
Sosok Jenglot alias Ki Kliwon melayang menatap tajam pada Angkasa.
"Wahaaai, cucu buyutku! Kembali kepada kami. Ikuti jalan kami yang penuh kesesatan dan Kau akan menguasai kegelapan sama seperti ibumu!" ujar Ki Kliwon yang terbang melayang mengitari Angkasa yang kini berdiri terpaku menatap pada sosok makhluk sesat yang mengaku dirinya adalah kakek buyut dari Angkasa.
Sosok itu terbang melayang dan kini berada tepat hanya berjarak satu meter saja dari matanya.
Angkasa menatap dengan seribu doa yang Ia panjatkan kepada Rabb-Nya dan Jenglot itu juga menatap penuh dengan amarah.
Sorot matanya yang bercahaya dengan sinar berwarna merah kini tak lepas memandangnya.
"Aku dan Kamu berbeda jalan! Ikuti jalanmu, dan biarkan aku pada jalanku!" ucap Angkasa mencoba menegaskan ucapannya.
Sosok menyeringai, memperlihatkan giginya yang runcing dan juga tajam. Senyumnya tampak begitu sinis dan sangat menjijikkan.
"Kau adalah keturunan iblis! Maka kembalilah menjadi iblis! Tidak ada tempat bagi iblis didunia yang suci dan mengaku pada jalan kebenaran!" ucap Ki Kliwon mencoba terus mempengaruhi Angkasa.
Bocah itu menatap mentari yang mulai beranjak ke ufuk barat. Ia harus segera sampai ke goa, sebelum Samudera menjadi persembahan dan pertukaran jiwa.
Baginya meladeni Ki Kliwon hanyalaj membuang-buang waktu saja.
"Menyingkirlah! Aku tidak memiliki waktu untuk berdebat denganmu dan meladeni segala ocehanmu yang tidak berguna!" ucap Angkasa mencoba beranjak dari hadapan Ki Kliwon dan mencari celah untuk dapat melanjutkann perjalanannya.
Sosok Ki Kliwon tertawa mengejek. "Hahahaha.. Kau harus dapat membinasakanku terlebih dahulu jika Kau ingin pergi ke puncak gunung!" ucap Ki Kliwon yang mencoba merentangkan ke dua tangannya yang lebih mirip dengan sebatang lidi. Namun perlahan tangan tersebut dapat memanjang dengan kekuatan ghaib yang dimilikinya dan menghalangi langkah Angkasa.
Dengan cepat Angkasa mencengkram pergelangan tangan keriput itu dan memutarkan tubuh ceking itu hingga seperti sebuah kincir angin, lalu melemparkannya dengan sangat kuat hingga terpental jauh.
Namun tanpa disangka, tubuh ceking itu kembali melesat dengan kecepatan laksana kilat yang mengarah kepada Angkasa dengan cakarnya yang runcing siap merobek Angkasa.
Melihat hal tersebut. Angkasa menggunakan tombak Samudera dan merafalkan ajian segoro geninya menangkis tubuh ceking tersebut bagaikan sebuah bola kasti dan Jenglot Ki Kliwon terpental dengan tubuh terpisah dari kepalanya dan bagian tubuhnya terbakar.
Namun semua iti tak membuat Jenglot Ki Kliwon musnah begitu saja. Sebab Ia memiliki ajian Batara Karang dan tubuhnya kembali lagi bersatu, lalu dengan cepat menyerang Angkasa dan siap mencakar tubuh Angkasa.
Saat cakar itu hampir menyentuh tubuh Angkasa, bocah itu menggunakan sebilah keris yang sudah dialiri ajian segoro geni, dan membuat Ki Kliwon terperangah, sebab keris itu adalah miliknya dan siapa sangka jika kini dikuasai oleh Cucu buyutnya.
Namun keris itu tak lagi dihuno oleh iblis penguasa kegelapan, namun sebuah sosok khadam Chakra Mahkota.
Lalu dengan cepat keris tersebut menikam dada kiri sang Jenglot, alias Ki kliwon dengan cepat keris tersebut tertembus hingga ke punggung belakang dan akhirnya Jenglot itu membolalan matanya.
