
Desa Maureen
Chakram meninggalkan mobil di desa yang berada di daerah bawah yang masih bisa dilalui oleh kendaraan motor. Bersama dengan Armansyah, keduanya berjalan menyusuri jalanan yang semakin menanjak. Beberapa kali, Chakran dan Armansyah harus beristirahat untuk mengambil nafas, baru kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dengan pandangan tidak tega, Chakram melihat pada laki-laki tua yang berjalan bersamanya itu. Nafas Armansyah terdengar di telinganya, yang menunjukkan jika laki-laki itu sangat kepayahan.
"Apakah kita akan tetap meneruskan perjalanan ke atas Armansyah.. aku tidak tega melihat staminamu drop. dan tampak lemah..? Minumlah dulu..." Chakram memberikan air mineral pada laki-laki tua itu, dan dengan tatapan prihatin melihat pada Armansyah,
"Kita istirahat sebentar Chakram.., harap maklum saja nafas tua Chakram.. Ternyata aku memang sudah tidak semuda dan sekuat dulu.. Tenaga seperti ini saja kok masih punya ambisi untuk balas dendam..." laki-laki tua itu tersenyum masam.
"Sheilla memang mungkin tidak berjodoh padaku.. Dulu kala aku bisa bertemu dengannya di SIngapura, memang sudah sebuah kesalahan. Dengan bantuan saudara sepupuku Sandrina, aku merebut perempuan itu dari suaminya Wijaya,, Aku sudah cukup puas bisa menjadi suaminya beberapa tahun, meskipun akhirnya perempuan itu dan Stevie meninggalkanku. Balas dendam tak berfaedah..." lanjut Armansyah sambil melempar batu kerikil ke depan,
Chakram hanya tersenyum, laki-laki muda itu merasa bingung. Tidak tahu harus berkomentar tentang apa, karena dia tidak tahu sendiri bagaimana perjalanan hidup laki-laki tua itu. Saat ini mereka berdua bisa sampai ke tempat ini, karena laki-laki tua itu sudah merasa sadar, dan ingin mengasingkan diri jauh dari keramaian,
"By the way.. apakah rasa lelahmu sudah sedikit terobati Armansyah, jika sudah kita bisa berjalan sebentar. Di depan ada padang rumput yang luas, dimana kita bisa beristirahat untuk tidur-tidur sebentar baru kita melanjutkan perjalanan lagi.." setelah beberapa saat mereka beristirahat, Chakram mengajak Armansyah untuk melanjutkan langkah.
"Baik Chakram.., kamu yang lebih tahu tempat ini anak muda.. Aku maklum denganmu, kenapa sampai kamu tidak berkunjung ke tempat papamu, karena medan untuk menuju kesana memang sangat rumit dan sulit. Kamu memang anak berbakti Chakram.." Armansyah kembali berdiri dan meluruskan kembali punggung. Sesekali laki-laki tua itu melakukan strecthing, untuk meregangkan otot-otot tangan dan pinggangnya yang kaku-kaku.
Kedua laki-laki itu kembali melanjutkan perjalanan. Untung saja, meskipun medan yang mereka lewati saat ini masih berupa hutan, mereka tidak berpapasan dengan binatang buas, Jalur yang mereka lalui ini, termasuk jalur yang sering dilewati oleh pendaki gunung, yang akan menjelajah di pegunungan Alpen. Meskipun jalanan terus menanjak, tetapi mata mereka disejukkan dengan pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Burung-burung yang sangat jarang mereka lihat di perkotaan, beberapa kali terbang di depan maupun di atas mereka dengan sangat indah.
"Lingkungan di tempat ini betul-betul masih asri Chakram.., aku mendapatkan ketenangan dengan berada di tengah alam ini. Entah apakah aku nanti akan berhasil untuk tinggal di tengah hutan nantinya.." sambil berjalan, Armansyah berbicara pada anak muda itu.
"Jika ada niat, dan juga kemampuan, pasti anda akan bisa melaluinya Armansyah, Nanti bisa dilihat bagaimana papa saya bisa melewatinya, papa saya malah menjadi kuat dengan tinggal di hutan ini.." sambil terus melangkahkan kaki, Chakram menanggapi perkataan Armansyah.
