
Badu yang merupakan Ayah Yanti, berusaha berjaga malam ini Ia tidak ingin jika janin yang dikandung istrinya harus hilang diambil pemilik pesugihan.
Sementara itu, Yanti berjalan menyusuri jalanan untuk menuju kearah tempat dimana Ia mencium aroma janin yang sangat segar, harum dan juga pastinya sangat manis
Sebuah rumah yang sangat ramai tetangganya. Tampak beberapa pemuda sedang berjaga-jaga dan seprtinya perihal tentang kelahiran istri Bejo waktu itu telah membuat warga semakin waspada akan adanya teror tentang pemangsa janin yang akan dijadikan tumbal pesugihan.
Bahkan saat Pak Budi kembali ke warungnya, lalu bercerita kepada para warga yang sedang berbelanja ditoko sembako Pak joko, Ayahnya, tentang Pak Badu yang baru saja di satroni makhkuk tak kasat mata yang mengincar janin istrinya, menambah rumor jika desa ini sudah tidak aman lagi dengan sosok pemangsa janin.
Yanti merasa ragu untuk memasuki rumah yang sepertinya tampak ramai dijaga oleh warga. Didalam rumah itu ada seirang wanita yang sedang berjuang akan melahirkan, yaitu Rina sahabatnya yang baru saja menikah beberapa bulan yang lalu karena kecelakaan malam disemak-semak.
Yanti begitu berharap untuk mendapatkan janin itu, namun nayalinya ciut dan mencoba berfikir kembali untuk mengambilnya.
Sesaat otaknya merasa pusing, sebab Ia harus mendapatkan janin malam ini. Dalam situasi kacau, Yanti mencoba kembali kerumahnay. Ayahnya, Badu hanya berjaga seorang diri, dan ini memiliki kesempatan lebih banyak untuk mendapatkan peluang yang sangat besar.
Yanti kembali kerumahnya. Ia tahu jalan masuk yang tepat, yaitu jendela kamarnya. Yanti berusaha menyungkitnya dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara mencurigakan.
Sedangkan Badu Ayahnya masih berjaga didepan pintu kamar sembari menonton televisi.
Suasana sangat sepi dan sudah larut malam. Semakin lama Badu tak mampu menahan easa kantuknya, semilir kipas angin membuatnya merasakan matanya semakin berat dan sulit untuk diajak kompromi.
Badu berusaha untuk menjaga matanya agar tetap terjaga. Ia tidak ingin kecolongan dengan kehilangan janin istrinya.
Badu beranjak dari pintu kamar dan menuju dapur. Ia berniat untuk menyeduh kopi hitam sebagai pengganjal matanya yang mengantuk.
Dan saat itu menjadi kesempatan Yanti untuk menemui ibunya didalam kamar.
Ia bergegas menuju kamar dan melihat daster ibunya sedang tersingkap.
Badu masih memasak air, Ia menghidupkan kompor dan menunggu air itu masak.
Lalu Yanti dengan cepat menghampiri sang Ibu yang sudah tertidur lelap, dan...
Kreeeeekkk...ssssrrtthh..
Yanti menarik paksa janin dalam rahim ibunya yang masih tertidur pulas.
Badu menyeduh kopinya, dan membawanya keruang tempat Ia berjaga.
Lalu..
Aaaaarrrggghhh...
Suara pekik kesakitan terdengar dari dalam kamar, Badu masih memegang gelas kopi panasnya, dan saat sampai didepan pintu, Ia mlihat istrinya telah berlumuran darah dan tampak sosok janin melayang diudara.
Sosok itu yang memegang janin milik istrinya itu sedang menuju jendela, dan Badu yang sedang memegang gelas kopi itu dengan refleks menyiramkannya dengan asal.
Dan..
Aaaaaargh..
Suara teriakan kesakitan dari seorang wanita, dan tanpa sengaja siraman kopi itu melehkan sedikit lumuran darah diwajah si pelaku pencuri janin, dan tampak samar dari sisi kanan wajah pelaku tersebut tertangkap mata Badu.
Namun sosok itu melompat dengan cepat melalui jendela dan berlari membawa janin milik istrinya yang kini meronta kesakitan dan terjadi pendarahan.
Badu berteriak meminta tolong untuk memanggil ambulance agar istrinya mendapatkan pertolongan.
Suasana kembali heboh dan warga berkumpul lalu memanggil bidan terdekat sebelum dibawa ke puskesmas.
