
Angkasa ikut masuk kedalam ruang UKS. Keduanya saling pandang melihat luka yang tampak parah tersebut.
Angkasa mencoba menyentuhnya "Aaaargh...Sakit, tau!"rengek Alex. Angkasa mengambil balsam andalan keluarganya berupa Zambuk dalam wadah kaleng bebentuk bundar dan berwarna hijau, lalu mengileskan pada luka lebam dibetis Alex sembari menggunakan tenaga dalamnya.
Perlahan Alex merasakan rasa sakitnya mulai mereda.
"Maafin kakak, Saya.. Ia tidak sengaja" ucap Angkasa tulus.
Alex mendenguskan nafasnya "Ya.. Saya maafin, tapi lain kali lempar bolanya jangan terlalu semangat kali. ini yang kena betis, bagaimana kalau dada kiri dan kena bagian jantung?" ucap Alex mengingatkan.
Keduanya menganggukkan kepala.
"Ya. Makasih atas nasehatnya, saya mengaku salah" ucap Samudera, lalu keduanya saling berjabat tangan dan saling memaafkan.
"Kamu sudah dapat berjalan atau belum?" Tanya Angkasa.
Alex menggerakkan kakinya, dan merasakan jika kakinya sudah dapat digerakkan.
"Seperti sudah, tapi belum begitu pulih" jawab Alex, sembari menurunkan kakinya dari atas ranjang.
"Mari aku bantu" Samudera menawarkan .
Alex menganggukkan kepalanya, dan Samudera memapahnya hingga sampai ke dalam kelas.
Permainan Kasti dihentikan, dan para siswa kembali masuk ke dalam kelas dan menjalani ujian tertulis. Mereka mulai berbisik-bisik membicarakan peristiwa yang baru terjadi.
Mereka tak menduga jika lemparan jarak jauh dari Samudera sebegitu bahayanya, lalu bagaimana jika Ia sampai meninju seseorang? Bisa koit ditempat lawannya.
Tampak Samudera sedang memapah Alex memasuki ruang kelas. Para siswa memandang Alex yang sudah tampak mulai membaik dan dapat berjalan meski tak separah saat insiden kejadian saat dilapangan tadi.
Seluruh siswa memandang ke arah mereka bertiga. Jika Alex tak mempermasalahkannya,allu bagaimana mereka dapat menghujat Samudera? Akhirnya mereka menganggap jika ity semua hanyalah insiden ketidak sengajaan saja.
Guru olah raga kembali masuk dan melihat Alex sudah berada dikelas. Karena merasa sudah membaik, akhirnya ujian tertulis dimulai dan seluruh siswa kembali fokus pada materi soal yang diujikan.
Pukul 12 siang dan ujian berakhir untuk 3 mata pelajaran.
Kini waktunya untuk pulang ke rumah. Keduanya menuju parkiran dan bergegas untuk pulang. "Kak. Mengapa Alex bisa sampai luka parah begitu, Ya?" tanya Angkasa merasa bingung. Sebab mereka baru saja memulai ritual tersebut dan belum selesai satu hari.
"Iya.. Gak tau kenapa! Kan kita belum melewati satu hari" Jawab Samudera yang juga bingung.
Angkasa mengingat ucapan Alex "Benar yang dikatakan Alex, itu terkena betisnya. Jkka dada kiri dan merusak jantung apakah tidak berbahaya? Atau mungkin juga terkena mata? Bisa buta seseorang. Sepertinya kita harus mulai berhati-hati dalam memlakukan segala tindakan dan jangan sembarangan" ucap Angkasa dengan lirih.
Samudera menganggukkan kepalanya dan membenarkan ucapan Alex dan juga adiknya "Sebahaya itukah ajian yang sedang kita lakoni? Sehingga kita harus dapat mengontrol emosi diri" Samudera menimpali ucapan Adiknya sembari membawa keluar motornga dari parkiran.
Keduanya keluar dari pagar sekolah dan menuju pulang ke rumah.
Saat diperjalanan, keduanya melihat 4 orang saling bertarung dan tampaknya saling tarik menarik sebuah tas yang tampaknya berisi barang berharga.
Satu buah mobil tampak berada didepan dan satu buah sepeda motor yang dikendarai oleh dua orang sedang mempertahankan tasnya.
Tak berselang lama, tampak dua orang turun dari mobil dan membantu dua rekannya untuk merampas tas tersebut.
