MIRNA

MIRNA
episode 169



Satria melihat semua apa yang dilakukan oleh kedua puteranya, ternyata mereka mulai nalar dengan apa yang terjadi dihadapannya.


Sosok bayangan hitam itu melesat menghilang setelah terkena lemparan batu dari Angkasa dan dua remaja itu menghentikan aksi maksiatnya karena senjata milik sang remaja putera terkena lemparan batu Samudera..


Keduanya celingukan kesana kemari mencari siapa yang telah melempar mereka, namun tak tampak, sedangkan Samudera dan Angkasa menyelam untuk menjauhi tempat dimana sepasang sejoli itu berada.


"Ada apa, Sayang?" tanya renaja puteri yang ternyata sudah terbakar hasrat menggebu.


"Ada yang melempar batu pada kita, Sayang.. Dan mengenai juniorku" jawab remaja putera itu.


"Apakah ada yang mengintip kita?" tanya remaja puteri.


"Mungkin juga, Ayo pergi.. Aku sedikit meremang disini" ucap remaja putera itu yang merasakan bulu kuduknya meremang dan memperbaiki celana boxernya, lalu bergabung dengan teman mereka yang sedang mandi melepas lelah.


Sementara itu, Sanudera dan Angkasa berenang menuju ke arah ayah dan ibunnya yang sedang menunggu mereka duduk dibongkahan batu besar.


"Ayo naik.. Makan dulu, nanti kalian menggigil kedinginan" titah Mirna kepada keduanya.


Lalu dengan cepat keduanya beranjak dari air tersebut dan ke tepian, sebab mereka sudah merasa kedinginan.


Setelah bersalin pakaian, Mirna memberi masing-masing dua potong roti dan sebotol air mineral. Keduanya makan dengan saling pandang mengingat kejadian barusan yang mereka alami.


Satria dan Mirna kembali membawa kedua puteranya menyusuri jalanan dan meninggalkan air terjun sesuai dengan rute menuju ke pos 2.


Selama perjalanan, keduanya tampak sesekali bersenda gurau, dan tak jarang juga kadang saling jahil satu sama lainnya.


Perjalanan kali ini, Mirna sengaja berada di belakang Satria, sedangkan Angkasa berada dipaling belakang.


Saat melakukan perjalanan, tak jarang mereka bertemu para pendaki yang melintas dan juga baru pulang dari puncak untuk menuju pulang.


Terkadang juga berselisih dengan para pendaki yang akan juga mendaki sama halnya seperti mereka. Kini kedua bocah itu mengerti jika banyak para pendaki selain mereka.


Mereka terkadang saling sapa, meskipun tidak saling mengenal. Saat bersamaan, seorang pendaki wanita yang berusia sekitar 25 tahun melintasi mereka, dan menyapa Angkasa juga Samudera.


Namun kejanggalan terlihat saat wanita itu berada didepan mereka. Tampak sosok wanita mengerikan sedang berada dipunggung wanita tersebut. ternyata sang wanita itu dalam kondisi menstrua-si dan memaksa untuk naik gunung karena jadwal yang direncanakan oleh temwn se-timnya tidqk dapat diundur lagi.


Wanita itu tampak kelelahan seperti memikul beban berat.


Angkasa berlari menghamipiri Samudera yang berada didepannya, dan memperlihatkan sesuatu yang ada pada punggung wanita didepan mereka.


Seketika Sanudera membolakan matanya, sebab ketika Angkasa menyentuh pergelangan tangannya, dan Ia dapat melihat sosok wanita dengan rupa hancur dan juga mata yang sangat mengerikan menatap pada Angkasa dan juga Samudera.


Keduanya berjalan sembari berpeganan tangan dan entah ide dari mana datangnya, Angkasa mengambil pemantik api gas yang digunakan untuk kompor gas yang bentuknya panjang, lalu Ia menghidupkannya dan saag besejajar dengan wanita yang ditempelin oleh makhluk itu, Angkasa menyulutkannya tepat diwajah makhluk mengerikan berada dipunggung wanita tersebut.


Seketika makhluk itu melengking dengan lengkingan yang mengerikan dan melayang menjauhi wanita tersebut.


Tidak ada yang mendengarnya, kecuali Samudera , Satria, Mirna dan juga Angkasa.


Satria melirik kearah puteranya, Ia hanya tersenyum tipis dan melanjutkan perjalanannya.


