
Mentari bersinar terang. Yanti mengerjapkan kedua matanya, Ia tampak begitu pusing dan sakit dikepalanya.
Ia mendapati dirinya tanpa sehelai benangpun dan sepuluh orang pria terkapar bersamanya.
Yanti melihat sekujur tubuhnya penuh dengan memar akibat perbuatan liar para pria yang berebut ingin menggarapnya.
Yanti berjalan tertatih karena merasakan ngilu disetiap organ intinya. Ia berniat untuk membersihkan diri dan pergi turun ke sungai.
Yanti menggunakan kain sarung menyusuri jalanan setapak dan menuju tangkahan sungai yang biasa digunakan oleh Mirna. Karena kini Yanti tak jauh bertetangga dengan Mirna, maka Ia menggunakan tangkahan yang sama.
Saat Yanti sedang asyik mandi, Mirna menuruni undakan tanah dan menuju ketangkahan sungai. Mirna tersenyum tipis saat melihat Yanti yang sedang mandi.
Yanti tergagap karena tanpa sengaja bertemu ditangkahan yang sama.
Berbanding terbalik dengan Yanti, gadis itu justru terlihat santai dan tenang. Bahkan Mirna seolah-olah tak melihat kehadiran Yanti didekatnya.
Yanti segera memeprcepat mandinya, namun sikap jahil Mirna tiba-tiba muncul. Ia mengambil seekor lintah yang jauh entah dimana, lalu menenpelkannya di pa- ha Yanti dan menyesap darah gadis itu.
Saat Yanti mengenakan handuknya, Ia melihat hewan melata itu tengah menyesap darahnya hingga menggembung.
Sesaat Yanti terlonjak dan berlari kesana kemari karena geli bercampur takut.
Sesaat Yanti berlari naik menapaki undakan dan menuju warungnya. Diwarungnya Ia berteriak tak karuan berusaha untuk melepaskan lintah tersebut.
Suara teriakan Yanti yang sangat keras membuat ke sepuluh pria yang masih tertidur lelap itu terbangun dan melihat kondisi mereka yang tampak berantakan tanpa sehelai benangpun.
Mereka saling pandang satu sama lain, lalu mencium aroma asam yang sangat kuat dari tumpahan air tuak yang menyirami tubuh mereka.
Bahkan bercampur cairan milik mereka yang kental dan sangat lengket.
Seseorang menolong Yanti melepaskan hewan melata itu dari pangkal kaki Yanti, dengan menggunakan garam.
Setelah hewan itu terlepas dan mati, Yanti mengatur nafasnya yang tersengal.
Yanti merasa sangat kesal dengan Mirna, Ia berniat ingin membalas dendam kepada wanita itu.
Yanti memerintahkan kepada kesepuluh pria itu untuk membersihkan diri diaungai, dan disana ada seirang gadis yang sedang mandi.
Kesepuluh pria itu mengangguk menyetujui, dan tak luput pula satu orang pria yang baru saja keluar dari kamar plus-plus tersebut.
Maka koni pria itu berjumlah 11 orang. Mereka menuju sungai untuk membersihkan diri.
Sesampainya dibelakang rumah Mirna, mereka melihat Mirna sedang mencuci pakaian diatas tangkahan.
kesebelas pria yang hanya menggunakan boxer itu saling pandang.
Mereka terpana akan kecantikan Mirna, termasuk salah satu pria yang malam tadi sudah bertemu dengan Mirna.
Mirna semakin terlihat memesona pada pagi hari ini. Sinar mentari yang menerpa kulitnya membuatnya semakin berkilau bagaikan wanita yang melakukan suntik kolagen.
Seketika jakun mereka naik turun. Mereka bagaikan melihat sosok peri yang teramat cantik dan membuat mereka ingin segera bercocok tanam.
Selama ini mereka tak pernah melihat Mirna sebelumnya, sehingga membuat mereka merasa sangat terpana.
Mereka turun kesungai secara bersamaan, dan sedikit berlakari seolah ingin menyergap Mirna secara bersamaan.
Namun belum saja mereka dapat menyentuh Mirna, tiba-tiba Para pria itu terjatuh terjerambab diatas tumpukan dedaunan kering.
