
wuuuush.. Buuuk...
Sebuah hantaman cahaya mengenai Nini Maru dan membuatnya tercebur ke sungai
"Aaaarrrgghh..."
Teriak Nini Maru yang tak menduga mendapatkan serangan tendangan tanpa bayangan. Namun yang namanya Iblis, Ia kembali melayang dan melarikan diri sembari tertawa cekikikan dan merasa berhasil membuat syock therapi bagi Mala dan juga Bayu.
Sesosok sekelebatan bayangan menyambar tubuh Mala dan juga Bayu, lalu membawanya naik ke atas jembatan dan meletakkan tubuh keduanya ditrotoar jembatan.
Sesaat nafas keduanya tersengal dan saling pandang, Lalu Bayu beringsut menghampiri Mala, dan meraih kepala Mala dalam dekapannya, lalu mengusap lembut punggung wanita yang dicintainya itu.
Bayu mencoba menenangkan Mala yang kini pastinya dalam kondisi trauma atas perbuatan Syetan laknat tersebut.
Dari arah depan, tampak sebuah sorot lampu mobil dan berhenti disamping mereka.
Saat pintu mobil dibuka, tampak turun dari dalam mobil dan memapah tubuh Mala.
Meskipun keduanya merasa bingung bagaimana Mirna dan juga Satria mengetahui mereka mengalami kecelakaan, sedangkan mereka tidak ada menghubungi keduanya, namun saat ini mereka tak sempat bertanya.
"Ibuuu...tidak ada apa-apakan, Bu?? Ayo, Bu.. Naik ke mobil" ucap Mirna membantu ibu mertuanya naik kedalam mobil, dan begitu juga dengan Satria, membantu Bayu naik kedalam mobil.
Setelah keduanya naik kedalam mobil, Satria dan Mirna naik kedalam mobil bagian depan, lalu Satria memutar mobilnya dan menuju kembali ke kota.
"Bagaimana kalian tahu jika kami mengalami kecelakaan?" tanya Bayu setelah mampu mengontrol debaran dijantungnya.
"Saat Bapak kasoh kabar mobil rusak dibengkel, dan sampai saat sekarang belum juga sampai kami merasa khawatir dan berinisiatif untuk menjemput" jawab Mirna.
Hijab dan pakaian Mala tampak robek dan ia masih mengalami syock therapi.
Ia juga masih memikirkan siapa gerangan yang menyelamatkan mereka, namun yang pastinya itu adalah bentuk kasih sayang sang Rabb kepada mereka berdua sehingga masih diberikan kesempatan untuk hidup.
Sesampainya dirumah Satria yang berada dikota, Satria meminta Mirna untuk menjaga Ibu dan ayah sambungnya agar mereka beristirahat sejenak.
Sedangkan Ia akan langsung ke rumah sakit untuk menjenguk Hadi dan juga Shinta.
Mirna menganggukkan kepalanya dan Satria bergegas menuju ke rumah sakit.
"Ayo, Bu.. Beristirahatlah dikamar" ucap Mirna dan membawa keduanya ke kamar almarhum ayah Bram dan almarhum ibu Jayanti.
Mala menganggukkan kepalanya dan menuju kamar tersebut. Sedangkan Mirna menuju kamarnya dan mengambil pakaian ganti untuk ibu mertuanya.
"Bu.. Ini pakaian gantinya, Ya" ucap Mirna dan membawakan sepasang pakaian ganti Satria untuk ayah mertuanya juga.
Mirna lalu kembali ke kamarnya, dan memberikan kesempatan untuk ayah dan ibu mertuanya beristirahat.
Satria melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Saat diperjalanan, Ia melihat Ki genderuwo mencoba menghalangi jalannya dan berdiri ditengah jalan yang saat ini Satria sedang melaju kencang.
Lalu tanpa merasa perduli, Satria menabrak sosok Ki Genderuwo sembari merafalkan mantra ajian Segoro Geninya.
Dan saat badan mobil miliknya menabrak tubuh Ki Genderuwo, Sosok iblis itu terbakar dan melesat pergi.
"Aaaaaaarrrgghh.." teriak Ki Genderuwo dan melesat tak tentu arah, hingga akhirnya sampai dirumah Nek Surti.
Ia bergulingan dilantai tanah tersebut untuk memadamkan api yang membakar bulunya.
Sementara itu, Mala dan Bayu sudah menyalin pakaiannya. Mala duduk ditepian ranjang dan menyandarkan kepalanya.
