MIRNA

MIRNA
episode 146



Seminggu kemudian...


Hasil visum dari penemuan kerangka manusia yang ditemukan dikubur didinding tebing itu ternyata terindifikasi adalah seorang pria bernama Ewin.


Setelah mendapatkan identitas tersebut, kemudian polisi mendatangi Rina sebagai istrinya.


Tok..tok..tok..


Dua orang polisi mendatangi rumah Rina. Tentu saja hal ini menjadi perhatian para tetangga yang merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Rina. Sebab bukan tanpa alasan, Rina selama ini sudah beberapa bulan mengeluh karena Ewin tidak kunjung kembali.


Terdengar suara langkah menuju pintu, dan Rina membuka pintu. Alangkah terkejutnya Ia saat masih sangat pagi, tiba-tiba saja polisi mendatanginya.


"Selamat Pagi, Bu.. Kita dari kepolisian ingin menanyakan seauatu kepada Ibu dan kami harapa Ibu memberikan informasi yang benar" ucap Seorang polisi tersebut.


"Ya.. Apa yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Rina sedikit gemetar, karena menghadapi kedua pria berseragam itu tentunya ada masalah yang sedang dihadapi, sehingga kedua polisi sampai mendatangi rumahnya.


"Apa benar suami Ibu bernama Ewin?"


"Iya, Pak.. Koq Bapak tau?!" Rina balik bertanya.


Kedua polisi itu saling pandang.


"Suami ibu saat ini sedang dimana?" tanya polisi itu penuh selidik.


Rina menghela nafasnya dengan sangat berat "Sudah hampir 4 bulan dia menghilang, Pak.. Tidak memberi saya nafkah.. Mungkin lari bersama janda pirang" jawab Rina kesal.


Para warga yang penasaran mulai berkumpul untuk mendengar apa yang terjadi pada Rina.


"Apakah Ibu sudah berusaha mencarinya?" tanya polisi itu kembali dengan tatapan intimidasi.


Rina mengerutkan keningnya "Mau saya cari kemana, Pak? Saya sudah mencoba menghubungi keluarganya, dan mereka juga tidak tahu, dan phonselnya juga tidak aktif.. Mungkin dia sudah hidup bahagia dengan pilihannya" jawab Rina dengan suasana hati masih kesal.


"Terakhir berpamitan pergi kemana?" tanya polisi itu lagi.


Rina membolakan matanya "Tuh, Pak.. Tanya si Jali temennya. Mereka itu berdua ke warung tuak yang terbakar diujung sana.. Coba Bapak tanyain tuh si Jali. Emangnya ada apa sih, Pak?" Rina mulai penasaran.


"Begini, Bu.. Kami menemukan suami ibu.."


"Dimana, Pak?" tanya Rina menyela sebelum polisi itu menyelesaikan ucapannya.


"Kami menemukan suami Ibu sudah meninggal dunia dan kerangkanya ada kantor polisi, jika Ibu ingin mengambilnya silahkan urus berkas-berkasnya.." polisi menegaskan ucapannya.


Seketika Rina terperangah "A-apa, Pak..? Suami saya sudah menjadi kerangka?" tanya Rina dengan nada gemetar dan tak percaya. Ia mengira jika suaminya telah lari bersama janda pirang, namun kenyataannya selama ini suaminya tewas dengan cara mengenaskan.


Rina mendapat penjelasan dari kepolisian jika suaminya mati dibunuh dan kehilangan organ vitalnya dengan ditarik paksa saat masih hidup.


Rina seakan lemas, bagaimanapun Ewin tetaplah suaminya. Para tetangga yang mendengar kejadian yang menimpa Rina mengucapkan rasa berduka dan menguatkan hati wanita itu.


Lalu kedua polisi itu bertanya dimana rumah Jali yang merupakan orang terakhir bersama Ewin.


Kedua polisi itu bergerak menuju rumah Jali dan mengetuk pintunya.


Jali yang masih tertidur merasa terganggu mendengar ketukan pintu didepan rumahnya.


Pemuda itu mengusap kedua matanya dan berjalan dengan sempoyongan menuju kedepan pintu rumah.


"Bentar.." teriak Jali yang masih dengan mata mengantuk.


Jali membuka pintu rumah dengan pandangan yang masih kabur.


Setelah menyipitkan kedua matanya, Ia memperjelas pandangannya dan melihat dua orang polisi sudah berada didepan rumahnya.


"Haaah..!!" Jali tersentak kaget saat melihat dua orang polisi berada didepan pintu ruamahnya.


