MIRNA

MIRNA
Pindah-2



Pagi ini Mala sudah mengemasi barang-barangnya yang akan dipindahkan. Tak lupa Ia mengangkut toples warna ungu yang menjadi hadiah dari Bayu, hanya sedikit barang saja yang dibawanya, sebab Bayu sudah mengisi semua prabotan rumah tangganya.


Bayu sudwh mengajak Mala pindah kerumah lamanya yang merupakan rumah milik Almarhum pamannya Reza. Namun Mala menolak dengan alasan yang tak ingin dijelaskannya.


Lagipula rumah itu masih ditempati oleh Dangang tukang kebun Bayu beserta Rumi dan Nia yang kini sudah dinikahi Danang.


Setelah mengemasi barang-barangnya. Kini Mala berpamitan kepada Satria dan juga Syafiyah. Ia berjanji akan mengunjungi keduanya setiap Sabtu dan Minggu.


Mala sudah membuat sarapan dan juga untuk makan siang Satria, serta membereskan rumah sebelum Ia pindah.


Satria merasa berat, sebab tidak ada teman curhat atau teman bercerita saat Ia merasa kesepian ataupun sedang galau.


Namun apalah dayanya, Ia hanya bisa mendoakan kebahagiaan Ibunya.


Mala sudah bersiap diatas mobil, jarak rumah Mala yang baru dengan Satria sekitar satu jam perjalanan, namun semua terasa begitu jauh saat sudah tak bersama.


"Semoga berkah ruamh barunya ya, Bu" ucap Satria, semabri menyalim Mala dari luar pintu mobil.


"Makasih , Sayang.. Ibu janji akan rajin menjengukmu" ucap Mala yang juga merasa berat meninggalkan puteranya.


"Maaf, Satria tak bisa mengantar Ibu Pindahan, sebab tidak ada teman Syafiyah dirumah" ucap Satria dengan lirih.


Mala hanya menanggapinya dengan senyuman. Lalu meraih ujung kepala puteranya, dwn mengecupnya dengan lembut.


"Ibu berangkat, dulu Ya?" ucap Mala dengan matanya yang berkaca-kaca. Berat rasanya meninggalkan puteranya seorang diri, namun ini adalah pilihan hidupnya.


"Saya berangkat, Satria" ucap Bayu, sembari mengulurkan tangannya kepada anak sambungnya itu.


Satria meraihnya, lalu menjabat tangan pria itu, setidaknya Ia bahagia melihat kehidupan Ibunya yang penuh dengan romansa. Ia tidak ingin Ibunya merasakan apa yang dirasakannya dalam kehidupan rumah tangganya.


Monilpun bergerak, dan meninggalkan perkarangan rumah. Lalu kini tinggal Satria yang menatap kepergian Ibunya, hingga mobil itu menghilang ditikungan jalan.


Lalu Satria menemui Bu Ratna sahabat karib Ibunya yang rumahnya tak jauh dari rumah Satria.


"Assallammualaikum... Bu Ratna.." ucap Satria dengan lembut.


"Waalaikum salam.." jawab suara seorang wanita paruh baya yang tampak keluar dari arah dapur.


"Eh.. Nak Satria.. Ada apa, Nak?" tanya Bu Ratna ramah.


"Begini, Bu. Kan Ibu saya pindah rumah baru, jadi Saya tidak ada yang bantuin beresin rumah. Bisa Ibu tolong carikan orang yang mau mengemas rumah. Ya dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore saja" pinta Satria dengan sopan.


Bu Ratna terdiam sejenak. Mencoba berfikir siapa kira-kira di desa ini yang membutuhkan Pekerjaan.


"Sepertinya si Lisa lagi butuh pekerjaan. Sebab suaminya merantau sudah 3 bulan tidak mengirimkan uang, karena suaminya sakit diperantauan. Nanti coba Ibu tanyakan sama Nak Lisa nya ya" ucap Mbak Ratna.


"Oh, iya kalau begitu, Bu.. Ini ada uang minyak bensinnya, Bu" ucap Satria sembari menyodorkan uang selembar pecahan 50 ribu.


"Eh.. Gak usah, Nak.. Ibu ikhlas koq.." tolak Bu Ratna dengan sopan.


"Tidak apa-apa, Bu.. Mana tau Mbak Lisanya tidak bisa entah saja Ibu ada yang lain lagi yang mau bekerja dirumah Saya, jadi Ibu gak perlu bingung kehabisan bensin dijalankan repot, Bu" ucap Satria dengan nada berkelakar.


Sesaat Buk Ratna tertawa mendengar ucapan Satria "Nak Satria bisa saja. Ya sudah.. terimakasih, Ya. Tetapi Ibu tidak ada minta, Ya.. Ini Ibu tulus nolongin kamu" uvap Bu Ratna, karena memang Ia sungguh tulus membantu Satria, sebab Ia juga tahu jika istri Satria dalam kondisi lumpuh.


