
"Aaaaaaarrrrggh.."
Rey terpekik melihat kondisinya saat ini. Ia tak menyangka jika diirnya akan berubah total sama seperti bapaknya Ki Genderuwo.
Bulu-bulu itu tmbuh begitu lebat disekujur tubuhnya. Gigi taringnya menyembul dibalik ujung bibirnya, dan ke dua matanya memerah yang membuatnya semakin menakutkan.
Suara teriakan Rey menggema memenuhi ruangan goa. Seketika halnitu membuat Nini Maru, Ki Kliwon dan juga Ki Genderuwo tersentak dan membatalkan pertapaan mereka, lalu berkerumun melihat apanyang terjadi pada Rey.
"Heei..!! Mengapa Kau berteriak seperti itu? Membuat kami terganggu saja!" omel Nini Maru kepada Rey yang masih menatap wajahnya didalam ceruk berisi air jernih.
Rey memalingkan wajahnya dan menghampiri Nini Maru dengan tatapan penuh amarah.
"Ni.. Mengapa wajahku tidak setampan Satria?! Bukankah Kau dulu berjanji jika aku dapat mencari tumbal lato-lato sebanyak 40 pasang, maka Kau akan mengubahku menjadi sempurnah, namu apa? Bukannya sempurnah, aku semakin jelek!!" ucap rey dengan sangat kesal.
Nini Maru membolakan matanya, dan menatap penuh rasa jengkel dengan apa yang dituduhkan oleh Rey kepadanya.
"Heei..!! Siapa yang bilang aku akan membuatmu tampan?! Aku hanya mengatakan sempurnah. Dan yang ku maksud sempurnah itu ya wujudmu yang aslinya seperti bapakmu!! Jika dulu kau berbulu sedikit, sekarang menjadi lebat, jika dulu belum tumbuh taring, maka sekarang bertaring dan kuku jemarimu tumbuh panjang dan meruncing serta bola matamu yang memerah, maka sempurnahlah dirimu!" jawab Nini Maru.
Rey terperangah mendengar apa yang dituturkan oleh Nini Maru. "Kalau akhirnya jelek begini, aku tidak akan mau mencari tumbal lato-lato sebanyak 40 pasang dengan susah payah..wajahku dulu tidak sejelek ini, dan sekarang semakin parah, ini namanya jelek yang sempurnah!!" ucap Rey dengan kesal.
Hatinya sangat sangat sakit karena merasa ditipu oleh Nini Maru. Ia mengirw jika Ia dapat menyempurnakan tumbal lato-lato 40 pasang Ia akan mendapatkan wajah setampan Satria, namun justru sebaliknya, Ia semakin menyeramkan.
"Sudahlah, terima saja kenyataanmu jika aku memang ditakdirkan untuk jelek!! " ucap Nini Maru kesal.
Lalu Rey menatap pada Ki Genderuwo "Ini semua salah Aki.. Kenapa Aki berwujud jelek, akhirnya aku jadi jelek begini" kini Rey menyalahkan Ki Genderuwo yang harus menjadi bapaknya.
"Diaaam, Kamu!! Tidak apa jelek, yang penting perkasa dan tangguh, itu yang terpenting!!" ucap Ki Genderuwo membesarkan hati Rey anaknya.
"Kalau begini, bagaimana mungkin Mirna akan jatuh cinta padaku? Yang ada Ia akan semakin menjauhiku" ucap Rey lirih.
Lalu Rey beranjak dari ceruk, Ia membaringkan tubuhnya diatas dipan batuan cadas, hatinya sangat nelangsa setelah mengetahui dirinya sangatlah buruk rupa.
ketiga iblis itu memandangnya dengan seksama, lalu kembali ke tempat pertapaan mereka, dan membiarkan Rey larut dalam kepatah hatiannya.
Selama ini Rey membayangkan wajah cantik Mirna yang akan bersanding dengan dirinya dalam rupa yang tampan rupawan, namun semuanya tidak sesuai dengan ekspektasi dan ini sungguh mengecewakan dirinya.
Rey beranjak dari goa, menyusuri kegelapan malam dan membelah lebatnya hutan.
Ia kini memasuki perkampungan, lalu berdiri dibawah pohon rambutan yang tak jauh dari kediaman rumah Satria.
Ia menembus pandang kamar Mirna, dan melihat seauatu yang membuatnya semakin sakit hati. Tampak Mirna sedang bercumbu mesra dengan pria tampan yang tak lain adalah Satria.