Sedangkan wanita yang kini terbebas dari sosok makhluk mengerikan tersebut, tiba-tiba dapat berjalan dengan ringan dan dapat menyusul teman-temannya yang sudah berjalan lebih jauh darinya.


Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju pos 2 yang mana sudah terlihat banyak para pendaki yang beristirahat disana dan melepas lelah meski hanya makan dan minum ringan.


Kedua bocah itu merasakan liburan mereka kali ini seperti sedang berkemah.


Mirna memberi makan dan minuman ringan kepada kedua puteranya, dan membiarkan mereka untuk melepas lelah.


"Mas.. Mengapa Kamu membiarkan mereka menghalau iblis itu sendirian?" tanya Mirna dengan lirih, agar tak ada yang mendengarnya.


"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, karena ini baru awal, dan akan ada masalah yang lebih besar yang akan mereka lewati.." jawab Satria.


"Mereka harus berani dan juga waspada dalam membaca setiap tanda alam yang terjadi" Satria menimpali ucapannya.


Mirna menganggukkan kepalanya, lalu mengerjapkan kedua matanya.


Para pendaki yang sedang beristirahat, diam-diam merasa berdecak kagum dan saling berbisik memandang kecantikan Mirna, bahkan kedua bocah laki-laki itu mereka mengira adalah anak kembar, karena wajahnya yang hampir mirip sekali.


Setelah beristirahat dengan cukup, para pendaki lain melanjutkan perjalanan mereka untuk mencapai pos-pos berikutnya agar mencapai puncak tidak kemalaman.


Sementara itu, Mirna dan Satria kembali turun untuk ke pos awal dan ke penginapan.


"Yah.. Mengapa kita tidak ikut mereka ke atas?" tanya Samudera penasaran.


"Kalian masih terlalu dini untuk sampai ke atas sana, jika umur kalian sudah seperti mereka, dan menginjak usia kuliah, kalian boleh melakukannya, namun tidak untuk sekarang" jawab Satria.


"Memangnya kenapa, Yah?" tanya Angkasa yang juga penasaran.


"Diatas sana memang ada pemandangan indah jika kalian bisa menaklukkan sampao ke puncak. Namun diatas sana juga banyak bahaya yang menanti dan penuh tantangan, bukan hanya hewan buas yang siap menyerang, tetapi ada juga makhluk tak kasat mata yang dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang jika melakukan sebuah kesalahan yang dilanggar" Satria kembali menjelaskannya.


"Jika kami sudah dewasa seperti mereka, berarti kami boleh mendaki sampai ke atas?" tanya Samudera dengan cepat.


Satria menganggukkan kepalanya "Ya.. Tentu saja, dan kalian harus mematuhi aturan dan larangan yang telah ditetapkan" jawab Satria.


Kedua bocah itu menganggukkan kepalanya.


"Ayo.. Kita turun kebawah" ajak Mirna kepada ketiga pria yang kini menjadi pengawalnya.


Lalu mereka menuruni kembali jalanan yang menuju rute ke pos satu.


Saat menuju arah pulang, tanpa sengaja mereka berselisih dengan kelompok pendaki yang singgah diair terjun.


Tampak dua remaja yang hampir berbuat maksiat dibalik bongkahan batu yang mana dilempar batu kerikil oleh Samudera berjalan dengan sedikit menahan rasa sakit karena juniornya terkena batu kerikil yang dilemparkan oleh samudera.


Dua bocah itu saling pandang dan tertawa terpingkal melihat remaja itu. Keduanya berbisik-bisik membahasnya dan tentu saja itu dengar oleh Ayah dan ibunya.


Sesampainya di penginapan, mereka beristirahat dan Satria menghampiri kedua puteranya yang sempat melihat adegan tak pantas saat di air terjun "Samudera, Angkasa.. Dengarkan nasehat Ayah.. Apa yang kalian lihat diair terjun itu adalah perbuatan dosa, dan itu sangat dilarang dalam ajaran agama, maka kalian tidak boleh melanggarnya. Apakah kalian mendengarnya?" ucap Satria kepada keduanya.


Lalu keduanya menganggukkan kepalanya. Satria sengaja memberikan nasehat tersebut karena kedua puterany sudah berkhitan dan tak akan lama akan mengalami pubertas dan masa aqil baligh..