MIRNA

MIRNA
Pindah



"Sayang.. Sebelumnya Ibu ingin mengatakan sesuatu, namun takut jika nantinya akan marah atau tersinggung" ungkap Mala pada suatu malam.


"Emangnya Ibu Ibu mau mengatakan apa? Katakan saja, jangan sungkan" jawab Satria dengan tenang.


Mala terdiam sejenak. Mencoba mebgjmpulkna keberaniannya dan juga rasa tak enak hatinya kepada Puteranya itu.


"Emmm.. Pak Bayu mengajak Ibu pindah rumah ke rumah barunya" ungkap Mala dengan sangat hati-hati.


Sesaat Satria terdiam, suasana menjadi hening. Apa yang dikatakan oleh Ibunya tentulah hal yang sangat berat baginya.


Namun untuk mencegah ibunya, Ia tak memiliki hak, sebab Ibunya kini adalah tanggung jawab suami barunya.


Satria merasa sangat dilema. Ia tahu jika Pak Bayu sang ayah sambungnya merasa sungkan tinggal satu atap dengannya. Karena Ia melihat Pak Bayu merupakan type peia romantis yang selalu melakukan adegan mesra yang terkadang kepergok satria secara tak sengaja.


Satria merasa hal tersebut yang menjadi batu sandungan bagi ayah sambungnya, karena merasa ingin bebas bermesraan dengan Ibunya.


Satria menarik nafasnya dengan dalam. Ia begitu sangat berat, namun juga harus memberikan keputusan.


"Tak mengapa, Bu.. Tetapi rajinlah berkunjung menjenguk Satria" pinta pria muda itu dengan hati yang nelangsa. Sebab Ia akan merasa kesepian karena tidak ada lagi suara lembut ibunya yang memanggilnya.


Mala memeluk puternya " Tentu, Sayang.. Ibu akan berkunjung untuk menemuimu" jawab Mala. Lalu melepaskan pelukannya.


"Oh, Ya.. Untuk sementara waktu, mungkin Mirna bisa membantumu membersihkan rumah, dan merawat Syafiyah. Ibu lihat Ia sangat rajin anakanya" ucap Mala menyarankan.


Seketika Satria membolakan matanya, lalu menatap pada Ibunya "A..apa..? Mirna?" tanya Satria mengulangi ucapan ibunya.


Selama ini Ia berusaha menghindari gadis itu, namun Ibunya malah ingin membawa gadis itu masuk kerumahnya.


"Tidak..tidak.. Satria tidak mau, nanti biar Satria cari sendiri siapa yang akan membantu membersihkan rumah" tolak Satria atas saran Ibunya.


Mala melihat wajah puteranya yang penuh kekkhawatiran.


"Dia bukan menginap dirumah ini, namun Ia hanya bekerja dari pagi hingga sore saja. Lagipula kamu juga membwrinya uang santunan setiap bulan, apa juga salah jika Ia membalas budi baikmu" ucap Mala mencoba menjelaskan.


Satria menggelengkan kepalanya. Ia bergidik membayangkan jika sampai Mirna bekerja dirumahnya. Bukannya mengapa, Satria pria normal, melihat kecantikan dan kemolekan tubuh gadis itu tentulah sangat menantang imannya.


Apalagi Mirna tampak begitu kentara menginginkan dirinya, Ia bisa pusing kepala atas dan kepala bawah dibuat gadis itu.


"Ya, sudah nika Kamu tidak mau, tetapi jika Kamu tidak menemukan orang lain, maka panggil saja Dia, karena Dia juga sabar merawat Syafiyah" ungkap Mala berusaha menghormati keputusan peteranya.


Satria menoleh kearah Ibunya "Maksud Ibu sabar merawat Syafiyah apa?" tanya Satria penasaran.


"Waktu itu tanpa sengaja Ibu melihat dia menyuapin makan untuk Syafiyah, sepertinya Ia gadis yang baik, itu hanya firasat Ibu" ucap Mala.


Satria terdiam sejenak, namun keputusan untuk membawa Mirna kerumahnya adalah masakah besar baginya, Ia tidak mungkin sanggup menahan gejolak kepala bagian bawahnya, apalagi sudah sangat lama Ia tak mendapatkan nafkah bathinnya.


"Tidak, Bu.. Keputusan Satria sudah bulat, Satria akan cari saja nanti siapa yang mau bekerja dirumah ini paruh waktu" ucap Satria menolak.


