MIRNA

MIRNA
Episode 34



Seorang Asisiten rumah tangga baru berusia 35 tahun bekerja menggantikan Lisa. Wanita itu adalah seorang gadis tua yang sudah lama tidak menemukan jodoh.


Gadis itu bernama Yanti. Ia seorang gadis yang dulunya memiliki paras cantik, karena kecantikannya, Ia merasa bangga dan selalu menolak jika ada pemuda yang datang melamarnya, sebab tidak sesuai kriterianya.


Yanti menginginkan pemuda yang datang padanya itu tampan dan juga jutawan, namun kenyataannya, pemuda yang datang melamarnya adalah pemuda desa yang bertampang pas-pasan serta tidak memiliki harta.


Saat mendengar Syafiyah dilamar dan dinikahi pemuda tampan dan kaya raya, terbesit dihatinya rasa iri dan juga dengki yang bersemayam didalam hatinya, sebab Ia merasa lebih cantik dan juga menarik dibanding Syafiyah.


Kabar kecelakaan Syafiyah dan mengalami kelumpuhan, membuatnya merasa sangat bahagia.


Ketika mendengar Satria mencari seorang asisten rumah tangga untuk menggantikan Lisa yang tiba-tiba berhenti, hal ini menjadi kesempatan untuknya agar dapat mendekati Satria.


Yanti sudah berias sejak pagi, Ia mengenakan pakaian yang tampak begitu mencolok memamerkan lekuk tubuhnya. Entah niat apa yang diterselip direlung hatinya saat akan bekerja dirumah Satria. Padahal pekerjaannya hanya membersihkan rumah bukan sebagai sekretaris.


Yanti rumahnya terletak dari beberapa ratus meter dari rumah Satria, mengemudikan sepeda motornya untuk kerumah Satria.


Dalam perjalanan kerumah Satria, Ia berpapasan dengan Jefri dan Dandi. Dimana kedua pemuda itu pernah ditolak Yanti saat mencoba melamar gadis itu.


Yanti tampak begitu angkuh saat melintasi kedua pemuda itu, lalu melajukan motornya.


"Lihat tu si Yanti, dulu nolak Kita saat dilamar, sekarang sudah usia 35 tahun belum menikah juga, akhirnya jadi gadis tua dia, Mah" ledek Jefrj sembari tersenyum mencibir.


"Iya.. Tapi lumayan juga, masih bohay Dia.." Dandy menimpali.


Lalu keduanya saling tatap. "Kita kerjain saja, Yuk.. Daripada nganggur begitu kasihan juga" Jeffri menyematkan ide jahat kepada Dandy untuk Yanti.


Lalu keduanya tertawa bersamaan dan saling tatap satu sama lain. Dandy membisikkan sesuatu kepada Jeffri dan di iyakan oleh Jeffri dengan menganggukkan kepalanya.


Sementara itu, Yanti sudah sampai dirumah Satria. Ia memberkan salam kepada pemilik rumah, dan Satria menyambut salamnya.


"Maaf, Mas.. Saya yang mau menggantikan Mbak Lisa bekerja" ucap Yanti dengan nada lirih.


Satria bingung dengan penampilan Yanti yang tampak bukan seperti hendak bekerja disebuah cafe.


Satria menggelengkan kepalanya.. "Ya sudah.. Silahkan bekerja" jawab Satria dingin lalu masuk kedalam kamarnya.


Yanti merasa sangat begitu takjub akan ketampanan Satria, Ia bahkan sampai tak mampu untuk bekedip karena begitu mengagumi suami tetangganya itu.


"Ya ampuuun... Ganteng banget sih, buat gregetan saja" guman Yanti sembari bengong memandang Satria yang sudah masuk kedalam kamarnya.


Yanti merasa sangat gemas sendiri. Lalu Ia masuk kedalam rumah itu dan menatap isinya.


Jika untuk ukuran rumah didesanya, maka rumah Satria tampak mencolok sendiri dan merupakan rumah yang sangat mewah.


Yanti berdecak kagum melihat seluruh isinya.."Gila.. Mimpi apa sih si Syafiyah bisa dapat suami tampan plus tajir.." guman Yanti sembari menggelengkan kepalanya.


Lalu yanti mulai menyapu rumah yang tampak sangat luas.


Saat Ia sedang melintasi kamar Satria, tampak olehnya dari balik celah pintu yang terbuka jika Satria sedang menyuapi Syafiyah yang tampak begitu sangat lemah.


