
"Yanti.. Lepaskan Mbak.. Mengapa Kamu tega merantai Mbak seperti ini" ucap Lisa dengan menghiba. Apalagi saat ini Ia dalam kondisi yang tidak sehat.
"Maaf, Mbak.. Saya terpaksa mengurung Mbak disini, sebab Mbak sudah mengetahui rahasia saya" ucap Yanti dengan lirih.
Lisa memandang Yanti dengan tatapan memohon, Ia ingin pulang kerumahnya dan beristirahat.
"Mbak mohon, Yan.. Mbak berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini kepada siapapun" ucap Lisa memohon.
Yanti menggelengkan kepalanya "Tidak, Mbak.. saya tidak bisa mempercayai Mbak, karena rahasia ini sangat tidak dapat diketahui oleh siapapun" ucap Yanti, lalu meninggalkan Lisa yang sendirian dan terus memohon meminta untuk dilepaskan.
Namun Yanti masih tetap dengan pendiriannya dan tak ingin melepaskan Lisa.
Yanti mulai berfikir bagaimana agar ruangan ini dapat kedap suara dan mengganti lubang kunci agar tidak dapat untuk siapaun mengintip.
"Esok aku akan memperbaiki ruangan ini, dan untuk sementara wajtu, Mbak Lisa aku pindahkan saja dikamarnya, dan setelah kamar ini selesai baru aku pindahkan kembali kemari" Yanti berguman dalam hatinya.
Lisa merintih dalam kesedihan. Ia tak menduga jika hari ini akan mengalami kesialan yang membawa malapetaka baginya. Ia yang baru saja akan mengkhayal tentang kekayaan yang 2 bulan lagi seperti janji Yanti padanya, kini pupus sudah dalam angan yang tak pasti.
rasa lapar yang menderanya, membuatnya terpaksa memakan apa yang disuguhkan oleh Yanti barusan.
Lisa menyuapkan makan malamnya dengan penuh linangan air mata. Bagaimana mungkin Ia terjebak dalam susana seperti ini.
Saat menelan makanannya, Ia merasakan seperti menelan duri saja, namun Ia mencoba memaksanya, karena perutnya sudah sangat lapar.
Sesaat Lisa merasakan suara jeritan kesakitan dan rintihan-rintihan yang sangat memiliukan.
Lisa merasakan jika itu adalah suara para pria yang mati mengenaskan dan kerangkanya sudah tersimpan didalam karung tersebut.
Lisa merasa sangat ketakutan, Ia meringkuk disudut ruangan dalam wajah memucat dan tubuhnya menggigil.
Sementara itu, suara dentuman musik yang begitu keras sangat memekakkan telinga dan membuat gerah bagi orang yang ingin beristirahat.
Ke empat gadis remaja yang kini terjebak dalam kubangan kemaksiatan, merasa begitu bangga dalam pekerjaan mereka. Dimana mereka akan dikelilingi oleh para pria yang memperebutkan mereka untuk memberikan uang tips dan juga layanan dari para gadis remaja.
Mirna merasakan jika akan ada korban yang jatuh lagi malam ini. Ia terjaga dari tidurnya lalu menyelinap dari balik pintu dapurnya menuju sisi rumahnya.
Sesaat Ia melihat sosok bayangan hitam melintas dengan iringan desiran angin yang terasa sangat panas dan dengan cepat Mirna melemparkan selendangnya, lalu mengenai sosok bayangan hitam tersebut.
Seketika sosok itu mengerang dan menoleh kepada Mirna.
"Dasar, Kau!!" maki sosok itu yang tak lain adalah Rey.
"Mengapa Kau selalu menghalangiku? Bukankah Kau itu adalah calon permaisuriku?!" ucap Rey dengan geram.
Mirna yang mengenakan cadar itu tak menggubris ucapan Rey yang dianggapnya tidak penting.
Merasa akan mendapat rintangan untuk mengambil korban, Rey mencoba melumpuhkan Mirna agar tak lagi ikut campur dengan urusannya.
Rey balik menyerang Mirna. Ia melakukan serangan dan ingin melukai Mirna agar merasa jera.
Rey mengeluarkan setengah tenaga dalamnya, dan melancarkan tendangan tanpa bayangan yang mencoba mengecoh Mirna.
Namun Mirna dapat merasakan kehadiran Rey yang berhawa panas itu.
Dengan cepat Mirna menghindar saat merasakan deru angin berhawa panas ingin menuju kearahnya.
Rey tidak mengenai sasaran, lalu wujudnya menghilang kembali, dan datang kembali dalam sosok hitam berbulu tipis disekujur tubuhnya.
