
Satria mendenguskan nafasnya dengan berat. Ia menggelengkan kepalanya atas dua puteranya yang disuruh pulang ke rumah tapi belum juga sampai.
"Mas.. Mau kemana?" tanya Mirna sembari merapikan ikat rambutnya.
"Mau mencari Samudera dan Angkasa belum pulang, tadi Mas sudah suruh pulang duluan tapi entah nyangkut dimana" Jawab Satria.
Mirna terdiam sejenak, memejamkann kedua matanya, lalu menatap kepada suaminya "Nyangkut di gerobak bakso Kang Ujang yang didekat simpang rumah" jawab Mirna, lalu memghampiri Satria dan menyalim tangan suaminya.
Satria menghela nafasnya, dan memberikan kopiahnya kepada Mirna.
"Nih anak kebangetan, bukannya pulang dulu, tapi singgah di Kang bakso" omel Satria.
"Sudahlah.. Bentar lagi juga pulang, yuuk makan malam" ajak Mirna sembari menarik pergelangan tangan suaminya menuju meja makan.
Satria tak dapat menolak ajakan Mirna, Ia akhirnya memilih untuk makan malam bersama sang Istri sembari menunggu kedua bocahnya pulang.
Sementara itu, Samudera dan juga Angkasa masih menyantab baksonya sembari membahas makhluk aneh yang mereka lihat ditoilet mushallah saat belajar mengaji.
Saat asyik mengobrol, Angkasa melihat sosok Yanti tak jauh dari tempat mereka makan bakso.
"Kak.."
"Ya." jawab Samudera cepat.
Angkasa menggenggam pergelangan tangan Samudera, sembari ujung matanya melirik ke arah pohon rambutan tempat tak jauh dari gerobak kang ujang.
Samudera melirik ke arah yang ditunjuk oleh Angkasa. Bocah itu tersentak dan hampir saja tersedak bakso karena kaget melihat penampakan wajah Yanti yang sangat menyeramkan.
"Itu Makhluk jelek kenapa sih ngikutin terus? Sepertinya kurang kerjaan banget" bisik Angkasa.
"Kamu sering ketemu Dia?" tanya Samudera.
Angkasa mengamggukkan kepalanya "Ya.. Bahkan dia ngaku sebagai orangtua dari Ibu" jawab Angkasa.
Seketika Samudera tertawa terpingkal "Haah..? Masa sih? Jelek gitu ngaku sebagai orangtua Ibu?" ucap Samudera tak percaya.
Angkasa mengangkat kedua bahunya, lalu menyelesaikan santapannya.
Lalu keduanya bergegas menyelesaikan kunyahannya.
"Kang.. Berapa?" tanya Samudera kepada kang Ujang.
" dua puluh ribu, Den.." jawab Kang Ujang.
Samudera menyerahkan uang selembar dua puluh ribuan kepada Kang Ujang "Balik, Yuk" ajak Samudera. lalu dijawab anggukan oleh Angkasa dan keduanya menuntun sepedanya untuk pulang.
Namun tampaknya Yanti mengikuti keduanya "Tu makhluk jelek kenapa ngikutin terus, Sih?" ucap Samudera sedikit kesal.
"Minta traktir bakso kali" jawab Angkasa.
"Kita kerjain, Yuk?" Saran Samudera.
Angkasa mengerut keningnya "Caranya?" tanya Angkasa penasaran.
Sesaat Samudera membisikkan sesuatu kepada Angkasa, yang mana mendapat persetujuan dari sang adik.
Lalu keduanya menaiki sepedanya memutar arah, dan menuju ke arah utara.
Sementara itu, Yanti berdebat dengan Nini Maru "Sudahlah, Ni.. Aku tidak ingin berurusan dengan bocah itu, rasa sakit saat terkena kulitnya waktu itu masih terasa sakit" protes Yanti.
"Tetapi Aku ingin cucuku mengikuti perintahku dan menjadi Abdiku" ucap Nini Maru.
Yanti mendengus kesal "Apakah Kau tak melihat jika disentuh saja sulit, konon pula nak dijadikan Abdi" jawab Yanti kesal, sepertinya kini mereka mulai berselisih pendapat dan tidak sejalan, sebab Yanti tak ingin menanggung rasa sakit ditubuhnya karena sentuhan tubuh Angkasa yang sangat sakit bagaikan sengatan listrik ribuan volt.
Sementara itu, dua bocah itu mengayuh sepedanya menuju utara, entah apa yang sedang difikirkan keduanya.