"Idiiih.. Istri begitu saja masih diurusin.. Apa untungnya juga.." Yanti mencibir dengan tatapan sinis.


Sesaat Yanti merasa sangat iri dengan keberuntungan yang didapat oleh Syafiyah, sedangkan Ia hanya mendapat lamaran dari pria desa yang tak berguna.


sementara itu, Mirna merasa sangat jijik jika membayangkan para pria-pria itu menjamah tubuhnya. Namun tak dapat menolak gejolak hasratnya yang hanya menjadi pelampiasan sesaat.


Mirna kembali membenamkam dirinya didalam sungai. Ia memejamkan matanya dan menengadahkan kepalanya keatas.. "Satria.. Datanglah.. Aku menginginkanmu" ucapnya lirih dengan penuh pengharapan.


Bayangan hitam itu tertawa dalam kesunyian. Ia telah mendapatkan 11 buah lato-lato sebagai syarat penyempurnaannya. Ia menikmati lato-lato itu dalam wujud misterius, menyusun 5 buah lato-lato lengkap dengan senjatanya.


Tangang yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan hitam, namun tidak terlalu lebat itu menambah kesan jika Ia sosok yang menyeramkan.


Setelah puas dengan santapannya, Ia menyeringai dengan gigi-giginya yang tampak dengan noda darah dan sisa cabikan daging kenyal tersebut. Sesaat luka ditubuhnya yang terkena ajian segoro geni mulai menutup sedikit demi sedikit.


Dilain sisi, Mirna telah selesai dengan mandinya. Ia beranjak dari dalam sungai dan naik ketepian.


Ia masih mengingat pesan Didi jika Ia harus membawa kain kering untuk sebagai ganti kainnya yang basah. Setelah mengganti kainnya, Ia menapaki undakan dan telah sampai didepan pintu dapurnya.


Ia melihat Kakek Nugroho sudah berada didepan pintu dapurnya, tampaknya pria senja itu sedang menunggunya sedari tadi.


"Ada apa, Kek? Makin tampak muda saja ya sekarang" ucap Mirna mencoba berkelakar. Pria senja itu hanya tersenyum menatap Mirna.


"Itu ada ikan, Kakek letakkan diatas pintu" ucap Pria senja itu sembari menunjukkan tempat Ia menggantungkan ikan yang masih hidup teesebut didalam kantong plastik.


Mirna melihat ikan itu, lalu mengucapkan terimakasih.


Pria senja itu berlalu dan meninggalkan Mirna yang masih menatapnya pergi.


Mirna kembali masuk kedalam rumahnya. Hari ini Ia akan pergi berbelanja, sebab semalam Ia diculik 5 orang pria yang tidak dikenal dan membuatnya batal untuk berbelanja.


Mirna mengenakan pakaian yang dibelikan oleh Satria waktu itu. Ia sudah bersiap dan akan pergi berbelanja.


Mirna menyusuri jalanan menuju toko sembako, berharap tidak lagi ada pria yang berlaku mesum terhadapnya.


Mirna mempercepat langkahnya, karena bahan persediaannya telah habis.


Dengan menggunakan kekuatannya, Ia telah sampai ditoko sembako tersebut.


Mirna berbelanja keperluannya. Saat ini Ia sibuk memilih daging ayam dan juga daging sapi. Mirna sangat menyukai daging itu.


Sesaat mata para ibu-ibu yang berbelanja disana menatap penuh dengan heran.


Mereka melihat jika Mirna sangat berbeda dari mereka dan itu terlihat sangat kontras.


Kulit putih halusnya membuat iri para gadis dan Ibu-ibu yang sedang berbelanja.


Mirna mencoba tidak perduli dengan apa yang mereka ghibahkan.


Sesaat Lela juga berbelanja ditoko itu untuk keperluan warungnya.


Mirna melihat jika tubuh Lela terdapat benih dari sesosok makhluk yang masih dalam berbentuk segumpal daging.


"Nini Maru" guman Mirna lirih dalam hatinya.


Lela menghampiri Mirna yang sedang menatapnya. "Hai.. orang baru disini, Ya?" sapa Lela ramah.


Mirna memgangguk dan tersenyum.


"Kenalin, Aku Lela.." sapa Lela sembari mengulurkan tangannya.


Mirna meraih uluran tangan Lela "Mirna" ucapnya dengan lembut.


"Cantik banget Kamu, ya" ucap Lela keceplosan, lalu tersenyum dan memasukkan daging ayam ke dalam kantong plastik.


"Mbak juga cantik" jawab Mirna.