Satria menganggukkan kepalanya dengan lemah dan berat lalu Mala masuk kedalam kamarnya dan meninggalkan Satria dalam dilema.


Satria berjalan memasuki kamarnya. Ia memandang Syafiyah yang masih terjaga. Nalurinya sebagai seorang pria begitu sangat kuat.


Ia menginginkan sesuatu yang selama ini selalu didambakan pasangan muda, yaitu keturunan dan juga keromantisan.


Ia menghampiri istrinya, beranjak naik keranjang, menyentuh lembut wanitanya hanya diam berpasarah tanpa perlawanan apapun, sebab Ia tak mampu menggerakkan pinggangnya.


Hanya tangannya saja yang dapat digerakkan, merespon setiap sentuhan suaminya. wanita itu melihat jika suaminya terlalu menginginkan hal itu, namun apa dayanya, Ia tak mampu memberikannya.


Ia menyesali jika sewaktu semasa sehatnya dahulu selalu mengabaikan suaminya, sebab Ia merasa sangat malas karena lelah bekerja.


Sentuhan deni sentuhan yang diberikan oleh Suaminya tentulah membakar hasratnya, namun Ia tak bisa melakukan penyatuan tubuh, sebab pinggangnya akan terasa sangat ngilu dan juga sakit jika mendapatkan hentakan demi hentakan meskipun itu sangat lembut.


Jika sudah seperti itu, maka Satria akan melakukan pelepasan sendiri dengan caranya sendiri, dan Ia tahu suaminya pastilah kecewa, namun apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur.


Satria sudah mencapai pelepasannya dengan cara yang selalu memprihatinkan, dan itu sungguh miris.


Selama ini Satria berusaha mencari rekomendasi dari rumah sakit terkenal didunia untuk mengobati kesembuhan istrinya, namun semua sia-sia. Ia merasa jika kesembuhan Sayafiyah sangatlah tipis sekali, sebab ada tulang yang patah dibagian tulang belakangnya.


Sementara itu, Bayu mengahmpiri Mala yang tampak sedikit dilema akan kepindahannya.


"Kenapa, Sayang.. Kamu koq murung gitu sih?" tanya Bayu dengan lembut. Ia tak mampu melihat wajah sedih wanitanya.


"Sayang.. Kita sudah sama-sama menikah, dan memiliki urusan yang berbeda dan juga keperluan yang berbeda masing-masing kehidupan rumah tangga" ucap Bayu mencoba memberi pengertian kepada Istrinya.


Ia tahu jika Mala sangat menyayangi puternya, namun bagaimanapun Mala kini miliknya dan merupakan hak serta tanggungjawabnya.


Bayu berhak penuh atas kehidupan Mala, dan semua hal yang bersangkutan dengan Mala.


Bayu juga ingin merasa bebas dengan kehidupan rumah tangganya, bebas bermesraan diruangan manapun yang Ia inginkan jika itu rumahnya nanti.


Sebab Ia tak mampu menahan hasratnya saat berduaan dengan istrinya, bawaannya selalu ingin dan ingin memadu kasih bersama sang istri.


Dan alasan kepindahannya ialah, Ia ingin menunjukkan sesuatu yang selama ini dirahasiakan olehnya tentang hubungannya dengan Roni almarhum suami Mala yang selama ini Ai rahasiakan.


Jika mereka tinggal dirumah mereka yang baru, maka Bayu akan merasa dekat dengan tempat kenangan dimana Ia dan Roni selalu bertemu dan menjalin sebuah persahabatn yang tak biasa.


Ia masih mengingat, jika saat pertama Bayu mengenal Roni yang saat itu mengalami skizoprenia dan merupakan satu-satunya seorang teman yang tulus menemaninya, meski terkadang ada obrolan yang tidak nyambung, namun Bayu merasa nyaman berteman dengan Roni.


Hingga suatu saat Bayu mengetahui jika Roni adalah suami dari wanita yang selama ini membuatnya tergila-gila.


Meskipun mengetahui Roni mengalami skizoprenia, bukan berarti Bayu mengambil keuntungan dan ingin merebut Mala dari Roni yang tak berdaya.


Hingga akhirnya Roni mengalami kecelakaan yang mengakibatnya tewas dalam insiden tersebut, dan hal itu yang membuat pernikahan tak terduga antara Mala dan juga Bayu.