CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 232 Terjebak



Flash Back On


Stevie merasa sakit hati dengan kata-kata yang menurutnya keji itu, yang diberikan Alexander kepadanya. Begitu Alexander keluar dari dalam kamarnya, tanpa menunggu lagi gadis mud aitu segera memasukkan semua pakaian dan barang-barangnya ke dalam trolly bag. Stevie sudah membulatkan tekat, dan sudah melakukan pemesanan tiket penerbangan secara online dengan jadwal terbang besok pagi dari Zurich menuju Canada langsung. Tidak lupa, Stevie membawa bukti-bukti yang membuktikan jika dia adalah putri dari Wijaya dan Sheilla sehingga para maid di Canada bisa menerimanya.


“Aku harus segera pergi meninggalkan mansion ini, mumpung kak Alex sedang keluar dari dalam kamar. Aku tidak mau, harga diriku dilecehkan oleh Kak Alex.. tuduhan kak Alex betul-betul sangat menyakiti hatiku..” tanpa ada yang tahu, Stevie segera menarik trolly bag keluar dari dalam kamarnya, dan langsung menuju ke teras tanpa menengok ke kanan dan ke kiri,


Untungnya sopir keluarga Andreas Jonathan segera mendatangi Stevie, karena melihat gadis itu tampak repot membawa trolly bag ke depan.


“Nona muda Stevie.. hendak kemana nona..? Apakah perlu untuk saya antarkan..?” sopir itu bertanya pada gadis muda itu.


“Iya, antarkan ke bandara Zurich, karena saya harus mengejar penerbangan malam ini. Jika kamu tidak ada acara, cepat antarkan aku sekarang. Namun jika kamu ada janji untuk mengantar kak Sandra atau kak Andre, carikan aku taksi untuk mengantarkanku.” Dengan tegas, Stevie memberi perintah pada sopir keluarga itu.


”Mari nona muda.. kebetulan saya sedang tidak ada janji, saya akan mengantar nona muda ke bandara, agar tidak terlambat. Karena di daerah ini, sangat sulit untuk mencari taksi yang lewat nona muda..” sopir segera mengambil alih trolly bag, dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Tanpa menunggu lagi, Stevie segera mengikuti sopir dan masuk ke dalam mobil. Setelah gadis itu masuk, sopir segera menutup pintu mobil. Tidak lama kemudian, mobil segera meluncur keluar meninggalkan mansion. Alexander, juga keluarga kakak kandung serta papa dan mamanya, belum menyadari jika Stevie sudah pergi meninggalkan mansion.


“Apakah ada tempat yang ingin didatangi terlebih dahulu nona. Atau kita langsung ke bandara saja..” agar tidak keliru, sopir sambil mengemudi bertanya pada Stevie.


„Langsung bandara saja pak, karena semua sudah aku bawa, dan tidak ada lagi yang ingin saya cari. Kita bekejaran dengan waktu pak, karena saya harus mengejar pesawat.” Hanya sebagai alasan untuk segera meninggalkan mansion, Stevie meminta sopir untuk mempercepat mereka untuk sampai di bandara. Padahal, penerbangan Stevie menuju Canada, masih keesokan harinya. Tetapi Stevie sudah mempersiapkan semuanya, gadis muda itu sudah memesan hotel kapsul yang ada di bandara, untuk berjaga-jaga agar gadis itu tidak tertinggal pesawat.


“Baik nona muda.. saya langsung arahkan mobil menuju kea rah bandara,” sopir segera menginjak pedal gas. Untung jalanan terasa sepi, sehingga mobil laki-laki itu sudah memasuki kota Luzern. Tidak sampai satu jam perjalanan, mereka sudah akan sampai di bandara Zurich.


Stevie menyandarkan punggungnya di sandaran mobil, dan mencoba memejamkan matanya. Teringat dengan kata-kata yang diucapkan suaminya, tanpa sadar air mata menggenang di pelupuk mata gadis itu. Tetapi tidak ingin membuat sopir curiga, Stevie segera mengusap air mata itu menggunakan tissue dan berusaha mengendalikan perasaanya. Agar dadanya kembali tenang, Stevie mencoba mengambil nafas Panjang kemudian menghembuskannya Kembali secara perlahan.


