MIRNA

MIRNA
episode 113



Yanti membuntuti Rina yang tampak membelok ke arah simpang dan mencoba mensejajarkan mobilnya dengan motor Rina yang sudah begitu sangat dekat.


Sesaat Yanti mencoba mengklakson Rina agar berhenti sejenak. Ia menurunkan kaca pintu mobil untuk memperlihatkan wajahnya kepada wanita itu.


Seketika Rina menepikan sepeda motornya dan berhenti dipinggir jalan.


Yanti bergegas keluar dari mobilnya dan menghampiri Rina yang sedang menunggunya.


"Hei, Mbak.. Apa kabar? Sudah lama gak ketemu, bisa ngobrol sebentar di bawah pohon sana" tunjuk Yanti pada sebatang pohon yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Rina menganggukkan kepalanya menyetujuinya dan mereka berjalan menuju kebawah pohon rindang ditepi jalan.


Sesampainya disana, Yanti mulai membuka pembicaraan yang mana Ia juga sudah tidak memiliki waktu untuk berlama-lama karena Ia harus menemui Ki Brewok untuk mengambil pesanan bahan sesajinya.


"Mbak, Bagaimana tawaran saya yang kemarin? Mau gak?" tanya Yanti dengan penuh harap.


Rina mengerutkan keningnya "Tapi Mbak katakan sebulan lagi, sedangkan ini masih ada dua minggu lagi waktunya.." ucap Rina mengingatkan.


"Ya, Waktunya ternyata dimajukan, Mbak.. Kalau Mbak mau biar saya bayar DP-nya dan Mbak nanti malam siap sedia dirumah dan jangan kemana-mana" rayu Yanti mencoba membuat Rina mau menuruti apa yang diinginkannya.


Rina merasa dilema. Disatu sisi Ia menginginkan uang untuk membayar rumah kontrakan dan juga kebutuhan hidupnya, sementara itu Ia juga takut bagaimana cara menggugurkan janinnya.


"Bagaimana cara menggugurkan janinnya?" tanya Rina merasa bingung.


"Mbak tenang saja, yang penting Mbaknya mau dan nanti malam Mbak tinggal duduk manis diranjang" ucap Yanti menjelaskan.


Rina tampak ragu, namun Ia benar menginginkan uang tersebut.


"Bagaimana, Mbak?" tanya Yanti tak sabar.


Akhirnya Rina menganggukkan kepalanya "Baiklah, saya mau, Mbak.." ucap Rina menyetujui persetujuan perjanjian mereka.


Yanti tersenyum sumringah dan membuka tas sandangnya lalu mengambil 5 ikat uang ratusan ribu dengan jumlah nominal 5 juta rupiah.


Rina tampak terperangah melihat tumpukan uang tersebut dan seolah buta akan apa yang didepannya.


"Ambillah, Mbak, ini sebagai DP-nya, Mbak tinggal duduk manis di ranjang nanti malam" ucap Yanti mengingatkan, sembari meletakkan uang tersebut keatas telapak tangam Rina yang masih bengong dengan tumpukan uang tersebut.


Setelah melakukan perjanjian, akhirnya Yanti berpamitan untuk pergi karena Ia akan pergi menuju rumah Ki Brewok, Ia tidak ingin kemalaman dijalan.


Rina menuju motornya, kemudia mengemudikannya menuju arah pulang. Sepanjang perjalanan, Ia tersenyum sendiri membayangkan tumpukan uang yang akan diperolehnya malam nanti.


Sementara itu, Yanti melajukan mobilnya.menuju rumah Ki Brewok yang lumayan jauh.


Setelah satu jam lamanya, akhirnya Ia sampai dirumah pria paruh baya itu dan memarkirkan mobilnya di halaman rumah pria paruh baya itu.


Tampak pesanannya sudah tersedia. Sebuah jerigen berukuran 5 liter yang mana sudah tercampur darah antara ayam cemani dan juga burung gagak dan yang berjumlah cukup banyak untuk menghasilkan darah sebanyak itu.


Setelah mendapatkan semua barang pesanannya, Ki Brewok tampak diam saja.


Sepertinya Ki Brewok mengetahui jika kondisi organ inti Yanti sedang luka parah pasca melahirkan karena tidak menjaga pola makan dan sembrono dalam sesuatu hal, serta banyaknya para pelanggan prianya yang merupakan suatu malapetaka jika sampai menularkan penyakit HIV and AIDS.


