
Setelah semua peserta rapat dadakan keluar dari ruang kerja Herlambang, laki-laki muda itu termenung sendiri. Keinginan untuk menghubungi Andreas Jonathan bercampur baur, dengan harapan tuan mudanya akan mengajak istrinya untuk datang ke pulau Bali. Tidak tahu mengapa, meskipun sudah tahu jika Cassandra sudah memiliki suami dan berbahagia dengan keluarganya, tetapi Herlambang tidak pernah bisa melupakannya. Bahkan Miss Cathy yang saat ini sudah dekat dengannya, tidak bisa memiliki posisi seperti Cassandra dalam hatinya.
"Hmm... mungkinkah harapanku bisa menjadi kenyataan. Hanya untuk bertemu dan melihat wajah, serta berbicara beberapa kata saja padanya, sudah akan membuat hatiku puas dan tenang... Cassandra.." kembali Herlambang melamun berandai-andai.
Kembali lamunan laki-laki itu mengembara pada saat mereka berdua tinggal di kawasan Bandung. Saat itu mereka benar-benar dekat, dan bahkan tinggal dalam satu rumah. Namun.. kala itu Herlambang tidak pernah berani untuk mengutarakan apa yang dirasakannya pada gadis muda itu. Sampai akhirnya, laki-laki itu melihat dan memahami kenyataan, jika janin dalam kandungan Cassandra adalah putra dari CEO PT. Indotrex. Tbk. Pada saat mereka bertemu, barulah Herlambang mengetahui semuanya.
"Cassandra.. aku tidak bisa melupakanmu, maafkan aku.. Apakah aku salah Tuhan, meskipun aku tidak berani untuk berharap jika Cassandra akan menjadi milikku, namun paling tidak beri kesempatan padaku untuk bertemu dengannya kembali.." Herlambang kembali bergumam lirih.
"Tapi sebaiknya aku akan mencoba, untuk memberanikan diri menghubungi tuan Muda Andreas.. Akan aku sampaikan jika undangan ini untuk keluarga juga, bukan hanya untuk beliau saja. Semoga saja laki-laki muda itu berkenan, dan mengajak semua keluarganya untuk hadir." Herlambang berpikir sesaat, tapi kemudian..
"Ada baiknya aku menghubungi tuan Alexander saja, karena pasti tuan muda bisa membaca apa yang aku sampaikan, jika aku mengatakan bisa membawa istri dan putranya." akhirnya laki-laki muda itu merubah pikirannya.
Saking fokus dalam lamunan, Herlambang tidak menyadari jika Miss Cathy sudah berada dalam ruangan. Perempuan muda itu sejak tadi mengamati apa yang dilakukan oleh kekasihnya, dan sesekali seperti terlihat ada kekecewaan di wajah Cathy ketika mendengar gumaman Herlambang.
"Uhukk.. uhukk... hemmph.." karena sudah tidak bisa menahan rasa dongkol dalam hatinya, akhirnya Miss Cathy pura-pura batuk untuk memberi tahu pada Herlambang kedatangannya.
"Hey... kapan kamu datang ke ruanganku Miss.. sudah lamakah..?" tanpa merasa bersalah, Herlambang malah bertanya pada perempuan muda itu.
"Hemm... bagaimana akan tahu jika dalam ingatan sama lamunan hanya istri dari tuan muda saja. Tidakkah bisa mas Herlam itu berkaca, bagaimana perbedaan di antara kalian berdua.. Seperti pungguk merindukan bulan, jika itu kata pepatah. Tidak bersyukur dengan apa yang sudah didapatkan saat ini, tetapi terlalu tinggi dalam mengharap.." dengan nada sarkasme, Miss Cathy telak memberikan wejangan pada laki-laki itu,
"Kenapa kamu sampai berpikiran seperti itu Cathy... siapa yang pungguk merindukan bulan. Apa yang kamu dengarkan, sampai kamu menyinggung istri dari tuan muda.." Herlambang terkejut dan balik bertanya.
"Aku tidak akan menjawab pertanyaannmu mas... introspeksi diri sajalah. Aku mendengar kata-katamu menyebut nama Miss Cassandra, dan juga menyebut istri tuan muda beberapa kali. Jika sampai saat ini, ternyata hatimu masih untuk perempuan itu, untuk apa aku tetap bertahan dalam dekatmu. Mending aku saja yang menyingkir, permisi.." tiba-tiba Miss Cathy berdiri dan langsung berlari keluar dari dalam ruang kerja Herlambang,
Laki-laki itu tidak bereaksi untuk mengejar Miss Cathy, malah hanya mengambil nafas dan geleng-geleng kepala melihat perempuan itu berlari meninggalkannya.
