
Di dalam kamar
Begitu sampai di kamar, Stevie langsung tidur di atas bed sambil membelakangi suaminya. Tidak ada keinginan dalam diri perempuan muda itu, meskipun hanya sekedar membersihkan dirinya, padahal baru saja ada sesi percintaan dengan suaminya di dalam mobil. Stevie malah mengambil bantal, dan menutup telinga serta wajahnya, seakan tidak mau melihat lagi wajah ALexander.
Alexander duduk di pinggir ranjang, kemudian melihat ke arah istrinya untuk mengajaknya bicara. Namun melihat apa yang terjadi pada perempuan muda itu, laki-laki itu hanya mengambil nafas panjang,
"Apakah aku terlalu keras dengan istriku tadi...??" Alexander berpikir sendiri.
"Tapi jika hal itu tidak aku lakukan, aku tidak akan bisa mengajari istriku di lain waktu. Baru saja ditinggal mencari kosmetik saja, sudah asyik berbicara dengan laki-laki lain, dan bahkan mengacuhkanku, suaminya sendiri." kembali pikiran Alexander malah semakin menyudutkan istrinya.
Tetapi beberapa saat kemudian, Alexander kembali melihat ke arah istrinya, dan melihat ada bekas warna merah di lengan atasnya, yang ternyata setelah dilihatnya lebih dekat adalah cakaran tangannya. Laki-laki muda itu mengusap pelan bekas luka kecil di lengan Stevie, kemudian menundukkan wajahnya dan memberikan ciuman di atasnya.
"Aku tidak sengaja melakukannya sayang, aku akan mandi dulu. Baru nanti aku akan membersihkan lukamu ini..." setelah berbisik pelan di telinga Stevie, Alexander kemudian bergegas meninggalkan istrinya . Laki-laki itu segera masuk ke dalam mobil untuk membersihkan dirinya.
Begitu ALexander pergi ke kamar mandi, Stevie membuka matanya. Air mata dengan derasnya mengalir keluar dari kelopak matanya, dan mulai membasahi kedua pipinya. Stevie menangis sampai tersengal-sengal. teringat perbuatan suaminya di dalam mobil.
"Begitu mudahnya kak Alex melupakan apa yang sudah dilakukannya padaku. Aku seperti tidak memiliki harga diri, untung saja jalanan sepi sehingga tidak ada yang melihat percintaan itu. Apakah hal ini yang aku inginkan dalam pernikahan ini, perlakuan kasar dan sedikitpun tidak meminta penjelasan terlebih dulu.." Stevie bertanya pada dirinya sendiri.
Pikiran Stevie mengembara kemana-mana, membayangkan perlakuan lembut dan romantis yang selalu ditunjukkan dan diberikan selama ini oleh Alexander. Sangat berbanding 360 derajat dengan perlakuannya di shopping mall tadi. Ketika mengingat kejadian barusan itu, kembali air mata Stevie mengalir deras. Tiba-tiba pikiran gadis itu mengingat, dan membandingkan perlakuan kakak kandungnya Andreas Jonathan pada kakak iparnya Cassandra. Kakak kandungnya juga sangat mencintai istrinya, dan juga memiliki rasa cemburu yang sangat besar kepadanya. Namun sekalipun, Stevie belum pernah melihat kakak kandungnya itu berperilaku kasar pada istrinya.
"Haruskah aku bertahan dalam pernikahan ini..., hatiku betul-betul sakit dan terluka. Aku ini bukan tawanan di penjara, aku adalah makhluk sosial, yang bebas bersosialisasi dengan manusia manapun. Tetapi begitu kejamnya sikan dan perlakuan kak Alex kepadaku, hanya dengan melihatku berbincang dengan Smith.." kembali pikiran Stevie berkelana.
"Sepertinya aku butuh waktu untuk menyendiri, aku akan mengelabui semua yang ada di mansion ini. Aku bisa menggunakan rumah papa di Canada, sebagai tempat untuk menenangkan diriku. Visa bukan lagi menjadi kendala bagiku, karena Canada merupakan negara Eropa, sehingga aku tidak perlu mengurus ijin tinggal ketika berada di negara itu.." akhirnya Stevie bertekad, untuk sementara memberi dirinya waktu untuk berpikir. Kejadian yang baru saja dialaminya dengan Alexander, betul-betul mengejutkannya. Hanya menyendiri beberapa waktu, akan menghasilkan keputusan, apakah akan bertahan dengan sikap posesive suaminya, atau melarikan diri dari ikatan pernikahan itu.
