MIRNA

MIRNA
episode 100



Rey menyeringai dan menatap penuh makna "Sudahlah, Ni.. Jangan banyak memilih, Aku sudah merelakan calon anakku untukkmu, dan nikmati saja apa yang ada" ucap Rey dengan menyarankan.


Nini Maru tak memiliki pilihan lain, Ia terpaksa menerima janin Yanti, meskipun Ia lebih menyukai janin murni manusia.


"Baiklah.. Sekarang lakukan pengguguran janin tersebut" Titah Nini Maru dengan cepat, sebab malam semakin larut.


Yanti sedikit ketakutan, karena rasa kontraksi itu sangat menyakitkan.


"Berbaringlah, Aku akan membantumu agar tidak terlalu begitu sakit" Ucap Rey kepada Yanti.


Lalu Yanti berbaring diatas lantai, tanpa alas dan disaksikan oleh ketiga arwah penasaran para pria korban kebiadaban Yanti dan Rey.


Rey meminta Yanti mengang-kangkan kakinya. Lalu Rey menelusupkan wajahnya di organ wanita itu dan mengo-ralnya hingga membuat Yanti melambung dan mengejang mencapai puncak surgawinya.


Beberapa kali kali Yanti merasakan kejangan surgawinya, dan membuat kontraksi dirahimnya yang kinj berganti rasa sakit yang sangat luar biasa. Rey terus meberikan rangsa-ngan bertubi-tubi tanpa jeda, sehingga memberi kesempatan Nini Maru masuk melalui jalur rahim Yanti dan menerobos selaput yang melindungi janin yang berada didalam rahim wanita penyekutu iblis tersebut.


Dan..


Aaaarrrggh..


Suara pekik tertahan dari mulut Yanti saat Nini Maru mencabut paksa janin itu dan membawanya keluar.


Darah segar ikut keluar bersama dengan janin yang sudah terlepas jatuh gugur dan kini berada ditangan Nini Maru.


Wanita iblis itu menyesapi darah yang meleleh dijanin tersebut dan kemudian melahap seonggok daging yang masih membentuk berupa janin yang tampak begitu sangat manis.


Setelah melahap habis janin tersebut, Nini Maru mendekati Yanti dan menyesap darah yang keluar dari jalan lahir tersebut tanpa sisa.


Kini kedua makhluk iblis itu pergi meninggalkan Yanti yang terkapar tak berdaya dalam kondisi lemah karena baru saja keguguran.


Yanti bernafas lega, karena akhirnya dapat mempersembahkan janin kepada Nini Maru dan setidaknya akan mempertahankan harta yang dimilikinya.


Sisa-sisa darah masih merembes dari jalan lahirnya, Ia masih berbaring lemah dan akhirnya tertidur dalam kelelahan.


Sementara itu, Keempat remaja itu masih saja larut dalam dunia mereka yang penuh lumpur dosa dan tenggelam dalam kemaksiatan.


Meski sudah larut malam, namun masih saja ada yang datang untuk menenggak minuman keras dan layanan plus-plus pada ke empat remaja itu.


Sepertinya tubuh para remaja itu sudah sangat tidak berharga, dimana siapapun bebas menikmatinya asalkan dengan bayaran hang sesuai.


Melihat Yanti tak kunjung keluar dari kamarnga sejak tadi, membuat ke empat remaja itu bermakn curang dengan menyelipkan uang jasa layanan dari para pria yang baru saja masuk ke warung tersebut.


Mereka merasa puas dengan uang tips yang mereka dapat tanpa membaginya kepada Yanti.


Suasana malam yang hingar-bingar dalam lembah dosa mewarnai kehidupan mereka.


Pagi menjelang, waktj menunjukkan pukul 9 pagi dan mentari sudah bersinar sangat terang.


Keempat remaja dan para pelanggan itu sudah berpulangan terlebih dahulu, sebab Yanti yang tak juga kunjung bangun.


Setelah menutup warung, keempat remaja itu ngacir pulang sebelum ketahuan membawa uang tips yang diberikan oleh pelanggan baru tanpa sepengetahuan oleh Bos muci-kari mereka.


Yanti mengerjapkan kedua matanya. Ia melihat sekelilingnya. Ia menatap kamarnya yang tampak lengang dan penuh aroma busuk.


Beberapa belatung mulai menyebar dilantai kamar, dan Yanti terbangun dan beranjak dari tidurnya.


Ia mendapati hari sudah hampir siang dan berjalan menuju kamarnya.


Ia melihat warungnya sudah sepi dan sangat berantakan. Ia membuka pintu kamar lalu masuk kedalamnya.


