
Tia, Ziya, dan juga Tini kini sudah keluar dari pusat rehabiitas. Setelah menjalani perawatan selama 3 bulan lamanya, akhirnya mereka dinyatakan sembuh dan dipulangkan ke rumah masing-masing.
Namun masalah satu selesai, masalah lainnya datang lagi. Tia yang saat memasuki rehabilitasi mengandung 3 bulan, kini sudah berusia 6 bulan.
Ia masih berusaha untuk menyembunyikan kandungannya dengan memakai pakain yang yang kendor, namun semakin lama tak dapat lagi membuat janin itu untuk terus ditutupinya.
Begitu juga Tini, Ia mengandung 5 bulan dan ini sangat membuat mereka panik "Kita harus menggugurkannya, ini tidak boleh terus berkembang" ucap Tia yang kini merasa pusing dengan apa yang sedang dialaminya. Ia belum siap menjadi ibu, Ia ingin bebas dengan hidup sesukanya.
"Kita gugurkan saja janin ini" Tini memberikan ide.
"Tapi kalau kita mati mengenaskan seperti Rini bagaimana?" tanya Tia yang sedikit merasa menciut nyalinya mengenang kematian Rini yang karena nekad menggugurkan janinnya.
Tini tampak menggaruk kepalanya yang tak gatal karena memikirkan ucapan dari Tia.
Sedangkan Ziya sendiri tidak dapat hamil karena pernah mengalami infeksi saluran rahim akibat melayani banyak pria dalam semalam.
Ziya memandang sahabatnya "Lalu bagaimana? Apakah kalian lanjutin mau gugurin janin kalian atau cuma mau buang-buang waktu ngorbanin kebebasan kalian hanya untuk merawat jika esok mereka lahir" ucap Ziya yang mencoba memprovokasi keduanya.
Keduanya berfikir keras, mereka tidak ingin mati saat keguguran, dan juga tidak ingin membesarkan janin mereka.
Keduanya tampak berfikir untuk mencari solusi dalam permasalahan hidup mereka.
"Aku ingin menggugurkan janin ini saja, Aku tidak ingin hidup terikat" jawab Tia dengan keputusannya.
Tini menoleh kepada Tia "Resikonya aku sangat takut" ucap Tini merasa ragu.
Tia menghela nafasnya dengan berat "Itu hak, Mu.. Aku tidak memaksa dan semua keputusan ditanganmu" jawab Tia yang sudah tak dapat lagi berfikir jernih.
"Makanya kalau lagi bercinta itu jangan lupa pakai pengaman.." gerutu Ziya yang mulai jengah dengan menunggu keputusan kedua sahabatnya yang merasa ragu untuk memutuskan jalan mana yang akan diambil oleh keduanya.
Namun Tia sudah memutuskan untuk tetap menggugutkan janinnya, karena Ia merasa ini adalah yang terbaik bagi hidupnya.
Jauh didalam hutan. Tubuh seorang wanita yang kini sudah penuh nanah dan borok dan ditambah lagi belatung akibat dari telur lalat yang bersarang disetiap celah boroknya dan juga akibat bakteri yang berkembang membuat belatung itu berkerumun dimana-mana.
Terkadang belatung itu berjatuhan saat Tubuh itu bersin ataupun bergerak refleks.
Rambutnya hanya tersisa beberapa helai saja, karena kepalanya juga dipenuhi oleh belatung yang sangat mengerikan.
Yanti tak ubahnya bagaikan mayat hidup yang berjalan dengan sejuta kengerian. Namun saat ini Ia merasakan mencium aroma janin yang sangat segar. Seketika Ia begitu sangat bersemangat dan mencoba untuk tersenyum meski sebagian bibirnya bagian atas sudah hilang karena digerogoti belatung tersebut.
Larva yang ditelurkan oleh lalat tersebut berhasil menciptakan ratusan belatung yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya.
Sementara itu, Tini akhirnya ikut dengan keputusan Tia untuk menggugur janinnya.
Mereka sepakat bertemu ditempat kebun jagung yang memiliki gubuk untuk berteduh. Setelah bertemu janji mereka membubarkan diri dan pulang kerumah masing-masing.
