MIRNA

MIRNA
episode-288



Mirna tampak duduk disebuah batu berbentuk bundar. Perlahan taring disudut mulutnya tampak mencuat dan perlahan matanya mulai memerah.


Satu sosok makhluk berupa siluman Baabi yang menghadap kepadanya.


"Mirna.. Bocah itu semakin mendekat. Dari semua pasukan yang dikirim telah hangus terbakar oleh ajian segoro geni yang dipelajari dan diturunkan oleh ayahnya. Ada sebuah bahaya jika Ia sampai mencapai goa, sebab Kita semua akan terbakar dan menjadi hangus jika sampai ajian itu digunakan olehnya, dan termasuk dirimu juga tidak akan selamat dari ajian tersebut!" Siluman Baabi mengingatkan.


Mirna menatap nanar pada siluman Babi yang kini memberikan informasi kepada dirinya.


"Halangi dirinya jangan sampai ke goa ini. Kirimkan pasukan iblis yang lebih banyak dan jangan sampai Ia menyentuh Goa!" Titah Mirna dengan wajah datar.


Tak berselang lama, terdengar suara Nini Maru bersama Ki Kliwon sedang menuju ke ruangannya.


"Pergilah.. Laksanakan segala apa yang ku titahkan padamu!!" ucap Mirna cepat.


Lalu Siluman Baabi itu bergerak cepat dan segera melesat dan menghilang.


Ditengah kegelapan malam. Widuri sedang tidur sembari melayang dan diudara.


Sedangkan Samudera masih tertidur lelap dengan berbantalkan lengan.


Sesaat tampak segerombolan Baabi hutan yang memiliki taring disetiap sudut mulutnya dan berbulu hitam dengan mengendap ke semak hutan.


Seorang panglima perang merubah wujudnya menjadi setengah sosok tubuh manusia dan berkepala Baabi yang sangat menyeramkan.


Sosok panglima itu mengambil sebuah senjata berbentuk sumpit dan meniupkannya kepada prisai cahaya berwarna ungu yang saat ini sedang melindungi Samudera.


Wuuuuuush..


Ssssssssttss...


Suara desingan anak sumpit yang melesat melayang diudara untuk menembus perisai tersebut.


Triiiiing..


Anak sumpit itu berbalik menuju ke arah panglima perang tersebut. Panglima perang terperangah dan tak menduga mendapatkan senjatanya kembali menyerangnya.


Panglima perang itu melesat menghindari anak sumpit dan ternyata naas mengenai pasukannya sendiri.


"Aaaaargghh.." suara erangan kesakitan membuat panglima tersentak kaget karena tidak menduga akan mengalami hal tidak terduga tersebut.


Sesaat suasana menjadi gaduh karena pasukan yang terkena oleh anak sumpit itu berakhir dengan tubuh membiru dan membusuk, lalu terhempas dan menghilang.


Suara kegaduhan tersebut membuat Widuri tersentak kaget dan dengan cepat membuka matanya. Namun saat Ia membuka matanya, suasana sepi seolah tak terjadi apapun.


Namun aroma kehadiran sosok tersebut tampak begitu jelas diindera penciumannya.


Widuri melesat turun ke bawah. Lalu duduk disisi kanan Samudera.


Perlahan tampak sebuah pergerakan dari balik semak yang mengarak ke arah api unggun, dan dengan satu komando, para siluman Baabi menyerbu Widuri dan Samudera yang masih terlelap tidur.


Widuri melesat terbang dan mengayunkan tongkatnya yang memiliki batu permata diujungnya dengan blla kristal berwarna ungu.


Dengan cepat Widuri memutar tongkatnya diudara tepat diatas kepala, dan bergerak memutar dengan cepat sembari mengayunkan tongkatnya dan pendaran cahaya ungu menyapu semua pasukan Siluman Baabi.


Wuuuuuusssh...


Suara angin dari putaran tongkat yang kencang dan membuat pendaran cahaya ungu itu membutakan mata siapa saja yang terkena olehnya.


Dalam sekejab pasukan tersebut menghilang dan tak terlihat satu sosokpun. Widuri menegakkan kembali tongkatnya.


Ia menyapu pandangannya melihat para pasukan Baabi yang tiba-tiba menghilang. Namun Ia sesaat tersenyum saat mengetahui kelicikan para siluman Baabi itu.


