MIRNA

MIRNA
episode 132



Syafiyah terbangun dari tidurnya saat mencium aroma masakan yang dimasak oleh Mirna.


Ia melihat jika hari telah terang, dan itu Ia ketahui saat melihat sinar mentari dibalik tirai jendela yang telah disingkapkan oleh Satria.


"Haaah?! Sudah siang.. Aku terlambat bekerja" teriaknya saat melihat jam didinding menunjukkan pukul 7 pagi. Syafiyah menyingkap selimutnya dan ingin beranjak dari ranjang, namun saat digerakkan, kakinya terasa sangat sakit, dan Ia baru menyadari jika Ia malam tadi mengalami kecelakaan.


"Aaaawww..." ucapnya sembari meringis menahan sakit saat melihat pergelangan kakinya diperban.


Ia terhenyak, diam dan akhirnya berteriak dengan keras membuat Satria dan Mirna yang saat ini masih berada didapur saling pandang dan bergegas menghampiri Syafiyah didalam kamar.


"Ada apa, Sayang?" tanya Satria dengan setenang mungkin, lalu menghampiri Syafiyah yang terisak diranjangnya.


"Kenapa kakiku tidak dapat berjalan, Mas?" teriak Syafiyah dengan suara yang menghiba.


Satria membawa kepala Satria kedalam dekapannya. "Tenanglah.. Butuh waktu untuk memulihkannya" jawab Satria, mencoba menenangkan Syafiyah.


Mirna keluar dari kamar tersebut, menuju dapur dan mengambil sarapan yang baru saja selesai dimasak olehnya.


Ia membawa sarapan dan segelas air putih kedalam kamar Syafiyah sebab wanita itu harus meminum obatnya.


Saat Ia memasuki kamar, tampak Syafiyah masih merengek dan memaksa ingin bekerja, Ia tidak ingin kehilangan karirnya.


Mirna mengantarkan sarapan tersebut kepada Satria, agar suaminya itu menyuapkannya kepada sang Madu.


Satria menerimanya dan mulai menyuapkan sarapan itu kepada Syafiyah.


Namun tatapan mata Syafiyah begitu tajam memandang Mirna.


"Kau.. Kau memang pembawa sial dalam kehidupanku..! Lihat ini.. Lihat..?! Sejak Kau ada didalam hidupku, Aku terus mengalami nasib sial..!! Puas kamu sekarang melihat kehancuranku?!" teriak Syafiyah dengan sangat penuh kekesalan.


Seketika Satria menatap Syafiyah dengan sorot mata yang tajam, menusuk relung hati menghujam jantung.


"Mengapa musibah yang menimpa padamu Kau limpahkan kepada orang lain?!" ucap Satria, tenang namun penuh penekanan.


"Sebab dia pembawa sial dalam kehidupanku!" jawab Syafiyah sengit.


"Kesialan yang menimpamu itu bukan karena kesalahannya, namun semua karena kesalahanmu yang terlalu egois.." ucap Satria mencoba menahan emosinya.


"Kenapa sekarang Mas lebih membelanya? Mas lupa? Aku ini istri pertamamu, Mas" ucap Syafiyah yang mulai meninggikan suaranya.


Satria mencoba bersikap tenang, meski didalam hatinya bergejolak.


Seketika Aura ajian segoro geninya mendesak ingin keluar. Satria yang tidak ingin membuat Syafiyah celaka karena andai Ia meneruskan perdebatan itu, Ia bisa saja khilaf dan membuat Syafiyah sekarat ditangannya.


Satria beranjak keluar dari kamarnya, lalu diikuti oleh Mirna. Sementara itu Syafiyah masih mengomel dengan segala ocehannya yang membuat telinga serasa panas.


Mirna mendekap Satria dari arah belakang. Wanita itu mencoba memberikan sebuah ketenangan dihati Satria yang saat ini sedang bergejolak penuh amarah.


Ternyata efek samping dari ajian itu adalah Ia dapat terpancing emosi dan itu sangat berbahaya dan juga dapat berakibat fatal jika tidak mampu mengendalikannya.


Dekapan Mirna ternyata mampu memberikan efect dingin didalam relung hatinya yang kini begitu dipenuhi amarah dan kekesalan.


Ia memutar tubuhnya, menghadap pada wanita yang kini berusaha untuk menetralkan hawa panas yang merasuki aliran dadanya.


