MIRNA

MIRNA
episode 102



Syafiyah meringkuk dikamarnya. Bekas cumbuan makhluk mengerikan itu begitu masih sangat terasa. Ia berulangkali mencuci bibirnya yang dipagut dengan begitu rakusnya oleh makhluk bernama genderuwo itu.


Setelah berulangkali mencucinya dengan sabun, namun rasanya tak jua hilang dari fikirannya.


"Sialan..!! Bisa-bisanya makhluk itu mencumbuku!" maki Syafiyah dengan kesal.


Sesaat Ia berfikir tentang wanita bercadar yang sudah dua kali menyelamatkannya dari segala bahaya "Siapa Dia? Mengapa Ia begitu selalu menolongku?" guman Syafiyah lirih. Ia begitu teramat penasaran dengan wanita bercadar yang memiliki sebuah kekuatan lain yang tak biasa, dan selalu pergi dengan cepat sebelum Ia mengucapkan terimakasih.


Saat Syafiyah bergelut dengan fikirannya, terdengar sebuah ketukan dipintu.


Tok..tok..tok..


Syafiyah tahu jika itu adalah Mirna " Masuk.." ucap Syafiyah. Meskipun Ia sedikit kesal dengan madunya, namun saat ini Ia benar-benar dalam ketakutan yang nyata.


Tampak Mirna membawa segelas teh hangat dalam sebuah nampan. Wanita itu mengerti jika Syafiyah masih dalam kondisi ketakutan dan juga syok, sehingga perlu sesuatu yang menghangatkan dan manis untuk menetralkan degub jantungnya yang memburu.


"Minumlah, Mbak... Sepertinya Mbak tampak begitu sangat ketakutan" sindir Mirna kepada Syafiyah yang tampak begitu pucat pasi wajahnya.


Ingin membantah ucapan Mirna, namun benar saja, Ia memang begitu syok dengan kejafian barusan.


Mirna menyodorkan gelas ditangannya kepada Syafiyah, dan Wanita itu meraihnya dengan tangan yang gemetar.


Melihat Syafiyah yang masih bergetar jemarinya, Mirna membantu mendekatkan gelas itu ke bibir Syafiyah, dan mau tidak mau Syafiyah menyeruputnya.


Setelah merasa cukup, Ia menepiskan gelas itu, lalu Mirna meletakkannya diatas meja nakas.


"Berbaringlah, Mbak" titah Mirna kepada Syafiyah. Kali ini Ia tak ingin membantah, Ia butuh seseorang untuk menghilangkan rasa ketakutannya.


Mirna merasa cemas jika Syafiyah terus menerus dalam kondisi stres dan dan ketakutan, akan berdampak pada janin yang dikandung oleh Syafiyah.


Syafiyah merubah posisinya menjadi berbaring, dan Mirna menarik selimut untuk menutupi tubuh sang Madu yang kini masih tampak bergetar.


Syafiyah memiringkan tubuhnya, tak ingin bertatapan mata dengan Mirna. Sesaat Mirna duduk ditepian ranjang, membelai lembut rambut Syafiyah, berharap dapat menghilangkan rasa cemas dan ketakutan yang kini bersatang didalam tubuh Syafiyah.


Bagaikan sebuah sentuhan seorang ibu, Syafiyah merasakan sebuah bulir-bulir kasih sayang yang menyerap keseluruh aliran darahnya.


Degub dijantungnya yang memburu, kini perlahan normal dan mulai tenang. Seketika Syafiyah terlelap dalam tidurnya, dalam buaian mimpi yang begitu indah.


Setalah Syafiyah terlelap, Mirna memeriksa perut Syafiyah dengan menyentuhnya, memastikan tidak tertinggal sisa kekuatan kegelapan disana.


Setelah memastikan semuanya aman, keluar dari kamar Syafiyah dan melesat dalam kegelapan malam menuju sebuah rumah yang tak lain adalah rumah Lisa.


Mirna membawakan berbagai makanan, Ia meletakkannya diatas meja nakas kamar Lisa, dan berharap saat Lisa terbangun Ia mendapati makanan sudah tersedia dikamarnya.


Mirna kembali melesat menuju rumah Satria, kembali masuk kedalam kamarnya dan mencoba beristirahat untuk menjemput mimpinya yang penuh keindahan.


Sementara itu, sosok genderuwo itu menggerutu karena kesal. Ia tak menyangka Mirna akan menyerangnya dengan tiba-tiba. Hampir saja Ia mendapatkan janin Syafiyah, janin yang sangat berharga buat Nini Maru, karena merupakan titisan dari Mbah Karso.


Makhluk berbulu tebal dengan kedua bola kata berwarna merah itu merubah wujudnya menjadi seorang pria senja.