Mirna kembali melemparkan selendangnya, lalu mengenai wajah Rey yang setengah rusak akibat terbakar oleh ajian segoro geni. Luka yang hampir kering itu mendadak terkelupas dan menimbulkan aroma anyir yang memualkan perut.
Mirna kembali menghindari serangan itu, lalu melemparkan kembali selendangnya, dan mengenai dada Rey yang terlihat tampak kekar berbulu.
Rey kembali mengerang kesakitan dan merasakan dadanya sangat sakit karena Mirna menggunakan tenaga dalamnya.
Mirna tak ingin Rey mengambil korban, sebab itu akan menambah jumlah penyempurnaan korban yang ditumbalkan.
Rey tersungkur ditanah dan mencoba untuk bangkit.
Sementara itu warung Yanti yang masih dipenuhi oleh para pelaku kemaksiatan masih tampak begitu dengan hingar bingar.
Mereka seolah tidak merasakan curiga, jika teman mereka menghilang satu persatu setiap malamnya. Sebab mereka telah dibutakan oleh hawa naf- su yang membuat mereka tidak peka akan situasi yang terjadi.
Mirna mengikat sosok Rey, lalu mencoba melemparkannya kembali kedalam pohon beringin bersama Nini Maru. Namun tiba-tiba sosok kakek Nugroho yang merupakan jelmaan dari Genderuwo itu tak merasa senang dengan perbuatan Mirna.
Sosok Kakek Nugroho mencoba membantu Rey dan ingin melepaskan ikatan yang mengikat tubuh Rey.
Namun sebuah cahaya jingga datang menghalanginya, dan sosok itu melemparkan Kakek Nugroho hingga terpental.
Sosok cahaya jingga membantu Mirna mengikat Rey dengan kekuatan sihirnya lalu melemparkannya dengan cepat.
"Widuri.." ucap Mirna kepada sosok peri tersebut.
Sosok peri bernama Widuri itu menganggukkan kepalanya dan menoleh kepada kakek Nugroho yang berusaha untuk bangun.
Dengan gerakan cepat, Widuri mengeluarkan cahaya sihirnya untuk mengikat Kakek Nugroho agar tak lagi dapat menghindar.
Namun sosok kakek Nugroho yang merubah wujudnya menjadi Genderuwo itu menghilang dalam sekejab saja.
Widuri kehilangan jejaknya. Peri itu lalu menghampiri Mirna "Berhati-hatilah, dan jangan sampai mereka mengincar janinmu" ucap Widuri mencoba mengingatkan.
Mirna menganggukkan kepalanya, lalu peri tersebut menghilang.
Mirna kemudian masuk kedalam rumah dan mencoba menyusun rencana untuk kedepannya.
Sementara itu, Yanti tampak bersemangat melayani para pelanggannya, sebab semakin lama semakin ramai.
Untuk melancarkan aksinya, Yanti menhgiring seorang pelanggan pria yang baru saja masuk ke warungnya sore ini. Ia menawarkan jasa plus-plus. Lalu membawanya kekamarnya.
Ia tidak membawa kekamar rahasia itu karena Ia belum menyiapkan kamar khusus buat Lisa, agar nantinya tidak ada yang mencurigainya.
Setelah Yanti melayanin jasa plus-plusnya, namun Rey tak juga muncul. Ia merasa was-was. Sebab pastinya tidak akan ada tumbal lato-lato, tidak akan ada tambahan emas yang didapatnya.
Hingga pelanggan pria pergi, namun Rey tak juga muncul. Seketika Yanti merasa gelisah, menantikan kehadiran Rey.
Setelah pagi menjelang datang, para pelanggan itu mulai berpulangan, dan keempat remaja itu juga beranjak pulang.
Mereka membawa sepeda motor sendiri. Sebab baru beberapa hari bekerja, mereka mendapatkan gaji fantastis dari Yanti dan dapat membeli sepeda motor baru untuk mereka bekerja, agar Yanti tak lagi mengantar dan menjemput mereka.
Setelah mereka berpulangan, kini tinggal Yanti seorang diri.
Mirna mengintai dari balik jendela, lalu kembali menutup tirainya.
Tak berselang lama, datang sebuah mobil yang masuk kedalam warung Yanti.
Awalnya beralasan ingin membeli sarapan, namun akhirnya mereka menodongkan senjata dan merampok uang hasil dagangan Yanti malam tadi. Bahkan mereka mengancam Yanti untuk mengeluarkan segala simpanannya.