
Pagi yang cerah. Sinar mentari bersinar dengan begitu sangat terangnya.
Ketenangan dan juga keheningan dipagi yang cerah ini, tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan pak Tono yang berlari sekencang-kencangnya dengan wajah memucat, dan..
"Ada mayat.. Ada mayat..." teriaknya dengan lantang yang membuat para warga yang melintas dan berada didalam rumah berhamburan keluar dari rumah dan yang akan berangkat bekerja berkerumun menghampiri pak Tono.
Dalam sekejab kerumunan warga mulai tampak ramai "Dimana ada mayat, Pak? Mayat siapa?" tanya seorang warga pria yang merasa penasaran, begitu juga dengan yang lainnya.
Pak Tono mengatur nafasnya yang tersengal sembari membungkuk dan memegangi kedua lututnya.
Setelah nafasnya mulai terkontrol, Ia kini menegakkan tubuhnya dan mencoba tenang, lalu tangannya menunjuk ke arah kebun rambutan miliknya, tanpa bersuara.
Seketika kerumunan warga membubarkan diri dan menuju area yang ditunjuk oleh pak Tono.
Mereka berpencar menyusuri kebun rambutan dan dengan penuh was-was mulai mencari mayat yang disebutkan oleh Pak Tono.
Salah satu warga pria bernama pak Sani merasa tak nyaman dan juga khawatir. Sebab anak lelakinya yang bernama Roby sedari malam tadi belum kembali, dengan membawa sepeda motor matic.
Sani ikut mencari sosok mayat yang dimaksud dengan Tono.
Sesaat Ia melihat sosok tubuh tergeletak dibawah pohon rambutan dengan posisi terlentang dan terbujur kaku.
Setengah pakaiannya terbuka dan tidak menggunakan celana.
Ia bergegas menghampirinya, dan...
"Robyyyyyy.." teriaknya dengan pekikan yang menggema disekitar kebun.
Sontak warga yang mencari seketika menoleh ke arah Sani yang tampak terduduk lemas dihadapan satu sosok jasad yang terbujur kaku dihadapannya.
Air mata tak dapat keluar dari sudut matanya. Tampaknya Ia terlalu syok dengan apa yang dilihatnya hingga Ia hanya terperangah dan wajah yang memucat, lalu tak sadarkan diri.
Warga tersentak melihat pemandangan mengerikan didepan mereka.
Dimana tampak satu sosok jasad tanpa organ inti yang telah direnggut paksa dan semut berkerumun di area luka tersebut.
Warga berjibaku menggotong Sani yang telah tak sadarkan diri kini mereka gotong dan diantar ke rumah warga terdekat.
Sedangkan jasad Roby tak ada yang berani mengevakuasinya dan menunggu polisi datang, karena mereka tak ingin merusak barang bukti.
Polisi yang mendapatkan laporan tersebut segera datang meninjau lokasibyang disebutkan warga.
Berita penemuan mayat tanpa organ inti terdengar oleh Inspektur Adhit dan juga inspektur Jefry.
Hal ini membuat keduanya berharap jika para pihak kepolisian yaitu instansi yang berada ditempatnya bekerja segera mempercayai apa yang telah disampaikan keduanya waktu itu.
Polisi mulai melakukan penyelidikan. Mereka mencari bukti--bukti disekitar lokasi yang akan mengarahkan kepada pelaku pembunuhan.
Sebab jika ditilik dari kondisi jasad tersebut ini adalah korban pembunuhan.
Jasad Roby dimasukkan kedalam kantong jenazah dan dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi.
Polisi menemukan ceceran cairan kental milik pria saat mencapai pelepasan puncak diatas dedaunan kering. Lalu pihak kepolisian memungutnya dan memasukkan kedalam kantong tranfaran.
Lalu sehelai rambut panjang yang diduga milik seorang wanita sebagai teman bercintanya saat sebelum meregang nyawa.
Lalu pihak penyidik memasukkannya ke dalam kantong plastik berlogo kepolisian tersebut.
Tak jauh dari lokasi kejadian, ditemukan dua jejak ban sepeda motor dengan motif berbeda, lalu polisi memotretnya dan menjadikannya barang bukti.
