MIRNA

MIRNA
episode 108



Phonsel Syafiyah kembali berdering, panggilan vedeo dari Satria, dan Syafiyah meliriknya saja dengan kesal lalu meninggalkannya.


Syafiyah keluar dari kamarnya, dan ingin mengambil air putih, lalu Ia berjalan menuju dapur.


Saat Ia menuangkan air kedalam gels, terdengar suta pintu kamar Mirna terbuka dan bemar saja, Mirna berjalan ke arah dapur, sepertjnya Ia akan malam, dan Syafiyah meneguk habis minumnya.


Syafiyah melirik wanita, Ia mengakui jika Mirna memiliki kecantikan yang lebih diatas rata-rata dan tentu saja itu membuat suaminya seakan klepek-klepek kepada wanita itu.


"Kenapa Dia bisa secantik itu sih? Perasaan dia gak pernah ke salon kecantikan, bahkan membeli skin care juga gak pernah" Guman Syafiyah lirih dalam hatinya.


Mirna semakin mendekat ke arah meja makan "Mbak, sudah makan malam?" sapa Mirna ramah, dengan seulas senyum yang merekah dibibirnya dan menambah pesona kecantikannya kian terpancar sempurnah.


Syafiyah membalas senyum kecut, dan memilih untuk meninggalkan dapur darupada harus berhadapan dengan sang madu.


Saat Syafiyah melintasi Mirna, tiba-tiba saja pergelangan tangannya diraih oleh Mirna.


"Mbak.. Pakai ini, ada banyak bahaya diluar sana yang mengincar, Mbak.. Ini sudah saya jalin kembali" ucap Mirna sembari ingin memakaikan gelang itu ke pergelangan tangan Syafiyah.


Syafiyah yang sedari tadi kesal karena ucapan Satria saat vedeo call barusan, membuatnya semakin kesal.


Ia menepis tangan Mirna, lalu menatap tajam pada madunya, Ia merampas gelang tasbih itu dan melemparkannya ke wajah Mirna "Aku tidak butuh benda ini..! Ini hanya sebuah cerita takhyul belaka dan Aku seorang berpendidikan tinggi yang berfikir secar rasional.!! Faham Kamu?!" ucap Syafiyah dengan emosi memuncak dan beranjak menjnggalkan Mirna yang berdiri mematung menatapnya.


Mirna memungut gelang tasbih yang terlempar dilantai dapur, lalu memakainya ke pergelangan tangannya.


Tiba-tiba Ia merasakan energi lain masuk kedalam tubuhnya, sebuah cahaya berwarna putih keperakan menyatu dengan dirinya sehingga membuatnya bergetar hebat.


Energi itu mengantarkan hawa hangat yang mengalir keseluruh aliran darahnya dan perlahan mereda bersama bersemayamnya kekuatan lain didalam tubuhnya.


Sesaat sebuah asap hitam keluar dari tubuhnya dan membuang energi negatif yang merasuki Mirna dan menggantinya dengan energi postif.


Mina duduk tersandar dikursi makan dan mencoba menetralkan hawa hangat tersebut dan terdiam dalam keheningan.


Sementara itu, Syafiyah duduk diteras rumah. Ia tampak berfikir sejenak, darimana Mirna mendapatkan gelang tasbih tersebut? Bukankah tadi itu tercecer dilantai ruang kerjanya, dan saat Ia akan kembali mencarinya, namun sudah tidak ditemukan.


"Sejak kapan Ia memasuki ruang kerjaku? Sepertinya Ia sudah pergi saat mengantar sarapan? Apakah Ia kembali lagi saat Aku menemui para pegawai Dinas Kesehatan? Dasar wanita aneh" gerutu Syafiyah dengan perasaan kesal.


Ia menatap jalanan yang mana kendaraan warga berlalu lalang. Tak berselang lama, tampak Bu Ratna keluar dari rumahnya, dan sepertinya akan pergi ke luar karena menggunakan sepeda motor.


"Eh.. Mbak Fiyah. Malam-malam kenapa diluar sendirian, Mbak..? Lagi hamil jangan sendirian diluar rumah, mbak pamalik, apalagi pakaiannya terbuka begitu, dan rambutnya jangan digerai, tapi diikat" ucap Bu Ratna mengingatkan.


Syafiyah hanya membalas senyum datar, dan Bu Ratna mengemudikan sepeda motornya melintasi halaman depan rumahnya.


