
Satria melepaskan sukmanya untuk memantau kondisi Hadi dan Shinta. Ia memastikan jika keduanya sudah merasa aman.
Satria tak pernah menduga jika iblis itu kini menyasar menyerang Hadi dan istrinya. Setelah memastikan Hadi dan istrinya aman, karena Hadi meminta perlindungan langsung kepada Sang Khalik, Maka Satria merasakan lega.
Satria mengejar iblis yang tak lain adalah Nini Maru. Namun sepertinya iblis itu sangat pintar sekali memanipulatif.
Kemudian sukma Satria kembali ke raganya. setelah proses penyatuan berhasil, Ia mengusap lembut wajahnya dan melirik Mirna yang sedang tertidur dengan lelapanya.
Adzan subuh berkumandang, lalu Ia bergegas membangunkan kedua puteranya dan juga Mirna.
Namun kedua puteranya itu ternyata sudah terbiasa dan bangun tanpa harus Ia bangunkan lagi. Ke tiganya berjalan menuju mushallah unruk shalat berjamaah.
*****
Angkasa dan juga Samudera mempersiapkan segala keperluan peralatan sekolah mereka. Lalu keduanya menuju meja makan untuk sarapan.
Mirna audah menyiapkan dua buah bekal untuk puternya, karena keduanya pulang sekolah pukul 4 sore.
"Angkasa, Samudera. Hari ini Papa dan Mama serta nenekmu akan pergi ke kota untuk berkunjung untuk menjenguk Om Hadi kalian dirumah sakit, sebab Istrinya sedang operasi" ucap Satria kepada keduanya.
Samudera dan Angkasa saling pandang "Ya.. Kita ditinggal lagi" ucap Samudera.
"Kalian itu anak laki-laki, harus siap untuk segalanya. Ibumu sudah menyediakan stok telur, daging ayam dan ikan kalengan di lemari es. Serta sambal juga sudah satu toples dibuat ibumu. Maka tinggal memanas sambal tersebut jika ingin membutuhkannya, namun jangan lupa simpan beku kembali" ucap Satria.
Keduanya menganggukkan kepalanya, meski merasa berat jika harus ditinggalkan Mirna dalam waktu yang lama, sebab mereka harsu merindukan masakan ibunya.
Mirna menghampiri keduanya yang sedang menyuapkan sarapannya.
"Kedua Putera ibu adalah orang yang tangguh, dan pastinya akan selaku siap dan siaga dalam menghadapi apapun" ujar Mirna, sembari membelai lembut kepala kedua bocah itu.
Lalu keduanya menengadahkan kepalanya dan Mirna menecup ujung kepala kedua puteranya, sehingga membuat keduanya merasa selalu mendapatkan kasih sayang yang tulus dan luas darinya.
Setelah menyelesaikan sarapnya, Keduanya beranjak dan menyalim kedua orantuanya, Lalu berangkat ke sekolah.
Sesampainya disekolah, suasana belajar kembali kondusif setelah beberapa lama menjadi begitu menyeramkan saat mengetahui Baron masuk jeruji besi dan kehilangan lato-latonya.
Waktu istrihat tiba. Tasya yang dahulunya seorang gadis ceria dan bahkan bersikap jahil kepada Samudera dan juga Angkasa, kini berbanding terbalik 360° dengan sikapnya yang saat ini.
Kini Ia menjadi gadis pendiam, dan seketika keceriaannya menghilang. Tatapannya selalu nanar dan seolah dunianya hancur setelah Baron merampas kesuciannya.
Gadis remaja itu duduk menyendiri dibawah pohon mangga yang sengaja ditanam didepan halaman sekolah sebagai tempat berteduh bagi siswa yang ingin bercengkrama.
Tak hanya disekolah, bahkan dirumah Tasya juga tampak mengurung dirinya. Orangtuanya sangat takut jika Tasya bersikap seperti itu akan membuatnya tiba-tiba melakukan hal bunuh diri.
Samudera datang menghampirinya, mengulurkan sebotol minuman ringan teh madu aroma melati.
Samudera mengulas senyum ramah kepadanya, ia mencoba melupakan fitnah gadis itu pada waktu tempo hari yang mencoba menjerumuskannya.
Ia memahami jika gadis itu melakukannya karena sebuah perasaan yang tak berbalas, sehingga membuatnya berbuat nekad melakukan fitnahan.
