
Hari berganti. Mbok Titin semakin tampak berubah. Perubahan itu dimulai dari tubuhnya yang gempal menjadi kurus dan kulit tubuhnya yang awal cerah kini kian menghitam dan gelap.
Aura wajahnya kian tampak suram dan seram. Namun, meskipun begitu kantinnya tetap saja ramai dan para siswa lebih senang berbelanja ditempatnya.
Hingga pada akhirnya, seorang bocah berusia 5 tahun yang merupakan anak salah seorang guru yang ketepatan ikut datang ke sekolah karena ibu guru tersebut ingin ijin tidak hadir sebab ada urusan penting dan meminta dibelikan minuman milk shake dikantin itu dan ketika saat menunggu pesanannya Ia menangis histeris sembari menunjuk ke arah cup milk shakenya yang diludahi makhluk menyeramkan berupa pocong tersebut.
"Bunda.. Bunda.. Ada pocong" ucapnya dengan jelas dan membuat para siswa yang sedang berbelanja dikantin tersebut tiba-tiba bergidik ketakutan dan ngacir dari kantin itu.
Seketika kehebohan itu membuat perhatian bagi para staf sekolah dan jajarannya.
Mereka mencoba menanyakan kepada bocah itu tentang apa yang dilihatnya. Lalu bocah 5 tahun mengatakan apa yang dilihatnya barusan dan membuat orang-orang bergidik ketakutan.
Namun Mbok Titin menepis apa yang dikatakan oleh bocah itu dan ucapan seorang bocah tidak dapat dipercaya begitu saja.
Setelah peristiwa itu, pelanggan kembali ramai seperti biasanya dan melupakan apa yang dikatakan oleh bocah itu dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Samudera dan juga Angkasa berniat untuk mengungkap apa yang terjadi dengan Mbok Titin dan menyadarkan wanita itu jika apa yang dilakukannya adalah salah.
Mbok Titin menghitung uang hasil dagangnya hari ini. Meskipun terjadi insiden yang hampir membongkar rahasianya, namun hasil dagangannya tetap habis terjual. Ia memasukkan uang tersebut ke dalam dompetnyanya yang hampir rusak resletingnya karena tidak sanggup menampung uang jasil dagangannya.
Ia melirik kamar rahasia tersebut. Ia masih bingung mengapa kamar itu bisa rusak. Sebab hanya Ia yang tau jika puterinya dikurung disitu.
Jiak ada orang lain yang mengetahuinya, maka orang tersebut otomatis mengetahui apa yang sedang dilakukannya dan pasti berniat akan membongkarnya ke publik, tetapi siapa? Tampak Mbok Titin mulai waspada dan berhati-hati.
Ia memakai jaketnya dan beranjak akan keluar dari kantin, lalu bergegas menuju motornya dan kembali pulang ke rumah.
Angkasa dan Samudera menghampiri kantin tersebut, lalu mengambil kertas sticker yang sudah dipesan mereka dan menempelkannya dipintu masuk kantin dan beberapa dinding kantin lalu bergegas pulang.
****
Ke esokan paginya. Mbok Titin kembali ke kantin dan bersiap menggelar dagangannya. dua pelayannya membantu mempersiapkan barang dagangan sehingga tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi pada kantinnya.
Siswa yang ingin bersarapan mulai berdatangan dan ini adalah jam yang sibuk bagi Mbok Titin dan kedua pelayannya untuk melayani para siswa yang akan memesan sarapan. Ada mie goreng dan nasi goreng yang sudah dimasaknya dari rumah dan tinggal di masukkan ke wadah jika ada siswa yang memesannya.
Setiap siswa yang ingin masuk ke dalam kantin akan membaca tulisan di yang tertempel dipintu masuk, dan begitu juga setiap mereka akan menyantabnya akan membaca doa sebelum makan yang tertulis disticker dan ditempelkan dibeberapa dinding dan mengingatkan mereka untuk membacanya.
Sesuatu terjadi saat mereka menyantabnya. Mereka merasa mual dan merasakan ingin muntah saat makanan itu menyentuh lidah mereka dna yang sudah masuk ke dalam tenggorokannya akan berusaha memuntahkannya.
