
Steven merasa sangat senang dengan adab dan kesopanan dalam menyambut kedatangannya, tanpa berpikir panjang laki-laki itu langsung menyetujui dan menanda tangani kesepakatan yang sudah dibubuhkan pada MoU. Kepiawaian tim penyambut dalam menjelaskan, dan menjawab semua pertanyaan yang mereka sampaikan, menimbulkan apresiasi atas kekompakan dan kohesivitas dari PT. Indotrex. Tbk.
"Young master.. I am very proud to have a partner who understands the concept that we will cooperate very well."
Steven kembali menyampaikan kalimat pujian pada Andreas Jonathan, yang merasa sangat bangga dapat bekerja sama dengan mitra yang saling memahami konsep yang ada dalam pokok-pokok materi kerja sama,
"We also feel the same, Mr. Steven, happy to have a partnership with your company." dengan merendah, Andreas Jonathan membalas ucapan laki-laki berkebangsaan Singapore itu.
Mereka kemudian melanjutkan dengan berbicara tentang ekspektasi mereka tentang harapan keberlanjutan kerja sama, di masa depan. Tetapi tanpa diduga, sejak tadi Steven sering terlihat mencuri pandang pada keberadaan Cassandra. Gadis itu memang seperti memiliki magnet yang kuat, yang dengan cepat bisa menarik perhatian orang baru yang berbincang dengannya, Alexander dapat menangkap maksud tersembunyi dari tatapan laki-laki asing itu, yang seperti memiliki rasa tertarik pada gadis itu.
"By the way.. I'm in Jakarta until tomorrow afternoon. If Miss Cassandra doesn't mind, maybe tonight Miss Cassandra can accompany me around the city." Cassandra terkejut dengan perkataan Steven yang tiba-tiba menyinggung namanya. Apalagi hal itu menyangkut ajakan untuk menemani acara Steven nanti malam. Gadis itu mengangkat wajahnya dan mengarahkan pandangannya pada laki-laki itu. Dengan pandangan penuh harap, terlihat di mata Steven, dan tanpa sadar Cassandra menganggukkan kepalanya.
Andreas Jonathan terkejut dengan kesanggupan Cassandra yang tiba-tiba tanpa meminta pendapatnya, maupun pendapat Alexander. Laki-laki itu mengerutkan dahinya, tetapi Alexander seakan mengetahui jawaban yang diambil oleh gadis itu. Alexander yakin jika Cassandra tidak akan sanggup untuk menolak, dengan alasan akan dapat menciderai perjanjian yang baru saja ditanda tangani oleh kedua belah pihak.
"Tuan Steven..., tetapi sepertinya tuan harus tahu waktu ketika bepergian dengan Miss Cassandra. Kita di Indonesia, sebenarnya sama dengan sikap orang Melayu asli yang ada di Singapura. Kita memiliki batasan jam malam, sampai kapan kita harus sudah berada di rumah. Saya harap tuan Steven bisa memahami maksud perkataan saya.." sambil tersenyum, Alexander mengambil jalan tengah, dengan aksen bahasa Inggris laki-laki itu mengajak bicara Steven dan kedua temannya,
"Okay, I know what you want.. KIta hanya akan berkeliling sejenak, lanjut melakukan dinner, kamu setuju bukan Miss Sandra dengan ajakan kami.." sambil tersenyum smirk, Steven mengalihkan pertanyaan pada gadis itu,
"Pasti Miss Sandra akan menemanimu tuan Steven.., karena keberadaan anda di Jakarta, masih menjadi ranah jamuan kami, Aku juga akan bergabung dengan kalian nanti malam, kita akan berkeliling di Jakarta. tetapi sepertinya pada pukul 13.00.., kita harus segera mengakhiri obrolan siang ini, karena masih ada agenda pada pukul 13.30." tidak diduga, tiba-tiba Andreas Jonathan menyela perbincangan itu.