"Ini lagi, pamalik, pamalik.. Dalam dunia kesehatan itu tidak ada sangkut pautnya dengan hal begituan. Semua yang terjadi dapat dijelaskan secara ilmiah dan rasional" guman Syafiyah kesal sembari memandang kepergian Bu Ratna.


Ia menepuk keningnya, dan melihat sekelilingnya jika Ia sedari tadi sudah pamer aurat. namun Syafiyah tidak menyadari jika ada satu sosok pria yang sedari tadi sedang mengintainya.


Pria itu seorang penguntit yang mencari keberadaan Mirna.


Setelah kejadian siang tadi, Ia begitu terobsesi dengan kecantikan dan tenaga Mirna yang sangat luar biasa. Ia membayangkan betapa sungguh luar biasanya jika Ia dapat tidur dengan Mirna dalam ranjang panas yang sudah memenuhi isi otaknya.


Dengan pengintaian yang cukup lama mencari infirmasi dari Pak Joko tentang sosok Mirna, akhirnya Ia mengetahui dimana Mirna tinggal.


Namun sepertinya Ia mendapatkan sebuah rezeki nomplok, karena ada dua wanita sekaligus.


Sepertinya Mbak ini bisa buat pemanasan dulu sebelum makan menu utamanya" guman pria itu mengendap-endap berjalan kesamping rumah Dan melihat sekelilingnya.


Pria itu memakai sungkup wajah yang hanya menampilkan kedua mata dan bibir saja, lalu Ia memastikan kondisi aman, Ia merapatkan tubuhnya kedinding dan menyergap Syafiyah dengan cepat, lalu menyeret Syafiya kesamping rumah yang sedikit gelap.


Pria itu membekap mulut Syafiyah dengan bibirnya dan membuat Syafiyah kelabakan.


Seketiika Mirna tersentak kaget, lalu pandangannya menembus keluar dinding dan melihat apa yang terjadi pada Syafiyah, dengan cepat Ia melesat keluar dari rumah dan menemuka n Syafiyah sedang dicumbu seorang pria bertopeng.


Tangan Mirna menarik topeng pria itu, lalu dengan tangannya yang ramping Ia mengayunkan tinjunya ke bibir sang pria dengan sangat kuat, sehingga membuat pria me -sum itu terlempar jauh dan tersungkur ke tanah.


Syafiyah tercengang melihat tenaga Mirna yang sangat kuat.


Bagaimana mungkin wanita langsing sepertinya memiliki tenaga seperti sepuluh orang pria.


Pria itu berusaha untuk bangkit dan akan membalas Mirna. Namun melihat kecantikan Mirna, Ia menjadi ragu dan memilih pergi.


Pria itu berlari menuju sepeda motornya dan mengendarainya dengan cepat.


Saat sedang mengendarai sepeda motornya, Ia merasakan bibirnya sangat sakif bagaikan disengat ribuan lebah. Ia berhenti ditepi jalan di bawah lampu jalan desa, melihat bibirnya dari kaca spion yang mana bibirnya bengkam 10 kali lipat dan terasa sangat sakit sekali.


"Siapa sih, Wanita itu? Mengapa tenaganya begitu sangat kuat?" guman pria tersebut dengan rasa penasaran yang sangat kuat.


Sementara itu, Syafiyah menatap Mirna, Ia merasa Mirna jika sangat berbeda dari yang Ia kenal. Selama ini Mirna tampak begitu lemah lembut bagaikan wanita yang anggun, namun malam ini Ia tampi bagaikan seorang bodyguard.


Syafiyah sedikit menciut nyalinya, Ia membayangkan jika ada pertengkaran dua orang wanita yang saling jambak-jambakan rambut, maka Mirna bukan type yang seperti itu, Ia bis melemparkan lawannya dengan mudah.


Syafiyah bergidik membayangkannya dan segera berlari masuk kedalam rumah lalu menuju kamarnya dan mencuci mulutnya yang baru saja di cumbu pria asing itu.


Syafiyah tampaknya mulai berhati-hati dengan Mirna, menghadapi Mirna tidak dengan otot, karena Mirna begitu sangat kuat, dan dengan otak? Tapi Mirna tidak juga bodoh.


Syafiyah baingung dengan semuanya "Apa itu yang membuat Mas Satria tampak begitu terlebih dengan Mirna? Mungkin Mirna dapat memuaskan Mas Satria diranjang, sebab tenaganya begitu sangat kuat" guman Syafiyah dengan lirih.