MIRNA

MIRNA
episode-230



Kedua bocah itu ngacir memasuki rumah dan Yanti yang sudah merasa tersinggung tidak membiarkan mereka lari bagitu saja.


Yanti sudah muak mendapatkan cacian dan hinaan terus menerus dari para sesama demit dan kini anak manusia juga ikut-ikutan menghinanya.


Yanti menghadang keduanya dengan merentangkan kedua tangannya. Rongga matanya yang berlubang penuh belatung tak dan dua buah tonjolan didadanya yang berlu-bang dan mengeluarkan darah bercampur nanah serta belatung yang tampak mengerumuninya membuat aroma tubuhnya yang sangat menjijikan.


"Siaaalaann.. kalian!! jangan karena kalian tampan, lalu seenaknya menghina saya!. Asalkan kalian tau, saya ini dulunya gadis yang cantik dan seeeksoooy" omel Yanti kepada keduanya.


"Yaelah tante, itukan dulu. Kalau sekarang tante itu sangat berantakan!" jawab Angkasa tak mau kalah.


Seketika Yanti menangis sesenggukan dan hatinya sangat begitu sakit.


Melihat hal itu, Kedua remaja itu merasa iba.


"Jangan nagis dong, Tan.. Maafin kita ya, sudah buat tante tersinggung" ucap Samudera, lalu menyikut lengan adiknya dengan ujung sikunya.


"Tante mau cantik lagi?"


Seketika Yanti menoleh kearah, keduanya. Lalu dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Iya.. Mau! Bagaimana caranya?" tanya Yanti tak sabar.


"Tante harus kembali ke jalan yang benar. Bukankah sewaktu sakaratul maut tante sempat mengucapkan dua kalimah syahadat yang dibantu oleh Ayah tante?"


Yanti diam termenung, lalu menatap keduanya, dan menganggukkan kepalanya.


"Iya, benar.. Tante menyesal sudah terlalu jauh melangkah" jawab Yanti yang kini merasa hatinya sedikit tenang.


"Kalau begitu kita akan bantu tante menekukan jalan kembali pulang, apakah tante mau?" tanya Angkasa yang kini mulai sedikit luluh.


Yanti menganggukkan kepalanya, dan mencoba menerima tawaran ke duanya.


Lalu kedua bocah remaja itu membawa Yanti ke samping rumah mereka, dan mereka duduk diatas tanah dengan cara bersila.


"Tante ikutin apa yang kita baca, Ya" titah Angkasa sembari menggenggam jemari tangan Samudera agar mereka tidak terpisah atau tersesat saat berada di alam dimensi lain.


Lalu Yanti mengikuti apa yang dikatakan oleh bocah tersebut. Ia memejamkan matanya yang tampak begitu sangat mengerikan.


Lalu terdengar suara kedua bocah itu merafalkan dzikir yang kemudian diikuti oleh jin qorin Yanti. Seketika suasana hening dan kesunyian malam mulai merambat dengan segala kegelapannya.


Namun kedua bocah itu tak mengenal rasa takut akan hal yang diluar nalar manusia. Maka saat Yanti mulai mengikuti lafaz dzikir yang dirafalkan keduanya, maka sesaat sosok tubuhnya bergetar hebat. Adap hitam perlahan keluar dari tubuhnya yang penuh luka parah.


Perlahan gumpalan asap hitam itu semakin banyak dan membumbung tinggi lalu menghilang.


Lalu tubuh Yanti yang hancur berantakan perlahan mulai tampak membaik dan kecantikannya yang pernah hilang kini kembali lagi.


Gaun putih bersih menutupi tubuhnya, lalu jin qorin itu menghampiri kedua bocah tersebut.


"Terimakasih, sudah bantuin tante menemukan jalan yang benar, tante akan meninggalkan segala kemaksiatan dan juga jalan sesat yang selama ini tante jalani" ucap Jin qorin Yanti dengan wajah penuh berseri dan bersinar.


Ke duanya saling bertatapan dan berniat akan kembali ke raga mereka dengan cepat keduanya melesat kembali ke raganya masing-masing.


Lalu keduanya bergegas masuk ke dalalm rumah dan mengunci pitu untuk kemudian beristirahat.