*********


Kira-kira akan memasuki bandara, sopir melihat dari kaca spion dan merasa curiga karena ada sebuah mobil sejak dari Kota Luzern selalu mengikuti di belakang mobil yang dibawanya. Ketika sopir itu menghentikan mobil, karena lalu lintas sangat ramai di arah menuju bandara, mobil itu juga mengurangi kecepatannya. Demikian juga, Ketika sopir menginjak pedal gas, mobil itu juga mengikuti seperti tidak mau kehilangan jejaknya,


“Mobil siapa di belakang itu, seperti mencurigakan karena sejak tadi terkesan menempel mobil ini.” Sopir berbicara pada dirinya sendiri.


“Nona muda sepertinya sedang tertidur, aku tidak bisa mengajaknya bicara karena akan menganggunya. Aku akan mencoba mengecoh orang itu, apakah mereka memang mengincar kita, ataukah memiliki tujuan yang sama dengan tujuan nona muda.” Sopir berbicara pada dirinya sendiri.


Kembali melihat kea rah kaca depan, ternyata mobil di belakang malah semakin mendekat ke mobilnya, sopir segera menginjak pedal gasnya. Tetapi tiba-tiba mobil di belakangnya itu mendahului mobil yang dikemudikannya, dan tiba-tiba..


“Cittt…..” sopir menginjak pedal rem secara mendadak. Tubuh Stevie sambil terpental ke depan, dan kepalanya membentur kursi di depannya,


“Ada apa pak, kenapa menginjak rem secara mendadak..” dengan nafas terengah-engah karena panik, Stevie bertanya pada laki-laki itu.


„Maaf non.. ada mobil yang mendahului kita, kemudian mengerem mendadak dengan menghalangi mobil kita..” sopir masih terdiam untuk menenangkan nafasnya.


Stevie melihat kea rah depan, dan melihat laki-laki tua keluar dari dalam kursi tengah mobil tersebut.


*“Fu*ck… bukankah itu papa Armansyah...?? Kenapa papa Armansyah bisa berada di negara ini, pasti laki-laki itu memiliki maksud yang tidak baik. Pak... putar balik, orang-orang di mobil depan itu memiliki niat yang tidak baik. Kita harus menghindar dari mereka pak…!” dengan cepat, Stevie memberikan instruksi pada sopir.


Sopir yang masih belum hilang rasa terkejutnya, kaget mendengar perintah dari gadis muda itu. Tanpa berpikir Panjang, sopir segera memundurkan mobil dengan cepat, kemudian membalikkan arah mobil ke belakang.  Posisi mereka sekarang sedang melawan arus, tapi untuk keselamatan sopir tidak mempedulikannya.


“Ambil jalan putaran di depan pak, karena orang-orang di depan itu langsung mengejar kita. Mereka mengikuti kita dari belakang..” Stevie segera memberikan arahan pada sopir, seperti seorang navigator.


“Baik nona muda.. mohon nona berpegangan erat. Saya khawatir nona akan terbentur lagi..” dengan sigap sopir menanggapi arahan Stevie. Tidak lama kemudian, sopir segera menginjak pedal rem, dan mereka mengemudi dengan melawan arah.


Kejar kejaran dua mobil itu terus berlangsung, dan Ketika ada potongan jalan, dengan segera sopir mangambil jalan balik. Tetapi baru sekitar satu kilometer mobil berjalan, mereka sudah dicegat oleh mobil polisi. Ternyata pantauan CCTV yang melihat mobil itu melawan arah, segera direspon cepat oleh petugas keamanan di kota tersebut. Melihat ada mobil polisi, Stevie merasa mendapatkan pertolongan.


“Pak.. hentikan mobil di depan polisi tersebut. Kita bisa mendapatkan pertolongan dari mereka..” Stevie segera memberikan perintah pada sopir.


„Siap nona muda..” sopir segera mengikuti arahan dari perempuan mud aitu. Laki-laki itu segera menghentikan mobil tepat di depan mobil polisi. Tidak lama kemudian, tampak dua orang polisi mendatangi mobil yang membawa Stevie.


******