MIRNA

MIRNA
episode 166



Seminggu kemudian...


"Bu.. Ibu.. sudah sehat, Bu" teriak Angkasa ya g merasakan jika senjatanya tak lagi sakit.


Mirna menghampiri Angkasa yang tampak kegirangan. "Ada apa, sayang?" tanya Mirna saat hari masih pagi dan Mirna masih menyiapkan sarapan.


Angkasa tanpa rasa malu menyingkap kainnya dan memperlihatkan senjatanya yang tampak sudah sembuh dan Ia dapat berjalan serta bermain lagi.


Mirna memriksanya "Iya..sudah sembuh, kamu sudah bisa bermain lagi" ucap Mirna.


Sementara itu, Samudera tersentak dari tidurnya dan mendengar kehebohan Angkasa bersama ibunya.


Ia menguap dan mengusap kedua matanya lalu menatap kepada keduanya secara bergantian.


Mirna mengecup unung kepala Angksa, lalu mengacak rambutnya, dan menghampiri Samudera.


"Pagi, Sayang.. Bagaimana lukanya? Apakah sudah sembuh? Tanya Mirna dengan lembut, lalu membelai rambut Samudera.


Bocah itu menganggukkan kepalanya dan menatap Mirna penuh arti.


"Kalau begitu segera mandi, ibu mau melanjutkan memasak sarapan, Ayah akan mengajak kalian liburan, sebab masa liburan sekolah akan berakhir" ucap Mirna memberitahu.


Keduanya saling pandang dan sangat senang sekali mendengar akan diajak berlibur.


"Liburan kemana, Bu?" tanya Angkasa penuh semangat.


"Sepertinya kepegunungan dan akan menginap disana karena ada kolam renangnya juga" jawab Mirna.


Keduanya kegirangan mendengarnya dan dengan cepat segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Mirna melanjutka memasaknya untuk sarapan dan juga bekal mereka selama perjalanan.


Sementara itu, Satria masih menyelesaikan pekerjaannya yang sebentar lagi akan dikirim kepada Hadi via email.


Setelah selesai, Ia membantu Mirna mempersiapkan keperluan berlibur mereka, dan semua itu untuk membuat kedua puteranya senang.


Kini mereka sudah berada diperjalanan, kedua bocah itu duduk dijok tengah sembari bernyanyi dan bersenda gurau, namun tak jaraang juga cekcok karena keduanya memiliki weton dan hari kelahiran yang sama, sehingga membuatnya berselisih pendapat, namun air susu yang sama dan juga darah yang sama membuat keduanya kembali lagi berbaikan.


Saat melintasi sebuah hutan menuju pegunungan, Angkasa melihat sesosok yang memperhatikannya dengan wajah sangat menyeramkan, dan itu wajah yang sama saat Ia lihat digerbang sekolah.


Angkasa memperhatikan wajah buruk rupa dengan luka yang begitu parah dibagian wajah sisi kirinya.


Rambut panjang terjuntai, dengan bola mata merah dan juga gigi taring disudut mulut kanan dan kirinya yang menambah kengerian makhluk itu.


Angkasa memalingkan wajahnya, lalu berpura-pura tidak melihatnya.


setelah melakukan perjalanan hampir 6 jam lamanya, akhirnya mereka sampai juga dilokasi wisata yang mereka tuju.


Mereka memasuki penginapan dan hanya ada satu kamar yang bisa ditempati oleh mereka berempat.


Setelah memasuki kamar, kedua bocah itu sudah tidak sabar untuk mandi dikolam renang.


"Bu.. Kami berenang, Ya..?" tanya Samudera tak sabar.


Mirna mengangguk kepalanya "Dikolam yang untuk anak-anak saja, jangan sampai ke kolam dewasa" pesan Mirna yang masih sibuk menata bekal dan perlengkapan mereka.


Sementara itu, Satria masih berada dikamar mandi karena merasa mulas perutnya.


Kedua bocah itu mengangguk dan memakai pakaian renang, lalu keluar dari penginapan dan menuju ke kolam renang.


Suasana liburan tentu membuat kolam sangat ramai dipadati oleh pengunjung.


Kedua bocah itu nyebur kedalam kolam secara bersamaan dan bermain air dengan bercanda dan menyelam kesana kemari.


Kakinya menghentak-hentak sesuatu yang seperti menariknya, dan akhirnya terbebas.