Mungkin itu adalah resiko bagi orang yang memiliki wajah tampan, akrena harus banyak menahan sabar karena dikejar oleh banyak kaum hawa.
Gadis itu tercengang melihat siapa yang berada didepannya. Ia seolah tak percaya jika yang dihadapannya adalah Samudera dan memberikannya sebotol minuman teh rasa madu.
"Minumlah.. Kamu sedari tadi hanya melamun, iti tidak baik. Sebab orang yang suka melamun dan fikirannya kosong akan mudah dirasuki oleh syetaan yang akan menjerumuskanmu ke jaaln yang sesaat.
Tasya memandang wajah remaja tersebut. Ia seolah tak percaya jika Samudera berada dihadapannya.
Samudera meletakkan botol minuman itu keteoak tangan Tasya yang saat itu tampak disilangkan.
Gadis remaja itu akhirnya meraihnya, lalu membuka segel tutupnya dan meneguknya. Rasanya sangat menyejukkan, bukan karena rasa dingin dari teh tersebut, tetapi sikap Samudera yang tak pernah Ia duga selama ini.
Samudera duduk di berjarak satu meter darinya dibangku taman tersebut. Ia mendengar kabar tentang perbuatan Baron padanya, namun kini Baron sudah mendekam dijeruji besi bersama ke dua teman lainnya.
"Apakah kamu tidak merasa jijik duduk dekat denganku?" tanya Tasya dengan lirih.
"Mengapa harus jijik? Apakah kamu itu najis yang harus aku hindari?" ucap Samudera tanpa menoleh ke arah gadis itu.
"Ya.. Aku kini adalah najis, bahkan sahabat terdekatku saja sudah tidak lagi ingin bersamaku setelah menegetahui aku seorang yang tidak suci lagi" ucapnya lirih, dan bulir bening itu jatuh disudut matanya.
Samudera menghela nafasnya "Tahukah kamu? Tidak ada yang perlu disombongkan manusia dimuka bumi ini? Sebab manusia itu terlahir membawa najis (Kotoran manusia), hidupnya juga membawa najis, dan akhirnya kematiannya juga bernajis. Jika kamu menyesali semua perbuatan yang kamu rasa itu salah, maka memohon ampulah pada Dia yang menciptakanmu, dan tunjukkan pada mereka dengan prestasimu, bukan dengan kehancuranmu!" ucap Samudera.
Lalu obrolan mereka terhenti saat suara bel berbunyi dan membuat siswa kembali masuk ke kelasnya.
Samudera beranjak bangkit dari duduknya dan akan melangkah masuk ke kelas.
"Apakah itu artinya kamu mau menerimaku sebagai sahabatmu?"
Samudera menatap pada gadis itu, lalu menganggukkan keplannya dan mengulas senyum penuh kehangatan dan beranjak pergi.
Seketika Tasya merasakan mood booster yang membuatnya merasa ada seseorang yang merangkulnya saat Ia dalam kehancuran, dan orang tersebut adalah pria yang diidamkannya selama ini.
Namun Ia tidak berharap banyak, sebab pria remaja itu mau menerimanya sebagai sahabat saja Ia sudah merasakan begitu sangat senang, dan seketika perasaannya kembali riang. Ia melangkah ke pintu kelas, dan berjanji esok akan menggunakan pakai yang sopan dan mulai berhijab.
Gadis itu kini menemukan sebuah pencerahan yang selama ini Ia tidak pernah hiraukan. Dan ternyata benar, bergaullah dengan seorang penjual minyak wangi agar kau terkena aroma wanginya, bukan bergaul dengan seorang pandai besi, karena Kau akan terkena percikan apinya.
Maka hidupmu itu akan berpengaruh kepada siapa orang yang menjadi temanmu. Jika temanmu kebanyakan orang yang tidak bermoral, maka sedikit banyaknya Kau akan ikut terperosok kedalam cara hidup mereka, dan begitu sebaliknya, jika Kau berteman dengan orang yang lurus, maka sedikit banyaknya pengaruh kebaikan itu akan mempengaruhimu.
Tasya mencoba menepis semua ocehan tentangnya, dan Ia akan membalas semua penghinaan padanya dengan prestasi yang dapat membungkam semua tudingan tentangnya.