Kali ini Ia berjalan dengan sedikit tertatih, sebab, Pukulan dari Mirna membuatnya terluka dalam.


Lela yang hampir menutup pintu rumahnya, tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran sang kakek.


Tanpa meminta persetujuan Lela Ia menerobos masuk kedalam rumah dan segera menutup pintu ruamh Lela, lalu menyeret wanita itu masuk kedalam kamar tanpa perlawanan apapun.


Lela memastikan jika pria senja itu meminta jatah bercintanya. Karena perjanjian yang mereka buat, mala Lela pasrah menerima semua perlakuan dari sang kakek me- sum.


Pria senja itu tak sabar melucuti seluruh pakaian Lela, lalu menuju organ inti sang janda dan menyesapnya debgan rakus, berharap dengan cepat mendapat sari tubuh wanita itu.


Setelah Lela mengejang, makhluk itu merubah wujudnya menjadi mengerikan, meski sempat terkejut, Lela kembali bersikap biasa saja dan, sebab Ia sudah melihat wujud mengerikan dari sang kakek Nugroho yang kini sedang menyesap habis cairan sari tubuhnya.


Entah sudah berapa kali Lela mencapai puncak surgawinya, hingga akhirnya sang makhluk mengerikan itu melakukan penyatuan tubuh dengannya dan yang terdengar hanya rintihan dan lenguhan yang terbawa angin malam.


Karena tak sanggup melayani makhluk itu, Lela terkapar tak sadarkan diri, dan Makhluk itu pergi meninggalkannya begitu saja.


Ditempat yang berbeda, Lisa terbangun karena merasa sesak buang air kecil. Alangkah terkejutnya Ia saat melihat ada beberapa makanan yang tersedia untuknya.


Lisa denngan cara mengesot menuju kamar mandi. Ia belum dapat tegak berdiri sebab mengalami sakit yang luar biasa atas perlakuan kasar Yanti saat itu.


Lisa mencapai kamar mandi, dan buang air dengan susah payah. Ia mencoba menghanti pakaiannya yang sudah berminggu tidak Ia ganti.


Ia melucutinya, meski masih malam hari, Ia sangat risih dan aroma pakaian itu sudah entah bau apa.


Setelah selesai membuang hajat, Ia keluar dari kamar mandi dengan cara mengesot kembali.


Ia menggerakkan tubuhnya dan menuju kelemari pakaian, mencari pakaian ganti, dan merasakan kini menjadi manusia bebas.


Ia bertekad suatu saat nanti akan membongkar semua kebusukan Yanti, namun Ia masih mengumpulkan tenaga dan kesehatannya.


Setelah menemukan pakaian yang Ia cari, Ia menyalinnya dan kembali keranjang dengan susah payah Ia mencapai tepian ranjang, dan berusaha naik ketepian ranjang meski berulang kali gagal.


Lisa menarik selimut dan bantalnya, lalu memilih untuk tidur dilantai.


Perutnya yang lapar membuatnya terdorong untuk mengambil makanan yang ada dimeja nakas, meski sedikit kesulitan, Ia dapat mencapainya, lalu memakannya dengan perlahan, ada segurat senyum disudut bibirnya, entah perasaan apa yang kini sedang tumbuh dihatinya, namun Ia tampak sedikit bahagia.


Disisi lain, sang genderuwo itu melesat menuju gubuk reot miliknya. Iblis dengan jukukan makhluk me- sum itu mencoba mencari wanita lain untuk diambil sari tubuhnya, Ia merasa tak cukup hanya dengan Lela saja, Ia membutuhkan seseorang yang akan dijadikan korban berikutnya.


Seketika wajahnya berbinar, lalu terukir senyum disudut bibirnya yang penuh ditumbuhi bulu lebat.


Ia melesat dengan cepat menuju warung Yanti. Ia melihat segala kemaksiatan sedang berlangsung disana.


Ia merubah wujud menjadi pria senja dan memasuki warung tersebut.


Kondisi mabuk parah dan sakaw karena dibarengi mengkonsumsi narkoba membuat keempat remaja itu tidak menyadari apapun yang terjadi, hingga pria senja itu menyeret salah satu remaja bernama Tia itu kedalam kamar milik Lisa waktu yang kini sudah kosong, dan menggarap sang remaja tanpa ampun.


Menemukan gadis remaja, membuat sosok pria senja itu menyeringai dengan tatapan liar.


Meski dalam kondisi mabuk remaja itu masih merasakan bagaimana cumbuan yang tak biasa dari seorang pria, namun matanya tak dapat Ia buka dan akhirnya tertidur tanpa mengetahui siapa pelaku dari semuanya.