*********
Stevie terlihat sedang menyajikan kopi panas di depan meja suaminya, dan juga beberapa potong sandwich tuna ikut menemaninya. Terlihat laki-laki itu sedang menerima telpon, dan membuat beberapa arahan dari lawan bicaranya. Gadis muda itu tidak memiliki keinginan untuk mengganggu, ataupun kepo ingin tahu apa yang sedang dibicarakan oleh suaminya. Stevie malah mengalihkan fokus dengan membaca majalah Finance di depannya. Beberapa saat kemudian...
"Terima kasih sayang, sudah dibuatkan kopi untukku.." tiba-tiba tanpa sepengetahuan Stevie, Alexander ternyata sudah menyelesaikan panggilan telponnya. Laki-laki itu langsung menyeruput minuman tersebut dari dalam cangkirnya, kemudian juga sekalian menikmati beberapa potong sandwich.
"Iya kak.. karena kak Alex serius, Stevie tidak berani mengganggu." sambil meletakkan majalah kembali ke tempatnya, perempuan muda itu baru melihat ke arah suaminya.
"Herlambang, general manager yang kita minta untuk bertanggung jawab atas semua perusahaan yang ada di negara Indonesia barusan kasih kabar." Alexander menghentikan kata-katanya, karena laki-laki itu kembali menyeruput kopi dari dalam gelasnya.
"Ada rencana meeting yang dikemas sekaligus dengan focus grup discussion, dan healing bersama keluarga di pulau Bali.. Tapi Herlambang tidak berani menyampaikan hal tersebut pada kak Andre.. Yah.. karena anak muda itu bisa menjelaskan tujuan, manfaatnya akhirnya aku mengarahkan tentang teknis pelaksanaan kegiatan tersebut. Dan aku yang akan menyampaikan informasi itu pada kak Andre nantinya.." sambil kembali memasukkan sandwich ke mulutnya, laki-laki muda itu menjelaskan.
"Pulau Bali kak... wow menarik sekali. Jika kak Alex ke sana, Stevie ikut ya kak. Please..." mata Stevie tiba-tiba berbinar melihat apa yang dikatakan suaminya,
Alexander terkejut melihat respon istrinya, kemudian pandangan mata laki-laki itu beralih melihat perut buncit istrinya. Mungkin saat gadis itu berkata, dia tidak ingat dengan kondisi kehamilannya yang saat ini sudah masuk pada usia kehamilah tujuh bulan.
"Kenapa kak, kok malah melihat ke arah perut Stevie...?? Jangan khawatir kak, sudah tidak ada lagi keluhan dalam kehamilan Stevie.. Kan jalan-jalan juga bagus untuk healing, juga untuk membuka jalan lahir. Ingat deh apa yang dikatakan dokter terakhir kali.." Stevie langsung kembali mengubah fokus suaminya.
"Hemm... bukannya seperti itu sayang... Rencana meeting di pulau Bali, ini kan juga baru rencana. Belum tentu kak Andre akan menyetujuinya, bukankan kamu lihat berapa usia Fazwan saat ini. Baru beberapa bulan bukan..? Ataupun jika tetap terlaksana, bisa jadi kak Andre tidak akan datang menghadirinya.." kata-kata ALexander membuat perempuan muda itu menyurutkan semangatnya.
Stevie menjadi terdiam, binar bahagia seakan langsung menghilang pergi dari wajahnya. Melihat perubahan ekspresi yang dialami istrinya, ALexander menjadi ragu dan khawatir..
"Tapi sayang.., itu juga baru prediksiku. Nanti aku akan ke mansion kak Andre, dan akan menyampaikan rencana besar ini padanya. Semoga saja ada angin segar, sehingga acara tersebut bisa terlaksana. Lagipula sudah beberapa saat, aku dan kak Andre tidak mengunjungi perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia.." melihat reaksi istrinya, Alexander segera menenangkan kembali istrinya.
Mendengar hal itu, senyuman kembali muncul di bibir Stevie, dan gadis muda itu mengacungkan dua ibu jari sebagai isyarat senang mendengar kata-kata suaminya.
***********