"Maaf, Anda Saudara Jali?" tanya polisi tersebut.


"I-iya.. Memangnya ada apa ya, Pak?" tanya Jali dengan nada ketakutan.


"Begini, Saudara Jali.. Kapan anda terakhir bertemu dengan saudara Ewin?" tanya polisi tersebut.


Jali terperangah "Ewin.. Suaminya Mbak Rina kan?" tanya Jali balik.


"Ya" jawab polisi itu dengan singkat.


Jali mencoba mengingatnya "Mungkin kurang lebih 4 bulan yang lalu" jawab Jali setelah mencoba berhasil mengingatnya.


Polisi itu kembali mencecar Jali dengan berbagai pertanyaan.


"Dimana anda terakhir bertemu?"


"Waktu itu diwarung Mbak Yanti. Kami malam hari kesana berdua, dan saya mabuk, juga begitu dengan Bang Ewin. Tetapi setelah pagi harinya saya terbangun karena ketiduran, saya tidak melihatnya lagi. Saat saya tanyakan kepada Mbak Yanti, Dia mengatakan jika Bang Ewin sudah pulang terlebih dulu"


Jali menjeda ucapannya.


"Lalu?" tanya polisi itu kembali.


"Lalu istrinya datang kemari, dan mencari suaminya. Ya aku jawab gak tau, karena ku kira sudah pulang terlebih dahulu" jawab Jali.


"Setelahnya?" tanya polisi itu.


Jali menarik nafasnya dengan berat.


"Kami ke warung Mbak Yanti dan menanyakannya kembali, tetapi Dia bersikeras menjawab tidak tahu" jawab Jali dengan jujur.


Kedua polisi saling pandang "Baiklah.. Terimakasih atas informasinya, lain waktu jika kami membutuhkan informasi, maka akan meminta saudara bersedia untuk datang ke kantor polisi" ucap polisi itu, lalu berpamitan.


Kedua polisi itu meninggalkan rumah Jali "Sepertinya semua bukti mengarah kepada Yanti, dan kita harus menemukannya dengan segera" ucap seorang diantaranya yang tak lain adalah Sersan Adhit.


Lalu rekannya Sersan Jefry menganggukkan kepalanya.


"Saat kejadian kebakaran, Pemilik warung itu sedang berada dimana?" tanya Sersan Adhit.


"Menurut kesaksian dari para pelanggan, Dia ada didalam warung dan ikut juga menyelamatkan diri keluar" jawab Sersan Jefry.


Keduanya tampak berfikir "Biasanya pelaku kejahatan akan melarikan diri jika merasa bersalah, dan Ia akan mencoba kembali lagi ke lokasi tempat Ia melakukan kejahatan untuk menghilangkan bukti atau mencari sesuatu yang lainnya" Sersan Adhit tampak mulai menganalisanya.


"Bagaimana jika kita mengintainya dengan menggunakan cctv jarak jauh yang terhubung langsung ke phonsel dan kita pasang di tempat yang tidak mencurigakan"Sersan Jefry menyarankan


Lalu sersan Adhit menganggukkan kepalanya.


"Baiklah.. Ayo kita mulai sekarang" ajak sersan Adhit dengan penuh semangat.


Keduanya kembali ke warung Yanti dan meminta anggota Tim mengantarkan alat yang diminta oleh keduanya.


Setelah sampai reruntuhan warung Yanti yang hangus terbakar, maka keduanya masih menunggu kedatangan alat yang mereka pesan, sembari memperhatikan lokasi yang akan menjadi pemasangan untuk alat cctv tersebut.


Tak berselang lama, para tim datang membawa 5 buah camera cctv yang sangat kecil dan tidak dicurigai oleh siapapun karena bentuknya yang didesain dengan sangat unik.


Kemudian mereka mengkatifkannya dan menghubungkannya ke phonsel mereka.


Setelah pemasangan selesai, mereka kembali kekantor, dan akan terus mengawasi, terutama target mereka adalah malam hari.


Mereka ingin segera menangkap pelaku pembunuhan berantai tersebut. Sebab sudah banyak korban yang berjatuhan dan ini akan sangat membantu mengungkap kasus yang selama ini masih menjadi misteri.


"Sebaiknya kita makan siang, dulu.. Hari sudah semakin siang, dan kita juga butuh tenaga untuk mengungkap kasus ini" ucap Sersan Adhit, sembari menuju ke kantin yang berada didepan kantor mereka.