CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 33 Omong Kosong



Keesokan harinya, Cassandra berangkat ke kantor seperti biasanya, dan begitu sampai di lobby gadis itu sudah melihat kedatangan Herlambang, Dengan senyum cerah, laki-laki itu berjalan mendatanginya dan mengambil tas gadis itu dan membawakannya,


"Tumben pagi banget kamu berangkat kerja Sandra.." tanya Herlambang sambil mengarahkan Cassandra menuju ke mobilnya.


"Tadi rencananya sih mau jalan pagi mas, malah tidak tahunya mas Herlam sudah ada di depan lobby. Mas Herlam tidak cari penumpang ya, pagi-pagi sudah sampai di apartemen," sahut Cassandra sambil naik ke dalam mobil yang sudah dibuka pintunya oleh laki-laki itu.


"Memang rencana mau jemput Sandra.., khawatir kedahuluan sama petinggi PT. Indotrex. Tbk." Herlambang tidak bermaksud untuk menyinggung Cassandra.


Tetapi Cassandra merasa jika laki-laki di sampingnya itu sedikit menyindir kedekatannya dengan CEO dan wakil CEO. Padahal mereka hanya dalam hubungan seorang atasan dengan seorang bawahan, dan Cassandra merasa ingin menjelaskan pada Herlambang.


"Semalam itu tanpa sengaja mas, sebelumnya kita itu ke kantor KADIN ada brain storming disana. Kita pikir hanya sejam atau dua jam saja di KADIN, ternyata penyelenggara acara juga mendatangkan dari Kementerian dan KPP Jakarta Pusat. Padahal pukul 19.00 kami juga berjanji untuk menjamu tamu di Black Akira, Setyabudi. Untuk menghemat waktu, akhirnya apartemen ini dipilih untuk kami bersiap." Cassandra menjelaskan keadaan kemarin sore.


Herlambang tersenyum, ternyata kecurigaannya pada gadis itu tidak memiliki alasan. Dirinya hampir terpengaruh dengan hasutan dua teman perempuan gadis itu di kantornya.


"Tidak perlulah kamu menjelaskan sampai sebegitunya Sandra. Berarti sampai malam dong acaranya, terus tidurmu telat ya.." dengan nada khawatir, herlambang melihat ke arah Cassandra dengan tangannya di atas kemudia mobil.


"Ingat semalam bikin bad mood mas.. Ternyata kota Jakarta tidak sedikitpun menunjukkan keramahannya, apalagi jika menyangkut warga negara asing yang datang. Bikin aku ingin muntah saja.." tanpa sadar, mendengar perkataan Herlambang, gadis itu terpancing emosinya kembali.


"What you talking about.. Sandra?? Apakah ada sesuatu hal yang tidak baik tadi malam." mendengar emosi gadis itu, Herlambang mempertegas pertanyaan, Tampak kekhawatiran terbias di wajah laki-laki itu.


"Itu tuan Steven.. kolega perusahaan. Tidak tahu malunya, sejak datang kemarin siang memainkan mata padaku. Bisa-bisanya juga di depan tuan muda dan tuan Alex, seperti merendahkanku taipan itu menuliskan secarik kertas,d an memberikan padaku. Laki-laki itu mengundangku untuk datang ke kamar hotelnya tadi malam. Sialan banget bukan.." dengan nada marah, Cassandra menceritakan apa yang terjadi tadi malam.


"Kamu baik-baik saja Sandra.. tidak terjadi apa-apa denganmu.." mendengar penjelasan gadis itu, Herlambang menjadi panik. Tetapi melihat gadis itu menggelengkan kepala, laki-laki itu merasa lega.


"Beginilah Jakarta yang sebenarnya San.., dibalik bangunan megah, gedung bertingkat, banyak moral orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu, berhati-hatilah dalam memilih teman, jangan sampai keliru." dengan suara pelan, Herlambang seperti menasehati adiknya sendiri.


"Iya mas.. " sahut Cassandra pelan.


Tidak lama kemudian, mobil yang dibawa Herlambang sudah memasuki lobby perusahaan. Gadis itu kemudian mengambil tas, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu. Herlambang menatap Cassandra, sampai gadis itu masuk ke dalam perusahaan. Setelah tidak terlihat lagi, barulah laki-laki itu kembali menjalankan mobilnya perlahan.


