CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 76 Rasa Mual



Pagi hari, ketika Andreas Jonathan bersiap untuk makan pagi, laki-laki itu terkejut melihat keberadaan tuan besar Wijaya sedang duduk di ruang tengah sedang melihat berita. Masih teringat dengan kepergian Cassandra, karena keberadaan papa dan mamanya, laki-laki muda itu membalikkan badan dan akan berbalik masuk ke kamarnya lagi.


"Apa yang kamu lakukan Andre putraku.., apakah dengan cara itu kamu menghormati papamu..?" Andreas Jonathan berhenti mendengar teguran dari papanya.


Masih dengan jengkel dan rasa sakit hati yang terpenndam, laki-laki muda itu kembali membalikkan badan, namun hanya berdiri mematung dan melihat wajah papanya dengan datar. Melihat sikap putranya menghadap kepadanya, membuat tuan besar Wiajya terkesiap. Laki-laki tua itu seperti tersadar, ternyata kejadian terakhir di mansion ini telah membuat luka besar di hati putra tunggalnya.


"Duduklah depan papa Andre.., papa akan bicara." tuan besar Wijaya mengurangi nada bicaranya.


Andreas Jonathan tetap dalam posisinya sebentar, tetapi kemudian melangkahkan kaki menghampiri papanya. Laki-laki muda itu duduk di depan tuan besar Wijaya, dan belum mau menatap wajah papanya.


"Papa sendiri datang ke kota ini Andre.., sama denganmu, papa juga tidak tahan mendengar kata-kata mamamu. tanpa pamit, papa terbang dari Canada ke Jakarta tanpa transit." tuan besar Wijaya mengawali pembicaraan.


"Apa yang akan kamu lakukan Andre.. papa akan menuruti semua keinginanmu. Termasuk perempuan mana yang ingin kamu tetapkan sebagai calon istrimu, atau bahkan jika kamu tidak menginginkan sebuah pernikahan, papapun juga akan mengikuti.." ucap kembali laki-laki tua itu.


Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan papanya, membuat anak muda itu mengangkat wajahnya. Sejenak pandangan mata anak muda itu beradu dengan pandangan papanya. Laki-laki tua itu tersenyum, dan menganggukkan kepalanya, seakan meyakinkan pada putranya jika berbicara jujur. Tampak keletihan tergambar di wajah tua papanya.


"Terima kasih atas dukungannya pa. Andreas hanya menginginkan Cassandra pa, tapi akrena kesalahan fatal yang Andre lakukan, gadis itu harus pergi meninggalkan Andre.." terlihat Andreas Jonathan tersenyum kecut, tampak kesedihan membayang di wajahnya,


Tuan besar Wijaya terkejut mendengar jawaban itu, ternyata ketertarikan dengan sekretaris eksekutif itu, dan pernah membatin jika gadis muda itu cocok untuk putranya, sama dengan yang dirasakan putranya saat ini.


"Apakah nama yang barusan kau sebut itu, nama sekretaris eksekutif PT. Indotrex, Tbk?? Ketika papa berkunjung ke perusahaan, gadis muda itu bekerja dengan rapi, dan sangat sopan memberikan pelayanan pada papa, meskipun kita baru sekali itu bertemu." Tuan besar Wijaya memperjelas.


"Iya pa.. apa yang papa katakan itu benar adanya. Namun.. semua sudah berlalu. Kesalahan fatal Andre pada Cassandra, gara-gara sikap mama dan Jenni, sudah sangat melukai Cassandra. Gadis itu tanpa sepengetahuan Andre sudah pergi meninggalkan Andre pa.." Andreas Jonathan seperti terbawa lagi pada kejadian beberapa bulan yang lalu.


"Maksudmu apa Andre...?" tuan besar Wijaya terkejut.


Andreas Jonathan kemudian secara singkat menceritakan apa yang terjadi pada gadis yang sangat dirindukannya itu. Tuan besar Wijaya terkejut, dan tampak jelas kemarahan di wajah tua itu. Laki-laki tua itu kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Beberapa saat. kedua laki-laki itu terlarut dalam diam, kemudian..