Alexander terkejut, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, demikian juga dengan Cassandra. Laki-laki itu tersenyum, seakan memahami maksud dari laki-laki itu.
"Really..., saya akan sangat berbahagia sekali dengan ajakan ini. Saat ini sudah menunjukkan pukul 12.30, lebih kami kembali ke hotel. Selamat siang.." Steven memahami maksud perkataan Andreas Jonathan, laki-laki itu segera mengajak dua rekan kerjanya untuk keluar dari tempat itu.
*********
"Sandra.. apakah kamu sudah siap untuk berangkat. Paling cepat, kita akan sampai ke tempat undangan dalam waktu 30 menit, jadi seharusnya kita segera bersiap?" tiba-tiba perkataan Alexander mengejutkan gadis itu.
"Sudah Tuan Alex.. ini Sandra juga berjaga-jaga membawa berkas-berkas ini, pajak, quota ekspor, maupun bea-bea yang sudah kita serahkan ke kas negara. Siapa tahu, selain ajakan untuk membantu UMKM, ternyata dari pihak KADIN juga melihat tingkat compliance perusahaan." sambil menenteng map besar, Cassandra segera berdiri dari kursinya.
"Good job.., bersamamu sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan perusahaan Sandra.." sambil tersenyum, Alexander menanggapi perkataan Cassandra.
Tiba-tiba pintu ruang kerja ANdreas Jonathan terbuka dari dalam, dan laki-laki itu langsung keluar dari dalam ruangan. Hanya memandang Alexander dan Cassandra, laki-lakiĀ itu bergegas meninggalkan ruangan itu. Dengan cepat, ALexander dan Cassandra segera mengikuti langkah laki-laki itu. Mereka turun ke lobby menggunakan lift khusus Direksi, sehingga Cassandra tidak merasa khawatir akan berpapasan dengan karyawan lain.
Sesampainya di mobil, ternyata seorang driver sudah menunggu kedatangan mereka bertiga. Cassandra bermaksud untuk duduk di depan menemani driver, tetapi tiba-tiba Alexander melarangnya.
"Sandra.. kamu duduk di samping tuan muda saja, biar aku di depan dengan Iwan.." suara Alexander menyadarkan gadis itu. Tanpa pikir panjang, gadis itu menatap mata ANdreas Jonathan, tetapi laki-laki itu malah seakan mengalihkan pandangan ke tempat lain.
Gadis itu tanpa bicara kemudian segera duduk, dan untuk mengalihkan perhatian pada laki-laki yang duduk di sebelahnya, Cassandra mengambil gadget dan mulai membukanya.
"Tuan muda.. semua berkas untuk menghadapi KADIN sudah dibawa sama Cassandra. Kita hanya perlu berargumentasi saja jika nanti Komisi Dagang menekan kita." dari kursi depan, Alexander membuka pembicaraan.
"Bagus, memang tugas dia seperti itu. Jangan lupa, bagian CS diminta untuk mempersiapkan restaurant untuk menjamu Steven dan kedua temannya." ucap Andreas Jonathan dengan nada sarkasme. Merasa tidak ada kaitan pembicaraan itu dengan dirinya, Cassandra diam tidak ikut dalam pembicaraan.
"Sudah tuan muda.. Oh ya Sandra.. by the way.. tidak seharusnya kamu menyanggupi semua ajakan tamu-tamu perusahaan ya di masa depan, Jika kamu merasa keberatan, buat saja alasan untuk menolaknya, toh kerja sama juga sudah ditanda tangani bukan. Mereka tidak akan semudah itu membatalkan perjanjian, hanya kita menolak ajakannya." tiba-tiba perkataan Alexander seakan menyentil perasaan Cassandra. Sesaat gadis itu berpikir, apakah dua laki-laki di dekatnya itu menuduhnya sebagai cewek gampangan ya. Tetapi dengan cepat, gadis itu membuang pikiran itu dari otaknya.
"Baik Tuan Alex.." sahut Cassandra singkat.
**********