Belum sempat Ki Kliwon menancapkan ujung cakarnya, Angkasa dengan cepat memenggal kepala jenglot tersebut menggunakan pisau belatinya yang sudah dialiri ajian segoro geninya
Menyadari Ki kliwon dapat mati, maka Angkasa menggantung kepala Ki Kliwon di dahan pohon menggunakan rambutnya yang panjang dan dengan ajian segoro geninya Ia membakar kepala Ki Kliwon yang tergantung didahan pohon menggunakan rambut panjangnya.
"Àaaaaaaasrrgghh.. Dasar Kau keturunan laknat!! Teganya Kau membinasakan kakek buyutmu sendiri dengan tanganmu. Biadab, Kau!!" erang Ki Kliwon kesakitan dan dengan sumpah serapahnya yang merasakan begitu sangat hina dan kematiannyan.
Dari sudut mata Ki Kliowon memancarkan sinar berwarna merah yang bersiap membalas sakit yang sedang dialaminya. Namun dengan cepat Angkasa mengeluarkan batu permata mirah delima yang didapatnya dari ratu siluman ular.
Lalu pancaran sinar merah dari ke dua mata Ki Kliwon yang berbenturan dengan batu mirah delima, lalu cahaya itu kembali memantul dan mengenai kening Jenhlot tersebut, sehingga mmebuat Jenglot itu meringis kesakitan dengan diiringi ledakan yang terdengar sangat keras dan lengkingannya begitu mengerikan.
Kepalanya bergetar hebat menahan rasa sakit yang luar biasa.
Api berkobar dan menghanguskan kepala Jenglot Ki Kliwon. Sedangkan tubuh Ki kliwon bergerak mengeliat memaksa untuk terlepas dari keris yang sedang menancap dipunggungnya.
Namun Angkasa tidak membiarkan tubuh itu akan bersatu kembali ke kepalanya. Seketika Angkasa mengingat sebuah istlah jika ingin mengalahkan orang yang kebal akan senjata tajam, maka cara melakukan untuk melukainya ialah dengan cara menancapkan terlebih dahulu ujung senjata itu ke bumi, lalu digunakan untuk melukai pemilik ajian tersebut.
Angkasa menancapkan ujung keris yang menembus punggung Ki Kliwon ke atas tanah dan tubuh Ki Kliwon menggelepar kesakitan. Sedangkan kepalanya yang terbakar kini menjadi abu tanpa sisa dan kini tubuhnya menggelepar kesakitan dan berusaha untuk menyelamatkan dirinya.
Perlahan gerakan tubuh Ki Kliwon yang tanpa kepala itu berhenti bergerak dan mengejang lalu tak lagi bergerak sedikitpun.
Angkasa merafalkan Ajian segoro geninya, lalu mendorong kepala keris tersebut hingga kandas ke tubuh Ki Kliwon dan seketika tubuh itu menggeliat bagaikan cacing kepanasan yang perlahan hangus terbakar dan membuat tubuh itu menjadi abu dan tak tersisa.
Setelah tubuh Ki Kliwon musnah, Angkasa kembali mencabut kerisnya, lalu menyimpannya dan Ia memungut tombak bertanduk banteng milik Samudera, dan melanjutkan perjalanannya.
*****
Kedua tangan Samudera sedang terikat oleh rantai besi. Ia mengerjapkan keduanya matanya dan mendapati dirinya sedang terikat rantai besi disebuah ruangan goa yang sangat pengap dan penerangan yang hanya terbuat dari suluh bambu yang terlihat remang-remang.
Samudera menatap kesekelilingnya dengan tatapan yang sangat nanar.
"Goa?? Apakah Aku sudah semakin dekat dengan ibu?" gumannya dalam hati. Ia tengingat saat terakhir kali para siluman Baabi dan juga siluman banteng yang menculiknya saat sedang mandi disungai.
Gigi taring yang merias sudut bibirnya, serta dua bola mata merah yang memancar dengan sangat mengerikan membuat sosok itu terlihat aura kegelapannya yang semakin terlihat jelas penuh dendam.
"Hei, Nini!! Dimana kau sembunyikan ibuku?!" Hardik Samudera kepada sosok itu.
Nini Marunyang mendengar suara hardikan Samudera yang tampak begitu lemah membiat Nini Maru tertawa sinis.
"Hihihihihi.. Dia bukan ibumu!! Kau hanyalah tumbal untuk pertukaran jiwa agar Mirna yang selama ini menjadi ibumu menjadi kekal abadi dan dapat mempertahankan kecantikan serta umurnya" ucap Nini Maru dengan tatapan mengadu domba Samudera dan Mirna.