Sesampainya disebuah kolam galian yang merupakan tambang tanah putih yang mana bahan tanah putih itu sebagai bahan utama pembuatan keramik dan sebagainya. Dimana tambang itu memiliki kedalaman sekitar 3 meter.
"Kak, disini gelap banget.." ucap Angkasa.
"Bentar saja, ntar makhluk itu juga nyusul, sepertinya dia mengingankanmu" ucap Samudera dengan yakin, meskipun Ia tak menyadari jika Ia juga menjadi sasaran tumbal darah dan juga lato-lato bagi Rey.
Benar saja, Yanti dengan cepat menyusul kedua bocah itu, lalu mereka saling bertatapan.
"Aku tidak mau, Ni.. Aku tidak mau tersengat lagi" protes Yanti.
"Coba lihat Samudera.. Dia anak Satria dan juga Syafiyah. Ada darah murni disana, dan jika kamu bisa meminum darahnya, maka lukamu akan sembuh" ucap Nini Maru dengan iming-iming yang menjanjikan.
Sesaat Yanti mulai goyah, Ia mencoba mendengarkan apa yang diucapkan oleh Nini Maru kepadanya.
"Hei, Bocah.. Kemarilah.. Aku ada sesuatu untuk kalian" Titah Yanti kepada keduanya.
"Maaf Tante.. Kami tidak boleh menerima pemberian orang dengan semabrangan" jawab Angkasa masih dengan diatas sepedanya.
"Dasar bocah, Sialaan..!!" maki Yanti dengan menggerutu.
Sesaat Yanti mencoba menghampiri keduanya sembari berjalan dengan tertatih.
Aroma daging hangus yang menyebar dari luka tubuh Yanti saat tersambar petir waktu itu membuatnya semakin bertambah menyeramkan.
Saat jarak Yanti semakin dekat, kedua bocah itu sengaja tidak bergerak, namun mereka saling bergandengan tangan dan tak melepaskan satu sama lain.
Lalu Yanti merasakan jika kedua bocah itu akan sangat mudah ditangkap, palagi Nini Maru mengatakan Samudera adalah pemilik darah murni sebagai penyembuh luka tubuhnya dan dapat membuatnya kembali awet muda.
Saat Yanti akan menyentuh kedua bocah itu nakun diluar dugaan keduanya justru menarik tangan Yanti dan menceburkannya kedalam galian tambang yang membuat gaunnya menjadi basah tak karuan dan berlumpur.
"Dasar, Bocah siaalan.!!" Maki Yanti yang langsung melesat kembali naik ke permukaaan dan hendak menangkap keduanya yang sudah mengayuh sepedanya hendak menuju pulang.
Sementara itu Yanti menyasar pada Samudera, sedangkan Nini Maru menginginkan Angkasa.
Sesaat Yanti lebih dominan kepada Samudera dan mencoba menangkapnya.
Ia menarik kerah pakaian yang digunakan oleh Samudera, dan ingin membawa Samudera melesat terbang, Namun Angkasa menarik gaun Yanti yang membuatnya terlepas dan menampilkan tubuh yang hangus terbakar dan Angkasa menarik ujung jari Kaki Yanti sehingga membuat Yanti tersengat dan Samudera memberikan tonjokan diwajah Yanti, sehingga Yanti terpaksa melepaskan Samudera dan membuat bocah 6 tahun itu terlempar kebawah dan meringis kesakitan.
Melihat gaunnya terlepas, dan tubuhnya tersengat tubuh Angkasa membuat Yanti merutuki bocah itu.
Ia dengan sangat marah ingin membalasnya, namun kedua bocah itu sudah ngacir mengayuh sepedanya.
Sementara itu, kuntilanak kuning tampak mentertawakannya dan terbang melesat melayang sebelum diamuk oleh Nini Maru.
"Sudah kubilang jangan dan apa yang terjadi sekarang?!" gerutu Yanti.
Sudahlah.. Pakai saja lagi gaun itu" ucap Nini Maru dengan seenaknyanya.
"Gaun itu sudah basah dan berlumpur" jawab Yanti kesal.
Kalau gitu ya kita cari saja kuntilanak putih yang melintas, dan rampas gaunnya" titah Nini Maru.
Mendengar ucapan Nini Maru, maka para kuntilanak Putih memilih ngacir dan menjauh karena tidak ingin menjadi korban perampasan gaun.
Semenatara itu, kedua bocah tersebut mengayuh sepedanya dengan cepat dan menuju pulang kerumah.
Desampainya didepan rumah, keduanya memasukkan sepedanya ke garasi dan ngacir masuk kedalam rumah, yang disambut dengan tatapan sarkas daru Sang ayah.