Namun saat ini mereka tidak menyadari jika jin qorin Melly yang baru saja dikebumikan tampak tersesat karena kematiannya yang tragis membuatnya membalas dendam kepada ke lima remaja dan sang oknum guru yang telah merenggut kesucian dan juga nyawanya.


Melly kini mencari kelima sahabatnya yang masih berada dirumah sakit kepolisian.


Sosok Melly terlihat penuh dendam dan amarah.


Sepertinya ada yang mengendalikan jin qorin Melly untuk aksi balas dendam. Sebab wajah dari siswi cantik itu tampak aura kegelapan yang sedang digunakan seseorang.


Melly berjalan tanpa busana dengan langkah tertatih menuju ranjang ke lima remaja tersebut dan dengan sebotol kaca pecah bekas wadah minuman berakohol yang waktu itu mereka gunakan untuk mencekokinya, Ia genggam ditangannya yang pucat dan juga sangat dingin.


Ke limanya masih tertidur pulas. Lalu Sosok Melly menghampiri salah satu remaja yang berada paling pinggir dan Ia menarik selimut tersebut hinga terjatuh. Lalu Melly menggunakan pecahan botol itu menancapkannya diarea organ inti yang telah menodai beramai-ramai tanpa perasaan.


Satu tangannya membekap mulut remaja itu hingga tak dapat berteriak dan kedua mata remaja tersebut hanya terbeliak menahan sakit, lalu tubuhnya mengejang dan akhirnya tewas mengenaskan.


Melly mencabut botol pecah yang menancap diarea ogan inti hingga membuat senjata sang remaja terputus, lalu Ia menarik paksa botol itu dan membuat robekan yang mengerikan.


Setelah tubuh remaja itu tak bergerak lagi, Ia kembali menghampiri satu remaja lagi, dengan membekap mulut dan janlan pernafasan remaja sekaligus temannya itu, Melly menatap sakit hati pada remaja yang Dody yang dulu pernah menjadi kekasihnya, namun berubah menjadi bajingan saat mengetahui Melly mencoba mendekati Samudera


Ternyata Dody bersekongkol dengan gurunya Remon yang mana menodainya secar bersama-sama dan setelah Ia mengandung, mereka melenyapkannya dengan cara tragis.


Melly menyasar senjata milik Dody, lalu kembali menancapkannya berlang kali. Hingga membuat tubuh remaja itu mengejang kesakitan dan kedua matanya terbeliak hebat.


Sesaat Ia mengej-ang dan akhirnya lunglai tak berdaya, lalu tak bergerak lagi.


Rasa dendam akan kematian yang membawa Melly begitu mudah dikuasai oleh seseorang yang memanfaatkannya.


Saat Melly akan menuju ranjang ketiga, sesaat petugas polisi yang berjaga datang untuk memeriksa.


Lalu Melly melesat menghilang dan meninggalkan kengerian yang sangat mencekam.


Prugas itu belum menyadari apa yang terjadi, Ia hanya memeriksa kondisi itu dengan sekilas saja. Saat akan berbalik menuju pintu, Ia melihat tetesan darah yang mengalir dari atas ranjang dan menggenangi lantai.


Seketika Ia berteriak memanggil rekannya "Luh.. Galuh.. Sini!!" teriak Petugas itu memanggil rekannya yang sedang bermain phonsel, sedangkan rekan satunya masih tertidur pulas.


Lalu ke duanya mencoba menghampiri dua ranjang yang tampak berlumuran darah, dan saat keduanya sudah sangat dekat, mereka terperangah dan rasa tak percaya melihatnya.


"Panggil petugas medis!" titah Galuh kepada rekannya.


Lalu Jalu yang pertama kali menemukan kejadian itu berlari memanggil tenaga medis yang tadi berjaga malam dan baru saja bersitirahat dari menjahit luka Remon.


Dua petugas medis itu tersentak saat akan memejamkan kedua matanya ketika mendengar suara mereka dipanggil dan diminta untuk melakukan perawatan kepada dua orang pasien sekaligus tersangka atas kasus penodaan dan juga pembunuhan.