Namun berbeda bagi mereka yang tidak membaca doa sebelum makan akan merasa biasa saja dan menyantabnya dengan lahab.
Melihat banyak siswa yang meninggalkan pesanannya dan membayarnya begitu saja membuat Mbok Titin merasa bingung.
"Apa yang terjadi Mbok? Kenapa para siswa meninggalkan pesanannya dan tidak memakannya. Biasanya mereka selalu menghabiskannya tanpa sisa" ucap seorang pelayan berusia 25 tahun tersebut.
Mbok Titin menggelengkan kepalanya, sebab Ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mbok Titin memnita pelayannya untuk mengumpulkan sisa makanan yang hanya baru satu sendok saja mereka sentuh dan mereka tinggalkan begitu saja.
Setelah dikumpulkan, sisa makanan itu dikumpulkan dan disatukan kembali kedalam wadah lain dan akan dijual kembali.
Beberapa sisiwa yang tidak membaca doa sebelum makan merasakan makanan itu begitu sangat lezat dan menghabiskannya sedangkan mereka yang berdoa sebelum makan, merasakan masakan itu berbau busuk dan rasanya tidak sangay enak dan membuat mereka merasa mual dan ingin muntah.
Seorang pelayan melihat ada beberapa sticker tertempel didinding yang bertuliskan doa sebelum makan. Namun karena itu hal yang baik, Ia menganggap jika itu adalah perbuatan majikannya yang menempelkannya ditempat itu, sehingga Ia menganggapnya biasa saja.
Samudera dan Angkasa yang berada dikantin sebelah merasa jika misi mereka mulai berhasil. Kini Mbok Titin merasakan jika ada seseorang yang memang ingin membongkar kedoknya, namun Ia belum menyadari jika ada sesuatu yang berbeda dari kantinnya.
Rumor tentang aroma bau dan rasa hang menjijikkan pada masakan dikantin Mbok Titin mulai merebak ke seluruh siswa. Mereka ada yang merasa penasaran dan ingin mencobanya dengan membuktikan apa yang dikatakan oleh para teman-temannya dan mereka mencobanya dengan cara memasan dua pesanan sekaligus, lalu membaca doa sebelum makan pada pesanan pertama dan tidak membaca doa pada pesanan ke dua.
San benar saja, rasanya jauh berbeda dan mereka membuktikan apa yang diucapkan teman-teman mereka benar adanya.
Lalu rumor tentang Mbok Titin menggunakan pesugihan kembali menjadi perbincangan dan rasa was-was mulai muncul dihati para siswa untuk membeli makanan tersebut.
Hari berganti.. Mbok Titin semakin kurus dan kulitnya semakin menghitam. Tak ada tubuhnya yang gempal seperti dahulu.
Kini Ia tampak muram dan dan pandangannya nanar. Kantinnya mulai sedikit sepi dan saat akan menutup kantin, Ia baru menyadari jika dibeberapa dinding kantinnya ada tertulis sticker doa sebelum makan.
Seketika Mbok Titin membolakan matanya.
"Siaalaaan!! Ternyata ini yang membuat kantinku sepi?! Ulah siapa ini sebenarnya?" Guman Mbok Titin dengan kesal bin geram.
Sesaat dua bocah itu muncul dihadapannya "Ulah Kami, Mbok! Maaf sudah lancang ikut campur urusan Mbok.. Tetapi apa yang Mbok lakukan itu salah apalagi sampai menggadaikan jiwa untuk demi sebuah kekayaan" ucap Samudera mencoba mengingatkan.
Seketika Mbok Titin membolakan matanya dan menatap marah Pada keduanya.
"Heei.. Bocah tengil..!!" tahu apa kamu mau nasehatin saya?! Ini urusan saya, dan jangan okut campur!" sergah Mbok Titin dengan penuh amarah yang meledak-ledak.
Kedua bocah itu saling pandang dan menatap iba pada Mbok Titin yang mana kini dalam perangkap iblis dan rakus akan hal duniawi.
Dengan perasaan geram, Mbok Titin mencabut semua sticker yang tertempel didinding kantinnya, lalu melemparkannya kepada ke dua bocah itu.