Widuri lalu mengikuti permainan licik para siluman Baabi. Ia lalu melesat menghilang. Sesaat para siluman itu seketika bermunculan dari dalam tanah dan dengan cepat mereka mengobrak-abrik api unggun dan berusaha menerobos perisai cahaya berwarna ungu yang kini melingkupi tubuh Samudera.


Mereka menyerudukkan taringnya pada cahaya perisai tersebut, namun mereka akan terpental saat taring mereka menyentuh perisai cahaya tersebut.


Rasa seperti tersengat aliran listrik ribuan volt yang membuat tubuh mereka akan kejang dan akan merasakan sakit yang sangat luar biasa.


Suara bising dan kesakitan dari para siluman Baabi membuat Samudera merasa sangat terganggu.


Remaja itu mengusap kedua matanya dan mencoba menajamkan pandangan matanya dan berusaha mengumpulkan kesadarannya.


Samudera mengerutkan keningnya saat melihat segerombolan pasukan siluman Baabi yang mencoba menerobos perisai cahaya ghaib dari Widuri yang ternyata untuk melindunginya dari segala serangan makhluk siluman yang ternyata ingin menyerangnya secara diam-diam.


Samudera bergegas bangkit dan menerobos perisai cahaya ghaib yang kini melindunginya, lalu meraih tongkatnya dan berdiri tegak sembari menatap tajam kepada pasukan yang kini sedang menantangnya


Seketika pasukan itu menyerang Samudera dan berlari dengan cara menyeruduk Samudera.


Bocah remaja itu mengayunkan tombak bertanduk bantengnya untuk menyerang setiap serbuan yang datang.


Samudera menghunuskan ujung tombaknya dan dengan gerakan cepat Ia berhasil menghujamkan ujung tanduk tombaknya mengenai kepala salah saru Siluman Baabi dan membuat siluman itu terbakar.


Hal tersebut membuat mereka tersentak kaget karena Samudera ternyata mengalirkan ajian segoro geni melalui tongkatnya.


Lalu tanpa diduga, melalui komando dari panglima perang, mereka meniupkan anak sumpit kepada Samudera dengan secara bersamaan. Dan menyadari akan hal itu, Samudera menggerakkan tombaknya dan mengayunkannya dengan cepat untuk dengan gerakan menangkis semua anak sumpit yang datang menyerangnya.


Wuuussh..


Ssssst..


Satu anak sumpit menancap di lengan Samudera dan tanpa Ia sadari racunnya menyerap ke aliran darahnya.


Widuri mentap Samudera yang merasa bingung dengan senjata yang dimiliki oleh seluruh siluman.


Tiba-tiba Samudera merasakan kepalanya pusing dan Ia terduduk bersimpuh.


Widuri segera menyambar tubuh remaja itu, lalu membawanya ke bawah pohon.


Ia meletakkan tubuh itu diatas akar pohon dan menggunakan tas ransel Samudera untuk menjadi bantalnya.


Widuri memeriksa jarum sumpit yang menancap di lengan kiri Samudera dan memperhatikannya.


Widuri melihat jika racun itu tampak menyerang jantungnya dan dengan cepat Widuri menghentikan penyebarannya yang sudah menjalar sampai pundak Samudera.


Perlahan mata Samudera mengabur dan Ia tak lagi dapat melihat apapun didepannya.


Lengan kiri Samudera membiru, dan perlahan mengalami lumpuh dibagian sebelahnya, dan andaikan tidak segera ditangani, maka akan membusuk secara perlahan.


Namun Widuri tak dapat memiliki penawarnya, sebab hanya satu orang yang memiliki kemampuan untuk menghentikan dan menawar racun tersebut.


Pagi menjelang, dan mentari bersinar dengan begitu terangnya.


Samudera mengerjapkan ke dua matanya. Ia tersentak kaget saat melihat mentari sudah bersjnar dengan begitu terang, dan Ia belum shalat subuh.


Samudera bergegas bangkit, namun Ia ingin menggerakkan kedua tangannya, ternyata lenhan bagian kirinya tak dapat digerakkan dan itu sangat sakit.


Samudera merasa heran, dan Ia mencoba melirik ke arah lengan kirinya, dan ternyata tampak membiru. Ia merasakan sakit yang teramat sangat sakit hingga sampai ke pundak kirinya.