Samudera dan juga Angkasa mencoba untuk turun dan membantu si pengendara motor yang tampak mempertahan barangnya.
"Eh.. Itukan Kang Didi dan Kang Dino, Ayo buruan kita bantu" ucap Samudera dan menepikan motornya untuk membantu Didi dan juga Dino yang tampak mempertahankan tas mereka.
Tanpa diduga, salah satu dari mereka membawa pisau sangkur dan mekukai lengan Didi agar segera menyerahkan tas tersebut.
"Aaaarrgh.." Didi mengerang kesakitan dan meringis menahan rasa perih dari luka yang ditimbulkan oleh para pria pengguna senjata tajam tersebut.
Dengan cepat Angkasa dan juga Samudera melayangkan tinjunya kepada para pria yang mencoba merampas tas milik Kang Didi
Buuuuuuuuughh...
Suara tinju melayang tepat dirahang pria yang berusaha terus menarik tas milik Didi.
"Aaaargffh" suara erangan kesakitan dari pria itu dan berjalan terhuyung kebelakng.
Melihat ada bocah yang mencoba mengahalangi niat mereka, maka ke empat orang tersebut dengan cepat menyerang Samudera dan Angkasa.
"Heei, Bocah Tengil!! Jangan ikut campur urusan kami" teriak seorang diantaranya.
Sedangkan pria yang terkena tinju Samudera mengerang kesakitan karena mengetahui giginya rontok hingga 3 buah dna darah mengalir deras dari mulutnya yang menyertai giginya yang terlepas.
"Dasaar, Bocah Kampreet.!!" maki pria itu sembari melemparkan 3 buah giginya yang patah dengan asal dan bermiat untuk membalas serangan dari Samudera
Sedangkan Didi dan juga Dino hanya bengong melihat dua bocah itu bertarung melawan ke empat orang tersebut.
Salah satu diantarannya meraih batang balok kayu yang terdapat tak jauh dari tempat Ia beeada dan mulai mengayunkan balok itu mengarahkannya pada Angkasa.
Dengan cepat Angkasa merundukkan kepalanya dan balok kayu itu menyambar pinggang dsri rekannya sendiri
Pria itu ambruk ditanah karena luka parah pada pinggangnya yang terkena hantaman dari balok kayu rekannya sendir. Ia muntah darah dan merasakan pinggangnya bagai remuk.
laku seorang pria yang memegang pisau sangkur itu menyerang perut Samudera dan dengan gerakan mencekungkan perutnya kebelakang, Samudera menghindari serangan lawannya lalu dengan cepat menangkap pergelangan tangan pria itu dan menekuknya, lalu Pria itu berteriak kesakitan karena pergelangan tangannya bagaikan dipuntir dan Samudera mengambil pisau sangkur itu lalu melemparkannya ke arah Didi dan dengan cepat Didi menangkapnya.
Kemudian Samudera melayangkan tendangannya ke arah perut pria berbadan kekar dan tinghi tersebut.
Buuuuugh..
Tendangan tepat diperut pria itu, dan akhirnya membuat pria tersebut terpental jauh.
Lalu seorang diataranya ikut untuk menyerang keduanya dengan membaabi buta.
Dengan cepat Samudera dan Angkasa meringkusnya dan melumouhkannya. Akhirnya ketiganya memilih kabur dan memasuki mobil dengan meninggalkan rekan mereka yang mengalami patah pinggang dan tergelatak di jalanan.
"Kang Didi, Gak kenapa-napa?" Tanya Angkasa sembari menghampiri Didi dan Dino.
Didi menggelengkan kepalanya dan goresan dilengannya cukup menganga dan banyak mengeluarkan darah.
Angkasa membuka dasinya, lalu mengoleskan salep yang selalu dibawahnya kemana-mana dan mengikatkan dasi tersebut ke luka Didi untuk menghentikan pendarahannya.
"Makadih, Ya, Dik.. Atas pertolongannya" ucap Didi tulus.
Angkasa hanya menganggukkan kepalanya. Lalu melihat Samudera yang tampak berusaha untuk menolong pria itu.
Sementara itu, Pria yang mengalami luka pada pinggangnya tak dapat menggerakkan tubuhnya dan diam sembari mengerang kesakitan.
Sesaat warga yang melintas mulai berkerumun dan melihat pria yang sedang sekarat tersebut.
"Ada apa ini, Di?" tanya seorang warga.
