
"Mas.. Masih siang, Nih?" ucap Mirna yang merasa kaget melihat tingkah Satria yang tak biasa.
Bukankah selama ini Satria menjaga image, apalagi saat mereka belum menikah, Satria selalu menghindari dirinya bahkan terkesan menjauhinya.
Mamun saat sesudah menikahinya, pria ini justru terbalik dan seakan tak pernah puas untuk melampiaskan hasratnya.
Berbanding terbalik dengan Mirna, jika selama ini Mirna selalu membuat pria bejad yang menggaulinya menjadi lumpuh dan kehabisan tenaga, namun bersama Satria, Ia menemukan kepuasan bathin yang sesungguhnya.
"Siang juga tidak apa-apa, Sayang. Kamu selalu membuat Mas candu" bisiknya nakal.
Mendengar pujian dari Sang Suami membuat Mirna merasakan dirinya melayang dan membalas semua cumbuan sang suami.
Satria adalah penakluk hatinya, bersama pria itu Ia merasakan cinta dan kepuasan yang selama ini Ia cari.
Di satu sisi, Syafiyah merasakan jika berpura-pura lumpuh itu membuat tubuhnya gelisah. Ia merasa bosan dengan berbaring terus diranjang tanpa aktifitas apapun.
Namun Ia juga masih ingin mendapatkan perhatian dari Satria dengan cara yang salah.
Syafiyah tidak mendengar suara Suara Mirna memasak. Biasanya tercium aroma masakan apapun yang dimasak oleh madunya itu, namun saat ini seperti sepi dan senyap.
"Mengapa tidak tercium aroma masakan dan juga suara Mirna berkecimpung di dapur? Bahkan Mas Satria juga tidak terlihat?" Guman Syafiyah mulai curiga.
"Apakah mereka bercinta disiang bolong?" Shafiyah mulai menduga-duga, perasaan cemburu mulai menggelayutinya, dan Ia merasa jika sudah lama Ia tidak disentuh oleh Satria.
Seketika Syafiyah membayangkan keduanya yang sedang memadu kasih. Ia juga ingin mendapatkan cumbuan itu, namun dengan berpura-pura lumpuh akan menyulitkannya untuk merampas kembali semua yang hilang.
Syafiyah berfikir keras bagaimana caranya agar Ia memberitahu kepada Satria jika Ia sudah dapat berjalan normal, namun bukan karena jasa Mirna, melainkan karena usahanya yang ingin sembuh.
Dikamar yang lain, Satria dan Mirna yang sedang berpacu dengan begitu semangat membara, membuat keduanya mencapai puncak surgawi.
"Makasih, Sayang" bisik Satria mengecup lembut ujung kepala Mirna dengan penuh cinta.
"Sama-sama, Mas.. Mirna masak siang dulu, Ya.. Ntar ikannya hidup lagi di washtafell" ucap Mirna mengingatkan.
Satria tersenyum geli mendengar ucapan Mirna, Ia baru teringat jika mereka meninggalkan ikan Nila didalam washtafell.
"Iya.. Tapi mandi dulu sana" titah Satria kepada Mirna.
Mirna menganggukkan kepalanya, bersama Satria Ia bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya, menuruti semua apa perintah sang suami.
Mirna beranjak bangkit, dan membersihkan dirinya. Sementara itu, Satria mendengar suara adzan Dzuhur berkumdang, lalu Ia bergegas bangkit menuju kamar Syafiyah, dan membersihkan dirinya disana.
Melihat Satria mandi disiang hari, Syafiyah dapat menduga jika suaminya baru saja bercinta dan bersenang-senang.
"Pantas saja tidak terdengar suaranya, ternyata Mas Satria baru saja menggarap Mirna" guman Syafiyah dengan perasaan terbakar.
Tak berselang lama, Syafiyah mendengar suara Mirna memasak didapur dan terdengar begitu sibuk.
Sementara itu, Satria sudah selesai membersihkan diri lalu shalat Dzuhur dikamar.
"Mau shalat berjamaah, Sayang?" tanya Satria kepada Syafiyah yang menatapnya sedari tadi.
Syafiyah menggelengkan kepalanya, tampak Satria sedikit kecewa, namun Ia akan berusaha mengarahkan kedua istrinya untuk mematuhinya.
Satria melakasanakan ibadah shalatnya sendirian, namun Ia memastikan perlahan kedua istrinya akan shalat berjamaah bersamanya suatu saat nanti.
Mirna telah menyekesaikan masakannya, Ia menyajikannya dimeja makan, tampak Ia menyisihkan untuk Syafiyah, lalu menutup tudung saji.
Satria telah selesai shalat, Ia masih melihat Syafiyah menatapnya dengan penuh penasaran.
"Ada apa, Sayang?" tanya Satria berusaha tenang.