Samudera menatap sarkas pada Nini Maru. "Aku tidak mempercayai iblis sepertimu!" jawab Samudera meyakinkan hatinya jika ibunya bukanlah seperti apa yang diucapkan oleh ibu tersebut.
Lengan Samudera sebelah kirinyang mengalami keracunan sudah semakin membiru dan lebam.
Itu pertanda jika Samudera akan mengalami dagingnya yang perlahan membusuk.
"Bawa dia, segera!!" titah Nini Maru kepada para punggawanya.
Samudera tercengang saat melihat ada sekitar 20 iblis yang tiba-tiba bermunculan dan membawanya kesebuah lorong dan memasuki ruangan yang lebih mirip sebuah altar persembahan. Sebuah tiang yang dijadikan sebagai tempat tiang gantungan dan sebauh meja batu batuan cadas serta tampak seperti sebuah tempat penjagalan.
"Ikat bocah tengil tersebut diting gantung, dan akan segera dijagal kepalanya.
Samudera mencoba meronta, namun semakin Ia bergerak, akan semakin membuat lengan kirinya merasakan sakit yang terus semakin parah.
Lalu tiba-tiba ruangan itu tampak ramai dengan sekejab.
Samudera memandang semuanya dengan wajah yang gemetar. Bagaimana tidak??! Jika semua demit itu seolah ingin menyaksikan apa yang akan Menjadi tontonan yang sudah sangat lama tidak mereka saksikan.
Tak berselang lama, tampak sosok yang mengerikan dengan ekornya yang panjang, gigi taring serta kulit yang mengelupas dan tampak bernanah.
Ia berjalan menghampiri Samudera. Meskipun wujudnya sangat mengerikan, namun Samudera tau jika sorot mata tersebut tidak dapat dilupakannya.
"Ibuu.." ucapnya lirih sembari memperhatikan sosok Mirna yang tampak mengerikan.
Sosok itu memandangnya sekilas, lalu membuang pandangannya yang tampak sangat menyimpan banyak penuh pertanyaan yang sangat sulit dijelaskan.
"Persiapkan upacara untuk persembahan!" titah sosok tersebut kepada para bawahannya.
Samudera membolakan matanya dan merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya dari mukut wanita yang kini berubah menjadi iblis tersebut.
"Ibu.. Ingatlah, aku ini anakmu!" ucap Samudera dengan penuh menghiba.
Namun sosok yang tak lain adalah Mirna tak lagi mengindahkan dengan segala ucapan Samudera.
Lalu para bawahannya itu melaksanakan apa yang diperintahakann oleh Mirna. Dalam sekeja p saja sebilah golok jagal telah tersedia dimeja penjagalan.
Beberapa para pengawal menghampiri Samudera dan menunggu perintah selanjutnya.
Tak berselang lama, tampak Mirna menatap kepada Samudera.
"Sebelum jiwamu pergi, apakah Kau ingin menyampaikan sesuatu?!" tanya Mirna dan tak ingin membuang tatapannya pada dinding goa.
Samudera memandang wajah tersebut. "Aku ingin mengatakan, kembalilah, Bu! kejalan yang benar. Dan jika jiwaku dapat menukar semua keinginan ibu, maka Aku akan ikhlas memberikannya untukmu! "ucap Samudera dengan penuh ketulusan.
Seketika Nini Maru tertawa dengan girang karena sebentar lagi pembalasan dendamnya akan terlaksana dengan sempurnah.
."Mirna..!! Cepat laksanakan penjagalannya, dan jangan termakan terhadap rayuan bocah tengil itu!!" ucap Nini Maru dengan tak sabar.
Mirna menatap para jagal "Lakukan!!!" titahnya dengan cepat.
Samudera menatap penuh iba pada Mirna yang tak ingin menatapnya.
Samudera tanpa memberikan perlawanan memberikan tubuh dan jiwanya untuk menukarkannya dengan Mirna.
"Ibu.. Andai Air susu Ibu yang telah memberikan kehidupan pertamaku dan mengalir ditubuhku menjadi tanda baktiku padamu, maka aku tidak menyesalinya untuk menjadi pertuakaran jiwa ini" ucap Samudera dengan penuh tenang dan tak ada sedikitpun rasa takut pada dirinya.
Kini tubuh Samudera sudah berada diatas meja penjagalan dan bersiap akan pemenggalan.