"Sudah banyak pa, dan Andre berharap papa akan selalu mendukung Andre. Itu saja cukup, karena saat ini Alexander sudah mengerahkan banyak pengawal untuk mencari keberadaan Cassandra." kembali Andreas Jonathan menanggapi perkataan papanya.


***********


Di atas lincak kecil di deoan teras, Cassandra sedang membuka laptop untuk mengerjakan tugas baru yang dikirimkan oleh rekan yang ditemukan pada aplikasi Linktree. Para pekerja seni memang selalu memanfaatkan website tersebut, untuk bergabung menjadi member di dalamnya, Mereka akan dapat menawarkan desain, foto, atau apapun yang bisa menarik perhatian para warga dunia maya. Uang yang digunakan sebagai standar pembayaran adalah standar dollar.


Tiba-tiba saja perempuan muda itu mengusap perutnya perlahan, kembali rasa sesak memenuhi rongga perutnya. Cassandra mengambil nafas dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan,


"Aku sudah tidak bisa memforsir lagi tenagaku untuk bekerja sepertinya. Bayi dalam kandunganku akhir-akhir ini sering menjadi hambatan untukku dalam bekerja." Cassandra berbicara pada dirinya sendiri, sembari mengelus perutnya secara perlahan.


"Tapi kalau aku tidak bekerja, bagaimana aku bisa mendapatkan uang untuk membiayai kelahiran putraku. Tidak ada yang bisa aku harapkan untuk membantu meringankan biaya rumah sakit." Cassandra tersenyum kecut. Perempuan itu jadi teringat, jika dirinya bukan siapa-siapa, bukan pula istri dari siapa-siapa. Tidak mungkin, gadis itu akan mengganggu dan menjadi beban untuk mamanya di Jogja.


Tiba-tiba ingatan Cassandra sekilas mengingat keberadaan Andreas Jonathan, laki-laki yang sudah menyebabkan penderitaan yang dialaminya saat ini. Air mata kembali menggenang di kelopak mata gadis itu, kemudian mulai menetes ke pipinya. Cassandra tiba-tiba kembali menangis sesak. Gadis itu kembali teringat dengan kepedihan, dengan masa-masa ceria yang pernah dirasakannya. Kehadiran sosok ANdreas Jonathan sudah menghapus semua mimpi-mimpinya.


"Maafkan mommy anakku.. maafkan mommy yang tidak bisa menjaga diri dengan baik, yang akhirnya menghadirkanmu di perut mama saat ini.." Cassandra berbisik perih, mengajak komunikasi bayi dalam perutnya.


Beberapa saat Cassandra terlarut kembali dalam kesedihan. Padahal dalam usia-usia kehamilan segitu, seharusnya Cassandra tidak terbebani oleh beban pikiran yang berat karena bisa berdampak pada psikis bayi yang di kandungannya. Namun tidak ada yang bjsa dilakukan oleh gadis itu, selain hanya menumpahkan pada tangisan, dan pada sajadah panjang. Tiba-tiba Cassandra merasakan mual pada perutnya, gadis itu segera berjalan cepat menuju kamar mandi. Beberapa saat berada di dalam kamar mandi, tidak ada yang keluar dari dalam perutnya.


"Rasa mual ini terlalu menggangguku, tapi harus bagaimana lagi, aku harus menikmati semuanya. Semoga hal ini bisa menjadi penebus dosa mommy kepadamu sayang.." sambil melangkah keluar dari dalam kamar mandi. Cassandra kembali mengusap perutnya perlahan. Tampak penyesalan terlihat di wajahnya yang cantik, namun terlihat sedikt pucat.


Gadis itu mampir ke meja makan, kemudian mengambil cangkir untuk membuat teh manis panas. Biasanya minuman itu yang bisa menghilangkan rasa mual di perutnya. Tidak ada yang bisa dilakukan Cassandra untuk mengurangi rasa mual, karena meskipun sudah ada obat dari dokter, untuk memastikan kesehatan bayi dalam kandungan, Cassandra memang tidak sembarangan untuk mengkonsumsinya.


"Aku akan membawa minuman ini ke ruang tengah saja, sambil melihat acara televisi.." dengan hati-hati, Cassandra memegangi piring kecil berisi cangkir tersebut. Setelah sampai di meja, perlahan gadis itu meletakkan di atas meja.


**********