Sesaat Ia melihat kening Bayu terluka akibat benturan setir mobil saat kecelakaan tadi.
Mala membuka lemari nakas dan mencari kotak obat. Ia menemukan obat andalannya berupa salep dengan wadah kaleng bundar bermerk Zambuk.
Ia meminta Bayu menghampirinya, dan saat jarak mereka begitu dekat, Mala mengoleskan salep tersebut ke kening Bayu yang terluka.
Bayu mengangkat ke dua bahunya, pertanda Ia juga tahu siapa.
"Malaikat, mungkin!" jawab Bayu sekenanya.
"Kalau Malaikat yang mengangkatnya, kita sudah beda alam, Mas.." balas Mala.
Bayu tersenyum gemas, lalu mengecup lembut kening Mala.
"Yang penting kita selamat.. Dan anggap saja itu adalah kasih sayang sang Rabb kepada kita" jawab Bayu.
Mala mendenguskan nafasnya, dan mencoba mengingat dalam kegelapan malam sepasang bola mata indah yang sepertinya Ia kenal.
Kalau dilihat dari bola matanya mirip dengan Mirna ya, Mas" ucap Mala dengan lirih.
Bayu tercengang dan Ia kemudian tertawa karena geli dengan ucapan istrinya.
"Kamu itu mengkhayal ketinggian, Sayang.. sejak kapan menantu kamu yang ramping itu bisa terbang melayang seperti wonder women. Apalagi tubuhnya yang ramping itu bisa angkat tubuh kita berdua dengan begitu mudahnya" ujar Bayu yang juga bingung dengan sosok misterius itu, namun Ia juga pusing memikirkannya.
Satria sudah sampai dirumah sakit. Ia mencari ruangan tempat Shinta dirawat.
Setelah menemukan ruangan tersebut, Satria mengetuknya, dan Hadi membuka pintunya. Saat melihat kehadiran Satria sang Kakak diambang pintu, Ia langsung memeluk Satria.
"Akhirnya kakak datang juga, mana kak Mirna dan ibu?" tanya Hadi penasaran.
" ceritanya panjang, nanti saja kakak ceritain, dan kamu gak mengajak kakak masuk?" tanya Satria.
"Ehh, iya. Ayo masuk, Kak" ucap Hadi lalu membawa Satria masuk keruang rawat inap dan mereka duduk disofa.
Hadi menuju lemari pendingin dan mengambil dua botol minuman teh dingin dan memberikannya satu untuk Satria dan satu untuknya.
Satria meraihnya dan meneguknya.
Ia melirik Shinta yang sudah tertidur. Ia melihat bagaimana iblis itu berniat akan menghabisi Shinta dengan cara menyerang menggunakan pecahan cermin tersebut.
"Mengapa Ia kembali lagi, Kak?" tanya Hadi.
"Karena dendamnya belum tuntas"
"Apa yang harus kita lakukan?"
"memohon perlindungan pada-Nya. Tidak ada satupun kekuatan dialam semesta ini yang dapat mengalahkan kekuatan-Nya.. Dan semua yang terjadi atas kehendak-Nya" jawab Satria.
Hadi mendenguskan nafas. Lalu menatap Shinta yang tertidur pulas.
Satria mengeluarkan sebuah tasbih yang terbuat dari batuan giok dari saku jaketnya. Lalu Ia memberikannya kepada Hadi.
"Peganglah ini, dan bawa kemana saja kecuali ketempat kotor seperti toilet. Selalu ingat akan kebesaran-Nya dan selalu sebut nama-Nya. Dan Ia akan menjagamu dimanapun kamu berada" ucap Satria sembari meletakkan tasbih itu digenggaman tangan sang adik.
Hadi menatap kakaknya, dan menggenggam tasbih tersebut lalu menyimpannya dalam sakunya.
"Tetapi kita harus memusnahkannya" ucap Hadi.
Satria menganggukkan kepalanya, dan meyakinkan sang adik jika semuanya akan berakhir.
"Ya.. Itu pasti.." jawab Satria.
"Beristirahatlah, Kak.. Itu ada satu ranjang kosong yang bisa dipakai untuk tidur" ucap Hadi.
"Kamu saja yang pakai, kakak tidur disofa ini" jawab Satria, lalu mencari posisi yang nyaman untuk tidurnya, karena waktu sudah sangat malam.