
Yanti bergegas pergi meninggalkan perkebunan kelapa sawit tersebut.
Baginya melenyapkan nyawa seseorang sudah sangat terbiasa, sebab Ia sering melihat Rey membunuh dengan didepan matanya, bahkan Ia juga mengambil paksa janin yang merupakan calon adiknya sendiri juga tak lagi perduli dan iba.
Rasa Prikemanusiaan telah lenyap dari jiwa Yanti, tak ada lagi belas kasih dalam hidupnya.
Yanti mempersiapkan segala keperluan untuk melakukan ritualnya.
Ia kini harus direpotkan kembali untuk menemui ki Brewok dan memesan kembali ayam cemani beserta burung gagak hitam dan perlengkapan lainnya.
setengah perjalanan, Yanti merasa lelah, dan Ia menghubungi Ki Brewok dan meminta pria paruh baya itu mengantarkan pesanannya.
Setelah menyepakati segalanya, akhirnya Yanti memutar aeah mobilnya menuju pulang ke warungnya. Ia terlihat begitu santai seolah tak melakukan kesalahan apapun.
Setelah seharian berada dijalanan, Ia akhirnya sampai diwarungnya. Ia menuju kamar rahasia dan membawa sepiring nasi untuk Lisa yang tampak kelaparan.
Wanita itu semakin kurus dan lesu. Sepertinya Lisa terkena penyakit menular, sebab Ia sudah banyak melayani pria dalam sekaligus.
Sementara itu, Lisa yang masih dalam hamil muda, merasa sangat ingin memakan sesuatu yang sangat diinginkannya.
Namun Ia takut ingin memintanya kepada Yanti, sebab tentu Yanti akan memarahinya.
Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan dan juga sangat dekil. Lisa bahkan tidak mengganti pakaiannya, sehingga pakaian yang dipakainya terus menerus membuatnya sangat lusuh dan terkena penyakit kulit serta gatal-gatal.
Yanti hanya memberikan makan seadanya, dan itupun sering terlambat, sehingga membuatnya semakin sangat terlihat miris.
Aroma bangakai manusia yang menyeruak memenuhi ruangan kamar rahasia Yanti juga menambah kondisi Lisa kian memburuk.
"Makan, Mbak.. Jangan sampai mati" ucap Yanti dengan ketus, lalu kembali keluar dari kamar tersebut.
Yanti pergi kekamarnya dan membersihkan dirinya. Wajahnya yang setengah rusak membuatnya tidak begitu percaya diri dalam melayani pelanggan diwarungnya. Ia lebih memilih untuk menunggu keempat remaja itu datang bekerja,baru Ia membuka warungnya.
Ia begitu sangat kesal kepada ayahnya, Badu. Sebab Ayahnya sudah membuat kulit wajahnya rusak sebagian.
"Siapa wanita yang akan aku jadikan korban malam ini? Apakah harus Mbak Lisa? Tetapi janinnya Masih sangat muda sekali?" guman Yanti sembari memegang kulit wajahnya yang melepuh.
Yanti masih berfikir keras untuk mencari tumbal janin malam ini, hingga Ia mendengar suara Ki brewok memanggilnya, dan membawa pesanannya.
Yanti keluar dari kamarnya dan membuka pintu warungnya. "Eh, Ki Brewok. Cepat banget sampai sini?" ucapnya merasa penasaran, sebab sepertinya Ia baru saja beberapa waktu memesannya dan kini pria itu sudah berada diwarungnya.
"Masuk, Ki.. Saya ambil uang dulu" ucap Yanti menawarkan, lalu masuk kewarungnya menuju kamar, dan mengambil uang yang sudah dibandrol oleh Ki Brewok.
Saat Ia keluar dari kamarnya, ia melihat ke empat remaja yang bekerja diwarungnya sudah berada didalam warung. Entah sejak kapan mereka datang.
Tampak Ki Brewok sedang bersenda gurau dengan ke empat remaja itu.
"Ki.. Ini uangnya" ucap Yanti sembari menyodorkan uang pesanan perlengkapan sesajinya.
"Terimakasih, Mbak.. tapi saya mau dilayani keempat remaja ini, Mbak.." ucap Ki Brewok sembari mengedipkan sebela matanya.
Yanti terdiam sejenak "Ada tarifny, Ki.. Apalagi keempatnya, pastinya uang yang untuk pesanan saya ini masih kurang untuk membayar keempat remaja itu" ucap Yanti menjelaskan.
