MIRNA

MIRNA
episode 180



Pernikahan Dino akhirnya digelar secara sederhana. Meskipun menikahi seorang janda, namun setidaknya Dino dapat melepas masa lajangnya dan menemukan tempat yang halal dalam melepaskan hasratnya.


Kedua orangtua Dino telah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk usaha untuk puteranya agar tidak lagi berburu hewan liar dihutan.


Malam pertama nan syahdu akhirnya tiba dengan segala angan yang telah lama diimpikan oleh seorang pemuda seperti Dino yang sudah lama menjadi perjaka.


Didi merasa senang karena akhirnya sahabatnya itu menemukan sang tambatan hati yang bernama Ani.


Keduanya melewati malam pertama mereka dengan indah dan tanpa hambatan, bahkan mereka akan merencanakan untuk segera memiliki anak dan tidak menundanya lagi.


Setelah Dino menikah, ini akan menambah daftar korban lato-lato bagi Rey semakin berkurang. Ia semakin uringan-uringan karena merasa jika pelaku kemaksiatan akan berkurang dengan dengan adanya pernikahan.


Sebab Ia hanya dapat mengambil tumbal untuk pelaku kemaksiatan saja, jika pasangan halal, maka daya energi negatifnya tidak kuat seperti pelaku kemaksiatan.


Sementara itu, Didi kini terus menjaga Wanda agar janin dalam kandungannya lahir dengan selamat antara ibu dan bayi.


Didi yang kini bekerja di proyek bangunan, akan menitipkan Wanda kepada Ibundanya jika Ia pulang terlalu larut.


Karena ibunda Didi orang yang taat beragama dan selalu menjaga tahajjudnya, sehingga membuat Nini Maru kesulitan untuk menembus rumah Ibunda Didi, sebab Yanti dan juga Nini Maru akan merasakan hawa panas saat akan ingin mendekati jendela kamar Wanda.


Suara lantunan ayat suci yang selalu dikumandangkan oleh Ibunda Didi membuat Nini Maru terpental setiap kali ingin berniat menerobos masuk kedalam rumah tersebut.


Disisi lain, dua bocah yang bernama Samudera dan Angkasa akan selalu membuat Nini Maru kerepotan, sebab dua bocah itu terus menerus disalurkan hawa murni oleh Mirna.


Tampaknya Mirna bergerak lebih cepat dari dirinya. Mirna akan mengumpulkan energi positif, lalu mentransfernya ke tubuh dua bocah itu dengan sebuah cinta kasih yang memiliki niat melindungi.


Malam kian sunyi dan sepi. Semua insan telah larut falam buaian mimpi indahnya, kecuali Dino dan Ani yang tampaknya masih memacu hasrat menggebu seorang perjaka yang sudah lama mengingin sebuah pernikahan.


Malam ini membuat malam sejarah baru bagi Dino untuk menggelar sang perjaka tangguh.


Malam ini, kedua insan itu mencoba berbagi mandi peluh yang mana hanya mereka yang tau seperti apa syahdunya malam ini.


Sedangkan berbeda hal nya denga Satria. Ditengah malam yang sangat sunyi dan sepi ini, Ia duduk bersila. Membentang sebuah sejadah dan telah melakukan shalat sunah dua rakaatnya ditengah kesunyian malam.


Mirna masih terlelap dalam dalam tidurnya, Ia terlihat sangat begitu indah dengan dua bola matanya tertutup dan kecantikannya kian terpancar meskipun dalam terpejam.


Dengan sebuah tasbih ditangannya. Satria kembali menggulirkan satu persatu bulir tasbih tersebut. Satu kata yang terus dilantunkannya 'Allahhu' dengan begitu hening, dan membuang fikirannya tentang hal duniawi.


Satria terus melantunkannya dan hingga akhirnya Ia melepaskan sukmanya untuk menjelajahi alam dimensi lain.


Saat itu melihat suasan sebuah padepokan yang yang dipenuhi oleh orang-orang berpkaian putih.


Seorang pria berjanggut panjang dengan sorban dikepalanya tengah duduk bersila dan menatap penuh kharisma kepada Satria yang datang menemuinya.


"Kemarilah, Cucuku" ucap Pria tua itu yang tak lain adalah syek Maulana.