Polisi saat ini menduga ada seseorang yang sedang mengintai dari balik pohon rambutan dan melihat apa yang dikerjakan oleh remaja itu sebelum tewas. Namun penyidik belum bisa memastikan apakah itu pelaku pembunuhannya.
Namun jejak sendal itu hanya berakhir sampai dibawah pohon tersebut dan tidak sampai ke tempat jasad itu terbujur.
Lalu pihak penyidik mencari sidik jari disekitar pohon rambutan tempat dimana jejak kaki itu berakhir.
Setelah mengumpulkan bukti-bukti, Pihak penyidik mendatangi Sani yang sudah sadar.
Sementara itu, Istri Sani tampak histeris saat melihat jasad puternya dibawa mobil polisi untuk dibawa kerumah sakit.
Istri Sani tampak tak menerima kenyataan yang ada yang kini menimpa puteranya.
Pihak penyidik menanyakan saat sebelum korban meninggalkan rumah Ia berpamitan kemana dan dengan siapa.
Lalu Sani mencoba mengingatnya, jika puteranya mengatakan akan menemui teman sekolahnya yang akan mengerjakan pekerjaan kelompok ditempat seorang siswi perempuan bernama Ira.
Lalu polisi segera bergerak menyambangi rumah siswi yang dimaksud bernama Ira.
Sesampainya dirumah Ira. Polisi mencoba menemui orangtua Ira dan mempertanyakan keberadaan puteri mereka.
Lalu tampak sebuah sepeda motor yang diduga milik Roby ternyata berada dirumah itu.
Kedua orantuanya tampak bingung, sebab baru melihat motor tersebut. Bahkan puterinya sampai saat ini juga belum membuka pintu kamar sedari tadi.
Karena merasa penasaran, Ayah Ira mulai mengetuk pintu kamar anaknya dan menanyakan kondisi sang anak, namun tak ada jawaban.
Karena diketuk berulangkali dan dipanggik juga tak menyahut, maka Ayahnya mendobrak pintu kamar, dan alangkah terrsentaknya Sang Ayah yang mendapati puterinya telah tewas gantung diri.
Seketika sang Ayah terduduk lemas dilantai kamar melihat kondisi sang puteri yang sangat mengenaskan.
Mereka tak menyangka jika sang puteri sampai nekad melakukan hal tersebut.
Kini pekerjaan penyidik semakin bertambah, sebab saksi utama yang akan mengungkap kasus kematian Roby telah tewas bunuh diri.
Lalu pihak keluarga tidak ingin jasad anaknya divisum, dan ingin dimakamkan segera.
Dua rumah kini berduka secara bersamaan. Sedangkan motor yang diduga milik Roby dibawa ke kantor polisi untuk dijadikan barang bukti.
Pihak penyidik kini akan mencari saksi lain yang dapat mengungakap kematian dari Roby, yaitu sosok yang ada dibalik pohon rambutan dan pemilik jejak motor sang pengintai.
Dino yang mendengar penemuan mayat remaja dikebun rambutan seketika bergidik dan tak berani keluar dari kamar.
Sosok menegerikan itu masih terngiang di ingatannya yang mana tampak berbUlu namun tidak lebat, wajah dengan rupa yang sangat buruk dan juga menjijikkan.
Kedua orangtua Dino merasa heran mengapa Dino mengurung diri dikamarnya.
Jika Ia dipanggil hanya menyahuti dengan dehemen saja.
Namun kedua orantuanya menganggap jika Dino sedang malas untuk bekerja hari ini.
Sementara itu, Dino berseluncur didunia maya.
Ia melihat banyaknya unggahan yang menuliskan tentang penemuan mayat remaja bernama Roby dan juga diiringi oleh korban bunuh diri yang dilakukan Ria yang disinyalir sebagai teman bercinta Roby dan mengalami putus asa lalu menghilang.
Seketika Dino tersentak kaget. Ia tak menduga jika remaja puteri itu tega mengakhiri hidupnya setelah melakukan kemaksiatan.
Bahkan kini Ia harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Jiwa keduanya akan saling dipertanyan tentang dosa yang mereka lakukan.