Angkasa mencari keberadaan Samudera, namun sesaat Ia melihat Kakaknya menyembul dari dalam air dan tampak seperti orang habis tenggelam.


Samudera yang melihat Angkasa berada tak jauh dari tempatnya segera berenang menghampiri, dan mengatur nafasnya yang tersengal.


"Kamu kenapa, Kak? Tanya Angkasa kepada sang Kakak.


"Tapi jangan bilang sama Ibu dan Ayah, Ya.." Pinta Samudera kepada Angkasa.


Angkasa menganggukkan kepalanya dan mencoba memegang janjinya.


"Tadi seperti ada yang menarik kaki kakak hingga kedasar kolam, tetapi tidak ada sesiapun, namun kakak merasa seperti sangat nyata sekali dan dapat merasakan tarikan tangannya" ujar Samudera.


Sesaat kedua bola mata Angkasa membola "Apakah Dia yang menarik kakak?" tanya Angkasa kepada Samudera yang ujung matanya menunjuk ke arah seorang wanita berambut panjang ditepian kolam dengan gaun berwarna putih dan menatap mereka penuh seringai.


Samudera celingukan mencari orang yang dimaksud oleh Angkasa "Yang mana?" bisik Samudera.


"Dia berdiri didekat seluncuran air, tadi saat akan menuju hotel aku melihatnya ditepi hutan" jawab Angkasa.


Samudera tak melihatnya, tetapi Ia dapat merasakan kehadiran hawa kegelapan tersebut.


"Kita balik saja, Yuk Dik" ucap Samudera menyarankan, sebab Ia merasakan bulu kuduknya meremang karena sejak kejadian tadi.


"Iya, hari juga sudah mau Maghrib, ntar Ibu marah kita Maghrib diluar" jawab Angkasa, lalu keduanya beranjak dari kolam tersebut.


Saat mereka melintasi area menuju penginapan, keduanya melihat sekelebatan bayangan berwarna hitam. Lalu kedua saling pandang dan Samudera menggemgam pergelangan tangan Angkasa.


"Kamu lihat gak itu tadi apa?" tanya Samudera kepada Angkasa.


"Iya.. Mirip seseorang, tapi seperti berbulu tipis" jawab Angkasa yang celingukan kesana kemari mencari sosok tersebut.


Lalu keduanya mempercepat langkah dan ingin segera sampai kepenginapan.


Saat mereka hampir sampai dipintu penginapan, tampak sosok wanita berambut panjang melayang diudara dalam keremangan cahaya jingga dilangit.


Sosok itu melesat menghampiri keduanya yang berdiri mematung, namun sebuah cahaya seolah memagari keduanya dan membuat sosok itu terpental, lalu terdengar suara lengkingan yang sangat membuat bulu kuduk meremang.


Sesaat keduanya saling pandang dan langsung ngacir ke penginapan karena merasa takut saat melihat sosok perempuan itu dengan wajah penuh hancur dibagian pipi kirinya.


Setelah sampai dipenginapan, keduanya berhamburan mencari Ibunya dan saat itu Mirna baru saja selesai menyipkan segala keperluan mereka.


Kedua bocah itu memeluk pinggang Mirna dengan sangat erat dan tampak seperti katakutan.


"Heeei.. Tenanglah, ada apa?" tanya Mirna dengan nada setenang mungkin.


"Ada Hantu, Bu" jawab Keduanya serentak.


"Hantu? Seperti apa wujudnya?" tanya Mirna.


"Rambut panjang dan wajahnya sangat rusak" jawab keduanya.


Mirna memandang Satria dengan penuh makna. Lalu Ia membelai kedua kepala puteranya "Jangan takut.. Andai kalia bertemu dengannya lagi, jangan munculkan rasa takuy, tetapi tunjukkan jika kalian berani, agar Ia yang menjadi takut kepada kalian.. Faham?!" ucap Mirna kepada keduanya.


"Jadi hantu itu takut dengan kita, Bu?" tanya Samudera.


Mirna menganggukkan kepalanya "Semakin kamu beraki, maka hantu itu akan semakin takut kepadamu" ujar Mirna dengan penuh ketenangan. Ia ingin mengajarkan kepada kedua puteranya untuk berani menghadapi bahaya sejak dini.


Lalu keduanya menganggukkan kepalanya, pertabda mengingingat semua pesan dari ibunya.