Satria tersenyum, lalu menghampiri pria itu dan duduk bersila menghadap dengan nilai-nilai penuh kesopanan.


Satri menyalim tangan tersebut dan mengecup punggung tangan pria yang sudah sangat renta itu.


Sukma Satrai bergertar hebat saat proses penyaluran energi positif kepada sukmanua.


Tak hanya itu saja, Tubuh Satria yang masih duduk bersila diatas sejadah itu juga bergetar dan berkeringat karena ikut merasakan rasa kuatnya penyaluran energi itu.


Setelah selesai, Syekh Maulana melepaskan tubuh cucunya, dan membiarkan Satria merasakan proses penyatuan energi itu kedalam sukmanya.


Getaran tubuh Satria yang semula kencang, kini perlahan mulai melemah dan Ia membuka matanya lalu menatap sayu pada Syekh Maulana.


Pria berjanggut putih itu mengerjapkan kedua matanya, dan mengijinkan Satria untuk kembali ke dunianya.


Satria menganggukkan kepalanya dan segera berlalu dari dunia dimensi lain yang sudah lama tak Ia kunjungi.


Kini Satria kembali melakukan penyatuan sukma dan tubuhnya.


Setelah penyatuan mereka selesai, Satria menutup dzikirnya, lalu mengusap wajahnya dengan sangat lembut.


Satria beranjak dari duduknya dan menghampiri Mirna yang masih terlelap. Ia memandang wajah ayu rupawan itu.


Satria ingin menyalurkan energi poaitif yang baru saja Ia peroleh dari warisan leluhurnya dan membuang energi negatif pada tubuh Mirna dan menjadikan wanita itu manusia seutuhnya dan tidak menyisakan sisi iblisnya.


Satri menyentuh lembut ujung kepala Mirna, lalu memejamkan kedua matanya dan bibirnya bergerak mengikuti dzikirnya.


Seketika tubuh Mirna gelisah dan bergerak tak beraturan mengikuti energi yang kini meresap kedalam tubuhnya.


Sebuah cahaya hitam keluar dari tubuhnya dan bergulung berputar diudara. Energi negatif yang bersemayam didalam tubuh Mirna perlahan kian tertarik keluar dan energi itu melesat menghilang menunju seseorang yang kini sedang dalam kegusaran dan duduk disebatang dahan.


Cahaya hitam itu terus bergerak dan akhirnya dengan cepat melesat menembus tubuh seirang wanita yang sedang duduk manis didahan pohon.


Kuatnya energi kegelapan itu berpindah kepada tubuhnya yang tak lain adalah Yanti saat ini sedang dalam galau tingkat tinggi.


Tubuh Yanti terpental jauh dan membuatnya harus terjatuh dari dahan pohon tersebut.


Brengsssek Kau, Satria..!!" maki Nini Maru yang mengetahui jika energi negatif yang Ia titipkan ditubuh Mirna kini dikembalikan kepadanya.


Nini Maru semakin kesal, sedangkan Yanti akan menjadi iblis yang terus akan berbuat keonaran dengan sangat sadis.


Tubuh Mirna bergetar hebat dan keringat mengucur dari pori-pori kulitnya yang tampal putih mengkilat bak pualam.


Sesaat kedua bola matanya mengerjap dan perlahan membukanya dengan sayu mentap pria dihadapannya.


Ia menarik pria itu dengan rengkuhan lembutnya. Kedua kakinya melingakar dipingggang sang pria yang kini membuatnya memiliki energi jauh lebih kuat dibanding sebelumnya.


Tatapannya yang begitu lembut menginginkan sang pria untuk mengerti keinginannya, jika malam ini AIa menginginkan madu cintanya menyatu dalam dengan madu milik sang pria yang tak lain adalah suaminya.


Rengkuhan itu akhirnya membuat keduanya terbakar dalam hasrat yang membakar dinginnya malam dalam lautan asmara yang akan mereka gapai dalam kayuhan biduk asmara yang bergelora.


Sementara Yanti merasakan tubuhnya sangat begitu sakit dan dan penyatuan energi negatif pada dirinya, semakin membuatnya tanpa perasaan dan semakin sadis.