"Yanti..? Apakah itu Yanti anakku? Ataukah aku hanya salah melihat saja?" Badu berguman dalam hatinya.
Ia tak dapat belum memastikan apa yang sedang Ia alami. Ia begitu amat takut.
"Bagaimana jika itu benar Yanti?" Badu semakin gemetar, dan segala pertanyaan dari warga tak mampu Ia jawab.
Lalu bidan memberikan pertolongan kepada Ibu Yanti yang sedang mengalami pendarahan pasca keguguran mendadak dan menunggu ambulance datang.
Sementara itu, Yanti berlari dan secepatnya menyusuri semak untuk menghindari jikalau ada yang mengejarnya.
Saat akan mencapai warungnya, sebuah kelebatan bayangan sosok bercadar menghadang jalannya, lalu melayang dan merampas janin tersebut, membungkusnya dalam sebuah selendang agar tidak terjatuh.
Seketika Yanti terperangah, dan berteriak mengejar sosok wanita bercadar itu.
"Tunggu.. Kembalikan janin itu, itu milikku!" teriaknya dengan suara yang hanya dapat didengar oleh Yanti dan wanita bercadar tersebut.
"Sialan, Kau!! Aku mendapatkannya dengan susah payah, dan Kau mengambilnya begitu saja!" maki Yanti. Lalu sosok wanita bercadar itu berhenti tak jauh dari Yanti.
Tanpa menoleh kearah Yanti Ia berdiri tegak " Demi sebuah kekayaan Kau mengorbankan keluargamu sendiri!" ucap Wanita bercadar itu dengan nada penuh penekanan.
Yanti sangat kesal. "Diam, Kau.. Jangan campuri urusanku!" jawab Yanti ketus dengan nafasnya yang tersengal.
Bahkan kini Ia juga harus menahan rasa sakit dikulit wajahnya yang melepuh karena tersiram kopi panas sang Ayah.
"Kau sungguh keji dan tak ubah layaknya seperti iblis" ucap Wanita bercadar itu dengan cepat lalu menghilang.
Sedangkan Yanti diam termangu dalam kekesalan. Ia sudah begitu sangat bersusah payah mendapatkan janin itu, namun dirampas begitu saja oleh sosok wanita bercadar itu.
Sementara itu, Ibu Yanti dilarikan ke puskesmas, dan kini Badu perasaannya tak menentu dan sangat penuh ketakutan.
Jika saja itu benar Yanti, Ia tidak menduga anak perempuannya telah menjadi pengikut iblis dan dan juga tersesat terlalu jauh.
"Bang.. Anak kita kemana?" tanya Ibu Yanti kepada Badu, suaminya dengan nada yang lirih dan penuh isak tangis.
Badu mencoba menggenggam jemari tangan istrinya dan membelai lembut ujung kepala sang istri "Bersabarlah, Bu.. Belum rezeki kita.. Kita doakan saja agar mendapatkan gantinya yang lebih baik" ucap Badu mencoba menenangkan istrknya yang kini terisak dalam tangisnya.
Badu tak tahu lagi harus mengatakan apa, Ia seperti tampak bingung harus mengatakan apa.
Disisi lain, Yanti berjalan menuju warungnya. Tampak para remaja itu sedang berpesta dan Ia seperti tak bersemangat. Ia masuk kedalam kamar rahasianya dan mencoba duduk dengan lesu.
Sesaat Ia memegang wajahnya yang terluka melepuh karena siraman kopi panas dari Ayahnya.
"Aaawww... Sakit sekali" ucap Yanti menahan perih dikulit wajahnya.
Lisa yang tak melihat sosok Yanti, namun dapat mencium aroma amis yang menyeruak memenuhi kamar tersebut. Ia merasakan mual yang sangat tak tertahankan.
Bersamaan dengan hal itu, semilir angin dengan aroma kembang kenanga menyeruak memenuhi ruangan kamar. Suara erangan yang menyeramkan menggetarkan ruangan kamar rahasia tersebut.
"Dimana tumbal janin untukku?" ucap suara yang berasal dari sosok wanita bergaun merah dengan wajah setengah rusak.
"Maaf, Ni. A-aku tak mendapatkannya" jawab Yanti dengan gemetar.
Aaaaarrrgggghhh...
Suara erangan penuh amarah memenuhi kamar rahasia.