"Aman, Mbak.. Saya punya banyak uang" ucap Ki brewok, lalu melemparkan seikat uang berwarna merah dalam jumlah 1 juta kepada Yanti.
Yanti menangkapnya, dan tersenyum tipis.
Yanti membawa bungungkusan plastik kresek berwarna hitam itu ke kamar rahasianya. lalu menyusunnya kedalam nampan sesaji yang sudah tersedia.
Yanti menata daging ayam cemani dan juga daging burung gagak yang sudah dipanggang oleh Ki Brewok, lalu menuangkan darah hitam dari ayam cemani dan darah burung gagak kedalam gelas yang biasa digunakan oleh Yanti dalam melakukan ritualnya.
Setelah selesai melakukan semuanya,Yanti kemudian meninggalkan sesaji itu dan pergi kekamarnya untuk menunggu waktu Maghrib tiba.
Sementara itu, Ia mendengar suara rintihan Ki Brewok yang sedang bergempur bersama keemapt remaja itu.
Yanti menyimapan uang dari Ki Brewok kedalam dompetnya, dan berbaring ditepi ranjang.
Sementara itu, Lisa hanya dapat melihat semua apa yang dilakukan oleh Yanti.
Dan dengan tiba-tiba, seekor kucing berwarna hitam memanjat dari atas bubungan kamar rahasia Yanti, dan menyelinap masuk dari tas platfom, lalu masuk dari langit-langit kamar yang sedikit rusak.
Kucing itu menghampiri sesaji dan menyantap ayam cemani tersebut. Setelah merasa kenyang, Ia mengacak sesaji dan membawa sisa ayam cemani dalam gigitannya.
Kucing tersebut melompat serta memanjat dinding warung yang terbuat dari papan dan naik kembali keatas platfom, lalu menyelinap keluar.
Lisa terperangah melihat aksi kucing tersebut. Wanita itu memastikan jika nantinya Yanti akan marah dan memaki karena kesal, sebab sesajinya sudah hancur berantakan, dan tentunya yang menjadi sasarannya adalah Lisa. Sebab Lisa yang ada ditempat itu.
Ki Brewok sudah merasa puas, dan Ia beranjak pergi sembari merasa bangga karena dapat melayani empat remaja wanita sekaligus.
Setelah Ki Brewok pergi, beberap pelanggan mulai masuk dan keempat remaja itu sibuk melayani para pelanggan.
Waktu Maghrib telah tiba. Yanti tersentak dari tidurnya dan Ia mengerjapkan matanya lalu menggosok kedua matanya menggunakan jemarinya.
Yanti beranjak dari tempat tidurnya, Ia mengingat akan melakukan ritual malam ini.
Yanti berjalan sempoyongan, sebab Ia masih dalam kondisi mengantuk.
Wanita yang kini telah berada dalam pengaruh iblis tersebut tampak masih dalam kondisi belum terkumpul nyawanya karena masih mengantuk.
Yanti membuka pintu kamar rahasianya. Ia menyalakan lampu dan menghampiri nampan sesaji lalu melihat sesaji yang Ia buat dengan susah payah.
Namun Alangkah terkejutnya Yanti saat mendapati apa yang sudah dipersiapkannya hancur berantakan.
Yanti merasakan sesaknya seakan kambuh mendadak melihat semuanya begitu sangat tak percaya.
Yanti memperhatikan jejak kaki yang menginjak darah itu menapaki lantai dan menuju kedinding serta naik keatas platfom.
Jejak kaki itu milik seekor kucing liar yang sudah menggagalkan semua rencananya.
"Dasar sial..!! Mbak Lisa! Kenapa kamu tidak mengusir kucing itu mengacak-acak sesaji saya?!" ucap Yanti dengan nada tinggi serta wajah penuh amarah.
Karena tersulut emosi, membuat Yanti hilang kendali. Ia menjambak rambut Mbak Lisa dan menghempaskan kepala Lisa kedinding.
Yanti begitu frustasi, sebab Ia kembali gagal dalam melakukan ritualnya malam ini.
Lisa terkulai lemah, kepalanya berdarah karena hempasan yang sangat kuat dari Yanti.
"Sial...!! Dasar kucing sialan! Jika aku mendapatkanmu, akan aku cincang Kamu!" ucap Yanti menggerutu dengan sangat kesal.