempuan itu beserta Stevie putrinya terhalang dengan kepemilikan visa untuk mengikuti putranya.


"Ada apa Sheilla... sepertinya kamu terlihat bingung dan tidak apa yang harus dilakukan?" tuan Wijaya yang sedang bersama dengan mantan istrinya itu, bertanya pada perempuan tersebut.


"Hmm.. bagaimana ya aku harus menjawabnya. Wijaya... sepertinya Andreas Jonathan dan istrinya akan menuju ke Switzerland untuk berpindah sementara disana. Tetapi aku bingung karena mereka tidak mengajakku, dan aku belum memiliki bisa untuk tinggal disana. Demikian juga dengan Stevie.." ucap Sheilla lirih.


"Sheilla... Stevie adalah putriku, dan gadis itu menjadi tanggung jawabku untuk saat ini. Aku sudah menguruskan bisa untuk anak itu, karena aku bermaksud untuk membawa Stevie ke Canada. Tetapi untukmu Sheilla, lebih mudah bagimu untuk memperbaharui bisa tinggal. Karena sebelumya kamu juga tercatat menjadi penduduk Canada, meskipun sudah lama kamu tinggal di Singapore. Ikutlah denganku Sheilla, aku mengajakmu.." Wijaya menunjukkannya rasa tanggung jawabnya.


Beberapa saat Sheilla terdiam, dan merasa bingung apa yang akan dilakukannya. Apalagi orang tua itu sudah mendengar jika kekacauan ini dipicu oleh kemarahan Sandrina dan mantan suaminya Armansyah. Untuk tetap bertahan di negara ini, Sheilla memiliki keterbatasan sumber daya untuk bertahan.


"Bagaimana Sheilla..., kesampingkan egomu. Kita saat ini harus berpikir dulu tentang keselamatan kita. Armansyah mengajak mantan kekasih Sandrina yaitu Thanom dari Thailand. Laki-laki itu sudah terbiasa ikut perang bergerilya di negaranya, membuat kerusuhan di negara Thailand. Untuk sementara kita harus menyingkir terlebih dahulu." Wijaya kembali mengajak minat mantan istrinya.


"Tapi Wijaya..." sekali lagi, Sheilla seperti ragu-ragu untuk menyampaikan ketidak nyamanan ya.


"Abaikan rasa tidak enakmu Sheilla, meskipun kita sudah tidak ada lagi hubungan suami istri,. namun Sheilla adalah putri kita. Aku tidak akan membuat putriku sedih, karena hanya dirinya yang ikut bersamaku kembali ke Canada." dengan suara pelan dan hati-hati, Wijaya berusaha mempengaruhi perempuan paruh baya itu.


Sheila mengangkat wajahnya ke atas, dan pandangan matanya beradu dengan mata Wijaya. Namun perempuan paruh baya itu dengan cepat kembali menundukkan wajahnya. Tidak ada keberanian untuk menatap wajah laki-laki itu saat ini.


"Hmmm.. sepertinya tidak ada pilihan lain untukku Wijaya. Aku akan mengikuti Stevie putriku, kemanapun dia pergi aku harus selalu bersamanya, termasuk dia pergi di bawah pengampuanmu." akhirnya Sheilla berucap lirih.


Mendekati jawaban itu, muncul rasa bahagia di hati Tian Wijaya. Senyuman terbit di bibir laki-laki tua itu, seperti muncul adanya harapan untuk lebih mendekatkan hubungannya kembali dengan Sheilla mantan istrinya.


"Jika begitu segeralah bersiap Sheilla. Berikan passport dan juga Visa lamamu untuk segera aku mintakan bantuan orang imigrasi untuk menerbitkan bisa untuk tinggal kembali di Canada." Tuan Wijaya segera mengarahkan perempuan itu.


"Mmmm baiklah Wijaya.., tunggu sebentar. Aku akan mengambil semua surat-surat itu di dalam tas arsipku. Tolong tunggulah sebentar." Sheilla kemudian meninggalkan laki-laki itu. Tuan Wijaya tersenyum melihat perempuan paruh baya itu yang sepertinya masih mengikuti apa yang diarahkan oleh laki-laki itu.


*******