Andai saja Mirna tidak memiliki kekuatan tenaga dalam, mungkin Syafiyah tidak akan sanggup menghadapi amarah Satria. Sebab Satria yang tampak begitu dingin dan jarang bicara, dapat dengan tiba-tiba meledak dan tak terkendali.


Mirna mendaratkan kecupan lembutnya di bibir pria itu. Ia rela menjadi penyaluran amarah sang suami demi melindungi Syafiyah. Sebab Ia dan Syafiyah berbeda.


Mirna menarik tubuh pria itu ke kamarnya, mungkin amarah itu akan sirna dengan sebuah cumbuan.


Satria yang masih mencoba menguasai dirinya tak dapat menolak ketika sang istri mengetahui cara meredamkan darah panas sang suami.


Sementara itu, Syafiyah terisak dalam tangisnya sebab Satria meninggalkannya begitu saja. Ia terus mengomel dan meluapkan amarahnya.


Syafiyah belum dapat menerima jika sampai Ia harus cuti lagi. Ia tidak ingin kehilangan karirnya. Dari semenjak dahulu Ia menginginkan jika dirinya kelak sebagai wanita karir yang sukses, dan saat semuanya sudah berada dalam genggamannya, Ia harus berulang kali mengalami insiden kecelakaan yang harus membuatnya cuti bekerja, dan haruskah kali ini Ia cuti kembali?


Syafiyah belum dapat menerima kenyataan semua ini, dan Ia menyalahkan Mirna yang telah menjadi pembawa sial dalam kehidupannya.


Disisi lain, Mirna terus saja membuat sang suami tergila-gila. Berpapun yang diinginkan Satria Ia akan sanggup melayaninya. Hingga akhirnya pria itu benar-benar merasakan tumpahan amarahnya kini tersalurkan tanpa adanya sesuatu yang fatal.


Setelah Ia meresa lega dan suasana hatinya mulai kembali normal, Ia akhirnya merebahkan tubuhnya disisi sang istri.


"Makasih, Sayang.. Kamu selalu ada untukku" ucapnya dengan lirih dan penuh cinta.


Mirna tersenyum tipis, lalu mendekap tubuh kekar itu. Ia akan melakukan apapun agar semuanya baik-baik saja. Semua yang Ia lakukan karena Ia begitu mencintai sang pria pujaan, dan juga ingin menjaga Syafiyah dari Nini Maru yang ingin merebut janin dalam rahim Syafiyah sebagai sumber kekuatan dan penyempurnaan ilmunya.


Andai saja Syafiyah mengetahui jika suaminya memiliki kekuatan lain dan mudah terpancing emosinya, maka kemungkinan Ia akan lebih berhati-hati untuk menjaga setiap sikap dan ucapannya, namun andaipun juga tahu, belum tentu Ia mempercayainya.


"Mas akan kembali ke kota hingga nanti Syafiyah akan tiba melahirkan. Mas takut tidak dapat mengontrol emosi saat menghadapinnya, dan itu sangat berbahay untuknya. Mas takut akan khilaf menghadapi segala tingkahnya" ucap Satria dengan lirih.


Mirna terdiam mendengar ucapan sang suami. Ia tidak dapat memmberikan apapun solusi yang tepat.


"Jika marah, datangalah pada Mirna, Aku siap menanggung pelampiasan amarah kamu, Mas.. Namun jangan pergi.. Setidaknya Mbak Syafiyah membutuhkan Mas dalam kondisinya saat ini" jawab Mirna mencoba mengungkapkan isi hatinya.


Satria terdiam, mencoba mencerna segala apa yang dikatakan oleh Mirna.


"Apakah itu benar yang kamu katakan?" tanya Satria dengan lirih.


Amyra menatap kedua bola mata indah sang suami "Ya.. Lampiaskanlah sesukamu, Mas.." jawab Mirna dengan cepat.


Seketika Satria kembali mencumbu tubuh sang istri yang membuatnya terus merasa candu dan tak ada bosannya.


Keduanya tak lagi mendengarkan ocehan dan omelan Syafiyah yang bercampur dengan cercaan yang terus saja dilontarkannya dari arah kamar.


Kini kedua insan itu sibuk memacu dengan rintihan dan lenguhan yang bermandikan keringat. Entah sudah berapa lama dan juga entah berapa kali mereka mendapatkan puncak surgawi mereka.


Semua yang mereka lewati begitu indah, membuat sebuah mahlligai yang nyaman dan romansa.