"Kami hampir dirampok saat pulang dari Bank untuk mengambil dana desa yang untuk pengecoran jalan di gang sebelah" ucap Didi menjelaskan.
"jadi itu salah satu rekan rampoknya?" tanya Warga yang penasaran.
Didi menganggukkan kepalanya "Ya.. Dan dua bocah itu sudah membantu menyelamatkan kita, sedangkan rampok yang terluka itu terkena hantaman balok kayu sesama rekannya saat hendak menyerang bocah itu!" jawab Didi menjelaskan.
Seketika warga menoleh ke arah Samudera dan juga Angkasa.
"Kita telfon ambulance saja untuk membawa ke puskesmas, dan biarkan polisi yang mengurus selannutnya" Salah seorang warga mengusulkan. Lalu mereka menghubungi Ambulance untuk membawa pria yang terluka parah tersebut.
Kemudian Samudera dan Angkasa berpamitan untuk pulang karena adzan Dzuhur sudah berkumandang.
Tak berselang lama Ambulance datang dan membawa pria itu masuk ke dalam ambulance untuk mendapatkan perawatan dan menghubungi polisi.
Setelah pria itu dibawah mobil ambulance, maka warga mulai membubarkan dirinya dan merasakan was-was karena perampokan mulai memasuki desa mereka.
Warga memuji keberanian Samudera dan Angkasa yang sudah membantu Didi dan Dino dari perampokan tersebut.
Jika warga lain belum tentu berani untuk melawan para perampok itu, sebab para perampok biasanya menggunakan senjata api dan bisa saja mekukai korbannya.
Ke dua bocah itu sudah sampai dirumah dengan pakaian acak-acakkan.
Samudera menuju dapur dan menuangkan air dari teko ke dalam gelas dan ingin meneguknya. Dengan cepat Angkasa menyambar gelas tersebut.
"Kak.. Kita puasa!!" Angkasa mencoba mengingatkan. Sanudera bengong mendengar ucapan adiknya. Ia sampai lupa jika saat ini sedang melakoni puasa mutih.
"Eh, Iya.. Kakak sampai lupa" jawab Samudera, lalu beranjak dari dapur.
"Ya sudah.. Ayo buruan mandi, shalat Dzuhur, jangan lupa selesai shalat baca ajiannya dan tiupkan melalui mulut ke telapak tangan dan sapukan ke seluruh tubuh" Angkasa mengingatkan.
Samudera menganggukkan kepalanya dan bergegas masuk ke dalam kamar untuk membersihakan diri.
Sementara itu, Didi dan Dino kembali ke rumah dengan membawa tas yang berisi uang tersebut.
Didi yang menjabat sebagai kepala Desa kini ditempatnya, kini mendapat amanah untuk membuat program kemajuan desanya. Dan salah satunya pembangunan infrastruktur agar memudahkan masyarakat untuk mengakses jalan dan memberikan dampak kemajuan bagi warga desanya yang telah memilihnya.
Sedangkan Dino diangkat menjadi pemborong proyek untuk berbagai pembangunan yang telah direncanakan.
Samudera dan Angkasa sudah selesai melaksanakan shalat Dzuhurnya dan mereka beranjak keluar dari kamarnya. Mereka tak menemukan Ayahnya, tampaknya tidak sedang berada di rumah.
Angkasa pergi ke teras dan duduk dikursi teras. Sedangkan Samudera melilih untuk ke taman belakang rumah.
Tanpa sengaja Ia melihat Ayahnya sedang berada ditaman belakang dan tampak sedang berbicara dengan sosok samar yang tak dapat ditangkap oleh pandangan kasar Samudera.
Ia merasa penasaran dan mencoba untuk mencuri dengar pembicaraan tersebut.
"Mereka masih mengurung Mirna, dan Mirna masih berusah menyembuhkan luka lebam dipunggungnya. Mereka memaksa pertukaran jiwa Samudera untuk pembebasan Mirna"ucap Sosok itu.
Samudera tercengang mendengarnya dan Ia membekap mulutnya, lalu menyelinap pergi dan masuk ke dalam kamar "Jadi Ibu disekap karena Aku?" guman Samudera lirih. Jantungnya berdebar kencang, Ia tak pernah merasakan ketakutan yang amat besar dalam hidupnya. Nafasnya memburu dan Ia tak pernah membayangkan hidupnya akan menjadi sebuah taruhan.