"Terimakasih ya, Bu" ucap Satria. Lalu berpamitan pulang kerumah dengan berjalan kaki, karena rumah mereka yang cukup dekat.


Satria sudah sampai dirumah, Ia memasuki kamarnya, melihat Syafiyah yang sedang gelisah.


"Kenapa ,Sayang?" tanya Satria dengan lembut.


Satria mencium aroma tak sedap, Ia mengenduskan indra penciumannya, dan Ia menyadari njka Syafiyah sudah buang air besar.


Satria mencoba memeriksa pampers milik Syafiyah, dan benar saja, Syafiyah sudah buang besar dipampers. Mungkin karena tadi Satria kelamaan meninggalkannya.


Satria merekatkan kembali perekat pampers tersebut, lalu menggending Syafiyah kekamar mandi dan membersihkan istrinya dari najis tersebut.


Sementara itu, Bu Ratna yang mendapat amanah dari Satria bergegas pergi ke toko sembako pak Joko yang kini dikelola oleh Budi anaknya, yang sekaligus menggantinkan menjadi ketua RT didesa itu.


Buk Ratna tau jika masih pagi begini banyak Ibu-ibu yang akan berbelanja disana.


Bu Ranta menaiki sepeda motornya, dan menuju toko sembako serba ada ditempat Pak Joko.


Sesampainya disana, Ia mekihat banyak Ibu-ibu yang sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari dan memilih lauk pauk untuk menu mereka.


Sesampainya ditoko tersebut. Bu Ratna menyapa Ibu-ibu tersebut, lalu menghampiri para kerumunan Ibu-ibu yang sedang memilih ikan dan daging ayam yang terdapat didalam boks berwarna orange yang dijadikan tempat untuk menyimpan ikan dan daging dengan potongan balok es.


"Eh.. Mbak Lisa, kebetulan ketemu disini. Saya mau nawarin pekerjaan buat mbak Lisa, mana tahu saja cocok" ucap Bu Ratna yang membuat Ibu-ibu sedang memilih ikan dan sebagianya berhenti sejenak karena merasa penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Bu Ratna.


"Kerjaan apa, Bu?" tanya Lisa antusias. Sebab Ia juga membutuhkan pekerjaan saat ini.


"Mengemas rumah, dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Gajinya lumayanlah, sekitar 2.5 jutaan sebulan" ucap Buk Ratna menjelaskan.


Seketika Lisa terperangah. Gaji segitu untuk didesanya tentulah lumayan besar. "Dirumah siapa, Bu?" tanya Lisa bersemangat.


"Dirumahnya Mala.." ucap Bu Ratna dengan dengan serius.


Seketika para ibu-ibu saling pandang dan menatap penuh misteri.


"Apa gak beresiko bekerja dirumah itu, Bu..? Sebab Mala kan keturunan Mbah Karso, tentu sisa-sisa perdukunan mereka masih ada" ucap Bu Dewi sinis. Sebab dari dahulu Bu Dewi adalah orang yang paling kepo terhadap Mala.


"Husss.. Jangan fitnah sembarangan. Ini buakn Mala yang butuh, sebab Mala dibawa suami barunya pindah rumah ke kecamatan sebelah." ucap Bu Ratna tak suka mereka menghibah sahabatnya, hal itu membuat Ibu-ibu itu terdiam sejenak.


"Lalu untuk siapa Bu?" tanya Lisa penasaran.


"Untuk anaknya yang korban pujon waktu itu, Ia kerepotan membersihkan rumah, dan juga merawat istrinya." jawab Mbak Ratna.


"Waah.. Anaknya yang tampan itu, Ya Bu.. Waduh.. Bisa oleng si Lisa kalau kerja disitu" ledek Riri yang masih baru saja menikah.


Haahhaahaha...


Seketika terdengar suara riuh Ibu-ibu tertawa menanggapi ocehan Riri.


"Iya.. Man yang satu istrinya lumpuh, yang satu kesepian sudah 3 bulan sawahnya tidak dicangkul" Juli menimpali.


Sesaat suasana menjadi riuh karena obrolan yang sudah melenceng.


"Sudah-sudah.. Saya serius nawarin kerja, koq malah pembahasannya sampai kemana-mana" ucap Bu Ratna kesal.


"Ya sudah, Bu.. Saya terima pekerjaannya. Saya jiga butuh pekerjaan ini" jawab Mbak Lisa yang memang sangat membutuhkan pekerjaan ifu, sebab hutangnya di toko pak Joko sudah menumpuk.


"Awas kena cangkul sawahnya, Lis" ledek Juli sekali lagi, sehingga suara gelak tawa itu kembali riuh terdengar.


"Pada syirik mah, Ibu-ibu. Ya kan sekalian cuci mata liat yang seger-seger" jawab Mbak Lisa dengan santainya menaggapi ledekan Juli.


Lalu mereka kembali tertawa riuh.


Bu Ratna hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan para ibu-ibu tersebut.