Samudera melirik ke arah Widuri yang terus mengawasinya sejak tadi, dan mungkin juga semalaman.


Saat itu Widuri menatapnya penuh kecemasan.


"Itu adalah Racun anak sumpit milik para Siluman Baabi atas serangan malam tadi. Dan naasnya salah satunya menancap dilengan kirimu dan ini pastinya sangat meyakitkan untukmu" ucap Widuri menjelaskan.


Samudera mengerutkan keningnya seolah tak percaya.


"Bukankah kamu dapat menyembuhkan setiap luka dan penyakit?" ucap Samudera mengingatkan.


Widuri menatap Samudera dengan lekat. "Tidak semua luka dan sakit dapat ku sembuhnkan! Masalah racun langka seperti ini hanya ada satu orang yang dapat meyembuhkannya!" ucap Widuri.


Samudera menatap pada Widuri, dan merasa sangat penasaran.


"Siapa orang tersebut?" tanya Samudera cepat.


"Mirna. Karena Ia yang memiliki penawarnya!" jawab Widuri.


Seketika Samudera membolakan ke dua matanya.


"Haah?! Hanya ibuku yang dapat menyembuhkannya? Bukankah Aku memang ingin menemukan ibuku?" ucap Samudera menjelaskan.


Widuri menatap pada Samudera "Ya, tetapi ini berbeda Aku takut kamu kecewa akan kenyataaan yang ada saat kamu bertemu dengannya," Widuri mencoba mengingatkan.


Samudera tak perduli dengan ucapan Widuri. Meskipun nantinyanIa akan kecewa dengan kenyataan yang ada didepannya.


Samudera berusaha untuk bangkit dengan menopang pada lengan kanannya. Ia bertayamum dan segera melaksanakan shalat subuhnya yang tertunda.


Hari semakin menuju siang. Samudera menggunakan tombak milik Panglima Banteng untuk menjadi tumpuan dalam berjalan. Sedangkan Widuri membantu membawa tas ransel tersebut.


mereka melanjutkan perjalanan dan Widuri mencoba terus mengikuti arah langkah Samudera.


Rasa sakit terus menjalar ke seluruh lengannya yang terasa sangat sakit. Namun Ia terus tetap berjalan demi sebuah pengabdiannya.


keringat mengalir deras dari pori-porinya. Andai saja Samudera tidak memiliki ilmu tenaga dalam yang mumpuni, mungkin daging dilengan dannyang sudah menjalar ke pundaknya itu akan membusuk dan berkelupasan hingga menyisakan tulang belulang saja.


Dan proses penahan racun itu hanya bertahan hingga 3 hari saja. Setelah itu, Widuri tidak dapat lagi menahan laju penyebaran racun tersebut.


Nafas Samudera tersengal dan Ia lebih cepat lelah. Apalagi perjalanannya yang terus menanjak menuju puncak gunung.


Untuk sampai ke puncak gunung dan goa yang menjadi tujuan Samudera memakan waktu 2 hari lagi jika dengan tenaga yang normal dan juga kekuatan fisik yang sempurnah.


Samudera terus memaksa untuk berjalan mempercepat langkahnya yang sangat terseok.


Hingga akhrinya Ia harus terjatuh ditanah penuh rerumputan.


Nafasnya tersengal, dan Ia menelentangkan tubuhnya direrumputan. Matanya memandang langit mendung yang tampaknya sebentar lagi akan turun hujan.


Samudera merasakan haus yang sangat teramat dan Ia sangat memginginkan air untuk menghilangkan dahaganya.


Widuri terbang melayang dan mengarahkan jemarinya kepada Samudera.


Tanpa diduga, dari ujung jemari Widuri mengeluarkan sumber air yang sangat jernih dan menyegarkan.


Saat bibir Samudera merasakan air tersebut mengalir melewati tenggorokannya, maka seolah tenggorokannya seperti terasa sangat segar dan tenaganya seolah bertambah meski tak mengurangi rasa sakit pada lengannya.


Samudera berusaha untuk segera bangkit dan mencoba untuk melanjutkan perjalanannya yang masih harus Ia tempuh tepat waktu.


Samudera menatap lurus ke depan. Ia berharap jika semua akan sesuai dengan apa yang direncakannya, dan tidak lari dari ekpektasi.


Ia kembali menapaki jalanan menanjak, dan Ia yakin dapat melewatinya.