*********
Melihat istrinya masih tertidur lelap, Alexander keluar dari dalam kamar untuk membiarkannya beristirahat. Melihat kedua kakak iparnya sedang berbincang di teras belakang rumah, sambil melihat Altezza yang sedang bermain, Alexander menghampiri mereka. Andreas Jonathan dan Cassandra hanya melihat sekilas kepadanya, dan Alexander duduk di samping kakak iparnya Andreas Jonathan. Beberapa saat kemudian..
Alexander hanya diam tidak memberikan respon, laki-laki itu menatap ALtezza yang sedang bermain dan sesekali senyuman keluar dari mulutnya.
"Dimana Stevie kak Alex.., kenapa tidak diajak keluar dan berbincang di teras ini sekalian. Apakah kalian baru saja selesai bertengkar kak.." tidak bisa menghentikan rasa penasarannya, Cassandra bertanya tentang Stevie pada laki-laki itu.
"Stevie sedang tidur Cassandra.., mungkin merasa kelelahan setelah tadi bersamaku kita berkunjung ke shopping mall. Tahu sendiri kan bagaimana perempuan, jika mereka sudah berada di pusat belanja, seperti kalap.." Alexander seperti menutupi apa yang sedang terjadi padanya dan Stevie.
Andreas Jonathan terdiam, kemudian melihat ke arah adik iparnya itu, yang juga menjadi wakil CEO perusahaan, dan sekaligus asisten pribadinya. Tatapan laki-laki itu seakan menembus ke dasar hati Alexander, dan membuat suami Stevie itu menjadi jengah, dan akhirnya mengangkat wajahnya untuk beradu pandang dengan kakak iparnya.
"Sejak kapan, kamu mulai pandai berbohong Alex.., aku mengenalmu luar dalam. Apa yang terjadi denganmu dan Stevie.., kamu tidak akan bisa menyembunyikan masalahmu dari kami. Kakak iparmu Cassandra barusan menceritakan kepadaku, melihat pakaian yang dikenakan Stevie compang camping, dan kamu membawanya langsung masuk ke dalam kamar.." seperti seorang penyidik, Andreas Jonathan bertanya dengan wajah serius pada Alexander.
Alexander terdiam, kemudian menatap ke arah Cassandra dan akhirnya laki-laki itu tersenyum kecut. Beberapa saat kemudian..
"Hmm... aku barusan lepas kontrol kak, tidak bisa menguasai perasaanku ketika melihat istriku Stevie, sedang berbincang seru sampai tertawa dengan laki-laki bule di shopping mall. Kak Andre tahu sendiri bukan , bagaimana pertahananku jika sedang merasa cemburu.." akhirnya ALexander menceritakan masalahnya.
Andreas Jonathan menyandarkan punggung pada sandaran kursi, apa yang dikatakan oleh adik iparnya itu sama persis dengan yang ada dalam pikirannya. Istrinya Cassandra hanya menatap ke arah suaminya, kemudian perempuan muda itu mengambil nafas.
"Kak Alex... ada cara untuk mengatakan perasaan kita pada istri kak.. Tidak semuanya harus dilakukan atau diselesaikan saat itu juga, berlatihlah untuk sekedar mengendalikan diri, agar semuanya tidak menjadi buyar. Meskipun Sandra tadi tidak melihat bagaimana wajah Stevie, tetapi melihatnya menyembunyikan wajah di dada kak Alex, pasti gadis itu sangat terpukul. Apakah benar yang Sandra katakan kak..?" istri Andreas Jonathan itu langsung bersuara.
"Benar Sandra.. aku khilaf, dan ketika aku ingin mengajak Stevie untuk bicara, istriku saat ini sedang tertidur. Aku berpikir untuk membiarkannya beristirahat sejenak. Setelah istriku bangun, aku baru akan meminta maaf dan mengajaknya untuk bicara.." akhirnya Alexander mengatakan apa yang terjadi.
"Itu urusan keluargamu Alex.., kamulah yang harus menyelesaikan sendiri masalah kalian. Aku dan Cassandra istriku hanyalah orang luar, dalam hal ini tidak bisa masuk dalam ranah keluargamu." mendengar kata-kata Alexander, Andreas Jonathan turut berbicara.
***********