**********


Begitu memasuki lobby, seorang security mendekati Cassandra kemudian menyerahkan sebuah goodie bag pada gadis itu. Kening Cassandra berkerut, kemudian menanyakan pada security tersebut, dari mana asal goodie bag itu. Mata Cassandra mengamati satu box kue yang ada di dalamnya.


"Dari siapa ini mas.., aku merasa tidak tahu siapa yang mengirimkannya." karena memang tidak mengetahui siapa pengirimnya, dengan polos Cassandra bertanya pada laki-laki itu.


"Tapi mas sendiri juga dapat bagian tidak..?" dengan ingin tahu, Cassandra bertanya pada laki-laki itu.


"Ya jelas tidak non.., saya ini kan hanya pegawai out sourcing di perusahaan ini. Tidak masuk dalam divisi manapun, saya ini independent." laki-laki itu malah tidak sengaja curhat tentang posisinya di perusahaan.


Cassandra tersenyum, ikut merasakan kepedihan yang dialami oleh laki-laki itu. Sama-sama sebagai karyawan yang bekerja di perusahaan, namun nasibnya terkadang berbeda dengan karyawan lainnya.


"Jika begitu mas, kebetulan saya tadi sudah sarapan. Kue ini buat masnya saja ya, lagian di atas saya sudah mendapatkan jatah snack dan makan siang juga," tanpa bermaksud meremehkan, Cassandra memberikan goodie bag itu pada security tersebut.


"Beneran nih non.." dengan tatapan tidak percaya, security mengulang lagi pertanyaan.


"Iya benar.., aku sudah sarapan kok. Kue itu bisa untuk mas sarapan.. aku naik ya mas, makasih." gadis itu berjalan meninggalkan security itu kemudian naik ke lantai tujuh, tempat ruangannya berada,


Ruangan masih sepi, ketika Cassandra tiba di ruangan, tetapi meja dan perlengkapan lain sudah dalam keadaan bersih dan tertata. Hal itu berarti Jarwo sudah membersihkan ruangan tersebut. Tidak mau membuang waktu, Cassandra segera menyalakan komputer, juga perlengkapan yang lain. Gadis itu mengecek email yang masuk ke email perusahaan, dan segera membalasnya jika tidak ada kaitan dengan pemimpin perusahaan.


"Selamat pagi mbak Sandra.. mau Jarwo buatkan kopi atau teh manis panas saja mbak..?" tiba-tiba muncul Jarwo dari pintu masuk.


"Teh manis panas saja mas.. ntar agak siangan baru buatkan kopi ya.." Cassandra menjawab perkataan Jarwo sambil melihat ke wajah laki-laki tersebut.


"Siap mbak, Jarwo ke pantry dulu ya.." Cassandra menjawab laki-laki itu sambil mengangkat tangannya ke atas. Gadis itu melanjutkan pekerjaan terakhirnya tadi, yaitu membalas email yang masuk ke perusahaan,


"Kring.. kring.. kring.." tiba-tiba telpon di samping tempat duduk Cassandra berbunyi. Gadis itu melihat ke arah jarum jam, dan waktu baru pukul delapan.


"Secara logika, jam kantor baru buka. Kenapa sepagi ini sudah ada telpon masuk.." Cassandra membatin sendiri. Tetapi gadis itu segera beranjak dan mengangkat panggilan telpon.


"Sekretaris eksekutif PT. Indotrex. Tbk, Cassandra disini.." dengan ramah, Cassandra tetap menyapa pihak penelpon.


"Good.. Miss Cassandra.. ini aku Steven. Semalaman aku menunggumu di kamar hotel, tetapi kenapa kamu tidak datang honey. Aku suka kamu Miss Sandra, dan sebentar lagi aku akan berada dalam perjalanan ke SIngapore. Nice to meet you.." tenggorokan Cassandra seperti tercekat, mendengar siapa yang menelponnya saat ini.


Gadis itu akan bertindak kasar, tetapi merasa khawatir akan menciderai perjanjian yang baru kemarin siang ditandatangani oleh perusahaan. Akhirnya Cassandra memilih diam tanpa bicara, hanya mendengarkan obrolan laki-laki itu. Dalam hati, gadis itu merasa jengkel dan seperti terlecehkan oleh omongan kosong dari Steven.


*******