Bodohnya Ia yang terus melihat adegan cumbuan tersebut. Tampak Mirna begitu bersemangat memberikan setiap inci tubuhnya untuk pria itu.
Ternyata Satria mengetahui jika dirinya sedang diintai. Lalu tanpa sepengathuan Rey yang asyik mengintai, Ia melemparkan tasbihnya dan membuat tasbih itu melayang mengenai Rey dan membuat tubuhnya terbakar.
Seketika Rey terkejut dan berlari tunggang langgang menuju goa lalu menceburkan dirinya didalam ceruk. Sebagian bulunya hangus terbakar hingga menimbulkan bau hangus.
Ia kemudian beranjak ketepian dari atas ceruk dan memandangi tubuhnya yang sangat mengenaskan karena dibagian sisi kiri tubuhnya tampak terbakar dan membuat bulu--bulu itu keriting.
"Aaaasrrrgh... Mirna! Kamu itu milikku!" teriaknya dengan tatapan penuh amarah.
****
Pagi menjelang. Sinar mentari pagi menyinari bumi dan menghangatkan bagi setiap makhluk dibumi, namun tidak bagi seorang gadis yang kini terpuruk dalam kegelapan masa depannya.
Impiannya mendapatkan salah satu idola disekolahnya yang tak lain adalah Angkasa dan juga Sanudera kini musnah sudah karena perbuatan keji seorang teman sekelasnya yang bernama Baron.
Ia pernah melakukan kesalahan memfitnah kedua remaja itu, namun itu semua karena Angkasa dan Samudera tidak meliriknya sedikitpun.
Saat Ia dalam lamunan yang membuatnya dipengaruhi oleh iblis untuk melakukan hal nekad bunuh diri, pintu kamarnya diketuk, lalu gadis remaja itu akhirnya beranjak bangkit dan membuka pintu kamarnya. Tampak ibunya berdiri tegak diambang pintu, lalu meraih tubuh anak gadisnya dalam dekapannya dan mencoba memberikan kenyamanan kepada gadis itu yang kini sedang rapuh.
"Ayo.. Kita ke puskesmas melakukan visum dan kita buat laporan ke kantor polisi agar Baron mendapatkan ganjaran dari apa yang diperbuatnya" ucap sang ibu, sembari membelai lembut rambut puterinya.
Tampa berkata apapun, Ia mengikuti apa yang dikatakan oleh Ibunya, lalu mereka menuju puskesmas dan melakukan visum untuk sebagai lampiran pengaduan dari apa yang telah dilakukan oleh Baron terhadap Tasya.
Kedua orang tua Tasya sudah mendapatkan bukti dari hasil visum dan kini mereka bergegas melaporkan perbuatan tindak asusila yang dilakukan Baron terhadap Tasya.
Setelah memberikan laporan, maka dengan cepat Pihak kepolisian menangkap Baron yang kini sedang mengurung diri dikamar dan merenungi nasibnya yang kehilangan lato-latonya.
Orangtua Baron mencoba memintah penangguhan penahanan terhadap puteranya, namun, polisi tidak memberikan ijin. Lalu Baron ditangkap tanpa perlawanan karena sepertinya Ia sudah tidak ingin hidup lagi.
Apa gunanya Ia hidup jika tak memiliki senjata andalannya, dan polisi membawahya ke dalam mobil untuk menuju kantor polisi.
Orangtua Baron terutama ibunya berteriak histeris meminta anaknya tidak dibawa dan ditahan.
Peristiwa itu membuat warga berkerumun dan penasaran.
Terdengar gosip miring jika Baron telah menodai Tasya, dan naasnya Baron harus kehilangan lato-latonya secara misterius dan membuat warga bukannya bersimpati, tetapi justru menyumpahi Baron karena apa yang dilakukannya terhadap Tasya itu mendapatkan balasan langsung dengan kehilangan lato-latonya.
"Syukurin.. Makanya jadi anak jangan sok jagoan mentang-mentang orangtuanya kaya sehingga berbuat seenaknya" cibir seorang emak-emak.
"Iya.. Itu sebabnya anakku ku pindahkan ke pesantren biar gak salah pergaulan" emak satunya menimpali yang merupakan salah satu dari rekan Baron yang waktu itu ikut mengerjai Tasya saat berada dibelakang toilet sekolah.