********
Beberapa Saat kemudian
Ketika matahari sudah akan tenggelam di ufuk barat, akhirnya Chakram dan Armansyah sudah berhasil melihat ada sebuah bangunan kayu di pinggir padang rumput yang luas. Terlihat ada kuda yang ditambatkan di samping bangunan tersebut, juga beberapa kandang kayu yang berisi binatang unggas di dalamnya.
"Tujuan kita sudah sampai Arman.. itu adalah bangunan rumah papa.. Untuk membawa materialnya ke sini, papa dulu menyewa helikopter untuk menuju ke tempat ini. Tapi ketika aku mencoba membawa helikopter untuk menuju ke tempat ini, ternyata titik koordinatnya seperti bergeser, dan aku tidak bisa menemukan padang rumput ini dari udara.." Chakram tersenyum, dan mengajak Armansyah untuk bergegas mendatangi bangunan kayu tersebut.
Armansyah tersenyum, laki-laki itu seperti memiliki pengharapan baru, hanya saja dia juga berpikir apakah akan bisa melewati keadaan menyendiri di tengah hutan seperti ini. Tetapi karena teringat dengan niat awal berada di tempat ini, akhirnya Armansyah kembali membangkitkan semangatnya. Laki-laki tua itu mengikuti langkah kaki anak muda itu, yang sangat bahagia melihat bangunan itu,
"Kita lewat pintu depan saja Arman.. kemungkinan papa sudah berada di dalam rumah..." Chakram mengajak untuk menuju ke pintu depan. Tidak lama kemudian, kedua orang itu sudah berada di sebuah teras kecil dengan kursi panjang yang terbuat dari kayu di depannya, Tampak bantal lusuh berada di atas kursi panjang tersebut, dan sepertinya kursi panjang itu biasa digunakan oleh papa Chakram untuk beristirahat di luar rumah. Bangunan kayu ini seperti rumah panggung seperti di beberapa daerah di Indonesia, mungkin untuk mencegah binatang buas masuk ke dalam.
"Tok.. tok.. tok..., papa... ini Chakram papa,." Chakram mengetuk pintu rumah. Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah, dan berhenti di depan pintu.
"Kreet..." suara pintu didorong dari dalam, dan tidak lama kemudian muncul seraut wajah tua berada di depan pintu.
"Papa... ini Chakram papa.." anak muda itu langsung memeluk papanya dengan erat. Di belakang anak muda itu, terlihat Armansyah melihat interaksi mereka dengan pandangan iri. Tidak lama kemudian..
"Kenalkan ini teman Chakram pa.., namanya Armansyah." anak muda itu mengenalkan Armansyah pada papanya. Dengan sikap hormat, Armansyah mengulurkan tangan, mengajak jabat tangan laki-laki yang sepertinya memiliki usia sama dengannya.
"Ayo duduklah.. jangan berdiri di luar. Sebentar lagi angin dingin pasti akan datang, kita harus duduk-duduk sambil menikmati secangkir kopi." laki-laki tua itu segera mengajak putranya dan juga Armansyah untuk masuk ke dalam.
Tidak banyak perabotan di dalam bangunan itu, hanya ada satu kamar saja yang sepertinya tempat laki-laki itu beristirahat. Seperti di teras, di dalam ruangan juga ada dua kursi panjang, dan satu meja berisi perlengkapan laki-laki tua itu. Pesawat televisi keluaran lama berada di dalam ruangan, dengan penerangan seadanya.
"Bagaimana ada daya untuk menyalakan televisi dan lampu disini tuan...?" merasa bingung bagaimana sambungan listrik bisa menjangkau wilayah tersebut, Armansyah bertanya dengan bodohnya.
"AKu mendapatkan bantuan dari Biro pengurusan listrik di negara Swiss. Kami dipasangkan infra struktur untuk memanfaatkan energi matahari untuk menangkap panas, dan menjadi sumber daya untuk aliran listrik. Tetapi aku harus berhemat untuk menggunakannya." papa Chakram menjawab pertanyaan Armansyah.
********