Seolah-olah mereka sedang menabrak seutas tali tak terlihat. Mereka terjatuh saling tindih satu sama lainnya. Mereka bertumpuk bagaikan sebuah gundukan manusia yang saling tindih.
Lalu Mirna berjalan melintasi mereka dengan begitu santainya.
Para pria itu akhirnya berusaha bangkit satu persatu, sebab pria yang paling bawah sudah sesak nafas karena tertindih oleh yang lainnya.
Akhirnya mereka berhasil melepaskan diri setelah Mirna sudah sampai diatas dan masuk kerumahnya.
Karena terlajur basah, akhirnya mereka mandi disungai untuk membersihkan diri dari rasa lengket dan bau asam dari tuak yang mengguyur mereka.
Namun bukan Mirna namanya jika Ia tak menjahili mereka. Mirna menggerakkan seekor ular sanca yang berukuran besar dan merayap masuk kedalam sungai. Saat ular sanca itu sampai didekat mereka, seketika ke sebelas pria itu berteriak karena kaget, lalu kocar-kacir berlarian kesana kemari dan naik ketepian hanya menggunakan underware saja.
Dengan sekejab suasana riuh dan menjadi hiruk pikuk. Mereka berlari menuju warung Yanti, lalu mengambil motor mereka dan kabur hanya dengan menggunakan underware dan seperti orang yang sedang berkanaval dijalanan raya mengendarai motor dengan menggunakan underware saja.
Yanti merasa bingung dengan apa yang terjadi pada pelanggannya itu, dan sialnya, mereka pulang tanpa membayar apa yang sudah mereka pesan malam tadi serta jasa layanan plus-plus dari Yanti.
Yanti berteriak memanggil mereka satu persatu untuk tidak pulang terlebih dahulu sebelum membayar uang dari jasa plus-plus dan juga pesanan mereka.
Namu para pelanggan itu tak mengindahkan teriakan Yanti yang sudah mencegah mereka.
"Sial..!! Enak saja main kabur" gerutu Yanti dengan kesal.
Ia bahkan harus membersihkan lantai dan ruangan warung yang berbau asam karena tumpahan air tuak yang mengotori lantai.
Yanti merasa bingung siapa pelaku yang menyiramkan air tuak di lantai warungnya.
Kini Ia harus rugi kembali, karena Ia harus memesan air tuak lagi, dan ini membuatnya sangat kesal.
"Siapa yang menumpahkan air tuak ini? Sungguh hari ini sangat sial!. Mbak Lisa, tolong bantu bersihkan lantai warung" ucap Yanti dengan kesal.
Lisa yang baru saja dari dapur memasak sarapan pergi menghampiri Yanti yang sedang mengomel.
"Ada apa Yan?" tanya Lisa penasaran.
"Ini, Mbak.. Masa iya mereka kabur semua sebelum bayar, mana air tuak satu jerigen tumpah semua" ujar Yanti ketus.
Lisa terdiam dan membayangkan jika Ia tidak menerima tips dari jasa layanan plus-plusnya.
Lisa membantu Yanti mengepel dan juga membersihkan warung.
"Jadi layana tadi malas juga gak dibayar, Mbak?" ucap Yanti penasaran karena Ia belum mendapatkan tips.
"Mau bayar gimana, mereka kabur semua" jawab Yanti sembari menggerutu.
Lisa hanya diam dengan wajah masam. Namun Ia berharap jika benih yang ditanam pria itu akan tumbuh menjadi janin, dan anggap saja itu sebagai imbalannya.
Sementara itu, Mirna mengintai dibalik tirai jendela, dan tersenyum geli melihat dua wanita itu mengomel sembari membersihkan lantai warung.
Kemudian Mirna pergi untuk membuat sarapan dan membawanya kepada Satria. Ia memilih untuk datang pagi dan pulang sore hari demi mengabdikan dirinya kepada sang Suami. Ia merelakan segalanya, demi cintanya yang terlalu besar untuk pria tersebut.
Mirna memasak nasi goreng spesial ayam kalasan yang mana Ia mendapatkan resep itu saat tinggal dirumah Satria bersama Mala beberapa waktu yang lalu.