
Ke esokan paginya, warga yang menjadi perwakilan dan juga ustaz tersebut membawa bukti bola mata dan juga rambut yang menysakan kulit berborok Yanti untuk membuat laporan tentang teror makhluk yang mengerikan tersebut.
Sesampainya di kantor polisi, mereka menejelaskan kronologi kejadian yang mereka saksikan malam tadi bersama warga lainnya.
Polisi mengerutkan keningnya karena merasa ini kasus yang aneh dan sangat membingungkan.
Saat polisi memeriksa barang bukti yang dibawa oleh warga tersebut, seketika aroma anyir dan amis menyeruak membuat perut terasa mual dan ingin muntah.
Bola mata itu tampak begitu sangat menjijikkan karena retinanya berwarna merah dan darah bercampur nanah yang membuat aroma itu sangat menjijikkan.
Pihak kepolisian kembali menutup plastik kresek tersebut dan membawanya ke laboratorium untuk melalkukan pemerikasaan dan nantinya akan dikirim ke pihak rumah sakit untuk dilakukan cek DNA.
Setelah membuat laporan tersebut, maka warga dan pak Ustaz kembali pulang. Mereka ingin melakukan permusyawarahan untuk melakukan ronda malam.
Para warga diingatkan agar tidak ada yang berbuat zinah untuk menghindari dan mengundang makhluk tersebut.
Sebab tampaknya makhluk itu mengincar warga yang suka berbuat kemaksiatan.
Kabar penampakan Yanti yang memasuki rumah salah satu warga yang sedang berbuat kemaksiatan itu, terdengar ke RT sebelah dan tentu saja pemuda yang juga melihat penampakan itu merasa ketakutan dan juga membenarkannya.
Maka kematian nek Salmi dikaitkan dengan sosok Yanti yang kini menjadi target untuk sosok paling dicari dan diwaspadai.
Bahkan berita itu terus berkembang dan kini sampai menyebar di media sosial dimana bola mata dan rambut yang tercabut itu divedeokan oleh warga dan diunggah ke media massa dan menjadi perbincangan yang sangat panas di dunia maya.
Sementara itu, Yanti masih mengeluhkan tubuhnya yang masih sangat panas. Ketiga iblis ditubuhnya terus mendesak meminta darah sebagai dahaganya.
Sedangkan tubuh kasar Yanti saat ini merasakan rasa panas yang luar biasa.
Lalat tampak datang berterbangan mencari sumber bau yang merupakan trmpat untuknya makan dan bertelur.
Aroma amis dan anyir membuat lalat berbondong-bondong mengerumuni Yanti yang kini sedang berada didahan pohon.
Ia mengibas-ngibaskannya, namun lalat itu tak mau jua pergi dan semakin banyak hingga menutupi sekujur tubuhnya.
Bahkan lalat itu bertelur disetiap celah lubang dari daging Yanti yang terkelupas dan lalat itu menggerogoti boroknyanya hingga membuat rasa gatal yang teramat sangat.
Bahkan rongga matanya yang berlubang kini dipenuhi oleh lalat berwarna hijau.
Dua tonjolan didadanya yang ditumbuhi borok gak luput dari serangan lalat tersebut.
Yanti sibuk menggaruknya, dan tanpa sadar Ia menanggalkan gaun miliknya untuk mengibaskan lalat-lalat tersebut agar menjauhinya, namun lalat itu semakin berdatangan dan mengerumuninya.
Hewan menjijikkan itu menggerogoti setiap borok dan menerobos ke segala celah ditubuhnya, bahkan dua tonjolannya tak luput dari serangan lalat tersebut.
Semakin Yanti menggaruknya, maka semakin menciptakan luka baru yang membuat darah akan keluar dan menambah lalat lainnya datang.
Yanti kebingungan dan tak sanggup lagi dengan rasa gatal bercampur panas yang yang mendera tubuhnya.
Kemanapun Yanti pergi berjalan, maka lalat-lalat itu tak ingin pergi darinya, dan terus melekat diarea tubuhnya yang tampak terus menjadikan borok dan nanah ditubuhnya sebagai sumber makanannya.
Kini jangankan para pria untuk menggarapnya, untuk melihatnya saja mungkin tidak akan berminat.