Di desa ini memberlakukan aturan untuk melarang warganya keluar malam bagi yang tidak memiliki keperluan penting, sebab teror menakutkan didesa ini membuat warganya merasa ketakutan.
Dengan membawa semua keperluan yang direncanakan bahkan Tini dan Tia sudah meminum obat pelancar mens-truasi yang dicampur dengan bir hitam untuk membuat reaksi kontraksi lebih cepat.
Mereka menyelinap dengan berjalan kaki agar tidak ada warga yang memergoki mereka.
Malam yang gelap dan penuh keheningan, tak membuat ketiga wanita muda itu mengurungkan niat mereka untuk meneruskan niat yang sangat mengamcam jiwa mereka.
Bahkan kematian Tini yang sangat mengenaskan tak membuat mereka jera untuk nekad melakukan perbuatan tersebut.
Ketiganya sudah sampai di tempat yang dituju. Lalu mereka menaiki ranjang gubuk yang terbuat dari papan bekas untuk tempat beritirahat bagi pemilik kebun jika sedang beristirahat.
Tini mulai merasakan mulas diperutnya karena terlalu banyak meminum obat pelancar mens-truasi dan ditambah dengan meminum minuman soda yang sengaja diminumnya dengan jumlah melewati batas.
Rasa kontraksi mulai terasa. Tini meringis menahan sakit yang sangat luar biasa. Sedangkan Tia tampaknya juga mulai mengikut dengan apa yang dirasakan oleh Tini.
Ia mencengkram pergelangan tangan Ziya untuk mengurangi rasa sakitnya saat kontraksi berlangsung.
Dari dalam hutan, sosok tubuh penuh belatung dengan aroma anyir dan amis itu mulai melesat meskipun tidak dapat secepat biasanya.
Terkadang sosok itu juga merasa kelelahan karena sudah lama tak menemukan darah dan juga tumbal yang diinginkannya.
Dengan perlahan, Ia mencapai gubuk ditengah kebun jagung. Ia melihat dengan jelas jika tumbal itu ada didepan matanya, dan itu sangat manis sekali.
Dua wanita muda itu meringis kesakitan dan terkadang merintih karena tidak sanggup untuk menahan rasa sakit yang begitu dahsyat.
"Oh.. Tuhan.. Inikah rasa sakitnya saat mengalami kontraksi?" Tini mengeluh dengan menahan rasa sakit yang luar biasa dan keringat dingin yang mengucur dari pori-pori kulit tubuhnya.
Ziya mencium aroma amis dan anyir yang tak jauh dari tempatnya berada. Ia merasakan aroma itu semakin dekat.
Seaat Ia melihat satu sosok mengerikan berdiri tepat dihadapannya, dengan wajah pucat pasi dan juga ketakutan yang luar biasa karena sosok itu memancarkan cahaya merah dari bola mata kanannya sebab bola mata kirinya sudah tidak ada lagi.
Seketika Ziya tak lagi memperdulikan kedua sahabatnya yang saat ini sedang menderita kesakitan karena kontraksi.
Ziya berlari meninggalkan gubuk tersebut dengan sekencangnya dan tak lagi melihat kebelakang, Ia terus berlari dan dengan nafas tersengal Iabtiba dirumah, lalu menerobos masuk dan menuju kamarnya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Sementara itu, Tini dan Tia saling pandang melihat Ziya yang berlari meninggalkan mereka begitu saja.
Sesaat mereka tersentak saat melihat makhluk yang mengerikan berdiri tepat dihadapan mereka dengan seringai dan aroma amis bercampur anyir yang membuat mereka mual.
Namun rasa sakit yang luar biasa akibat kontraksi tak mampu membuat keduanya bergerak dan diam terpaku.
Tak berselang lama, darah mulai merembes dari jalan lahir milik Tia. Ternyata janin didalam rahimnya mulai ingin keluar dan mendesak dengan disertai rasa sakit yang sangat luar biasa.
Tini berusaha menguasai kesadarannya Ia perlahan menggerakkan tubuhnya, Ia ingin keluar dari gubuk bagaimanapun caranya.
Sedangkan Yanti yang sudah dikuasai oleh tiga iblis dalam tubuhnya perlahan mendekati Tia yang sudah mengeluarkan darah dan janin yang sudah tak sabar ingin mendesak keluar.