"Jangan panggil Sayang lagi, Mas.. Panggil Cinta.. Fiyah tidak mau Kata Sayang itu karena Mas menggunakannya juga untuk Mirna" ucap Syafiyah dengan nada kesal.
Satria tersenyum tipis "Iya, Sayang.. Eh, maksud Mas, Cinta" jawab Satria meralat ucapannya.
"Mas.. Fiyah minta jatah" ucap Syafiyah tanpa malu-malu.
Satria mengerutkan keningnya, namun sesaat Ia membaca isi hati Istri pertamanya itu, tetapi Ia berpura-pura tidak tahu.
"Maksudnya Apa, Cinta?" tanya Satria berusaha terbiasa dengan panggilan baru untuk Syafiyah.
"Fiyah minta jatah bercinta siang ini, bukankah Mas sudah melakukannya bersama Mirna siang ini? Mas harus adil" cecar Syafiyah yang mulai menuntut.
Satria menatap pada istrinya "Bukankah pinggang Kamu sakit? Bagaimana jika nantinya pinggang kamu bertambah parah?" tanya Satria memancing reaksi Syafiyah.
Syafiyah terdiam sesaat, Ia mencari jawaban yang tepat untuk Satria.
"Ya mana tahu setelah bercinta bisa tiba-tiba sehat. Bukankah mencoba lebih dulu lebih baik, jika tidak dicoba kan tidak tahu hasilnya" jawab Syafiyah seamkin bersemangat.
"Baiklah.. Tetapi jangan salahkan Mas jika nantinya kamu kesakitan" ucap Satria menguji Syafiyah.
"Ya.." jawab Syafiyah singkat.
Satria menghampiri Syafiyah, lalu Ia mengawali cumbuannya untuk membakar Syafiyah.
Namun Ia merasakan sesuatu yang berbeda, gairahnya tidak sepanas saat bercinta dengan Mirna yang selalu membuatnya cepat terbakar.
Namun Ia tidak ingin terlihat berat sebelah, Ia ingin memberikan rasa adil kepada kedua istrinya, meski dalam hal perasaan kini Ia lebih cenderung kepada Mirna.
Karena sudah lama sekali tak menggauli Syafiyah, tentu Ia tampak sedikit canggung, namun berusaha sebaik mungkin.
Syafiyah mulai terbakar, dan mengikuti pergerakan naluri dalam hatinya, hingga Ia lupa jika Ia berpura-pura lumpuh.
Satria terus memberikan stimulasi kepada Syafiyah, sehingga tanpa sadar membuat wanita itu mencapai puncak surgawinya dan mengejangkan tubuhnya.
Satria tersenyum tipis. Bagaimana mungkin seorang yang lumpuh dapat mengimbangi permainannya? Apakah Satria selama ini diam-diam mengetahui jika Syafiyah sudah sembuh?
Ya.. Satria mengetahuinya, namun bersikap berpura-pura tidak tahu, sebab Ia ingin menguji seberapa lama Istri pertamanya ini mampu hidup dalam kepura-puraan.
"Wah.. Kamu sudah dapat menggerakkan pinggul dan pinggang kamu, Cinta" ucap Satria ditengah momen mereka mencapai puncak bersamaan.
Seketika Syafiyah tersentak kaget, Ia lupa jika Ia sedang bersandiwara.
Syafiyah tergagap, dan tersenyum mencari alasan atas pertanyaan suaminya.
"Mungkin karena terapy dari kamu, Mas.. Tiba-tiba Fiyah dapat menggerakkan pinggang dan pinggul" jawab Syafiyah yang telah mencapai puncak tertingginya.
"Baguslah, mudah-mudahan kamu juga dapat berjalan dan beraktifitas seperti semula" ucap Satria menyindirnya.
Satria tahu jika kesembuhan Syafiyah karena pertolongan Mirna, sebab Ia dapat melihat semua yang terjadi.
"Iya, Mas.. Bisa bantu Fiyah untuk bangkit?" ucap Syafiyah masih terus bersandiwara.
"Boleh..sini Mas bantu" ucap Satria berpura-pura mengikuti sandiwara sang istri.
Syafiyah meraih uluran tangan dari suaminya, dan berusaha untuk bangkit dari ranjangnya, dan menggerakkan kedua kakinya untuk melangkah.
"Wah.. Mas, Fiyah sudah dapat berdiri dan melangkah" ucap Syafiyah dalam sandiwaranya.
"Wah.. Iya.. Kamu hebat" ucap Satria menimpali.
Syafiyah memeluk Satria seolah Ia begitu sangat bahagia untuk dapat berdiri dan berjalan pertama kalinya.
"Selamat ya, Cinta.. Akhirnya Kamu dapat berjalan lagi" bisik Satria.
"Makasih, Mas.. Semua ini karena terapy, Mas" jawab Syafiyah berbohong.
"Ya..." jawab Satria, lalu membalas pelukan Syafiyah sembari tersenyum tipis.