Ditempat lain, Mirna menjemput kedua puteranya dan terdengar suara para orang tua berbincang mengenai penampakan sosok malam tadi yang dilihat dikecamatan sebelah.
Mirna yang tanpa sengaja menguping pembicaraan itu tampak mengerutkan keningnya.
Ia memejamkan ke dua matanya, mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi malam tadi.
Saat Ia membuka matanya, Ia melihat jika yang dibicarakan oleh warga adalah sosok Yanti yang sangat menjijikkan.
Mirna merasa jika saat ini Yanti sangat menderita dan merasakan tubuhnya sangat panas dan juga gatal yang luar biasa.
Mirna melihat jika hawa kegelapan sedang menaunginya dan membuatnya harus menanggung segala kesakitan yang dibuatnya sendiri.
Ke dua puteranya sudah pulang dan berlari menghampirinya, lalu Mirna menyambutnya.
"Bu.. Tadi Angkasa dan Kak Samudera dapat nilai seratus.." ucap Angkasa dengan semangat.
"Oh, Ya.. Anak pintar" jawab Mirna, lalu membelai lembut ujung kepala kedua puteranya. "Ayo kita pulang" ajak Mirna kepada kedua puteranya.
Namun saat mereka akan keluar dari oagar, para ibu-ibu menghadang Angkasa untuk dimintai penerawangan tentang sosok mengerikan yang sedang dibicarakan oleh para warga dan beritanya sedang menyebar luas.
"Angkasa, tunggu, ada yang mau kami tanyakan" jawab ibu-ibu wali murid yang menyerbu Angkasa.
Mirna melihat hal ini sangat menganggu puteranya, dan Ia tidak ingin Angkasa menjadi sarana hal-hal yang belum sewajarnya.
"Maaf, Ibu-ibu... Angkasanya lelah baru pulang sekolah, Ia ingin pulang dan segera shalat Dzuhur" elak Mirna kepada para warga karena ini tidak etis juga jika sampai Angkasa keceplosan mengatakan jika sosok itu adalah Yanti. Tentu saja nantinya Pak Badu yang baru saja pulang dari pengasingan akan diamuk warga dan diasingkan kembali, atau bisa jadi nantinya Angkasa yang berbalik dituduh pencemaran nama baik.
"Tapi,Mir.. Sebentar saja" pinta para ibu-ibu tersebut.
"Bukankah polisi sudah memiliki barang buktinya, biarkan saja pihak kepolisian yang memberikan penjelasannya" jawab Mirna.
Mirna langsung membawa Angkasa dan juga Samudera menjauh dsri kerumunan ibu-ibu tersebut, dan membawanya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Mirna menyiapkan makan siang ke dua puteranya, dan meminta keduanya untuk menyalin pakaian dan makan siang.
Setelah shalat Dzuhur, Mirna memiinta keduanya untuk tidur siang sejenak dan tidak berkeliaran, sebab Mirna takut jika nantinya warga ada yang menghadang mereka dan bertanya disaat bocah itu tak berada dalam pengawasannya.
Keduanya mematuhi apapun yang diperintahkan oleh Mirna, dan mereka tidur siang sesuai jadwal yang diberikan oleh Ibunya.
Mirna menghampiri Satria yang masih sibuk dengan pekerjaannya "Mas.. Tampaknya Yanti semakin menderita, apakah tidak sebaiknya kita mebebaskannya dari ketiga Iblis tersebut?" ucap Mirna yang duduk disisi meja kerja Satria.
Sesaat Satria terdiam sesaat "Jika ketiga iblis itu terbebas dari tubuh Yanti, maka mereka akan mencari tubuh lain yang akan dijadikan tempat mereka bersemayam, itu artinya akan ada lagi manusia yang tersesat yang iblis itu ciptakan" ucap Satria menjelaskan.
"Sedangkan tubuh kasar Yanti sebenarnya sudah tak layak lagi untuk hidup, namun karena 3 iblis itu Ia terus bertahan dengan kondisi mengenaskan. Itu jalannya, dan pilihannya, maka Ia yang harus menjalaninya sampai akhir" Satria menimpali ucapannya, dan membuat Mirna terdiam. Meskipun Ia tidak tega melihat tubuh kasar Yanti, namun sungguh berbahaya jika sampai ketiga iblis itu mencati tempat baru untuk bersemayam, apalagi raga yang tak berdosa.