Setelah melakukan pembayaran, Yanti menatap pria paruh baya itu yang tidak memperdulikan tatapannya.yang menginginkan sentuhan pria paruh baya itu, namun karena Ki Brewok tak merespon, akhirnya Yanti mmeilih pulang untuk membawa semua bahan sesaji yang akan digunakannya malam ini.


Yanti kembali ke warungnya, agar Ia dapat melakukan ritualnya malam nanti.


Mega menggantung dilangit senja, cahaya jingganya mewarnai langit saat ini. Suasana yang tampak begitu tenang dan juga lengang bagi insan yang menginginkan sebuah kedamaian.


Tak berselang lama, Yanti tiba di warungnya. Ia membawa semua perlengkapan ritualnya masuk kedalam warung dan menuju kamar rahasianya.


Saat Ini Tia masih didalam kamar dan sedang bermalas-malasan, sehingga tak menyadari kepulangan Yanti yang membawa berbagai peralatan untuk sesajinya.


Yanti segera mengunci kamar rahasianya. Aroma busuk dan juga pengap dari dalam ruang kamar rahasianya tak menjadi persoalan baginya yang sepertinya sudah biasa dengan aroma menjijikkan dan memualkan itu.


Yanti dengan segera menata semua sesaji untuk dipersembahkan kepada Nini Maru malam nanti dan juga sekutunya Rey.


Seketika Ia teringat akan mencari satu korban pria yang akan dijadikan tumbal untuk Rey.


Namun Ia akan memikirkannya nanti, sebab Ia sedang sibuk menata sesajinya.


Yanti mendengar adzan Maghrib berkumandang samar-samar dari sebuah Mesjid yang berjarak 1 km dari warungnya.


Yanti mulai memasang dupa dan menyalakannya dengan sebuah pemantik api. Sesaat Ia membakar arang dalam sebuah wadah yang terbuat dari kerajinan tanah liat yang dibentuk sempurnah untuk dltempat pembakaran kemenyan.


Yanti menaburkan butiran kemenyan dan memercikkan cairan minyak duyung ya g bersroma kuat dan disuakai oleh para jin dan iblis laknatullah.


Yanti keluar sejenak untuk mencari wadah plastik berukuran besar yang akan digunakannya untuk mengisi air dan campuran darah dengan tujuh rupa sebagai tempat untuk Nini Maru mandi darah tersebut.


Setelah menyiapkan segalanya, Yanti segera melucuti pakaiannya hingga tanpa sehelai benangpun, dan Ia duduk bersila untuk melakukan ritual untuk memanggil Nini Maru untuk menjamunya dalam sesaji yang diminta oleh Nini Maru.


Sesaat aroma kembang kenanga menyeruak memenuhi ruangan, dan tampak satu sosok wanita bergaun merah dengan wajah setengah rusak mengahmpirinya dengan cara merangkak, lalu menghampiri Yanti yang kini sedang bersemedi dan terlihat fokus


Nini Maru menyentuh wajah Yanti yang setengah rusak dan Ia kemudian membisikkan sesuatu kepada Yanti, sehingga gadis itu membuka matanya.


Yanti merasakan jika kehadiran Nini Maru yang ditandai dengan harum aroma kembang kenanga tersebut.


"Nini.. Terimalah persembahan sesajiku" ucap Yanti dengan merundukkan kepalanya dan mengatupkan kedua tangannya didepan dada.


Lalu Nini Maru tersenyum seringai. Ia menghisap semua sari sesaji yang disediakan oleh Yanti, tak satupun yang terlewati.


Setelah menyantab sesaji tersebut, Ia memasuki wadah plasti berukuran besar dan akan dijadikannya untuk tempat Ia mandi dan memberikan sumber energi baru yang mana akan sempurnah jika Yanti berhasil mendapatkan janin malam ini.


Nini Maru memasuki wadah plastik tersebut, lalu menyiramkan air bercampur darah segar dan kembang tujuh rupa kesekujur tubuh keriputnya menggunakan gayung yang terbuat dari tempurung kelapa.


Setelah selesai, Ia menyiram darah segar itu untuk penambahan energi negatifnya.


Setelah Ia selesai melakukan rituanya, Ia meminta Yanti melakukan hal yang sama dengannya.