Yanti menuju tepian ranjang masih tanpa busana, dan Ia terperangah melihat tumpukan uang dan juga emas yang berada diatas ranjangnya. Matanya tampak begitu berbinar dan ini sangat membuat moodnya kembali bangkit.


"Terimakasih, Nini Maru" ucapnya sembari menghirup aroma tumpukan uang dan berbagai perhiasan mewah yang kini telah menambah pundi-pundi keuangannya.


Sementara itu, Mirna sudah bersiap untuk pergi ke rumah Satria. Ia harus rela pergi pagi pulang sore demi menjaga perasaan Syafiyah. Karena jika Ia seatap dengan madunya, maka Syafiyah akan merasa tak nyaman dan itu semua hal yang lumrah.


Sesampainya didepan rumah itu, tampak Satria sedang memanasi mesin mobil. Sepertinya Ia akan keluar hari ini.


"Eh.. Kamu sudah datang sayang" sapa Satria yang melihat Mirna membawa makanan. Pria itu menghampiri istri mudanya dan duduk diteras.


"Mas mau pergi?" tanya Mirna sembari meletakkan wadah makanan diatas meja teras dan ikut duduk dikursi bersama Satria.


Pria itu terdiam sejenak " Mas ada urusan di kota, tadi Hadi menghubungi jika perusahaan sedsng membutuhkan Mas. Apakah kamu bisa tinggal disini sampai Mas kembali? Mas khawatir dengan Syafiyah, Ia begitu lemah dan sedikit keras kepala" ucap Satria memandang nanar ke depan.


Mirna menghela nafasnya, lalu menganggukkan kepalanya "Pergilah, dan berhati-hati dijalan, Mirna akan menjaga apa yang sudah Mas amanahkan, Mbak Syafiyah akan baik-baik saja" jawab Mirna meyakinkan Satria.


Satria tersenyum tipis "Kamu yang sabar dengan semua sikap Syafiyah, Ya" pinta Satria kepada Mirna.


Mirna tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


"Aku ngerti, koq Mas.. Maka dari itu aku mencoba tetap bertahan meski kita malam jarang seatap" ucap Mirna meyakinkan.


Satria benafas lega mendengar jawaban Mirna.


"Kamu bawa sarapan apa?" tanya Satria saat melirik wadah makanan diatas meja teras tersebut.


"Coba tebak, Mirna bawa apa?" Mirna balik bertanya.


"Heeemm.. Dari aromanya sepertinya ayam kalasan" tebak Satria.


"Koq, bisa tahu?" ucap Mirna penasaran.


"Karena ini masakan Ibu, dan dari dalam perut juga udah rasain ayam goreng ini, makanya hafal meski dari aromanya saja.


Mirna tersenyum simpul " Ya, sudah.. Ayo sarapan, nanti keburu dingin" ajak Mirna, lalu masuk kedalam rumah dan menuju dapur, yang diekori oleh Satria.


"Mbak Syafiyah sudah pergi bekerja, Ya Mas?" tanya Mirna, sembari membuka wadah makanan tersebut dan mengambil piring kosong, lalu menyendokkan nasi dan meletakkan satu potong ayam kalasan dengan bumbu lengkus dan kelapa parut.


Satria menganggukkan kepalanya "Ya.. Mbak mj itu terlalu berambisi sekali mengejar karirnya" ucap Satria, sembari mengunyah sarapannya.


Mirna tersenyum tipis "Jangan terlalu keras padanya, Mas. Mbak Syafiyah juga lagi mengandung, mungkin itu bawaan janinnya yang memiliki semangat bekerja. Biarkan saja Ia dengan pilihannya jika itu membuatnya bahagia, sebab setiap manusia memiliki pilihan hidupnya masing-masing" jawab Mirna yang ikut sarapan bersama Satria.


Satria menghela nafasnya, mencoba menyetujui ucapan Mirna "Tetapi bahaya diluar sana sangat banyak, dan Mbak mu tidak menyadari akan hal itu" ucap Satria dengan tatapan sendu.


"Mirna akan sebisanya mencoba menjaganya, Mas tenang saja" jawab Mirna dengan cepat.


Satria menatap wanita didepannya "Terimakasih. maaf Mas sudah merepotkanmu, ada sesuatu yang masih menghalangi Mas untuk tidak dapat menggunakan ajian itu, dan Mas akan kembali mengasahnya kembali" ucap Satria mencoba menjelaskannya kepada Mirna.


Mirnq menganggukkan kepalanya, dan melanjutkan sarapannya.